
" Stop! Aku enggak mau mendengar apa pun dari mulut kamu. Kamu memang benar - benar tidak sadar diri ya. Seharusnya kamu ngaca, siapa diri kamu dan siapa diri aku. Kamu enggak usah kePD'an hanya karena aku baik sama kamu. Kamu itu sama sekali bukan type aku. Lebih baik kamu keluar dari mobil aku! Dan... Ini...".
" Ini... Untuk biaya karena aku sudah menabrak mobil kamu. Kalau masih kurang, kamu tinggal minta saja ke kantor Papa ku, aku akan mengurusnya". Ia menyodorkan lembaran uang 100 ribuan cukup tebal ke tangan Omen.
Perkataan Rania masih terngiang di telinga Omen dan itu sungguh sangat menyakitkan baginya.
"Huh...! Huh ha ha ha...! Ternyata anak sama bapaknya sama saja! Ha ha ha".
Omen tertawa seperti orang stres dan mengagetkan Widya.
Widya mengerutkan dahinya ketika ia melihat Omen tertawa sendiri di dalam ruangannya. Ia pun menghampirinya.
" Kamu kenapa sayang? Kok kamu tertawa sendiri? Apa ada yang lucu?". Tanyanya.
Omen melihat ke arah Widya.
"Ha ha ha, tidak. Tidak ada apa - apa. Aku cuma pengen ketawa saja ha ha ha". Jawabnya sembari tertawa.
Widya masih merasa bingung.
" Oh iya! Ini aku bawakan kamu sarapan pagi. Kita sarapan bareng yuk?". Ia meletakkan sebuah bungkusan yang ia bawa sejak tadi di atas meja.
"Kamu makan saja. Aku lagi enggak selera makan. Lagian, sepertinya kamu lupa ya? Aku kan tidak bisa sarapan pagi sepagi ini". Omen menolaknya sembari melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan ke arah jam setengah 7 pagi.
Widya melirik pada jam dinding tersebut.
" He he he. Maaf aku kelupaan. Soalnya aku terlalu bersemangat ingin sarapan bersama dengan kamu sampai - sampai aku tidak melihat jam he he he".
Omen memutar kedua bola matanya.
"Belum jadi binik (istri) saja sudah lupa dengan hal kecil". Cetusnya begitu ketus kemudian keluar dari ruangannya meninggalkan Widya.
Widya sangat terkejut melihat tingkah Omen yang begitu aneh serta kasar padanya pagi ini.
" Omen kenapa ya? Kok dia kasar sekali?".
Seharian Omen bertingkah sangat aneh, ia tampak begitu emosi bahkan ia sering marah - marah serta memaki rekan kerjanya setiap kali mereka melakukan kesalahan meski hanya kesalahan sepele.
"Bang Omen kenapa? Kok hari ini dia marah - marah terus, bahkan ia sampai memaki aku gara - gara aku enggak sengaja menjatuhkan kertas". Salah satu rekan kerjanya mulai berani bertanya pada Imam yang juga merasa heran melihat tingkah Omen.
" Enggak tahu aku! Kalian balik saja lah. Enggak usah lama - lama di sini, kayak nya suasana hati si Omen lagi enggak beres". Imam menyuruh mereka pergi dari studio sebelum Omen semakin meluapkan emosinya pada mereka.
"Tapi kan kerjaan nya belum selesai. Kalau kami balik sekarang, entar yang ada bang Omen semakin mengamuk".
" Sudah! Nanti aku atur itu. Lebih bagus kalian cepat pergi. Kalian mau dia bakal marah - marahi kalian tanpa sebab? Sudah cepat! Sebelum dia keluar dari ruangannya". Imam mendorong tubuh rekannya itu.
"Iya iya bentar. Lagian aku mesti membereskan barang - barang aku dulu. Kau bantuin lah, biar cepat". Ujarnya sembari membereskan barang - barang nya dengan cepat dan di bantu oleh Imam.
Tak lama Omen pun keluar dari ruangannya dan ia melihat seisi studio tampak sunyi, yang terlihat hanya Imam yang berpura - pura sedang menyapu.
