KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
CHAPTER 12


__ADS_3

"Tapi Men. Aku enggak kebayang kalau kau berjodoh sama Rania".


Alis mata Omen menyatu sembari melihat wajah Eggy yang terlihat akan meledeknya.


" Enggak kebayang kenapa? Karena aku enggak sepadan sama dia dan terlihat banting? Yaaa ibarat seperti beauty and the beast gitu maksud kau?".


Eggy /"Hemm itu juga sih ha ha ha. Tapi yang lebih enggak kebayang lagi, kau bakalan punya mertua seperti Suwandi yang super nyebelin. Aku enggak kebayang, kau bakalan ketemu sama dia setiap saat dan bakalan menghadapi sifatnya yang mau menang sendiri alias egois. Bisa - bisa hidup kau dan Rania bakalan di atur sama dia".


"Hmm justru nanti malah sebaliknya. Aku dan Rania yang bakalan merubah aturannya. Aku masih enggak percaya, kok bisa ya si Rania punya Bapak kayak dia? Mereka enggak ada kemiripan sama sekali bahkan jauh dari kata mirip. Apa lagi sama sifatnya, beght beda banget. Aku mikirnya Bapaknya Rania itu hampir sama kayak Bapak kau, putih, tinggi, berparlente, berwibawa dan bijaksana. Ini malah sebaliknya, justru lebih cocok Pak Suwandi itu jadi supirnya Rania bukan Bapak nya. Ha ha ha". Omen malah meledek orang tua dari wanita yang ia cintai.


"Buah aha ha ha... Kurang ajar kau Men. Gitu - gitu itu nantinya bakalan jadi mertua kau kalau kalian berjodoh". Eggy terbahak mendengarnya.


" Ha ha ha. Kalau boleh, bisa di ganti enggak Bapak nya Rania? Kalau bisa enggak usah dia gitu. Bakalan pening juga aku nanti bakal jadi menantunya ha ha ha". Omen enggak kebayang hal tersebut.


Eggy /"Ha ha ha nasib kau lah Men Men. Makanya kau itu kalau jatuh, tengok - tengok dulu siapa bapaknya wk wk wk".


Omen/ "Koplak kau, memangnya cinta bisa memilih? Kalau cinta bisa memilih mungkin enggak ada itu yang namanya cinta buta".


Eggy /"Ha ha ha iya juga ya. Tapi betul lah Men, aku terkejut sekali waktu Rania manggil dia Papa. Karena kan kita mikirnya Rania itu wanita simpanannya. Sampai terkejut batin aku ha ha ha".


Omen /"Jangan kan kau, aku yang sering jalan bareng sama Rania pun terkejut juga. Rasanya aku mau ketawa saat itu juga tapi tertahan waktu aku nengok wajah Rania, enggak tega aku mau ketawa".


Eggy /"Hemm... Ku rasa ya, Rania itu mirip sama emak nya makanya dia enggak ada kemiripan sama sekali sama si Suwandi". Pikirnya.


"Aku pun juga mikirnya kayak gitu. Karena kan muka si Rania bule banget sedangkan si Suwandi tak ada bule nya, malah muka jawa". Omen pun berpikir hal yang sama.


" Hoaaam...! Hu...Uh mungkin. Pulang lah aku Men, ngantuk kali lah aku. Malah nanti aku mau ke rumah si Egga lagi". Eggy merasa ngantuk dan ingin pamit.


Omen /"Ngapain ke rumah si Egga? Ada acara ya?".


"Enggak ada acara apa - apa. Cuma hari ini dia sama Ratna balik ke rumah nya terus Papa dan Mama mau kami ngumpul di sana, tahu lah ya kan orang tua yang selalu mau ngumpul sama anak - anak nya he he he. Aturan nya dari pagi tadi aku di suruh ke sana tapi karena aku nemenin kau jadi ku antar saja ke sana anak binik ku luan". Eggy pun berdiri sembari merapikan pakaiannya kemudian memakai jaketnya.


" Hemm... Sorry lah aku jadi ngerepotin kau". Omen merasa tidak enak hati.


"Aah ku tepok (tampar) juga lah kau ini. Aku sama sekali enggak merasa direpotkan". Eggy paling tidak suka jika sahabatnya itu merasa menyusahkan nya.


Omen menyunggingkan senyumannya. Kemudian mereka berjalan keluar studio.


" Oh ya! Apa kabar Egga dan Ratna? Sudah sehat mereka?".


Eggy /"Alhamdulillah mereka sudah sehat, ya cuma kaki Ratna masih belum bisa total berjalan dan masih harus mengikuti therapy yang rutin".

__ADS_1


Omen /"Heeemm... Bagus lah kalau begitu. Aku titip salam ya buat mereka berdua".


" Iya, In Sya ALLAH akan aku sampaikan sama mereka. Ya sudah! Kalau begitu aku balik. Kalau ada apa - apa kau kabarin aku. Jangan diam - diam saja. Biar kita lawan siapa pun yang mau mencoba menyentuh kita he he he". Eggy pun membuka pintu mobilnya lalu masuk.


Omen /"Ha ha ha iya iya. Ya sudah! Hati - hati kau di jalan. Jangan pula tertidur kau lagi bawa mobil".


"He he he In Sya ALLAH enggak. Ya sudah. Assalamualaikum".


" Waalaikumsalam". Omen menjawabnya salamnya sembari melihat kepergian Eggy.


Omen kembali masuk ke dalam studionya sempat ia menghembuskan nafasnya cukup keras sembari mengusap wajahnya.


"Kau kenapa Bang? Suntuk kali muka kau. Bukannya masalah nya sudah selesai? Apa kau masih mikirin soal foto skandal kau sama Kak Widya?". Imam merasa heran melihatnya kembali dengan wajah suntuknya.


