
Di ruangan yang terlihat gelap terdapat Pak Suwandi yang tengah tertawa kemenangan.
Ia merasa puas karena akhirnya rencananya untuk menjauhkan anaknya dari Omen pun berhasil.
"Kalian bungkam semua mulut orang - orang yang sudah mengetahui bahwa Rania anak saya. Jangan sampai kalian melewatkan seorang pun". Ia memerintahkannya pada tangan kanannya.
" Tapi Pak! Kita tidak bisa membungkam mulut Omen, Eggy dan Widya. Kemungkinan mereka tidak akan menerima itu".
Pak Suwandi terdiam sejenak, berpikir bahwa benar apa yang di katakan oleh tangan kanan nya itu.
"Ya sudah! Kalau mereka bertiga, kita biarkan saja, lagian Eggy bukan lah tandingan kita untuk membungkamnya. Bahkan kita yang akan celaka jika kita berurusan lagi dengannya. Yang terpenting rencana kita sudah berhasil dengan sempurna. Ho ho ho! Kau pikir, kau bisa mendekati anak ku begitu mudahnya. Tidak sama sekali. Kau pikir, kau itu selevel sama anak ku Rania. Aku bakal ngelakuin apa saja agar Rania tidak mendapatkan laki - laki rendahan seperti kau. Heh... Dasar orang rendahan yang mudah saja dibodohi ha ha ha". Ia menghina drajat di antara nya dan Omen, kemudian ia menebarkan foto - foto skandal di antara Omen dan Widya yang memang sengaja ia buat untuk menjebak Omen.
Flash Back...
"Pak... Sepertinya Nona Rania sudah kembali ke Indonesia karena Nona diam - diam mengikuti kelas modeling dan Nona juga menjadi juara pertama Top Model Indonesia yang di selenggarakan beberapa bulan yang lalu di Jakarta". Seorang pria berpakaian rapi tengah melaporkan tugas pada atasan nya yakni Pak Suwandi.
"Apa? Kenapa kalian baru sekarang melaporkan hal ini ke saya?". Beliau tampak marah sembari menghentakkan meja nya.
" Maaf Pak. Kami juga baru tahu soal ini, itu pun karena kami tidak sengaja bertemu dengan CEO produk brand parfume saingan kita. Beliau mengatakan bahwa Rania akan menjadi model produk mereka dan pengawal Rania pun sudah kehilangan Rania sebelum ia kembali ke Jakarta".
"Kenapa pekerjaan pengawal itu enggak pernah becus? Cari Rania sekarang juga dan cari tahu semua kegiatannya lalu batalkan semua kerja sama atau pun jadwal Rania pada produk - produk lainnya dan buat Rania bekerja sama pada produk kita seolah - olah itu hanya kebetulan. Dan lagi, ikutin kemana pun Rania pergi jangan sampai Rania mengetahuinya". Pak Suwandi memerintahkannya tanpa berpikir panjang.
" Baik Pak. Saya akan segera melaksanakan perintah Bapak". Ia pun segera keluar dari ruangan Pak Suwandi.
Pak Suwandi membuat rencana itu begitu cantik. Rania sama sekali tidak mengetahui bahwa semua kerja sama nya beralih pada produk brand Papa nya sendiri sehingga ia pun bertemu dengan nya.
"Halo...! Selamat datang Nona Rania dan selamat untuk kerja sama kita he he he". Dengan semangat Pak Suwandi menyambutnya dan berpura - pura seolah - olah mereka baru pertama kali bertemu.
Sedangkan Rania sangat terkejut.
" Papa? Kenapa bisa jadi kebetulan seperti ini?".
Kemudian ia pun tersenyum getir sembari menyambut pelukan sang Papa.
"Tidak ada satu orang pun yang mengetahui kalau kamu itu anaknya Papa". Beliau membisikan itu pada telinga Rania lalu melepaskan pelukannya.
Pak Suwandi /" Saya senang sekali kami bisa bekerja sama dengan kamu dan yang paling kami senang adalah kamu bersedia menjadi brand ambassador pada produk kami dan terkontrak untuk seumur hidup fu fu fu".
"Apa? Seumur hidup?". Sontak membuatnya terkejut dan bertanya dalam hatinya. Ia baru menyadari bahwa ini semua adalah kerjaan sang Papa bukan lah kebetulan.
...