Omen menghampiri Imam sembari melihat sekeliling studio.
"Mana yang lain? Kok sepi?".
__ADS_1
" Um... Um... Orang itu sudah pulang dari tadi, orang itu mau pamit sama kau tapi enggak sempat karena orang itu sudah telat mau foto prewed client". Sedikit gelagapan Imam memberikan alasan palsu pada Omen dan takut Omen akan memarahinya.
Omen hanya mendengarkannya saja kemudian tidak meresponnya sedikit pun.
"Aku mau keluar!".
"Ha? Um... Kau mau kemana bang? Ehh maksud aku i.. iya bang. Um... Apa perlu aku kawani (temenin) kau bang?".
" Enggak usah!". Jawabnya kemudian pergi meninggalkan Imam yang merasa sedikit khawatir padanya.
Karena rasa khawatir nya semakin memuncak, akhirnya Imam mencoba menghubungi Eggy untuk menanyakan apa yang terjadi pada Omen namun sayang nya Eggy tidak mengetahui apa pun perihal itu dan Imam pun membuat Eggy menjadi ikutan khawatir.
Eggy /"Aku enggak tahu apa si Omen lagi punya masalah atau tidak soalnya belakangan ini pun si Omen enggak pernah menghubungi aku lagi. Apa Widya masih sering ke sini?".
Imam /"Masih sering sih bang! Malah akhir - akhir ini Widya menjadi sasaran kemarahan si Omen".
Eggy /"Um... Ya sudah! Nanti aku coba temui si Widya dan bertanya padanya kenapa si Omen. Aku yakin pasti Widya buat ulah lagi sama dia".
Imam /"Hmm... Iya bang, aku pun berpikir seperti itu. Ya sudah bang, aku tutup dulu telponnya, aku takut entar si Omen balik".
Eggy /"Iya Mam".
Mereka pun menutup obrolan mereka.
"Ada apa Suam? Siapa yang nelpon barusan?". Almira bertanya sembari berjalan mendekati Eggy yang tengah duduk di atas tempat tidur.
"Fuht... Si Imam yang nelpon, dia nanya apa si Omen lagi ada masalah, soalnya akhir - akhir ini dia bertingkah aneh". Jawabnya sembari meraih tangan Almira kemudian memintanya untuk duduk di pangkuannya.
"Ha ha ha. Memang iya sih Ist. Dia memang orang nya aneh he he he. Tapi kali ini dia lebih aneh dari biasanya. Kata Imam, akhir - akhir ini dia bawaannya emosian dan sering marah - marah enggak jelas. Dan kasihan nya, Widya selalu menjadi tempat sasaran emosinya".
" Ya ALLAH, kasihan nya! Berarti bang Omen lagi ada masalah tuh sama Widya. Kalau enggak mana mungkin Bang Omen seperti itu padanya". Pikiran Almira juga sama dengan Eggy.
"Iya, Suam pun juga mikirnya seperti itu. Makanya nanti Suam mau jumpai si Widya, Suam mau nanya yang sebenarnya". Eggy berkata sembari membelai rambut Almira.
Almira mengangguk pelan sembari tersenyum kemudian tangannya membelai rambut pirang Eggy.
" Kapan rencana Suam mau memangkas rambut Suam?".
"Huuffft... Suam masih belum sempat mau ke tukang pangkas soalnya kerjaan Suam di rumah sakit masih banyak hiks hiks hiks".
Almira tertawa kecil melihat Eggy merengek.
" He he he, ya sudah lah. Tahan kan saja lah dulu sampai Suam ada waktu".
"Hmmpt... Tapi masalahnya Suam jadi pusat perhatian di rumah sakit".
" Lah... Bukannya Suam memang selalu menjadi pusat perhatian dimana pun Suam berada? Ha ha ha". Almira malah meledeknya.
"Hiks hiks hiks. Suam enggak mau, Suam jadi enggak nyaman kerja". Eggy berubah menjadi seperti anak kecil yang merengek di dalam pelukan.
