KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
CHAPTER 8


__ADS_3

Imam tercengang ketika melihat penampilan Omen yang telah kembali seperti semula.


"Bang. Kenapa kau cat lagi warna rambut kau kayak dulu bang? Nanti Uwak (Mamak si Omen) marah sama kau bang". Ia bertanya pada Omen di saat ia turun dari mobilnya.


Omen memutar bola mata.


"Hmm kali ini Mamak aku enggak bakalan marah. Lagian ini lah aku yang sebenarnya. Oh ya. Ada hal penting apa rupanya? Tadi sibuk kali kau menghubungi aku".


"Oh iya! Gawat bang! Gawat!". Imam mendadak panik.


" Gawat kenapa?". Omen penasaran.


"Pak Suwandi CEO parfume yang kemarin yang nuntut abang datang ke sini tadi nyariin abang. Kata nya dia mau nuntut abang lagi". Imam berkata dengan hati - hati agar tidak kedengaran dengan orang lain.


Omen terkejut dan merasa heran.


" Apa? Kenapa pulak dia nuntut lagi? Bukan nya sudah selesai ya?".


Imam /"Itu dia yang bikin aku bingung bang, cuma tadi Pak Suwandi sempat menyinggung soal Rania jadi model produk shampoo kemarin, yang ngegantiin (menggantikan) Kiki".


"Ha? Mungkin dia enggak terima dan marah karena kita pakai Rania, kan Rania brand ambassador produk dia". Omen sedikit memahami kenapa Pak Suwandi datang menuntutnya.


" Mungkin lah Bang. Tapi gimana ini? Entar di obrak-abrik lagi studio ini sama suruhan dia kayak waktu itu". Imam merasa cemas akan terjadi hal yang buruk pada studio.


"Sudah! Santai saja kau. Enggak perlu di cemaskan, lagian kan bukan kita yang meminta atau memaksa Rania. Rania sendiri kan yang menawarkan dirinya. Enggak mungkin Rania enggak membela kita. Jadi enggak usah di besar - besarin". Omen menepuk lengan Imam dan mencoba untuk tetap santai.


Imam /"Heemm semoga saja Rania tidak bermuka dua Bang". Harapan nya.


"Ha ha ha, kau itu yang bermuka dua". Omen menempeleng kepala Imam.


Imam /" Kok aku pulak?".


Omen /"Iya lah. Bentar - bentar kau muji si Rania, ini kau malah curiga sama dia, apa coba kalau bukan muka dua? Ha ha ha".


"Ya beda lah. Aku kan was - was saja. Banyak umat manusia yang seperti itu, terlihat seperti malaikat namun aslinya bak syaitonnirrojim (setan yang terkutuk) ". Imam berkata.


" Elleh. Enggak boleh kau berprasangka buruk kayak gitu, berdosa kau. Sudah ah aku mau tidur dulu, sakit kali pinggang sama kepala ku ini". Ujarnya sembari memegang pinggangnya kemudian berjalan menuju ke ruangannya.


Imam /"Kau enggak pulang lagi bang?".


"Kagaaaaak".


Imam /" Kenapa? Takut kau di marahi sama Uwak karena rambut kau itu? Ha ha ha".


"Bising kali kau! Lagian suka - suka aku lah mau kemana saja, ini kan studio aku, bukan urusan kau". Omen merapatkan giginya lalu menutup pintunya.


" Hemm iya iya, suka - suka kau lah bang".


Kemudian Imam menepuk jidatnya.


"Eh iya lupa! Aah lantak lah situ. Paling entar dia tahu sendiri". Imam pun berlagak masa bodo lalu keluar dari studio.


Omen berjalan menyusuri ruangannya. Seisi ruangan tampak samar - samar karena ada nya sedikit cahaya dari luar lobang angin.


Omen masih kepikiran dan masih terngiang di telinga nya tentang pembicaraannya bersama Eggy siang ini.


#


Omen /" Haiiih kurang ikhlas apa lagi aku nya? Aku sudah mengikhlaskan Widya terus ketemu nya Ratna ehh ternyata bukan jodoh aku. Lah sekarang aku mau mengikhlaskan siapa lagi? Ha?".


Eggy /"Berarti jodoh kau itu Widya karena kau mengikhlaskan dia. Kau itu paham enggak sih siapa yang kami ikhlaskan? Yang kami ikhlaskan kan wanita yang mendampingi kami sekarang".


#


Omen merebahkan badannya di atas sofa kemudian ia memijat dahi nya yang terasa sakit. Ia sama sekali tidak memusingkan tuntutan Pak Suwandi justru ia memusingkan perkataan Eggy perihal percintaannya.


