
Beberapa minggu setelah itu keadaan sedikit membaik termasuk Omen. Ia dan Eggy akhirnya bisa duduk bersama dengan tenang meski hati Omen masih belum tenang namun ia berusaha untuk tidak menunjukannya kepada sahabatnya itu sebab ia tidak mau membuat sahabatnya kecewa lagi dengannya. Dan Ia pun sudah tidak mendengar kabar dari Rania bahkan tak seorang pun yang mengetahuinya.
"Jadi kau serius mau nikahin Widya?". Eggy bertanya pada Omen karena ia masih ragu dengan keputusan Omen.
Dengan berat hati Omen menganggukan kepalanya.
"Ya. Aku harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab atas perbuatan ku pada Widya". Jawabnya pasrah.
"Ya tapikan belum tentu kejadian itu memang kalian melakukannya. Apa kau enggak mau menyelidikinya lagi?".
"Hmm Untuk apa menyelidikinya lagi, kan memang sudah jelas semuanya. Kalau kami tidak melakukan hal itu mana mungkin Widya sampai hamil seperti sekarang? Walaupun aku sama sekali tidak mengingat kejadian itu he he he. Fuuhht mungkin bisa jadi ini hukuman dari ALLAH untuk aku karena aku sudah banyak dosa di dunia ini".
Omen menyunggingkan senyumnya sembari melihat kendaraan yang berlalu lalang dijalanan. Sedangkan Eggy hanya terdiam melihatnya yang penuh dengan kegusaran di hatinya.
Entah benar atau tidak keputusan yang di ambil oleh Omen namun keputusannya sudah bulat untuk mempersunting Widya. Semua orang-orang terdekat Omen merasa ragu atas keputusan tersebut dan tak sedikit yang setuju. Namun tidak pada pihak Widya, ia begitu bahagia saat Omen memintanya untuk menjadi istrinya. Akhirnya usaha Widya meluluhkan hati Omen tidak sia-sia, semuanya berakhir sesuai impiannya.
Segala persiapan pernikahan kini berangsur-angsur terselesaikan. Yang tertinggal hanya persiapan mas kawin dan cincin nikah. Dengan semangat Widya memaksa mengajak Omen untuk mencari cincin nikah di sebuah toko perhiasan, walaupun Omen sudah berulang kali mengatakan bahwa ia menyerahkan semuanya pada Widya dan tidak ingin terlibat dalam persiapan tersebut.
"Ini bagus enggak sayang?". Widya bertanya sembari memamerkan pada Omen sebuah cincin emas bermata satu yang sudah ia kenakan dijari manisnya.
"Bagus'. Jawabnya singkat namun sama sekali tidak memperhatikan cincin tersebut.
"kalau yang ini gimana?". Kembali lagi Widya menunjukan pilihan yang lain namun tetap saja Omen bersikap datar.
"Bagus".
Sungguh kasihan Widya, hanya ia saja yang bersemangat atas pernikahan tersebut. Sedangkan Omen tidak sama sekali bahkan ia menyibukan dirinya pada pekerjaannya meski hari pernikahan tinggal 2 hari lagi.
#Ckrek. Ckrek. Ckrek
__ADS_1
Terdengar suara bidikan dari beberapa kamera yang sedikit riuh disuatu ruangan.
“Yak tahan 3.. 21 #Ckrek. Ujarnya sambil mengangkat tangannya menghitung mundur.
Imam mendekati Omen yang tengah sibuk ketika ia melihat Widya datang ke studio.
"Bang Kak Widya datang tuh". Tuturnya sembari bibirnya menunjukkan kearah Widya yang tersenyum kearah mereka.
" Kau bilang saja aku lagi sibuk enggak bisa diganggu". Perintahnya tanpa melihat kearah Widya.
"Hiiissh. Kau nih lah bang, harusnya kau tuh sudah libur kerja karena lusa kau sudah mau nikah. Bukannya menyelesaikan persiapan pernikahan ini malah sibuk di studio". Imam mengomel seperti biasa.
"Justru karena itu makanya aku selesaikan pekerjaan aku di studio. Biar kau enggak bakalan meliburkan studio selama sebulan seperti waktu itu". Omen menjawab dengan datar namun sedikit tajam menyindir Imam.
Imam merasa seperti dilempar batu olehnya sehingga bingung mau menjawab.
Mata Omen seperti siap-siap ingin menerkam Imam.
"Jangan macam-macam kau! Enggak ada libur-libur. Pokoknya setelah akad nikah kita langsung kerja lagi. Karena banyak sekali pekerjaan kita". Omen memperingati Imam dengan suara yang cukup keras sehingga Widya mendengar ucapannya.
