
Seperti biasanya, semua mata tertuju pada Eggy yang sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Untuk kedua kali nya mereka melihatnya berbeda.
"Pagi Dok".
" Pagi Dok".
Setiap yang melihatnya selalu menyapanya sembari tertawa kecil karena melihat penampilan rambut barunya.
Sedangkan Eggy berusaha tidak menghiraukan mereka meski ia merasa sedikit tidak percaya diri.
"Sepertinya ada yang sedang melakukan perubahan nih". Seseorang mengagetkan nya ketika ia sudah sampai di depan ruangannya.
Eggy pun berbalik melihat orang tersebut.
" Tante Maya!". Matanya berbinar - binar ternyata adik kesayangan Papa nya akhirnya pulang ke Medan setelah lama di Kalimantan.
Eggy langsung memeluk tubuh Tantenya itu.
"Kapan nyampai nya? Kenapa enggak bilang - bilang kalau Tante balik ke sini?".
Maya /" Tante baru sampai pagi ini dan sengaja langsung ke sini sebelum tante ke rumah Papa dan Mama kamu. Tante sengaja enggak ngasi kabar sama kalian biar kalian terkejut hi hi hi".
"Aah Tante sih lebay, banyak kali gaya nya mau bikin kami terkejut ha ha ha. Oh ya Tante kok sendiri saja? Om mana?". Eggy melirik ke sekitar namun ia tak menemukan suami dari tante nya.
Maya tersenyum getir ketika mendapatkan pertanyaan itu dan seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia bicarakan oleh keponakannya.
" Iya, Tante sendiri saja ke sini, soalnya Om lagi sibuk kali di sana jadi enggak bisa ikut ke sini he he he".
"Ohmm... Ngeri lah pokoknya Tante ku ini, lakik sibuk nyari duit, dia pun enggak mau kalah sibuk nya ha ha ha". Eggy meledeknya.
" Ha ha ha, ya harus itu. Masa iya Tante harus bergantung sama Om di tambah lagi dalam kondisi Tante seperti sekarang kalau apa - apa harus sendiri he he he". Tanpa sadar Maya hampir kelepasan.
"Maksud Tante?". Dahi Eggy berkerut.
"Ya kan Tante di sini sendiri, jadi enggak bisa bergantung sama Om kan? He he he". Jawabnya.
" Hmm... Kira'in terjadi sesuatu sama Om dan Tante". Eggy bernafas lega.
"Ha ha ha, enggak kok. Oh ya! Kenapa itu rambut kamu jadi kuning gitu? Sudah hampir mirip kamu sama teman kamu itu. Men... Men... Siapa nama nya?". Maya kembali menyinggung rambut baru Eggy.
" Omen Tan". Sambungnya.
Maya /"Haaa iya Omen he he he. Almira enggak marah rambut kamu di gini'in?".
"Justru dia malah senang Tan". Eggy menepuk jidatnya.
" Seriusan?!". Maya hampir tidak menyangka.
Eggy /"Iya Tan. Malah pun dia juga mau ikut - ikutan di warna rambut nya sama kayak Eggy. Hmm tapi enggak Eggy kasi he he he".
Maya /"Kenapa enggak kamu kasi? Kan keren itu kalau rambut kalian kembaran he he he".
Eggy /"Iya keren Tan. Masalahnya Almira lagi hamil".
Maya /" Oh iya ya, kalau ibu hamil kan memang enggak boleh menggunakan bahan kimia, itu akan membahayakan pada janin".
Eggy /"Itu lah makanya enggak Eggy kasi".
__ADS_1
"Iya lah. Eh... Jadi Almira hamil lagi?". Maya baru menyadarinya.
" Iya Tan".
"Ya ampun, Tante tadi enggak ngeh he he he. Iiihh selamat ya. Keponakan Tante yang satu ini memang tokcer kali pokoknya ha ha ha. Harus di jaga baik - baik. Jangan terulang lagi kayak yang sudah - sudah (Yang berlalu)". Maya mengingatkan 2 kehamilan Almira yang tidak terselamatkan alias keguguran.
Eggy /"Iya Tan. Kali ini kami harus ekstra hati - hati".
"Beruntung nya kalian. Tante turut bahagia atas kebahagiaan kalian he he he". Maya tersenyum bahagia namun menyimpan rasa lirih di hatinya sebab dirinya yang sudah belasan tahun menikah belum juga di karunia'in seorang anak.
