Kekasih Ideal Untuk Dirandra

Kekasih Ideal Untuk Dirandra
Permainan Lama dan Luka Baru


__ADS_3

"Bibi Nova !" teriak Fikram sambil berlari ke dalam rumah, langkahnya cepat dan muka berseri seperti telah mendapat hadiah undian berharga


"huhuhu Hufh, tarik nafas dalam dari hidung, kemudian hembuskan dari mulut, ayo tenangkan diri dulu nak Fikram " ucap bibi Nova saat melihat kedatangan Fikram dari rumah pohon


"hu,,,,,,, huffffhhhh, akhhh bibi saya bukan mau melahirkan pakai tarik nafas segala " gerutu Fikram


"iya kali orang tampan bisa melahirkan " jawab Bibi Nova sambil tertawa ringan


"Bibi, siapa gadis ini ?" tanya Fikram sambil menunjukan lukisan Kamaniya tentang seorang gadis yang bertengkar dengan lukisan seorang pria berwajah mirip Rajendra dengan kondisi gadis itu memeluk Kamaniya


"Bibi tidak tahu nak, Kamaniya tidak pernah cerita" jelas bibi Nova


"Baiklah bibi, lukisan ini saya bawa ya, semua yang ada di dalam kotak, akan saya serahkan kepada tuan Dirandra" ujar Fikram dan bibi Nova pun setuju,


Fikram kembali ke rumahnya, ia tidak segera menyampaikan lukisan Kamaniya kepada Dirandra atau Irawan, tapi ia sibuk membuka internet mencari jejak wajah gadis yang mirip dengan lukisan itu, berkali kali Fikram mengamati lukisan itu hingga pada lembar terakhir adalah tampak gadis itu menabrak sebuah mobil hingga terbalik dan mobil gadis itu sendiri menabrak pembatas jalan dan jatuh ke dalam sungai, sementara itu orang lain di mobil yang terbalik itu sedang mencoba keluar, tetapi ada seorang laki laki yang terlukis dari bentuk belakang tubuhnya sedang menyalakan gas api kemudian melemparnya di mobil itu hingga mobil terbakar beserta pengemudinya,


Di lembar yang lain nampak wajah dari gadis itu berhasil keluar dari mobilnya dan wajahnya berada di atas air sungai sementara tubuhnya masih di dalam air, dengan kondisi yang melihat mobil terbakar, kemudian secara perlahan dia tenggelam ke dalam air


Di lembar terakhir hanya ada lukisan sangkar emas


"Apa gadis itu meninggal juga tenggelam?" gumam Fikram,


"Kalau dia tenggelam lalu siapa yang aku lihat, kenapa mereka mirip ?" semua hal berkecamuk dalam pikiran Fikram yang tidak tahu jawabannya


Keesokan paginya Fikram menjemput tuan mudanya keluar dari RS, dan mengantarkannya kembali ke rumah Irawan


"Akhirnya,,, kau sudah bisa kembali pulang ke rumah, Dirandra, dan saya senang sekali " ujar Zarina menyambut kepulangan keponakan nya dari RS itu


"Iya, Tante terimakasih, dimana paman Irawan ? " ucap Dirandra


"Paman mu sedang kembali meninju permasalahan di kantor baru yang akan di gunakan untukmu memulai karier kembali, sekarang istirahat lah, dan lekas sembuh " jawab Zarina


Dirandra pun menganggukan kepalanya dan beranjak pergi menuju kamarnya untuk istirahat

__ADS_1


"Nyonya, sepertinya saya sudah tahu dimana keberadaan nona Dhira " ujar Fikram kepada Zarina


"Apa kau yakin ? " tanya Zarina


"100%, yakin" jawab Fikram dengan tegas


"Oke, baiklah dimana keberadaan Dhira sekarang ?" tanya Zarina


"Dirumah keluarga Aftan nyonya " jawab Fikram


"Fikram, apa kau lupa kalau Dhira sudah pergi dari rumah itu karena Aditya mengusirnya, jadi tidak mungkin dia ada di sana sekarang " jelas Zarina


"Jika tuan Dirandra saat ini datang kembali untuk membalas dendam, bisa saja nona Dhira juga kembali melakukan hal yang sama " jelas Fikram


