
Eggy menarik tangan Almira lalu memangku nya di atas pahanya.
"Hadiah ulang tahun untuk Suam mana?". Ia bertanya sembari melingkarkan tangannya pada tubuh Almira.
Mereka sudah kembali ke rumah mereka dan bergegas untuk istirahat. Dan kini hanya tinggal mereka berdua saja di dalam kamar mereka setelah Almira mengantar Ghifari ke dalam kamarnya.
" Iih apa'an! Suam itu sudah tua. Suam sudah enggak cocok minta kado ulang tahun, wuuuu". Ujarnya sembari memukul tangan Eggy kemudian melepaskan lingkaran tangan Eggy dan bangkit.
"Hiiist, memang ya punya binik tapi enggak ada romantis - romantis nya. Sudah enggak ingat ulang tahun lakiknya ini malah enggak mau ngasi kado untuk lakiknya, paling enggak nya di peluk atau di cium gitu kek. Ini kagak sama sekali huuuft". Wajah Eggy tampak kesal dan cemberut melihat Almira benar - benar terlihat biasa saja.
"Ya ampun Suam, kalau mau di peluk atau di cium enggak mesti nunggu hari ulang tahun juga, lagian Suam kan memang setiap hari meluk dan nyium Ist. Kurang apa lagi coba? Cuma kalau untuk hari ini enggak, karena Suam lagi demam, entar yang ada tertular sama Ist". Almira menjawab nya sembari menggantungkan pakaian yang baru ia ganti.
"Iya deh iya. Ya sudah kalau gitu Suam mau istirahat, Suam sudah capek dan ngantuk". Ketusnya, ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menutup tubuh nya dengan selimut.
Eggy terlihat gelisah.
" Apaan sih ini?". Ia merasa ada sesuatu di balik bantalnya dan itu membuat nya tidak nyaman, ia pun menyingkirkan bantalnya lalu matanya terbuka lebar dan spontan ia bangkit dari tempat tidur kemudian memeluk Almira dengan erat.
Almira tertawa kecil.
"Selamat ulang tahun Suam. Enggak mungkin Ist lupa sama tanggal ini he he he. Itu hadiah kecil dari Ist untuk Suam". Almira berkata padanya sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Eggy.
Eggy menangis bahagia. Bagaimana tidak, ia mendapatkan kado spesial dari ALLAH melalui sang istri yaitu hasil tes kehamilan Almira positive.
Eggy melepaskan pelukannya.
"Ini serius Ist? Bukannya semalem (kemarin) kita periksa hasilnya negative ya? Bahkan Suam sampai berdebat sama Dokternya. Hm?". Ia masih tidak percaya melihat hasil test pack itu.
" Ha ha ha, itu memang sudah rencana Ist mau ngerjain Suam. Ist sudah ngecheck 3 hari yang lalu dan ini hasilnya. Terus Ist berpikir ngasi tahu ke Suam itu pas hari ulang tahun Suam, ehh enggak tahu nya Suam mulai curiga karena Ist pengen makan ini itu dan Suam sibuk ngajakin Ist untuk periksa ke dokter kandungan. Jadi sebelum di periksa, Ist sudah menyetel semuanya. Tapi tetap saja kejutannya lebih keduluan sama Bang Egga itu pun karena Suam sakit dan enggak bangun - bangun sampai siang". Almira menceritakan semuanya.
Eggy kembali memeluknya.
"Ma Sya ALLAH sayang ha ha ha. Enggak tahu lagi Suam mau bilang apa hu hu hu. Terimakasih sayang. Terimakasih karena sudah ngerjain Suam seperti ini hu hu hu".
Almira /" Ha ha ha, sudah sudah. Ayo kita istirahat, biar Suam semakin fit. Lagian Suam belum boleh meluk Ist lama - lama. Suam masih demam lho".
"Enggak mau, biarin saja. Suam mau terus kayak gini, ini balasan karena Ist sudah ngerjain Suam sampai nangis seperti ini hu hu hu". Eggy tidak mau melepaskan pelukannya.
" Ha ha ha dasar cingeng (cengeng)". Almira semakin gemes pada Eggy.
"Hu hu hu, memang Ist jahat kali. Coba Ist enggak ngerjain Suam mungkin kita enggak bakalan kejebak hujan sampai tengah malam dan mungkin Suam juga enggak bakalan demam kan hu hu hu". Eggy melepaskan pelukannya kemudian menatapnya dengan sinis meski mata nya masih basah.