Eggy tersenyum.
" Terimakasih ya Tan. In Sya ALLAH, mudah - mudahan Tante dan Om secepatnya di kasi izin sama ALLAH untuk memiliki keturunan, Aamiin".
Maya/ "Aamiin he he he. Ya sudah! Kalau gitu Tante mau balik lah dulu. Tante mau jumpai orang tua kamu, sekaligus mau ketemu sama Egga dan anak istrinya. Tante kan belum kenalan sama mereka karena waktu acara nikahan mereka Tante enggak bisa pulang".
" Makanya dapat lakik tuh jangan orang jauh - jauh, jadi susah kan kalau mau pulang kampung he he he". Eggy menyindirnya sembari tertawa kecil.
"Ha ha ha, iya nanti Tante bakalan nyari orang yang dekat - dekat saja fu fu fu". Celetuknya.
" Umak, mau poliandri Tan? Ngeri ha ha ha". Mata Eggy nyaris terbelalak mendengarnya kemudian mereka terbahak.
.
.
Ingatan pagi itu masih terngiang di benak Rania sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi melakukan pekerjaannya.
"Rania! Are you oke? Aku lihat kamu dari tadi tidak fokus". Seorang photographer pribadinya menegur dirinya.
" Ha? Sorry! Aku cuma sedikit capek saja. Kita bisa break enggak untuk hari ini?". Pintanya.
Rania menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kemudian memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
" Kenapa aku masih kepikiran soal kemarin? Ini enggak ada hubungannya sama aku. Kenapa aku jadi seperti ini? Peduli apa aku sama hubungan mereka? Terserah mereka mau melakukan apa pun, enggak ada urusannya juga sama aku". Rania berperang pada hati dan pikirannya yang masih memikirkan Omen dan hubungannya bersama Widya.
...
"Memang nya apa yang terjadi di antara aku sama Widya pada malam itu? Aku benar - benar tidak mengingatnya". Omen tengah duduk di kursinya sembari berusaha mengingatnya namun ia tidak menemukan ingatan itu.
" Enggak mungkin aku melakukan hal itu sama Widya. Ini pasti salah paham lagi. Aku yakin enggak terjadi apa pun. Seingat aku, aku langsung tertidur dan tidak melakukan apa pun pada malam itu". Sambungnya kemudian ia teringat bahwa ia memiliki CCTV di studionya dan segera ia melihatnya.
Sayangnya ia tidak memasang CCTV pada ruangannya sehingga tak ada sedikit pun bukti membenarkan apa yang di katakan Widya.
"Aaah sial! Bagaimana aku tahu apa yang terjadi pada malam itu?". Ia merasa kecewa sempat ia menghempaskan asbak rokok yang ada di dekatnya.
#Triiing...
Ponselnya berbunyi dan segera ia meraihnya lalu melihat pesan WA yang terkirim untuk nya. Matanya terbelalak ketika ia mendapatkan sebuah kiriman dari seseorang yang tidak ia kenal.
Ia sangat terkejut melihat foto - foto nya bersama Widya begitu mesra pada malam itu bahkan di dalam foto tersebut keduanya hanya berbalut sehelai kain yang menutupi tubuh keduanya.
"Enggak mungkin! Ini pasti editan. Enggak mungkin aku melakukan itu. Lagian siapa yang mengambil foto ini? Nomor siapa ini? Aaaah kenapa aku tidak mengingatnya?".
Omen mendadak panik, ia pun mencoba menghubungi nomor yang mengirim foto - foto tersebut namun nomor itu mendadak tidak aktif.
" Imam! Imam! Iya si Imam satu - satu nya orang yang tahu atau mungkin ini kerjaan dia". Ia teringat bahwa satu - satu nya orang yang mengetahui itu adalah Imam.
Ia berlari menghampiri Imam. Ia sempat merasa geram dan ingin menghajarnya.
__ADS_1
"Kau jawab yang sebenarnya. Apa yang terjadi di antara aku sama Widya pada malam itu? Kenapa bisa ada foto - foto ini? Ini pasti jebakan kau kan Mam? Kau mencoba untuk menjebak aku dan Widya, iya kan?". Omen menarik kerah baju Imam kemudian menunjukkan foto - foto itu.
Sontak membuat Imam terkejut sehingga menjatuhkan sapu yang ia pegang.