" Apa maksud kamu melakukan semua ini dengan sembunyi - sembunyi dari Papa? Kenapa kamu enggak bilang ke Papa kalau kamu sudah di sini?". Pak Suwandi bertanya pada Rania setelah ia mengajak nya ke ruangannya berkedok membicarakan perihal kerja sama nya.
"Apa penting nya buat Papa? Toh tak satu pun yang mengetahui kalau aku ini anak nya Papa. Aku sudah dewasa Pa. Aku berhak melakukan apa pun di dalam hidup aku. Aku tahu, ini pasti ulah Papa kan? Papa kan yang sudah membuat kerja sama ini? Heh... Tadinya aku pikir ini semua kebetulan, hmm tak tahu nya ini sebuah kebetulan yang sengaja di buat oleh Papa, seperti biasanya". Rania tidak merasa heran lagi.
"Iya, Papa memang sengaja melakukan itu karena Papa mau melindungi kamu. Papa enggak mau kamu kenapa - kenapa. Papa enggak mau orang lain mengetahui keberadaan kamu. Kamu ingat kan kenapa Mama kamu meninggalkan kita berdua?". Pak Suwandi mengakuinya lalu mengingatkan Rania akan kejadian sang Mama yang sudah meninggalkan mereka beberapa tahun yang lalu akibat di bunuh oleh orang yang membenci Pak Suwandi.
Rania terdiam dan menuruti apa kata sang Papa.
...
Sejak Rania kembali, ia selalu dalam pengawasan Pak Suwandi meski ia tidak mengetahui hal itu.
Kemana pun ia pergi, mereka selalu mengikutinya hingga akhirnya ia bertemu dengan Omen dan yang lainnya.
"Pak. Sepertinya Nona Rania sedang dekat dengan pria ini. Karena sejak pemotretan itu berakhir, akhir - akhir ini Nona sering bertemu dengannya dan mereka terlihat sangat dekat. Dan ada lagi Pak. Nona Rania ternyata diam - diam sudah menjadi model brand shampoo X yang tengah kerja sama dengan pria ini". Pesuruh Pak Suwandi melaporkan informasi yang ia dapatkan sembari menunjukkan foto Rania tengah duduk berdua bersama Omen di sebuah caffe.
Pak Suwandi meremas foto tersebut sembari merapatkan giginya.
"Kurang ajar! Kenapa harus laki - laki rendahan seperti dia? Dia itu enggak selevel sama Rania. Rania, Papa terima kalau kamu menolak perintah Papa untuk mendekati Eggy tapi bukan berarti kamu malah dekat dengan temannya yang rendahan itu". Tuturnya.
Pak Suwandi /"Kamu tetap ikutin Rania kemana pun dia pergi dan perintahkan juga yang lainnya untuk mengikuti pria ini. Saya harus memikirkan cara untuk menjauhkan mereka berdua".
__ADS_1
"Baik Pak".
Mereka terus melaporkan setiap gerak - gerik Omen dan Rania hingga akhirnya ia mengetahui keberadaan Widya yang memberikannya peluang agar menjauhkan Omen dari Rania begitu mudahnya.
Mereka mengikuti Widya masuk ke sebuah club. Mereka melihatnya duduk sendirian sembari meneguk segelas minuman di tangannya.
Kemudian salah satu dari mereka menyuruh seorang pelayan membawakan segelas minuman yang berisi obat perangsang di dalamnya.
Widya mengerutkan alisnya melihat pelayan itu mengatakan bahwa ada seseorang yang memberikan minuman itu untuknya.
Tanpa berpikir panjang, ia pun meneguk kan minuman itu hingga tak bersisa sedikit pun.
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya Widya pun tak sadarkan diri kemudian mereka membawanya pada Pak Suwandi sebelum reaksi obat itu bereaksi.
"Jadi apa rencana kita berikutnya Pak?". Salah satu dari mereka bertanya sembari melihat kondisi Widya yang sudah tak berdaya.
"Tunggu sebentar lagi. Kalian hubungi mereka. Apakah mereka sudah berhasil melakukan tugasnya?". Pak Suwandi berkata.
" Baik Pak".
...
" Ahh kau bang. Sudah lama kami di sini tapi enggak kau kasi kami minum". Omen menepuk tangan pemilik salon mengingatkan nya untuk membawakan nya minuman ringan untuk Omen dan Eggy.
"Fu fu fu, sorry sorry. Aku kelupaan. Bentar ya, aku ambil dulu minum untuk kalian berdua. Kalian mau minum apa?". Sang pemilik salon pun menghentikan pekerjaannya lalu bergegas ke belakang.