"He he he, Ist minta maaf ya sayang. Ist kan enggak tahu kalau tahu nya jadi begini. Lagian Suam juga maksa ngajakin ke sa..... Ummm....". Ucapan Almira terputus karena Eggy melahap habis bibir Almira dan tidak peduli dengan kondisinya.
Almira sempat menolaknya sembari memukul punggung Eggy, namun Eggy lebih gesit dari dirinya sehingga Almira benar - benar tidak bisa berkutik dan tak lagi memikirkan demam dan flu Eggy akan menular pada nya.
"Terimakasih sayang".
...
#Hachiiiiim....! Haaachiim...!.
Pagi ini akhirnya Almira tertular juga oleh Eggy, ia terserang flu. Sedangkan Eggy sudah sembuh dari flu nya.
Sejak bangun tidur Almira tak hentinya bersin - bersin sehingga hidung nya memerah. Namun begitu Almira tetap melakukan tugas nya di pagi hari seperti biasanya.
Eggy mendekati Almira yang sedang menghidangkan sarapan mereka. Kemudian ia menyentuh dahi Almira, ia sama sekali tidak merasakan panas pada dahinya.
"Ist terkena flu? Pasti flu nya tertular dari Suam he he he".
" Huum...". Almira mengangguk sembari menunjukan wajahnya.
"He he he kasihan, maaf ya sayang ummm... Ya sudah, Suam ambilkan obat dulu ya? Biar enggak semakin parah flu nya". Eggy menarik hidung Almira yang sudah memerah semakin memerah.
" Eh... Tapi kan Ist lagi hamil, Ist enggak mau minum obat". Almira mencegahnya karena ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada kehamilannya jika ia mengonsumsi obat.
Eggy tertawa kecil sembari menyipitkan matanya kemudian mengelus pipi Almira.
"He he he, enggak apa - apa kok sayang. Suam kan tahu mana yang aman untuk ibu hamil mana yang enggak. Lagian mana mungkin Suam mau menyelakai anak dan istri Suam. Percuma donk Suam dokter terbaik sedunia ha ha ha".
Almira mengangguk pelan.
" Sedunia! Apaan! Sekota Medan pun belum huuuuuu". Cibirnya.
"Maksudnya sedunianya kamu. Hi hi hi". Sambungnya bernada gombal sembari melagakan kening nya pada kening Almira dan melingkarkan tangannya pada pinggang Almira.
" Hiiist dasar tukang gombal. Sudah jangan dekat - dekat gini nanti di lihat Ghifari, malu" Almira mendorong tubuh Eggy dengan pelan.
__ADS_1
Eggy mengangguk sembari tersenyum kemudian segera mengambil obat untuk Almira.
...
"Sholat istikharah kau dulu, biar di kasi petunjuk sama ALLAH mana yang terbaik untuk kau". Eggy memberi saran pada Omen setelah ia menceritakan keluh kesah nya pada Omen mengenai percintaannya.
Omen sengaja datang ke rumah Eggy karena ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan melarang Eggy pergi ke rumah sakit.
"Sholat wajib ku saja bolong - bolong, gimana mau sholat istikharah. Hedeh Gy Gy, jangan harap lah hufft". Keluhnya sembari mengayun - ayunkan ayunan yang ada di halaman belakang rumah Eggy.
" Tuh lah kau, gimana ALLAH mau memudahkan urusan kau, kau nya saja kayak gitu. Ya sudah lah! Capek aku ngasi tahu ke kau, hingga berbuih pun mulut aku, enggak bakalan kau dengerin". Eggy berkata pada Omen sembari geleng - geleng kepala.
"Heem bukan nya aku enggak mau dengerin apa kata kau, cuma rasa ku enggak adil kali, masa giliran aku susah baru aku sibuk mau menghadap ALLAH giliran senangnya aku lupa. Itu yang buat aku malu sama ALLAH". Omen tertunduk malu.
"Sudah tahu malu, makanya kau itu menghadap ALLAH bukan sesaat saja tapi setiap saat. Lebih malu lagi kalau kita enggak menghadap ALLAH sama sekali. Gini nih pola pikir orang awam. Heemm bertaubat lah kau Men. Aku tahu, aku bukan lah alim - alim kali bahkan sejak kenal sama binik aku nya baru aku memulai untuk sholat lagi, tapi setidaknya aku mencoba menjadi lebih baik lagi dari masa lalu aku". Eggy menepuk lengan Omen cukup keras.