" He he he... Sudah lah Suam. Masa gitu saja merengek. Enggak malu sama umur, sudah mau punya anak 4 malah". Almira mengusap kepala Eggy begitu lembut.
"Biar lah. Lagian kan Suam merengek nya di depan Ist, bukan di muka umum". Eggy mengeratkan tangannya pada tubuh Almira kemudian menenggelamkan wajahnya pada dada Almira.
__ADS_1
Sedangkan Almira tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
" Dasar bayi besar he he he".
.
.
" Ya...! Memang aku orangnya tidak sadar diri. Ha ha ha... Siapa aku? Berani nya menyukai wanita sesempurna Rania. Ha ha ha Rania memang benar bahwa aku bukan lah type nya dan aku enggak pantas untuk nya ha ha ha". Omen seperti kehilangan akal berada di dalam sebuah bar. Ia berbicara sendiri, tertawa sendiri dan juga menangis sembari memegang botol minuman haram yang isi nya sudah hampir habis.
"Rania...! Rania....!". Teriaknya dan menjadi pusat perhatian bagi pengunjung bar.
Ada yang berbisik - bisik ketika melihatnya dan ada juga yang tertawa kecil sembari menggelengkan kepala mereka.
"Raniaaaaaaaaa aku benci sama kamu. Aku benci sama semua wanita yang ada di muka bumi ini. Aku benciiiiiiiiii". Teriaknya sembari menangis kemudian ia pun roboh dari tempat duduk nya alias pingsan.
Sebagian orang berhamburan mendekatinya.
" Cepat... Cepat..! Tolong bantu orang ini. Tolong bawa dia ke rumah sakit. Apa ada yang mengenal pria ini?". Begitu lah seruan mereka sembari melihat Omen sudah tak sadarkan diri.
.
.
Perlahan Omen mencoba membuka matanya, meski terlihat samar namun ia tahu bahwa ia tidak berada di tempatnya.
"Sh... Siapa yang bawa aku ke hotel ini?".
Kepala nya terasa pusing serta tubuhnya pun terasa berat untuk di angkat.
Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur dan segera memakai kemejanya dan memungut kunci mobilnya yang terletak di atas meja.
Ia berusaha mengingat kejadian tadi malam, namun ia tidak mengingatnya kemudian ia pun keluar dari hotel tersebut.
"Sudah sadar Pak?". Tiba - tiba seorang security bertanya pada Omen ketika pria paruh baya itu melihat Omen berjalan keluar.
Alis mata nya mengerut memandangi wajah bapak tersebut.
" Bapak ini, kalau enggak kuat minum enggak usah lah pakai minum - minum segala, apa lagi kalau lagi ada masalah sama pacarnya, enggak perlu lah seperti itu kan kasihan pacar nya Bapak he he he".
"Pacar?". Omen menjadi bingung.
" Iya..! Kan yang membawa Bapak ke sini pacar nya bapak. Dia sampai kerepotan menopang bapak sampai ke sini terus karena saya kasihan makanya saya bantu membawa bapak ke dalam kamar. Sepertinya pacar bapak sangat mencintai bapak, dia sampai menangis melihat kondisi bapak bahkan dia selalu mengucapkan kata maaf pada bapak. Sudah lah Pak, maafin lah kesalahan nya. Siapa pun pasti berbuat salah. Bapak jangan sampai menyesal di kemudian hari karena bapak tidak memaafkannya. Di dunia ini sangat susah menemukan orang yang mengakui kesalahannya sendiri, justru mereka malah merasa yang paling benar".
Omen berpikir keras siapa orang yang di maksud security itu.
"Terimakasih banyak ya Pak karena sudah membantu saya. Saya pamit dulu. Sekali lagi terimakasih".
" Iya Pak sama - sama. Ingat ya Pak! Jangan sampai menyesal di kemudian hari".
Omen mengangguk kan kepalanya sembari tersenyum kemudian berlalu bersama mobilnya.
"Siapa yang di maksud security itu? Apa Widya? Atau.....". Pikirnya dan semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1