" Aku kayak biasa saja, cola. Tapi pakai es batu ya. Kau Gy, mau minum apa?". Omen meneriaki nya kemudian bertanya pada Eggy.
Eggy /"Aku, air mineral saja".
Omen /"Si Eggy air mineral botol saja bang".
"Oke".
Tak lama pemilik salon pun muncul sembari membawa minuman yang ia pesan kemudian tiba - tiba seorang pesuruh Pak Suwandi yang berpura - pura menjadi pelanggan salon itu sengaja memanggilnya.
Pemilik salon itu langsung menghampirinya dan meninggalkan minuman itu di atas meja.
"Sebentar".
Kemudian pesuruh yang lainnya langsung beraksi meletakkan obat tidur pada minuman Omen yang sudah terbuka lalu secepatnya ia kembali pada tempat duduknya sebelum ia ketahuan.
" Sepertinya sudah tidak gatal lagi Bang. Apa karena saya kutuan ya makanya gatal he he he". Pria itu berakting kembali setelah ia mendapatkan kode bahwa teman nya sudah melakukan tugasnya.
"Hmm... Mungkin Bang ha ha ha. Mungkin kutunya mabuk itu karena cream nya makanya menimbulkan reaksi gatal ha ha ha. Tapi beneran sudah tidak gatal lagi kan bang?".
" Sudah kok. Sudah tidak gatal lagi he he he".
"Ya sudah, kalau gitu saya mau lanjutin pasien saya yang itu dulu ya Bang he he he". Ia menunjuk ke arah Omen dan Eggy.
" Iya Bang silahkan".
Pemilik salon pun pergi membawakan minuman itu pada Eggy dan Omen. Dan dengan sekali teguk minuman itu berselancar di tenggorokan Omen.
Kedua preman itu saling memberi kode kemudian mereka menghubungi tangan kanan Pak Suwandi dan segera mengatakan bahwa misi sudah terlaksanakan.
Pak Suwandi tersenyum lebar mengetahui itu kemudian memerintahkan rencananya pada pesuruh - pesuruh nya.
"Ya sudah! Kalian pergi ke studio laki - laki itu, kalian kasi surat ini pada asistennya sebelum laki - laki itu kembali. Lalu kalian letakkan wanita ini di depan studio nya dan buat seolah - olah wanita ini sedang mabuk berat, setelah itu dua orang dari kalian diam - diam masuk ke ruangannya dan melakukan tugas yang lainnya sesuai dengan perintah saya. Kalian pastikan tidak ada orang lain yang melihatnya. Dan kalian pastikan juga cctv yang ada di studio itu sudah kalian hack".
"Baik Pak! Siap laksanakan". Secara serentak serta lantang mereka mengucapkannya.
...
__ADS_1
Setelah Imam menemukan Widya tergeletak di depan studio lalu membawanya ke dalam ruangan Omen dan membiarkan ia tidur di dalam.
Reaksi obat perangsang tersebut mulai bereaksi.
Widya merasa terangsang serta mabuk berat karena minuman keras yang ia konsumsi. Ia menggelinjang di lantai seperti cacing kepanasan menahan gairahnya. Tanpa sadar, Widya membuka semua pakaiannya.
Salah satu pesuruh itu nyaris terpancing sebelum akhirnya pesuruh yang lainnya mengingatkannya untuk tidak terpancing atau pun berbuat macam - macam selain melaksanakan tugas.
Bagaimana tidak terpancing melihat Widya sangat menggairahkan di tambah lagi ia sudah tidak memakai pakaiannya selain pakaian dalamnya.
Mereka berusaha mengamankan Widya ketika mereka mengetahui bahwa Omen akan masuk ke dalam ruangannya.
Omen mulai merasakan sakit di kepalanya dan juga merasa ngantuk berat. Perlahan - lahan ia memejamkan matanya dan tak kuasa menahannya.
Setelah itu mereka berdua pun beraksi melanjutkan tugasnya. Mereka membuka semua pakaian Omen terkecuali celana pendeknya.
Kemudian ia memposisikan Widya dan Omen seperti melakukan hubungan int*m di balik selembar kain mini yang hanya menutupi sebagian tubuh mereka saja. Lalu memotret mereka untuk di jadikan sebagai bukti.
Seorang pesuruh yang hampir terpancing barusan ingin mengambil kesempatan untuk menikmati tubuh Widya. Ia semakin tak kuasa menahannya. Ia nekat menyentuh tubuh Widya kemudian Widya pun terangsang begitu hebat sehingga mengeluarkan suaranya.