"Tapi bang...".
"Enggak ada tapi-tapi. Sudah sana, kau kerjakan pekerjaan kau". Perintahnya kembali. Imam pun menurutinya dengan lesu dan pergi melanjutkan tugasnya.
Widya mendekati Omen tanpa peduli dengan kesibukannya.
"Sayang. Pihak WO (wedding organizer) nanyain jam berapa lokasinya di dekorasi? Karena kan enggak mungkin disitu mau acara disitu juga mereka mengatur lokasi pernikahan". Tanyanya dengan nada lembut. Sedangkan Omen hanya diam dan masih sibuk dengan kameranya.
"Sayang. Berhubung di studio lagi sibuk-sibuknya, gimana kalau lokasi pernikahannya kita pindahkan? Soalnya aku enggak mau mengganggu bisnis kamu dan juga supaya memudahkan pihak WO nya untuk melaksanakan perencanaan pernikahan kita dengan sempurna. Kata mereka harusnya mereka sudah jauh-jauh hari meninjau lokasi pernikahan kita tapi sampai sekarang pun mereka belum bisa meninjau karena distudio sedang sibuk". Usulnya.
__ADS_1
Seketika Omen menghentikan pekerjaannya kemudian menoleh kearah Widya dengan ekspresi yang sedikit menakutkan bagi Widya.
"Kalau kamu enggak setuju sama usulan aku ya sudah tidak apa-apa. Nanti aku hubungi pihak WO nya untuk menunggu dan meminta pengertian dari mereka". Sangking takutnya Omen akan marah padanya, ia pun segera menghubungi pihak WO.
"Pekerjaan kita hari ini sampai disini dulu. 3 hari lagi kita lanjutkan. Terimakasih atas kerja keras kalian hari ini. Kalian bisa pulang dan beristirahat". Teriaknya pada rekan-rekan kerja. Mereka pun membubarkan diri masing-masing setelah mendengar perintah Omen.
Widya sedikit terkejut dan senang mendengar perintah Omen. Dia pikir Omen bakalan marah padanya atas usulannya justru malah sebaliknya.
"Baik Bos!". Rekan kerjanya pun menyautnya secara serentak.
Sedangkan dari jarak yang tidak begitu jauh, Imam sedikit menggerutu sendiri sembari melihat kearah Omen dan Widya.
"Tadi dia merepet, bilang enggak ada liburnya dan masih banyak kerjaan. Sekarang berubah pikiran dan membubarkan pekerjaan begitu saja. Hmm Mungkin Bang Omen tersihirkan oleh cintanya Kak Widya ini kayaknya soalnya Bang Omen selalu saja nurut apa kata Kak Widya. Kira-kira Kak Widya pakai pelet apa ya? Hmm?".
Imam berpikir keras apa yang membuat Omen begitu nurut pada Widya padahal sebenarnya selama ini Omen benar-benar tidak peduli atas semuanya sehingga terlihat semua dilaksanakan karena menuruti kemauan Widya.
Widya tersenyum sembari melihat Omen lalu mendekatinya.
"Terimakasih banyak ya sayang". Ucapnya sembari melingkarkan tangan kepinggang Omen.
Omen hanya sedikit menyunggingkan senyumannya dan perlahan melepaskan lingkaran tangan Widya.
"Kamu bisa menyuruh orang WO nya datang kesini. Tapi maaf, sepertinya aku enggak bisa menemani kamu disini untuk nemui mereka, soalnya aku ada janji harus bertemu dengan rekan kerja aku diluar. Aku serahkan semua pilihannya ke kamu. Aku ngikut saja karena apapun pilihan kamu pasti yang terbaik buat kamu".
Raut wajah Widya berubah seketika, wajah yang menandakan rasa kecewanya namun tidak diungkapkan.
"Iya sudah enggak apa-apa kok. Kamu pergi saja lagiankan kalau pekerjaan kamu selesai lebih cepat kan lebih baik, biar kamu enggak kepikiran soal pekerjaan kamu pas acara pernikahan kita nanti. Kan bisa repot jadinya kalau rekan kerja kamu sibuk menghubungi kamu pas di hari pernikahan kita he he he". Widya berusaha untuk menghibur dirinya sendiri agar tidak terlihat sedih didepan Omen.
Hati Omen sebenarnya terasa semakin sakit karena ia sadar kalau selama ini ia sudah melukai Widya dan tidak peduli dengan perjuangannya. Namun bagaimana pun usaha Widya tetap saja hati Omen tidak bisa menerimanya kembali. Ia hanya sebagai pelarian dan keterpaksaan karena sebuah tanggung jawab yang besar atas kesalahannya.
__ADS_1