"Kenapa hati aku enggak terima di saat Eggy berkata seperti itu? Apa perasaan ku untuk Widya memang sudah tidak ada lagi? Fuuuht tapi sejak aku di jodohkan dengan Ratna, aku memang sudah tidak pernah lagi memikirkan Widya bahkan mengingatnya pun tidak sama sekali hingga akhir nya kini dia kembali. Apa memang benar apa yang di bilang Eggy? Apa memang ini jalan takdir aku? Buktinya saja setelah semuanya berlalu Widya kembali lagi di kehidupan aku. Hmm entah apa lagi yang bakalan terjadi di kehidupan aku. Cuma rasa nya aku enggak ikhlas kalau memang Widya lah wanita pilihan ALLAH untuk aku, fuuuht". Di dalam hatinya yang gundah berkata - kata dan perlahan ia memejamkan matanya karena ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa kantuk yang semakin berat di pelupuk matanya.


.


.


Rania mendobrak pintu sebuah ruangan cukup keras sehingga orang - orang yang berada di dalam nya terkejut. Pandangan Rania tampak tajam ketika ia melihat kondisi Pak Suwandi yang tengah di pergoki sedang bercumbu dengan sekretarisnya.

__ADS_1


Rania benar - benar sudah muak atas perbuatan keduanya yang kini tertunduk malu.


"Keluar kau!". Rania mengusir sekretaris Pak Suwandi dan masih bersikap tenang. Wanita itu pun keluar dari ruangan itu sembari merapikan pakaian nya, ia menuruti Rania meski hatinya menggerutu enggak senang.


Sedangkan Pak Suwandi berlagak seakan ia lah korbannya.


" Kamu jangan salah paham. Sekretaris Papa saja yang mencoba untuk menggoda Papa". Tuturnya.


Rania memutar bola matanya, ia hafal sekali kalau sang Papa masih bersikeras menutupi hubungannya bersama sekretaris nya.


"Aku ke sini bukan untuk membahas hal yang enggak penting. Aku ke sini mau bertanya sama Papa. Apa maksud Papa menuntut mereka lagi? Sudah berapa kali aku bilang sama Papa, jangan pernah mengganggu mereka lagi". Rania sangat geram setelah ia mengetahui bahwa Pak Suwandi alias Papanya kembali menuntut Omen karena dirinya.


"Papa tidak mengganggu mereka lagi kok. Justru mereka yang mengganggu Papa. Papa hanya menuntut mereka karena mereka sudah memakai jasa kamu, jasa Brand Ambassador produk Papa tanpa meminta izin terlebih dahulu. Kamu tahu? Gara - gara kamu jadi model produk itu, produk brand kita jadi menurun. Brand kita sudah berada di urutan nomor 2. Kamu tahu kan Papa enggak bisa terima itu". Pak Suwandi berkata karena ia merasa di langkahi oleh Omen.


Rania mengendus nafasnya, kesal.


"Tapi enggak seharusnya Papa menuntut mereka. Lagian memang aku yang menawarkan diri untuk jadi model mereka. Mereka sama sekali tidak meminta atau memaksa aku. Harusnya aku yang Papa tuntut bukan nya mereka". Ia bersitegang membela Omen.


"Mana mungkin Papa mau menuntut anak Papa sendiri, sebagai orang tua, Papa harus melindungi kamu". Pak Suwandi berkata sebagai Papa nya.


Rania /" Apa? Melindungi aku? Gara - gara mau melindungi aku, terus Papa bisa seenaknya saja menuntut mereka gitu?".


"Kamu kan tahu, kalau Papa bakal ngelakuin apa saja untuk kamu untuk kebahagiaan kamu. Kamu itu anak Papa satu - satunya. Cuma kamu satu - satu nya yang Papa miliki, jadi mana mungkin Papa mau menuntut kamu. Sebagai sasaran nya ya mereka". Pak Suwandi mulai bernada lirih.


" Bukan seperti ini Pa cara ngebahagia'in aku. Bukan seperti ini. Kalau Papa mau melindungi aku, mau buat aku bahagia, lebih baik Papa tidak bertindak apa pun. Biarkan aku hidup bebas, bebas menjadi diri aku sendiri. Aku heran, kenapa aku terlahir menjadi anak Papa, bahkan aku sempat untuk berpikir menyesal karena di lahir kan sebagai anak Papa. Kalau Papa masih tetap seperti ini, aku sudah tidak akan diam lagi Pa. Papa tunggu saja apa yang akan Papa terima dari aku nantinya". Rania menertawakan Papa nya sembari menggelengkan kepalanya. Ia merasa seperti orang yang menyedihkan bisa terlahir dari orang tua seperti Pak Suwandi.