"Heh...! Kan aku sudah bilang kau itu jangan macam - macam. Kalau ketahuan sama si Bos bisa - bisa kau di bunuh sama si Bos". Yang lainnya mencegah aksinya itu.
" Alah...! Enggak apa - apa lah. Lagian jarang - jarang kita melakukan tugas seperti ini he he he. Belum tentu kita bakalan dapat tugas seperti ini lagi, jadi harus kita manfaat kesempatan ini. Lagian aku sudah lama tidak merasakan nikmat syurga dunia sejak aku kerja sama si Bos. Lagian kalau ada apa - apa kan, laki - laki ini juga yang akan bertanggung jawab bukannya aku ho ho ho". Ia tidak peduli perkataan rekannya itu. Yang ia tahu hanya ingin memuaskan hasratnya saja.
"Hedeh...! Makanya kau cepat nikah biar binik kau saja yang kau hembat. Ya sudah lah. Terserah kau saja. Aku mau keluar. Kalau kau sudah siap langsung kau bereskan sendiri. Atur posisi mereka se-mesra mungkin dan jangan sampai ketahuan".
" Kau enggak mau ikutan?". Ia bertanya.
"Kagak, kau nikmati saja sendirian. Aku cinta sama binik aku jadi aku enggak akan mengkhianati nya". Ia pun keluar meninggalkannya yang akan beraksi lebih pada Widya.
Bukan hanya pria itu saja yang tidak dapat menahannya, Widya pun tak kalah hebatnya karena obat perangsang itu. Sehingga mereka pun melakukan perbuatan itu.
"Omen. Kamu mau kan memberikan aku kesempatan lagi? Kamu mau kan kita balikan lagi?". Widya bertanya seakan - akan pria itu adalah Omen. Ia benar - benar mabuk dan kehilangan akal sehatnya.
" Iya, iya". Pria itu menjawab sembarangan.
"Terimakasih sayang. Terimakasih karena kamu akhirnya memberikan aku kesempatan". Ucapnya kemudian terlelap.
Sedangkan Omen sendiri masih terkapar di atas sofa alias tertidur bagaikan mayat hidup.
Setelah semua nya selesai, kedua pesuruh itu pun segera menemui Pak Suwandi dan memberikan laporan mereka.
" Lapor Pak, semuanya sudah terlaksanakan sesuai dengan rencana Bapak". Ujarnya lalu menyodorkan kamera mereka memperlihatkan hasil foto yang mereka ambil.
Pak Suwandi tertawa kemenangan melihat foto - foto itu dan ia tinggal menunggu apa yang akan terjadi keesokan harinya.
.
.
Flash On...
Rania termenung di kamarnya sembari memikirkan kenapa begitu berat baginya menerima keputusan yang ia buat dan ia juga masih teringat ketika ia melihat Omen dan Widya tidur bersama.
"Kenapa aku ini? Kenapa aku merasa berat untuk menjauhi Omen? Apa aku jatuh cinta sama dia? Enggak! Enggak mungkin. Enggak mungkin aku jatuh cinta sama Omen. Ingat Rania! Kamu harus menepati janji kamu pada Papa dan juga Omen sudah memiliki Widya yang ia cintai. Kamu harus ingat itu Rania".
Sungguh malang hidup Rania, sejak sang Mama tiada, ia di besarkan oleh Pak Suwandi dengan caranya. Rania selalu hidup kesepian dan seperti tidak memiliki identitas di dunia ini.
Hidup nya selalu di atur oleh Pak Suwandi berkedok melindunginya agar kejadian istri Pak Suwandi alias sang Mama tidak terulang pada Rania.
Pak Suwandi berusaha menutupi Rania dari dunia ini hingga akhirnya Rania pun mulai menjadi bosan dan nekat untuk melakukan apa yang ia inginkan tanpa sepengetahuan Pak Suwandi yakni menjadi seorang model professional dan kembali ke Jakarta kemudian tidak sengaja bertemu Omen di Medan.
Sejak mengenal Omen, Rania selalu tersenyum dan tertawa mengingat tingkah Omen yang suka melakukan hal konyol.
__ADS_1
Rania sama sekali belum pernah menemukan teman seperti Omen, yang dapat membuatnya menjadi dirinya yang sebenarnya. Bahkan Pak Suwandi sendiri pun tak dapat melakukan itu padanya.
Membuatnya tersenyum ceria dan tertawa bahagia.