"Iya aku tahu itu. Hmm... Kalau di ingat - ingat lucu juga ya ha ha ha". Omen terdiam sejenak kemudian ia terbahak mengingat sesuatu.
Dahi Eggy berkerut melihat Omen.
" Ingat apa?".
Omen /"Dulu waktu kau mengikhlaskan Almira untuk Egga ehh enggak tahu nya ALLAH malah menyatukan kalian berdua. Nah kemarin di saat Egga mengikhlaskan Ratna untuk aku ehh begitu juga ALLAH menyatukan mereka berdua. Ha ha ha kalau di pikir - pikir kisah hidup kalian hampir sama ha ha ha".
Eggy terdiam dan berpikir hal yang sama.
"Iya juga ya! Kok aku baru kepikiran ya ha ha ha. Nah kalau gitu kau juga harus ngelakuin hal yang sama kayak kami, mana tahu kan kau bakal ketemu sama jodoh kau". Sarannya.
" Haiiih kurang ikhlas apa lagi aku nya? Aku sudah mengikhlaskan Widya terus ketemu nya Ratna ehh ternyata bukan jodoh aku. Lah sekarang aku mau mengikhlaskan siapa lagi? Ha?". Omen memutar kedua bola matanya.
"Berarti jodoh kau itu Widya karena kau mengikhlaskan dia. Kau itu paham enggak sih siapa yang kami ikhlaskan? Yang kami ikhlaskan kan wanita yang mendampingi kami sekarang". Eggy menoyor jidat Omen.
Omen baru menyadarinya.
" Iya ya! Ah... Bisa jadi enggak sama kisah aku sama kisah kalian. Lagian aku enggak mau sama kisah nya sama kalian. Wuuu kisah kalian enggak keren".
"Ha ha ha, bilang saja kau itu enggak mau lagi sama Widya, enggak usah berlagak bilang kisah kami enggak keren ha ha ha". Eggy menertawainya.
Omen /" Yeee rang memang enggak keren kok kisah kalian. Masa iya kisah kita sama semua, nampak kali settingan nya ha ha ha".
" Ha ha ha, iya iya. Ya sudah kau kawani (temani) lah aku ke salon dulu. Kalau enggak sekalian sama - sama kita nge-cat (mewarnai) rambut kita. Biar sama ganteng nya kita ha ha ha". Omen merangkul Eggy dengan penuh semangat.
"Ah enggak mau aku. Kau saja lah. Kalau rambut aku di warnai bisa - bisa di gundulin (di botakin) kepala ku ini sama si Almira". Eggy menolak ajakan Omen.
Tiba - tiba Almira muncul kemudian menyambung pembicaraan mereka.
" Enggak kok, kalau memang Suam mau mewarnai rambut Suam, ya sudah silahkan. Tapi warnai rambutnya yang enggak permanent, yang jangka waktunya cuma seminggu habis itu balik ke semula, terus ngewarnai rambutnya harus bikin Suam makin cakep bukan bikin Suam jadi jelek".
Persetujuan Almira membuat Eggy tercengang sedangkan Omen justru malah senang.
"Nah apa lagi. Sudah di kasi izin itu sama binik kau. Ayo lah! Kalau bisa ajak Ghifari sekalian biar kompakan kita he he he". Omen paling semangat.
" Eeeiit Ghifari no! Dia masih kecil dan masih sekolah. Cukup kalian berdua saja jangan ngajak - ngajak orang lain. Oh ya satu lagi! Harus ke salon khusus cowok jangan salon cewek apa lagi pekerja nya". Almira mengangkat jari telunjuknya menunjuk ke arah Eggy sembari melotot kan matanya.
Eggy hanya tersenyum getir. Sebenarnya ia berharap agar Almira melarang Omen bukan nya malah menyetujuinya.
Kedua sejoli itu pun bergegas menuju salon langganan Omen.
" Kenapa enggak ke tempat salon langganan aku dan Ghifari saja sih Men?". Eggy mengeluh karena yang mereka datangi salon langganan Omen.
