KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
CHAPTER 15


__ADS_3

"Jadi kamu akan balik ke Swiss Rania?". Seorang wanita berkulit hitam dan memiliki wajah yang manis bertanya pada Rania di sela pemotretan mereka.


Rania mengangguk pelan sembari menaikan kedua alisnya.


" Kapan rencana nya kamu balik ke sana?".


"Um... Mungkin minggu depan. Pokoknya setelah semua urusan ku di sini dan di Jakarta selesai baru aku akan berangkat ke Swiss". Rania menjawab sembari membersihkan make up nya.


" Berarti kalau gitu hari ini hari terakhir kamu di sini donk? Karena kan ini hari terakhir pemotretan kita".


Rania hanya tersenyum menatap wajah rekan kerjanya itu selama di Medan.


"Kalau begitu kita harus merayakan hari perpisahan kita malam ini. Kita enggak boleh melewatkan nya begitu saja". Usulnya.


"Tapi aku enggak bisa Dis. Soalnya masih banyak lagi yang harus aku bereskan sebelum pergi. Sorry!". Rania menolak ajakannya dengan berat hati.


" Ahh... Aku enggak mau tahu, pokok nya kita harus party malam ini. Aku bakalan ngajakin yang lainnya. Tidak ada kata penolakan". Ia pergi begitu saja.


"Gladis... Tunggu!". Rania mencoba mencegahnya namun ia sudah memberitahu semua teman - teman nya dan Rania terpaksa melaksanakan party tersebut.


.


.


Teman - teman Rania pun bersenang - senang menikmati pesta tersebut di sebuah bar. Mereka begitu antusias menikmati suasana gemerlap dunia malam tersebut. Tidak dengan Rania, ia memutuskan untuk duduk manis sembari melihat teman - teman nya sudah hampir kehilangan setengah kesadaran mereka.


Sesekali ia tertawa dan berpura - pura happy di depan mereka dan sesekali juga ia melihat sekeliling bar tersebut.


"Rania... Ayo donk turun! Masa kamu duduk di situ saja, ini kan acara perpisahan kamu". Gladis mencoba membujuk Rania agar iya tidak hanya berdiam diri.

__ADS_1


Rania hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum pada Gladis. Ia benar - benar tidak berselera untuk bersenang - senang.


"Rania...! Rania....!". Tiba - tiba Rania mendengar suara seorang pria berteriak memanggil namanya, sontak membuatnya mencari sumber suara tersebut, kemudian ia melihat di sisi kiri bar sebagian pengunjung melihat ke arah suara itu tepat di meja paling pojok.


Karena penasaran Rania pun mendekatinya.


"Omen!". Serunya dalam hati ketika ia dapati pria yang berteriak memanggil nama nya ialah Omen.


"Raniaaaaaaaaa aku benci sama kamu. Aku benci sama semua wanita yang ada di muka bumi ini. Aku benciiiiiiiiii". Teriaknya sembari menangis.


Rania merasa sedih melihat kondisi Omen, sempat ia menitihkan air matanya kemudian secepatnya ia menyekanya.


Tak lama Omen pun roboh dari tempat duduk nya alias pingsan. Mata Rania terbelalak dan secepat kilat ia mendekat.


" Cepat... Cepat..! Tolong bantu orang ini. Tolong bawa dia ke rumah sakit. Apa ada yang mengenal pria ini?". Begitu lah seruan mereka sembari melihat Omen sudah tak sadarkan diri.


Rania /"Sudah biar saya saja".


"Saya pacarnya. Biarkan saya saja yang mengurusnya, tapi tolong saya menopangnya ke dalam mobil saya". Rania hanya meminta itu pada mereka.


" Baik Mbak. Ya sudah yuk kita bantu Mbak ini".


"Iya yuk".


Mereka pun membantunya dan Rania segera melarikan Omen dari tempat itu tanpa peduli dengan rekan - rekannya yang tak menyadari bahwa ia sudah pergi.


