KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
CHAPTER 6


__ADS_3

Sekali lagi...


Pukulan telak bagi Omen yang menghantam hati nya kembali.


Ia benar - benar terkejut ternyata sudah lama Widya mengkhianati cinta nya, bahkan Widya benar - benar melakukan dosa itu bersama laki - laki lain dalam keadaan sadar.


Gigi Omen gemeretuk karena menahan emosinya sembari mendengarkan Widya.


"Aku tahu aku salah, aku wanita yang hina. Awalnya aku selingkuh dari kamu karena aku merasa geram sama kamu setiap kali kamu menyentuh cewek - cewek itu. Aku ingin membalas semua perbuatan kamu. Namun aku salah, justru aku sudah menghancurkan cinta ku bahkan kehidupan ku sekaligus karena perbuatan ku itu. Bahkan aku sempat berprasangka buruk sama kamu dan pekerjaan kamu itu, aku berpikir kamu pun juga sering melakukan itu bersama model - model kamu karena sudah menjadi rahasia umum mengenai pekerjaan kamu yang selalu di anggap negative di mata orang lain dimana hubungan sang photographer dan modelnya yang sudah pasti tidak hanya sebatas pekerjaan. Kamu pasti paham apa maksud aku. Tapi aku salah besar dan menyadari bahwa kamu tidak seperti itu, kamu berbeda, kamu tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Kalau kamu memang melakukan itu sama model - model kamu, mungkin aku wanita pertama dan mungkin pada saat itu aku bukan hamil karena dia tapi karena kamu. Padahal begitu banyak kesempatan bagi syaitan untuk menggoda kita, tapi tidak kamu melakukan itu sama aku dan kamu bilang kalau kamu tidak ingin menghancurkan hidup aku dan menyesal di kemudian hari he he he. Dan pada akhirnya, aku yang benar - benar menyesal atas perbuatan ku sendiri hu hu hu". Widya menangis tersedu - sedu.


"Wajar kalau kamu cemburu, wajar kalau kamu geram sama aku. Cewek mana yang rela melihat pacarnya sedang menyentuh bahkan memegang wanita lain? Cewek mana yang sanggup? Mungkin tidak ada, bahkan istrinya Eggy, Almira pun tidak sanggup kalau Eggy di sentuh oleh wanita lain he he he. Aku juga minta maaf sama kamu karena penyebab semua ini adalah aku. Aku yang sudah membuat hidup kamu hancur seperti ini. Aku sangat menyayangi kamu sampai - sampai aku tidak ingin kamu terluka apa lagi hancur. Melihat hidup kamu seperti ini saja rasa nya hati ku hancur. Melihat kamu mabuk - mabukan setiap malam, melihat kamu menangis, rasa nya hancur Wid, hancur. Bukan enggak tanggung perjuangan aku menahan godaan syaitan setiap kali kita berduaan ha ha ha. Itu aku lakukan demi menjaga kehormatan kamu. Tapi ya sudah lah! Berulang kali aku bilang sama kamu, kita tidak usah membahasnya lagi, karena itu semua sudah berlalu dan kita harus menjalankan yang sekarang demi masa depan yang masih menjadi sebuah misteri dalam hidup kita". Omen menghembuskan nafasnya kemudian menggenggam tangan Widya dan menatapnya.


"Aku minta tolong sama kamu, agar kamu bisa hidup menjadi lebih baik lagi, kamu lupakan apa yang membuat kamu hancur, tinggalkan semua itu jauh - jauh. Dan sekarang hidup lah bahagia Wid. Aku mohon jangan seperti ini. Tolong kembalikan Widya yang aku kenal dulu. Aku merindukan Widya yang dulu".


Widya menatapnya dengan matanya yang sudah basah karena air matanya.


"Aku minta maaf, aku minta maaf hu hu hu". Ujarnya kemudian memeluk Omen dengan erat.


Omen mengusap punggung Widya dengan lembut dan berusaha untuk tidak menangis.