"Maksud kau apa Bang? Aku sama sekali enggak tahu apa - apa. Gila kau nuduh - nuduh aku sembarangan. Enggak mungkin aku mau melakukan hal itu sama kau. Kalau aku yang ngelakuin hal itu, kemungkinan aku enggak bakalan muncul di depan kau kayak sekarang ini. Lagian enggak ada untungnya aku melakukan itu". Imam menepis tangan Omen yang berada di kerah bajunya.
Omen /" Terus siapa lagi kalau bukan kau? Karena cuma kau satu - satu nya yang tahu kalau Widya ada di ruangan aku pada malam itu".
"Beneran! Aku sama sekali enggak tahu apa - apa. Setelah kau masuk ke ruangan, aku langsung keluar dari studio mau beli kopi dan gula karena persediaan kita sudah habis, aku pun mengunci pintu depan sebelum aku keluar, jadi aku yakin kali enggak ada yang keluar masuk ke studio. Bisa saja ini jebakan Kak Widya karena dia kan mau kau balikan lagi sama dia tapi kau selalu menunjukkan kalau kau enggak mau balikan lagi sama dia atau mungkin malam itu memang benar kalian melakukan hal itu tanpa kesadaran kalian berdua secara Kak Widya dalam keadaan mabuk dan kau terpancing". Imam meyakinkan Omen bahwa ia sama sekali tidak terlibat hal itu.
" Aaaaarrght.... Kenapa aku sama sekali tidak mengingat kejadian malam itu? Haaaaah". Omen semakin frustasi.
"Sudah lah Bang. Lagian kalau memang itu terjadi kan enggak ada ruginya juga sama kau, malah menguntungkan buat kau he he he. Bukannya kau masih sayang sama Kak Widya? Apa salahnya kalian melakukan itu? Toh kalian masih saling mencintai. Bukan nya itu sudah menjadi hal yang biasa di zaman sekarang. Kalau aku jadi kau sih ya santai - santai saja malah aku senang ha ha ha". Imam memegang pundak Omen mencoba untuk menenangkannya.
Omen menggelengkan kepalanya.
"Sayang nya enggak Mam, itu berbeda. Perasaan itu sudah tidak ada lagi. Perasaan itu sudah berubah, sudah tidak seperti dulu lagi. Walau pun aku masih mencintainya, enggak mungkin aku akan melakukan hal itu sama Widya sebelum kami menikah. Kalau aku mau, mungkin sudah dari dulu aku lakukan itu".
" Hemm... Nama nya juga khilaf Bang, siapa pun bisa melakukan kekhilafan terutama dalam keadaan di mabuk asmara. Seharusnya kau beruntung karena Kak Widya orang nya, kalau wanita lain mungkin sudah heboh minta pertanggung jawaban kau he he he. Hmm... Emang betul - betul rumit lah bang soal percintaan ahh. Oh ya Bang, aku hampir lupa. Ini!". Imam menyodorkan secarik kertas pada Omen. Ia pun mengambilnya dari tangan Imam.
"Itu surat tuntutan dari Pak Suwandi. Katanya dia serius akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Bahkan dalam surat tersebut menyatakan tidak ada bantahan dari pihak Rania soal tuntutan itu". Dengan cemas Imam mengatakan hal tersebut.
" Apa? Kau yakin kalau Rania enggak membantah tuntutan itu?". Omen sangat terkejut.
"Iya. Buktinya ada tanda tangan Rania pada surat tuntutan itu bahkan dia juga menyatakan kalau dia melakukan photo shoot itu atas dasar paksaan dan di ancam atau ada unsur pemerasan dari kau Bang".
" Apa?". Omen sulit mempercayai nya.
"Hmm apa aku bilang Bang, manusia itu tidak bisa kita lihat dari luar nya saja. Sudah terbuktikan kalau dugaan aku benar? Kita tidak bisa percaya begitu saja sama orang lain. Bisa saja memang dari awal Kak Rania mendekati kau karena mau menjebak kau atas perintah Pak Suwandi, kau kan tahu Pak Suwandi memang tidak senang sama kita sejak saat itu. Kemungkinan dia nyari kesalahan kita lagi demi balas dendam nya". Imam mengingatkan kecurigaannya beberapa hari yang lalu.
Omen semakin stres memikirkan semua nya menjadi semakin rumit.