Rania bingung harus membawa nya kemana hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawanya ke hotel.


Seorang security melihat Rania begitu kesulitan menopang tubuh Omen hingga ia memutuskan untuk membantunya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak ya Pak karena sudah menolong saya". Tuturnya sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna biru.


" Tidak usah Bu, saya ikhlas membantu ibu. Saya permisi". Ia pun menolaknya kemudian melangkah keluar.


Rania menatap Omen yang terbaring tak berdaya diatas tempat tidur, air matanya tak dapat terkontrol lagi hingga mereka mengalir sejadi-jadinya.


"Maafin aku! Maafin aku! Hu hu hu".



Langkah kaki Omen terasa begitu berat menyeret tubuhnya memasuki istananya alias studio. Imam semakin risau (gelisah) melihat kondisi Omen semakin hari semakin berantakan. Ia pun menghampiri Omen dan berjalan mengikutinya dari belakang.


"Bang, mau sarapan apa kau bang? Biar aku belikan. Kopi apa teh?". Namun pertanyaan Imam sama sekali tidak di gubris oleh Omen, ia tetap berjalan menuju ruangannya dengan pandangan kosong.


Fuuht!. Imam mengenduskan nafasnya kemudian ia merogohkan saku celananya untuk mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang yakni Eggy.


Tak lama Eggy pun muncul dengan tergesa dan gelisah setelah Imam menceritakan kondisi Omen ia langsung ke studio meninggalkan jadwalnya di rumah sakit.


Tanpa mengetuknya terlebih dahulu, Eggy langsung membuka pintu ruangan Omen dan ia pun langsung mendapati Omen yang tergeletak dilantai.


"Ya ALLAH!". Dengan cekatan Eggy menghampiri Omen yang sedang setengah sadar lalu menopangnya menuju ke sofa.


Tanpa ragu dan sedikit kesal, Eggy menyiram Omen dengan seember air dingin yang ia pinta pada Imam. Sekujur tubuh Omen pun basah kuyup dan tidak menutup kemungkinan membuatnya sadar.


#UhukUhuk. Omen pun tersedak karena sedikit air masuk ke dalam rongga mulutnya.


"Masih belum sadar juga hah? Apa perlu aku celupkan kau ke dalam sungai sekalian biar kau betul-betul sadar hah?". Bentaknya sembari melemparkan ember tersebut kesembarang tempat sehingga ember tersebut pecah. Imam benar-benar terkejut atas perbuatan Eggy barusan karena baru kali ini dia melihat Eggy marah seperti itu pada temannya.


"Memang enggak ada otak kau! Kau sudah janji enggak bakalan balik lagi kedunia itu, nyata nya apa? Kau pikir dengan cara kau kayak gini bakalan menyelesaikan masalah kau? Hah? Kali ini aku betul-betul kecewa sama kau. Bukan kayak gini caranya Men. Ini sama saja kau itu bukan cuma menghancurkan hidup kau saja tapi kau juga menghancurkan hubungan kau sama ALLAH. Enggak takut kau dosanya? Entah lah Men capek aku ngasi tahu ke kau". Mata Eggy memerah menatap Omen yang tak berdaya.

__ADS_1


Omen sama sekali tidak menatap Eggy namun nafasnya terlihat tidak beraturan. Ia sadar bahwa perbuatannya itu salah dan pantas untuk dimarahi seperti itu. Suasana sedikit hening setelah Eggy berhenti memarahinya namun tak lama isak tangis dari salah satu mereka bertiga terdengar bernada rendah kemudian pecah. Eggy dan Imam melirik kearah isak tangis tersebut yang tertuju pada Omen yang menangis sembari mengusap wajahnya. Air guyuran Eggy bercampur dengan air mata yang menetes tak terbendung.


"Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah" Ucapnya berulangkali sehingga menenangkan hatinya.


__ADS_2