" Sudah lah! Kamu jangan menangis lagi. Nanti aku juga ikutan nangis ini hu hu hu". Celetuknya ingin menghibur Widya.


"He he he, ya sudah. Menangis saja, biar sama - sama nangis kita ha ha ha hu hu hu". Widya tertawa sembari menangis di dalam pelukan Omen dan seakan tidak ingin membiarkan Omen melepaskannya.


...


Omen kembali terdiam di dalam ruangan nya sendirian setelah ia kembali dari rumah Widya.


Hatinya merasa gusar dan tidak bisa ia pahami. Sempat ia mengusap wajah nya yang terlihat stres kemudian memandangi hasil foto Widya dan Rania yang sudah ia pilihkan untuk di kirim ke email admin produk brand yang di bawakan oleh kedua gadis cantik itu.


"Semua nya sudah berubah Wid, tidak akan bisa seperti dulu lagi. Meski aku memaafkan mu dan masih menyayangi mu namun tetap saja aku masih tidak bisa menerima mu kembali ke hati ku Wid, maafkan aku Wid, maafkan aku". Tutur di dalam hatinya.


...


Perlahan Eggy membuka mata nya dan semuanya masih terlihat samar. Ia mengerutkan dahinya ketika ia menyadari ada nya kain kompres menempel di dahinya kemudian ia melepaskannya dan meletakkan nya di dalam mangkuk yang terletak di atas meja.


"Akhirnya Daddy nya Ghifari bangun juga he he he". Tiba - tiba Almira muncul dari luar sembari membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.


Eggy mengedipkan matanya melihat Almira berjalan mendekatinya.


" Suam kenapa di kompres sayang?".


"Tadi malam badan Suam panas kali terus Suam menggigil makanya Ist kompres. Aaak...!". Jawabnya kemudian ia menyodorkan sesendok bubur ke arah mulut Eggy.


Eggy pun melahapnya.


" Um... Akhirnya terkena demam juga Suam nya he he he. Sekarang sudah jam berapa Ist?".


"Hu uh... Jam 11". Jawabnya.


" Ya ALLAH, hari ini Suam ada jadwal penting di rumah sakit. Suam harus siap - siap sayang". Eggy mendadak panik karena itu dan ingin bangkit.


Spontan Almira mendorong tubuh Eggy karena mencegahnya untuk ke rumah sakit.


"Suam masih belum sehat. Suam harus istirahat, enggak boleh kemana - mana apa lagi ke rumah sakit. Lagian Ist sudah menghubungi asisten Suam dan mengatakan bahwa Suam sedang sakit. Jadi... Suam harus diam di atas tempat tidur". Almira melotot kan matanya pada Eggy.


"Tapi ini penting lho Ist. Lagian Suam sudah sehat kok". Eggy masih bersikeras untuk tetap ke rumah sakit.


" Ya sudah, pergi lah! Tapi jangan harap bisa tidur sama Ist malam ini". Ancam nya.

__ADS_1


Sontak membuat Eggy terdiam menuruti Almira.


"Hufft... Aaaaak...". Eggy membuka mulutnya dengan lebar meminta Almira untuk menyuapi nya kembali.


Almira pun menyuapkan nya sembari menahan tawa nya, itu seperti ibu yang sedang menyuapi anak nya yang susah di kasi makan.


" Percuma Suam mengobati banyak orang kalau Suam tidak mau mengobati dirinya sendiri. Suam bukan robot, Suam juga butuh istirahat dan di rawat sama seperti pasien - pasien Suam. Di rumah sakit Suam menjadi Dokter tapi kalau di rumah, Suam menjadi pasien nya Ist". Setelah selesai menyuapi Eggy kemudian Almira mengelap wajah Eggy dengan handuk kecil yang sudah di basahi dengan air hangat.


Eggy tertawa kecil.


"Iya, yang jadi Dokternya itu Ist he he he".


" Iya lah, siapa lagi kalau bukan Ist?"