"Kenapa Rania melakukan hal ini sama aku? Apa benar apa yang ada di pikiran Imam? Kenapa tiba - tiba menjadi seperti ini?".
"Bang? Kok melamun pulak kau jadi nya". Imam membuyarkan Omen yang terdiam sejenak.
Omen /" Eh... Enggak, aku enggak melamun kok. Ya sudah kau tenang saja, nanti aku minta tolong sama pihak brand shampoo kemarin, mana tahu dia mau membantu kita untuk menjadi saksi kalau itu tidak benar".
Imam /"Kau yakin Bang? Takutnya mereka lepas tangan begitu saja karena kan itu kesalahan dari pihak model kita yang mendadak harus di ganti sama orang lain. Di tambah lagi kita juga banyak menunda waktu photo shoot untuk brand mereka".
" Hmm... Iya juga ya. Fuuuht...! Entah lah Mam. Enggak tahu aku lagi. Kalau memang mereka mau menjebloskan aku ke penjara ya sudah lah, biarin saja. Aku pun jadi tak semangat hidup lagi. Di tambah lagi urusan foto ini. Aaaaaht". Omen mulai putus asa dan tinggal menunggu waktu saja yang akan menjawab atas ujian yang ia terima pada saat ini.
"Yaah gila kau Bang. Masa kau nyerah gitu saja gara - gara ini. Kalau kau masuk ke penjara, gimana nasib aku Bang? Siapa yang mau ngasi aku gaji lagi?". Imam tidak menginginkan itu terjadi.
"Cari kerja lain lah kau. Masa kau asek mau bergantung sama aku saja terus. Kalau pun apa, minta tolong kau sama si Eggy. Kau pinta pekerjaan sama dia, dia banyak channel nya itu". Omen merekomendasi Eggy pada nya.
" Ahh... Ada gilak - gilak nya kau lah. Entah apa ngomong nya. Bukan nya berpikir positive ini malah pasrah saja. Lagian segan lah aku kalau minta tolong sama Bang Eggy. Mending kau saja yang minta tolong sama Bang Eggy biar dia ngebantuin menyelesaikan masalah ini". Imam nyaris emosi karena Omen menyerah begitu saja.
"Hmm... Sudah keseringan kali aku nyusahin dia, kali ini aku enggak mau dia terlibat lagi. Lagian lebay kali kau. Biasanya enggak ada segan - segan nya kau sama dia, ngomong sama dia pun main ngasal saja nya kau. Kenapa mendadak segan sama dia?". Omen merasa heran sembari menaikkan alis mata kirinya.
" Apa pulak aku enggak ada segan nya sama Bang Eggy. Aku tuh paling segan sama dia. Enggak pernah aku ngomong sama Bang Eggy pakai ngasal. Malah aku atur kata - kata nya biar terdengar formal setiap kali aku mengobrol di depan Bang Eggy. Aku tuh selalu merasa minder kalau dekat sama Bang Eggy dan takut salah ngomong". Imam membantah nya.
"What? Ha ha ha lebay kali kau. Sama aku saja kau enggak pernah segan. Kau itu enggak perlu minder sama si Eggy. Dia enggak seperti yang kau pikirkan. Justru dia lebih senang punya kawan yang apa ada nya, enggak perlu di buat - buat atau sok manis di depan dia, yang ada dia enek dan dia bakalan enggak suka sama tuh orang. Aku dulu sama kayak kau waktu pertama kali kenal sama si Eggy. Minder, merasa kecil dan merasa enggak pantas berteman sama dia. Tapi sejak lama kenal sama dia, aku baru menyadari kalau Eggy orang nya humble, enggak suka sama orang - orang yang hobby nya nyari muka, enggak suka membanding - bandingkan orang lain, enggak suka pamer sama hartanya, pokoknya dia itu teman terbaik". Mata Omen berbinar - binar menceritakan sedikit tentang Eggy pada Imam.
"Hemm... Sudah tahu Bang Eggy itu teman terbaik, tapi kenapa kau masih tetap bisa ngebuat dia kecewa seperti waktu lalu? He he he". Imam mengingatkan Omen akan pertengkaran mereka perkara Pak Suwandi.
Omen melirik nya sembari tertawa kecil.
" He he he. Bukan nya kau sendiri yang bilang sama aku kalau manusia itu pernah melakukan kekhilafan?".
__ADS_1