"Kamu mencoba untuk mengancam Papa, Rania?". Pak Suwandi meraih tangan Rania dengan wajah memelasnya.


" Papa ini sayang sama kamu. Tega - tega nya kamu mengancam Papa seperti ini. Papa tidak ingin hal yang dulu terjadi lagi. Terserah kamu mau menyesal atau tidak terlahir menjadi anak Papa, tapi Papa hanya berusaha untuk melindungi kamu".


Rania menarik tangannya dari genggaman Pak Suwandi.


"Sudah lah Pa. Papa enggak perlu pakai drama segala. Itu tidak akan membuat ku luluh. Aku sudah muak". Model cantik itu pun keluar dari ruangan meninggalkan Pak Suwandi. Ia menghentikan langkah kakinya ketika ia melewati sekretaris Papa nya. Ia melirik wanita itu, sempat ia menertawai nya dengan penampilannya yang lugu namun sebenarnya jal*ng.


"Dasar wanita jal*ng".


Kemudian ia pergi setelah ia memaki wanita itu dan berniat untuk menemui Omen. Rania menghilangkan amarahnya setelah ia tiba di studio milik Omen. Ia melihat Imam tengah menyapu halaman studio lalu menghampirinya.


Rania tersenyum lebar.


"Iya. Omen nya ada di studio kan?".


Imam /" Oh... Ada donk! Bang Omen tak ada tempat lain selain di sini, jadi hari - hari nya di sini terus he he he. Ya sudah Kak, Kakak langsung saja masuk ke dalam. Bang Omen ada di ruangannya kok. Mungkin dia sudah bangun itu. Kalau pun belum bangun Kakak siram saja dia biar bangun hi hi hi".


Rania tertawa kecil sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.


"He he he, ada - ada saja kamu Mam, kasihan donk Omen nya kalau di siram he he he".


"Ha ha ha enggak apa - apa Kak, sudah biasa dia di gitu'in he he he. Tapi maaf kalau aku enggak bisa nganterin kakak ke dalam soal nya pekerjaan aku masih banyak ini he he he". Imam memamerkan sapu yang ia pegang.


Rania /" Iya enggak apa - apa kok Mam. Ya sudah! Aku masuk ke dalam dulu ya".


Imam /"Iya Kak silahkan".


Rania pun beranjak meninggalkan Imam dan masuk ke dalam studio. Tak lama Imam menyadari sesuatu.


"Oh iya! ****** aku". Ia menepuk jidatnya kemudian berlari menyusul Rania ke dalam.


Rania melihat Omen masih tertidur pulas di atas sofa tanpa mengenakan pakaiannya setelah ia membuka pintu ruangan itu. Ia sempat tertawa kecil melihat tingkah Omen di saat tidur yang menurutnya terlihat menggemaskan, sebelum akhirnya ia merasa sangat terkejut ketika ia melihat ternyata Omen tidak tidur sendiri, Rania melangkah mendekati Omen, ia pun melihat seorang wanita berbaring di sisi Omen yang tertutup oleh tubuh nya.


Imam pun mengusap wajahnya setelah ia muncul dan melihat Rania sudah memergoki keduanya sedang tidur bersama kemudian secepatnya ia membangunkan Omen. Sedangkan Rania masih terpaku tak percaya apa yang ia lihat pada saat ini.


"Bang... Bang... Bangun kau Bang...!". Imam mengoncang - goncang tubuh Omen hingga akhirnya ia membuka matanya secara perlahan.


" Hemmm... Apa'an sih kau Mam. Gangguin aku tidur saja. Kepala aku masih sakit kali ini. Shhh". Tuturnya sembari memegang dahinya.


Mata Omen terbelalak seketika setelah ia menyadari adanya Rania.


"Eh... Kamu Rania he he he, sorry kamu jadi melihat aku seperti ini he he he". Ia merasa sedikit malu pada Rania, sesegera mungkin ia merapikan rambut serta mengambil kaosnya.


Lagi...! Mata Omen kembali terbelalak ketika wanita itu menggerakkan tubuhnya.


" Widya?". Dalam hatinya menyebut namanya ketika ia melihat ternyata Widya lah wanita itu.

__ADS_1


Omen merasa bingung bagaimana bisa Widya tidur di sampingnya.


"Sorry! Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat. Lebih baik aku permisi". Rania memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


" Rania... Rania...". Omen bergegas mencegah Rania pergi.