Omen /"Ahh enggak mau aku ke tempat salon langganan kalian, kurang sedap rasa ku. Sudah gitu harga nya selangit pulak lagi hedeh. Mending di sini, sudah bagus kualitas nya terus harganya terjangkau lagi hi hi hi".
Eggy memutar bola matanya karena terpaksa menuruti mau sahabatnya ini.
Setelah lama nya proses mewarnai rambut. Akhirnya keduanya pun kembali pada tujuan mereka masing - masing. Omen tidak bisa ikut bersama Eggy ke rumah nya karena tiba - tiba Imam menghubunginya dan harus segera ke studio.
Dengan rasa tidak percaya diri, Eggy berjalan mengendap - endap masuk ke dalam rumahnya. Bahkan sering kali ia bercermin ketika ia melewati kaca jendela atau cermin yang terpampang di ruang tamu nya.
"Eh heem....". Almira berdehem mengagetkan nya. Ia nyaris tertawa melihat penampilan baru suaminya itu.
" Eh... Ist he he he, bikin Suam terkejut saja he he he". Eggy tertawa getir sembari menggaruk kepalanya.
Almira hanya memandangi rambut Eggy yang berwarna kuning ke putih - putihan, ia memandangi nya dengan seksama sembari menahan tawanya.
"Gimana rambut Suam, bagus enggak?". Eggy bertanya dengan tampak getir.
Almira menaik turun kan kedua alisnya.
__ADS_1
" Heem... Ternyata Suam mau di apa'in saja tetap cakep ya! Rambut Suam kayak rambut jagung gini pun cakep nya enggak hilang juga. Hmm... Enggak heran banyak yang naksir". Ia melihat wajah Eggy sudah mulai memerah.
"Sudah lah Ist. Ist ini lah, ngejek (meledek) saja lah. Bilang saja kalau Suam jelek rambutnya di warnai kayak Omen gini. Enggak usah pura - pura muji Suam hufft". Eggy memanyunkan bibirnya dan sesekali melirik ke arah cermin.
" Ha ha ha, siapa yang ngejek? Ist seriusan lho. Kalau orang cakep mah di apa'in saja tetap cakep. Lagian pernah enggak sih Ist bohong sama Suam? Enggak pernah kan?". Almira terbahak kemudian meraih kedua tangan Eggy.
"Iya sih, tapi nada bicara Ist seolah - olah Ist ngejek Suam". Eggy tertunduk malu.
Almira /" Ya ALLAH sayang, enggak lho. Ist enggak ngejek lho. Beneran Suam itu cakep kayak gini. Jadi makin keliatan orang bule Suam nya dengan rambut kayak gini hi hi hi".
Eggy /"Hmm... Tapi Suam enggak PD (percaya diri) ini".
Almira /"Elleh, kayak enggak pernah saja rambut Suam di warnai".
Eggy /"Memang enggak pernah lho, baru kali ini rambut Suam di gini'in".
"Lah terus, foto - foto pemotretan Suam jaman dulu kan ada tuh rambut Suam yang warna hijau, kadang ungu. Itu apa nama nya kalau bukan di warnai?". Almira mengingatkan Eggy foto pada saat ia membawakan produk pewarna rambut.
Eggy /" Beda, itu cuma cat rambut semprot kalau kena air langsung hilang. Setelah pemotretan itu Suam langsung keramas sudah hilang warna nya. Bukan kayak gini hufft".
Almira /"Oh gitu. Ouh ya sampai berapa lama hilang warna nya? Enggak permanent kan?".
Eggy menundukkan kepalanya dan murung.
"Permanent. Ini gara - gara si Omen, dia bawa Suam ke salon langganan dia, terus yang punya salon sor (Asik/Heboh) kali cerita sama si Omen sampai - sampai dia pakaikan cat rambut yang harus nya untuk Omen ke rambut Suam. Pas sudah selesai baru dia sadar, makanya lah kayak gini. Aturan nya bukan warna ini pun yang Suam pinta, Suam mau nya warna coklat natural gitu biar enggak keliatan mencolok eeehh malah jadi samaan gini warna rambut Suam sama rambut nya si Omen sompret itu hu hu hu. Dari awal Suam sudah was - was dan berulang kali bilang sama yang punya salon kalau Suam mau nya itu eeh malah jadi kayak rambut jagung gini hiks hiks hiks".
"Ha ha ha, ya sudah. Mau gimana lagi, lagian sudah terjadi kan. Nanti minggu depan Suam botakin saja rambut Suam biar hilang warna cat rambutnya". Almira memberikan solusi untuk nya.