"He he he iya. Pokoknya Ist itu segalanya bagi kami. Terimakasih ya sayang". Tutur nya sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Almira karena ia ingin mencium nya.


Secepat kilat Almira menutup mulut Eggy.


" Suam masih sakit. Nanti flu nya menular sama Ist. Kalau Ist juga sakit sama seperti Suam, terus siapa yang akan menjadi dokternya? Hm?".


"Hufft. Iya deh". Eggy memanyunkan bibirnya kemudian menyandarkan tubuhnya.


Nada dering ponsel Eggy berdering seketika dan ia pun meminta Almira untuk mengambil ponsel itu untuk nya.


" Halo Assalamualaikum". Saut nya ketika ia mengangkat panggilan itu.


"Iya Pa? Ya ALLAH! Iya Pa, Eggy segera ke sana. Tapi Papa bawa saja Bang Egga langsung ke rumah sakit. Ya sudah Pa, iya iya. Ini Eggy ke sana".


Sedangkan Almira hanya melihat nya dengan seksama kemudian penasaran kenapa sang Papa mertua menelpon dan cemas ketika melihat Eggy tampak panik.


"Bang Egga kenapa Suam?". Tanya nya setelah Eggy memutuskan panggilannya.


"Astaghfirullah. Jadi ini Bang Egga dimana? Sudah di rumah sakit atau masih di rumah?". Almira pun turut panik.


Eggy /" Bang Egga masih di rumah Papa. Papa kebingungan mau bawa Bang Egga sendirian ke rumah sakit, makanya Papa nungguin Suam datang, baru membawa Bang Egga ke rumah sakit. Suam harus segera ke sana sayang".


"Ist ikut ya?".


Eggy menganggukkan kepala dan mereka segera bersiap - siap


...


Melihat pintu rumah sudah terbuka lebar, Eggy dan Almira langsung berlari masuk ke dalam rumah milik orang tuanya setelah mereka mengucapkan salam. Suasana terlihat sepi.


" Pa... Pa...". Eggy berteriak memanggil Pak Wijaya namun tidak ada sautan.


"Mungkin mereka sudah pergi ke rumah sakit Suam. Coba Suam telpon Papa". Almira melihat sekeliling rumah.


" Iya. Panik boleh panik tapi enggak meninggalkan rumah dalam keadaan terbuka juga". Eggy ngedumel sembari menghubungi Pak Wijaya dan ia semakin cemas karena Pak Wijaya tidak mengangkat panggilannya.


#Happy birthday to you...


Happy birthday to you...


Happy birthday...


Happy birthday...


Happy birthday to you....

__ADS_1


Tiba - tiba Egga beserta yang lainnya muncul dari luar sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Eggy, tak terkecuali Ghifari yang berada paling depan sambil membawakan kue ulang tahun.


Sontak membuat keduanya terkejut, terutama Eggy. Eggy tampak kesal sambil menahan tawa nya ternyata ia sedang kerjain oleh keluarganya terlebih lagi melihat Egga dalam keadaan sehat wal'afiat. Sedangkan Almira benar - benar tidak mengetahui soal ini.


"Kurang ajar kau ya Bang, jadi ini aku cuma di kerja'in hah". Teriaknya lalu mengejar Egga.


Egga pun berlari sembari terbahak.


" Ha ha ha, nama nya kau ulang tahun jadi mesti di kerjain lah ha ha ha".


Yang lain turut terbahak melihat keduanya saling bercokolan (berantem sambil bercanda tawa).


"Tapi enggak gini juga. Aku sama Almira jadi panik lari ke sini, sampai tak sempat aku lagi mau mandi sangking paniknya". Ia benar - benar kesal mengingat ia buru - buru ke rumah orang tua nya dalam keadaan masih kurang fit.


" Ha ha ha, kalau enggak kayak gini bukan kejutan ulang tahun namanya, ya kan Ghifari?". Egga melirik Ghifari.