"Rania, kamu kenapa mau pergi secepat ini?". Omen meraih tangan Rania sehingga menghentikan langkah kaki nya.


" I'm so sorry. Karena aku langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan kamu, aku benar - benar enggak tahu kalau kamu sedang bersama pacar kamu". Rania merasa kikuk dan enggak tahu kenapa hatinya merasa enggak enak melihat Omen bersama Widya.


"Ha? Kamu salah paham Rania. Aku sama Widya enggak ada hubungan apa - apa, Widya bukan pacar aku. Bahkan aku enggak tahu kenapa Widya bisa tidur di samping aku. Itu enggak seperti apa yang kamu lihat". Omen berusaha menjelaskan kesalahpahaman tersebut.


"Hah? Kenapa kamu harus menjelaskan semua nya sama aku? Kita kan tidak memiliki hubungan apa pun. Bahkan semua nya enggak ada urusan nya sama aku bukan ha ha ha". Rania bertingkah seolah - olah masa bodo kepada Omen.


Sontak wajah Omen berubah getir dan menyadari bahwa apa yang di katakan Rania itu memang benar.


"Ya kamu benar! He he he, kenapa aku harus menjelaskan nya sama kamu ya? Ha ha ha. Lagian apa urusannya sama kamu ha ha ha. Oh iya aku lupa! Ngomong - ngomong ada apa kamu ke sini pagi - pagi seperti ini?". Omen berusaha seperti biasanya meski terlihat kikuk.


Rania tersenyum melihat wajah Omen.


" Hmm... Nanti saja. Nanti kalau waktu nya sudah pas aku akan menemui kamu lagi. Aku permisi dulu ya. Titip salam untuk Widya. Bye". Ia pun berlalu bersama mobilnya meninggalkan Omen yang masih terpaku menatap kepergiannya.


"Ya benar! Semua ini enggak ada hubungannya sama kamu Rania. Aku nya saja yang terlalu percaya diri. Huh...! Men... Men... Kenapa kau mempermalukan diri kau sendiri seperti ini? Sadar diri lah Men. Enggak mungkin Rania cemburu melihat kau bersama Widya. Rania pergi bukan karena cemburu tapi dia memang merasa tidak nyaman, muncul di situasi seperti tadi. Kebaikannya bukan berarti dia menaruh perasaan sama kau Men. Sadar lah kau itu siapa dan Rania itu siapa". Omen menarik nafasnya yang panjang lalu menghembus nya sekeras mungkin.


Langkah kaki nya terasa berat berjalan masuk ke dalam studionya. Ia langsung menghampiri Imam karena ia sangat penasaran bagaimana bisa Widya berada di sampingnya.


"Sini kau!". Omen menariknya ke dapur.


" Kenapa si Widya bisa tidur sama aku semalaman? Ha? Apa yang terjadi tadi malam? Karena seingat aku, waktu aku sampai di studio enggak ada siapa pun yang datang".


Wajah Imam terlihat takut untuk menjelaskannya.


"Sebenarnya, sebelum kau ke sini, Kak Widya memang sudah ada di dalam ruangan kau Bang dari satu jam sebelum kau datang. Kak Widya ke sini dalam keadaan yang tak sehat alias mabuk. Makanya aku langsung bawa dia ke ruangan kau karena kondisi nya yang enggak memungkinkan. Lagian enggak mungkin kan aku bawa Kak Widya ke kamar aku, entar yang ada kau bakalan ngebacok aku he he he. Aku mau ngasi tahu ke kau tapi kau nya keburu sudah masuk ke dalam, jadi aku pikir ngapain aku kasi tahu kau lagi toh kau kan pasti lihat sendiri kalau Kak Widya tengah tidur di sofa".


Omen mengusap wajah nya.


"Masalahnya aku sama sekali enggak ngeliat kalau Widya ada di situ. Kondisi ruangan nya gelap, ya seperti biasanya aku kan memang enggak pernah menghidupkan lampunya kalau mau tidur karena aku memang terbiasa tidur dalam keadaan gelap. Lagian kau juga tadi, kenapa membiarkan Rania langsung masuk ke dalam. Dia sudah salah paham sama aku jadinya".


"Kalau itu aku memang kelupaan Bang. Maaf, makanya aku tadi lari ngejar Kak Rania ehh keburu dia sudah masuk dan melihat kalian. Lagian aku enggak percaya, kau enggak tahu kalau Kak Widya ada di dalam. Buktinya saja kalian bisa tidur bersebelahan bahkan kau enggak pakai baju dan Kak Widya terbalut dengan kain seperti tanpa busana. Aku enggak percaya melihat kondisi kalian seperti tadi. Entah - entah pun kalian sudah melakukan gitu - gituan, ya kan? Ngaku saja sama aku he he he". Imam menaruh curiga padanya.


