KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
Chapter 18


__ADS_3

"Widya Widya...". Omen berusaha membangunkannya yang berbaring diatas tempat tidur karena ia jatuh pingsan.


Dengan perlahan Widya membuka matanya dan ia melihat Omen kemudian langsung memeluk tubuh Omen. Ia berpikir dan berharap banyak bahwa itu adalah mimpi, namun itu salah ketika ia melihat pria tersebut ternyata memang benar-benar berada bersama mereka. Widya merasa ketakutan dan melepaskan pelukannya tapi matanya tetap menatap pria itu.


Memikirkannya saja ia sudah hampir gila apa lagi menghadapi pria itu secara langsung seperti pada saat ini.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa". Widya menjerit histeris, tubuhnya bergemetar sembari menutup telinganya. Dari sorot matanya penuh dengan rasa ketakutan dan trauma.


Eggy, Omen, Imam, Almira tak terkecuali pria itu terkejut melihat reaksi Widya seperti orang depresi. Dengan sigap Omen mendekati Widya dan berusaha memeluknya namun Widya menepis tangannya seperti orang ketakutan.


"Widya... Widya... Ini aku Omen. Widya sadar lah". Omen merasa khawatir serta bingung.


Sebagai seorang dokter, Eggy paham betul apa yang di alami Widya. Eggy pun keluar untuk mengambil kotak pelaratan medisnya yang berada didalam mobil dan kembali secepat mungkin.


Eggy menyiapkan alat suntik serta obat penenang dan segera menyuntikkannya pada Widya. Eggy meminta Almira untuk mencoba mendekati dan segala upaya dilakukan agar Widya bisa lebih tenang namun tidak berhasil juga hingga akhirnya mereka melakukannya dengan secara paksa. Eggy menyuntik Widya dalam keadaan ia masih teriak berontak. Obat penenang pun berhasil masuk ke tubuhnya walaupun tangannya sudah meneteskan darah akibat ia meronta-meronta.


Tubuh Widya kembali terbaring tak berdaya. Melihat kondisinya seperti itu sungguh amat ironis dan menyedihkan.


"Sepertinya Widya sudah mengetahui semuanya. Kalau tidak, mana mungkin ia mengalami depresi yang cukup berat seperti ini. Kalau Widya seperti ini terus, dia bisa gila dan kehilangan dirinya sendiri. Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut". Eggy menjelaskan diagnosa yang dialami oleh Widya.


Omen benar-benar stres dan enggak tahu harus berbuat apa. Emosi Omen kini sudah lewat dari batasannya, matanya memerah melihat pria itu lalu menghajar pria itu habis-habisan sembari menangis. Sedangkan pria itu hanya pasrah dan sadar bahwa ia salah dan pantas mendapatkan pukulan tersebut.


"Aaaaa". Almira berteriak ketakutan melihat Omen menghajar pria tersebut dan dengan sigap Eggy menjauhkan Almira dari mereka.


Sekeras mungkin Eggy dan Imam berusaha menghentikan Omen dan berhasil.


"Enggak kayak gini caranya. Ini sama saja kau menambah masalah lagi". Bentaknya.


"Aku harus menghajarnya sampai mati. Dia pantas dibunuh Gy, gara-gara pria brengsek seperti dia kehidupan seseorang hancur. Dia pantas mati". Teriaknya semakin membabi buta sembari berusaha melepaskan pelukan Eggy namun tidak berhasil. Sedangkan pria berbadan atletis itu sudah pingsan dengan babak belur diseluruh wajahnya.

__ADS_1


Eggy /"Istighfar kau Men. Semuanya juga enggak akan kembali seperti semula kalau kau melakukan ini. Yang ada akan memperburuk keadaan. Aku juga sama marahnya seperti kau tapi kita enggak bisa bertindak gegabah, kita serahkan saja kepada pihak berwajib, biar mereka yang memproses dan menghukumnya".


"Iya bang, jangan lah kau kayak gini bang. Enggak kasihan kau sama diri kau sendiri? Ngucap kau bang". Imam menambah untuk meluruhkan hati Omen.


Perlahan amarahnya meredam namun Eggy tetap tidak melepaskan pelukkannya agar ia tidak kembali memukuli pria itu.


"Mam, kau telpon polisi, biar dia cepat diproses sama mereka". Pinta Eggy pada Imam.


"Baik bang". Imam pun segera menghubungi pihak berwajib.


"Sayang tolong ambilkan minum untuk Omen". Eggy pun meminta tolong pada Almira.


"Iya Suam". Secepatnya Almira mengambil sebotol air mineral yang sudah tersedia di atas meja rias pengantin lalu menyerahkannya pada Eggy.


"Minum kau dulu nih Istighfar kau". Eggy menyodorkan botol air minum itu pada Omen dan disambut olehnya dengan tangan gemetar.