" Ngapain di botakin, jadi jelek lah Suam kalau gitu hu hu hu. Di cat warna hitam saja nanti rambut Suam". Eggy menolak solusi Almira.
"Enggak boleh sayang. Dalam agama islam ada sebuah hadits mengatakan bahwa kita boleh mewarnai rambut kita dengan warna apa saja terkecuali hitam karena jika kita mewarnai rambut kita dengan warna hitam itu haram hukumnya. Dan kita juga tidak boleh menggunakan pewarna rambut yang dapat menghalangi air wudhu kita masuk". Almira menjelaskan sedikit pengetahuannya mengenai hukum mewarnai rambut.
" Oh gitu ya sayang. Jadi kalau menyemir rambut semata - mata ingin menutupi uban itu enggak boleh juga lah ya Ist?". Eggy bertanya sebab ia belum mengetahui tentang ini.
Almira /"Menyemir rambut boleh sayang, asalkan jangan menggunakan warna hitam, itu artinya kita menipu umur kita sendiri. Ya bisa di bilang dalam bahasa sehari - hari kita itu takut tua, malu karena munculnya uban. Padahal kan sehelai uban itu berarti 10 kebajikan. Jadi nanti kalau Suam sudah punya uban, uban nya jangan di cabut, biarin saja he he he".
Eggy manggut - manggut memahami perkataan Almira.
"Hmm... Untung lah Ist ngasi tahu Suam. Kalau enggak, bisa - bisa mungkin besok Suam cat rambut Suam warna hitam. Tapi Suam memang enggak mau mencabut uban Suam kalau nanti mereka sudah tumbuh. Soalnya moment itu yang paling Suam tunggu. Waktu Suam kecil, Suam paling senang ngeliat Kakek sama Nenek. Keduanya tua bersama, beruban bersama, tertawa bersama di saat melihat anak dan cucu - cucunya sedang bermain, bahagia bersama hingga maut yang memisahkan. Rasa nya bahagia melihat moment seperti itu". Mata nya berkaca - kaca mengingat sosok Kakek dan Nenek nya yang sangat ia rindukan.
Almira tersenyum menatap mata Eggy yang berkaca - kaca nyaris menangis.
"Yuk kita makan malam. Suam pasti belum makan". Ajaknya sembari menggandeng tangan Eggy.
Eggy mengangguk pelan sembari tersenyum kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Almira lalu mereka berjalan menuju ke meja makan.
" Ghifari mana sayang?".
Almira/ "Ghifari sudah tidur setelah sholat isya".
Eggy /"Dia sudah makan kan?".
Almira/" Sudah kok Suam. Oh ya jadi cerita nya Suam sama Bang Omen kembaran lah ya rambutnya? Ha ha ha".
Eggy /"Iya lah. Ist lagi nih entah apa main setuju - setuju saja sama ajakan si Omen. Padahal Suam berharap kalau Ist itu melarang si Omen hufft".
Almira /"Jiaaah mana lah Ist tahu, lagian tadi kayak nya Suam juga mau, makanya Ist setuju saja ha ha ha".
Eggy /"Hiiist Suam tuh enggak suka lho rambut Suam di warnai, huffft dasar istri enggak peka sama suami nya. Kamu tega!".
Almira /"Suam keren lho rambut nya kayak gini, Ist jadi kepengen juga warnai rambut Ist kayak Suam hi hi hi".
Eggy /"Enggak boleh".
Almira /"Lho kenapa? Ist saja enggak melarang Suam warnai rambut, kenapa Suam ngelarang Ist warnai rambut Ist? Hm?".
Eggy /"Pokoknya enggak boleh tetap enggak boleh".
Almira /"Hiisst Suam enggak adil iih, kalau tahu gitu mending tadi enggak usah Ist izinkan tadi huufft".
Eggy /"Lah bgus donk, justru itu yang Suam harapkan. Kenapa tadi enggak di larang? Hayo siapa yang salah hayo?".
Almira /"Suam ngeselin kali lah. Ist mau juga lho. Boleh ya sayang biar kembaran kita he he he".
Eggy /"Pokoknya enggak boleh".
Mereka mengobrol ringan sembari berjalan menuju ke meja dan berlanjut hingga makan malam berlangsung.
__ADS_1