" Ya ALLAH... Aku beneran enggak tahu kalau Widya ada di sebelah aku. Kau kan tahu kalau aku tidur selalu membuka baju aku? Tapi seingat aku tadi malam aku langsung tertidur tanpa membuka baju ku. Aku enggak melakukan apa pun sama Widya. Kalau pun aku tahu Widya ada di dalam mungkin aku enggak bakalan tidur di sofa yang sama bahkan aku bakalan ninggalin dia tidur sendirian di ruangan aku dan memilih tidur di luar paling enggak nya aku memilih tidur di lantai". Omen membantah kecurigaan Imam.


"Hemmm Who knows? Kalau melihat kondisi kalian seperti tadi, kayak nya enggak ada satu pun yang percaya kalau kalian tidak melakukan apa pun, bahkan aku sendiri pun enggak percaya. Lagian laki - laki mana yang enggak tergoda sama Kak Widya he he he". Imam menaikkan kedua bahu nya dan masih tetap tidak percaya. Kemudian ia pergi melanjutkan pekerjaannya.


Omen hampir frustasi mengingat apa yang terjadi pada malam itu. Seingatnya ia tidak melakukan apa pun setelah ia masuk ke dalam ruangannya. Bahkan ia langsung memejamkan matanya karena rasa sakit pada kepala dan pinggangnya.


"Aku enggak melakukan apa pun. Tidak terjadi apa pun malam itu. Aku yakin itu". Tuturnya kemudian ia berjalan menuju ruangannya.


Ia melihat Widya masih tertidur pulas dengan penampilannya yang sangat berantakan.


"Sejak kamu kembali, hidup ku terasa aneh Wid. Bahkan hati ku tidak pernah merasa tenang. Kenapa kamu harus kembali? Apa yang terjadi tadi malam? Kenapa kamu bisa tidur bersama ku semalaman tanpa busana seperti itu". Batinnya.


Perlahan Widya membuka matanya kemudian ia tersenyum melihat Omen berdiri menatapnya.


" Hai!". Widya menyapanya lalu membangkitkan tubuhnya alias duduk sembari menutupi tubuhnya dengan kain yang sudah menyelimutinya.


Omen hanya menyunggingkan senyumannya dan tidak tahu harus berkata apa padanya.


"Setelah sekian lama akhirnya kita bisa tidur bersama seperti apa yang aku inginkan dulu pada saat kita pacaran he he he. Aku tidak menyangka itu terjadi juga di antara kita berdua dan itu membuat ku bahagia he he he. Terimakasih ya, kamu sudah memberikan aku kesempatan lagi". Wajah Widya tampak berseri - seri menatap Omen kemudian mendekatinya.


Omen mengerutkan dahinya.


" Maksud kamu apa? Apa sebenarnya yang terjadi tadi malam? Aku tidak mengingat apa pun".


"Kamu enggak ingat apa pun? Apa yang terjadi tadi malam di antara kita berdua, kamu tidak mengingat nya?".


Widya bertanya sembari melihat wajah Omen yang masih merasa bingung dan tidak ingat apa pun.


" He he he, kamu bercanda kan sayang? Masa kamu melupakan nya begitu saja pengalaman pertama kita yang begitu indah tadi malam, bahkan aku tidak ingin melupakan itu sampai kapan pun karena itu adalah hal yang terindah dalam hidup ku. Aku berjanji, aku enggak akan mengecewakan kamu lagi. Aku akan menjadi Widya yang dulu kamu kenal, wanita yang paling kamu cintai, wanita yang akan membuat kamu bahagia, bukan hanya tadi malam bahkan setiap saat aku akan membahagiakan kamu. Aku masih sangat mencintai kamu sayang". Widya memeluk tubuh Omen begitu erat sehingga ia merasakan tubuh Widya begitu dekat serta nafas nya yang terasa menggebu - gebu.


Sedangkan Omen benar - benar merasa bingung seperti orang linglung yang tersesat di jalan. Hatinya terus bertanya dan berperang.


"Apa sebenarnya yang terjadi tadi malam? Kenapa aku tidak mengingatnya sedikit pun? Enggak mungkin aku melakukan itu sama Widya! Enggak mungkin! Ini pasti mimpi".

__ADS_1


__ADS_2