Polisi pun membawa pria itu bersama dengan bukti-bukti. Eggy meminta tolong pada Imam untuk mengurus yang ada di studio dan ia juga meminta pada Egga dan Ratna untuk membawa Almira dan Ghifari pulang ke rumah. Sedangkan ia bersama Omen membawa Widya ke rumah sakitnya.


Diruangan tunggu rumah sakit, Omen terdiam sendirian dengan pandangan kosong serta dengan kondisi yang berantakan dan berlumuran darah pada tangannya. Sedangkan Widya sedang diperiksa oleh dokter diruang IGD.


Eggy menghampiri Omen usai ia membawa Widya ke IGD. Ia mengajak Omen untuk ke ruangannya sembari melihat tangannya yang terluka.


"Kita ke ruangan aku saja, sekalian ngobati tangan kau itu".


Tanpa membantah, Omen pun menurut lalu mereka beranjak ke ruangan Eggy. Disana pun Omen masih terdiam tanpa berkata, ia seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup.


"Kau ganti baju nah". Eggy menyodorkan pada Omen sebuah baju kaos berwarna abu-abu yang sudah ia ambil di dalam lemarinya setelah ia selesai mengobati luka pada tangan Omen.


"Thanks bro". Ucapnya untuk pertama kalinya setelah ia berdiam cukup lama.

__ADS_1


"Hmm! Kau istirahat saja dulu disini kalau kau sudah agak tenang baru kita pulang sama-sama. Soal Widya sudah ditangani sama dokter, kau enggak perlu cemas, kita tinggal menunggu kabar dari kondisinya saja. Aku mau keluar sebentar karena ada pasien yang harus aku tangani". Eggy meninggalkan Omen setelah ia mengganti pakaiannya.


Pikiran Omen benar-benar kacau. Ia masih teringat sikap dingin Rania kepadanya. Awalnya ia berpikir Rania seperti itu kepadanya karena ulah Papanya untuk melindunginya, namun ia berpikir ulang setelah ia mengingat pernyataan pria itu.


"Aku sudah memberitahu Mbak Rania semua kebenarannya, tapi sepertinya Mbak Rania sama sekali tidak merespon itu, Mbak Rania hanya diam. Aku juga enggak mengerti arti dari diamnya Mbak Rania, tapi aku yakin Mbak Rania enggak ada hubungannya dengan kejahatan ini, Mbak Rania sama sekali tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah".


Omen mengusap wajahnya dan sesekali menghelakan nafasnya. Ia tidak tahu harus merasa senang atau pun sedih. Karena disatu sisi semua kebenaran bahwa ia tidak bersalah sudah terungkap namun disisi lain ada kehidupan seseorang yang sudah hancur karena dirinya.


Melihat kondisi Widya yang semakin hari semakin memburuk membuat Omen berpikir untuk memutuskan untuk benar-benar menikahinya. Selain karena hanya ia yang mampu membuat Widya tenang, ia juga memikirkan kondisi kehamilannya yang sudah terancam akan kesehatannya dan sebagai penebus akibat dirinya Widya menjadi seperti itu.


"Kali ini kau benar-benar yakin akan keputusan kau?". Eggy melontarkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya pada Omen.


"InSyaALLAH aku yakin dan ikhlas atas keputusan yang aku ambil. Aku harus bertanggung jawab karena menyebabkan hancurnya kehidupan Widya kalau bukan gara-gara aku, mungkin Widya enggak akan hancur seperti ini. Aku juga sudah berjanji padanya untuk tidak meninggalkannya, apalagi dalam kondisinya saat ini. Dulu Widya itu wanita yang sangat periang dan bersemangat tinggi, namun setelah kejadian yang menimpa kedua orang tuanya, ia menjadi pemurung dan benar-benar berubah. Dia berpikir bahwa dialah penyebab kematian orang tuanya, sejak saat itu juga aku berjanji padanya kalau aku enggak bakalan meninggalkan dia karena ia sudah tidak memiliki siapapun selain aku. Kejadian ini mengingatkan aku kembali pada janji itu dan aku harus menepatinya". Jawabnya sembari melihat Widya berbaring diatas tempat tidur dalam keadaan tidur.


Eggy mendekatinya kemudian menepuk pundaknya.


"Aku berharap semoga ini benar-benar yang terbaik dari ALLAH dan mengakhiri ujian yang kau terima".


"Aamiin Ya ALLAH. Thank bro selama ini kau selalu ada untuk aku". Omen tersenyum sembari menepuk kembali tangan Eggy yang masih berada dipundaknya.


"Hmm... Ingat! Semuanya enggak gratis. Kau harus bayar itu ha ha ha". Eggy mencoba mencairkan suasana dengan mengeluarkan celetukan recehnya dan membuat Omen tertawa.



"Maafin aku"


Lagi...


Lagi-lagi Omen memimpikan hal yang sama. Mimpi yang masih belum terpecahkan olehnya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2