"Fuuht...! Entah lah. Hidup ini ngeri kali Mam. Demi menyelesaikan suatu masalah, kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga bagi kita". Omen mendadak berkata - kata puitis.


" Maksudnya? Enggak ngerti aku maksud kau apa Bang. Mengorbankan apa rupanya?". Alisnya menyatu kebingungan.


Omen tertawa kecil kemudian menggelengkan kepalanya.


"Oh ya! Aku mau pulang. Nanti kalau anak - anak datang kau urus mereka. Kalau mereka tanya aku kemana, bilang saja aku di suruh emak aku pulang. Terus, kalau sudah selesai. Jangan lupa kau tutup semua pintu dan jendelanya. Pastikan enggak ada yang keluar masuk dan yang paling penting kalau Widya datang jangan terima dia dan bilang kalau aku lagi motret diluar dan jangan ada yang menghubungi aku". Perintahnya.


...


Kini Rania kembali pada masa kehidupannya yang sebelumnya. Kesepian, terkekang dan tidak memiliki semangat hidup seperti boneka.


Rania menghampiri sang Papa di rumahnya. Seperti biasanya ia selalu melihat sekretaris sang Papa berada di rumah itu seperti layaknya seorang istri Papanya.


Ia sudah tidak peduli lagi dengan hal itu, bahkan ia menganggap mereka tidak ada di dunia ini.


"Eh Rania!". Wanita itu menyapanya begitu ramah ketika ia membukakan pintu untuk Rania.


Rania mengacuhkannya dan berjalan menyusuri rumah orang tuanya, namun ia sempat meliriknya berpakaian seperti nyonya rumah yang bersiap - siap untuk melayani tuan rumah.


"Mas Suwandi... Eh maksud saya Papa kamu sedang mandi di kamar. Apa perlu saya panggilkan dan bilang kamu ada di sini?".


Rania hanya meliriknya kemudian ia tidak sengaja melihat foto keluarga mereka di masa kecilnya, itu terpampang di ruang keluarga rumah itu.


Rania mengepalkan tangannya, ia merasa geram dan sedih kemudian ia mencopot foto itu.


"Rania?". Pak Suwandi pun muncul dengan mengenakan handuknya, ia terkejut melihat Rania berada di rumah nya dan tengah mencopot foto itu.

__ADS_1


" Kenapa kamu copot foto itu sayang?".


Rania melihatnya dengan tampang datarnya, kemudian ia turun sembari membawa foto itu. Ia pun menghampiri Pak Suwandi.


"Aku ke sini cuma mau bilang sama Papa. Aku akan balik ke Swiss setelah semua urusan ku di sini selesai dan aku enggak akan kembali ke sini lagi. Aku akan meninggalkan semua karir aku di sini dan kembali pada aktivitas ku di Swiss".


Pak Suwandi sangat terkejut dan merasa senang mendengarkan bahwa anak nya akan kembali ke tempat asalnya.


" Kamu serius akan kembali ke Swiss sayang?".


Rania melirik wajahnya terlihat semberingah.


"Bukan kah itu mau nya Papa? Oh ya! Aku minta sama Papa jangan pernah memajang foto - foto ini di rumah kotor Papa. Aku enggak mau foto - foto ini tercemar karena menjadi saksi perbuatan kotor Papa bersama wanita jal*ng Papa ini". Matanya beralih melirik sekretarisnya kemudian beranjak meninggalkan mereka dan tak lupa membawa semua foto - foto itu.


Pak Suwandi tak dapat mencegahnya pergi.


" Kamu yang sabar ya sayang. Kamu enggak usah pedulikan omongan Rania. Dia masih belum dewasa seperti kamu walaupun kalian seumuran". Pak Suwandi mengelus pipi wanita itu yang sempat kesal karena ucapan Rania.


Ia mengangguk pelan sembari tersenyum.


"Iya Mas, aku sama sekali enggak peduli soal itu, lagian wajar Rania tidak suka pada ku. Yang terpenting bagi aku itu adalah kamu. Kamu yang selalu membahagiakan aku di setiap saat tanpa mengenal lelah". Ia tersenyum genit sembari melingkarkan tangannya pada leher Pak Suwandi kemudian Pak Suwandi mengajaknya masuk ke dalam kamar.


...


Di jalanan yang terlihat sudah sepi karena larutnya malam, Rania menyetir mobil nya cukup cepat sembari menangis sejadi - jadinya. Hatinya terasa sesak mengingat kehidupannya yang tidak pernah bahagia sejak sang Mama meninggalkannya.


Di perempatan jalan, Rania mulai hilang kendali sehingga ia harus mengerem mobilnya secara mendadak karena tersadar bahwa ada mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Sebuah tabrakan pun terjadi. Akhirnya ia menabrak bumper mobil hitam yang ada di depan mobilnya.


Nafas Rania bekerja tidak beraturan serta matanya tidak berkedip melihat ke depan dengan dahinya yang sudah mengeluarkan darah karena terjadinya benturan yang cukup keras pada stir mobilnya. Ia sangat terkejut atas kejadian tersebut.


#Tok... Tok.. Tok...


Pemilik mobil yang ia tabrak tengah mengetuk kaca pintu mobilnya, ia meminta Rania untuk keluar dari dalam mobilnya.


Dengan perlahan dan gemetaran, ia membuka pintu mobilnya namun pandangannya masih tetap tertuju ke depan.


Setelah ia membuka pintu mobilnya, tiba - tiba pemilik mobil itu memeluk dirinya. Sontak membuatnya terkejut dan hati nya seketika merasa nyaman.


"Kamu tidak apa - apa Rania?".

__ADS_1


__ADS_2