"Iya Uwak Uncle. Daddy harus di kerjain ha ha ha". Anaknya malah mendukung Egga kemudian menyodorkan kue yang ia pegang pada Egga.


Eggy langsung mendekati Ghifari lalu menggelitik pinggang nya.


" Oh... Sudah pintar ya anak Daddy ya sekarang ngerjain Daddy nya. Hm?".


"Ha ha ha ampun Dad, ampun geli.. ha ha ha". Ghifari memohon agar Eggy berhenti menggelitik nya.


" Jangan - jangan Ist juga terlibat? Hm?". Eggy beralih melirik Almira dengan sinis.


Mata Almira terbuka lebar.


"Iiih enggak! Ist saja enggak tahu apa - apa soal ini bahkan Ist pun terkejut juga sama kayak Suam. Ist saja lupa kalau hari ini ulang tahun Suam. Yeee...!".


Sontak membuat wajah Eggy berubah karena Almira tidak mengingat hari jadinya.


" Umaaak...! Binik sendiri tak ingat sama ulang tahun nya ha ha ha". Egga memanas - manasi hati Eggy.


"Heeemm... Mau macam mana lah Bang, nama nya banyak kali yang di pikirin dan di urus. Jangan kan hari ulang tahun, hari ini tanggal berapa pun tak teringat lagi hi hi hi". Almira seakan tidak punya kesalahan apa pun.


" Ha ha ha, untung lakik masih ingat ya Ra?". Bu Hanna menimpal nya.


"Iya lah Ma. Kalau itu enggak ingat juga gawat lah Ma". Eggy melotot kan matanya pada Almira. Almira hanya meliriknya. Sedangkan yang lain tertawa bersama.


" Ha ha ha iya si Almira enggak tahu soal ini. Ini rencana aku sama Ghifari, iya kan?". Egga menyikut lengan Ghifari lalu melagakan tangan mereka 🤜🤛.


"Iya Dad. Rencana nya kami mau ngasi tahu ke Mommy juga soal rencana ini, tapi karena tadi malam Mommy dan Daddy pulang nya tengah malam jadi nya ya sudah deh kami biarin saja Mommy enggak tahu juga he he he". Ghifari menjawabnya.


" Oh pantesan Ghifari tadi pagi bilang jemput sekolah nya sore saja terus bilang kalau hari ini les nya langsung di mulai setelah sekolah, ternyata ini rupanya. Hm? Terus les nya gimana?". Almira melipat kedua tangannya.


"Iya Mom. Tadi Uwak Uncle yang meminta izin sama gurunya biar enggak ikut les hari ini he he he". Ghifari menjawabnya dengan rasa takut.


" Heemmm sudah pandai ya kamu?". Eggy pun turut melipatkan kedua tangannya.


"Ha ha ha Sudah sudah, sekarang tiup lilin nya, sudah mau habis ini lilinnya". Egga menyodorkan kue ulang tahun itu pada Eggy.


Eggy /"Dalam agama islam enggak boleh pakai lilin segala, bahkan kita pun tidak boleh merayakannya". Ujar nya sembari mencabuti semua lilin - lilin yang masih menyala lalu meletakan mereka di atas meja setelah ia mematikan apinya.


Egga /"Iya deh iya Pak Ustadz, lain kali enggak pakai lilin - lilin heeem. Kalau gitu potong kue nya, aku sudah pegal ini pegang kue nya hufft he he he".


"Iya iya". Eggy pun memotong kue ulang tahun nya yang ke 33 tahun.


Mereka berbahagia merayakan ulang tahun Eggy yang jarang sekali mereka lakukan, mengingat kesibukan Eggy yang susah untuk meluangkan waktunya untuk hari ulang tahun nya sendiri di tahun - tahun sebelumnya.

__ADS_1


Wajah Eggy tampak bahagia, ia tak lupa mengutarakan rasa terimakasih nya pada mereka semua dan ia juga sudah melupakan bahwa ia masih dalam keadaan kurang fit karena sangking bahagianya dirinya.


__ADS_2