"Tidak mungkin, Fikram ini tidak lucu, berhentilah bercanda, udah sana kau temani Dirandra " ujar Zarina


"Ikkkkhssss, tidak percaya mah ya sudahlah" jawab Fikram kemudian meminta diri pamit dari Zarina dan pergi menemui Dirandra


brakkkkk


"Dimana kunci itu, Andhira ?" tanya Amitha yang masih dengan emosinya setelah membanting gelas ke lantai di dekat kaki Andhira


"Andhira, saya sudah lelah bersabar dengan sikap patung kamu itu, maka jangan salahkan kalau kejadian lampu kita terulang kembali" ujar Amitha sambil menarik sebuah cambuk dari tangan seorang pengawalnya


Bibi Xena segera menghampiri Amitha dan menenangkannya


"Nona muda jangan gegabah, tubuh nona Andhira sudah sangat lemah akibat terlalu sering di lukai, jika terjadi hal buruk, maka kebebasan nona Amitha bisa terancam" ujar bibi Xena dengan terbata


"Lepaskan!!!!" ujar Amitha mendorong tangan Bibi Xena hingga terjatuh


"Lebih baik kebebasanku hilang, setelah melihat dia mati di hadapanku, dari pada aku harus melanjutkan perjodohan gila itu hingga menikah !" teriak Amitha dan kemudian mencambuk kembali tubuh Andhira dan tidak ada perlawanan


"Wahhhhhh, sudah mulai mencoba berani melawan ya, lihatlah bagaimana tatapan matamu itu, saudariku tersayang, setelah bertahun tahun kita bermain seperti ini, tapi baru kali ini aku melihat tatapan liar mu" ujar Amitha sambil menarik rambut Andhira hingga wajahnya mendongak ke atas

__ADS_1


"Bagaimana Andhira, kamu mau mati di tanganku dengan cara seperti apa ?" ujar Amitha dengan tersenyum sinis sambil mengusap rambut Andhira


Alin, kemudian datang menuju ruangan tersebut, mendengar apa yang di ucapkan Amitha anaknya, Alin kemudian mendekati Andhira dan menampar pipi Andhira berkali kali, dan gadis itu masih diam mematung tak menjawab apapun


"Sudah cukup hari ini!" teriak Aditya yang baru saja datang


"Alin, Amitha kita kedatangan tamu penting, bersiap lah di depan " ujar Aditya kemudian pergi dari ruangan itu


"Kali ini, kamu selamat saudariku tersayang, tapi tidak lain kali, dan aku tidak perduli lagi dengan apapun asalkan kau mati di hadapanku jika kau tidak memberitahu keberadaan kunci itu, " ucap Amitha berbisik kepada Andhira


Alin dan Amitha keluar dari ruangan itu, meninggalkan Andhira dan bibi Xena saja


"Nona, mari Bibi bantu" ujar bibi Xena yang memapah tubuh Andhira ke tempat tidur dan kemudian membersihkan tubuh Andhira dari luka nya, mengoleskan obat dan menggantikan pakaiannya


"ukhhhhhhh" keluh Andhira saat obat di oleskan ke tubuhnya


"Nona, luka di punggung anda yang sebelumnya sudah benar benar sembuh tanpa bekas, salep ini memang bagus ya, benar kata penjual obat itu " ujar bibi Xena


Andhira hanya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan bibi Xena, tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah dan tanpa tersadar ia pun mulai tertidur dengan nyamannya dipangkuan bibi Xena


"Nona, jika ada kesempatan lagi, saya akan membawa anda pergi jauh dari sini, bertahanlah nona, ya dewa berilah kami jalan" ujar bibi Xena sambil membelai rambut nona mudanya yang selama ini ia asuh


"Mama, memang siapa tamu yang akan datang, kenapa kita harus bersiap seperti ini ?" tanya Amitha kepada Alin


" Mama tidak tahu nak, tapi sepertinya tamu penting karena papamu sampai datang sendiri menyampaikan " jawab Alin sambil membantu Amitha menyisir rambutnya


"Mama, apakah tidak bisa menghentikan perjodohan gila itu, sungguh saya tidak sanggup menikah dengannya?" ucap Amitha


"Tenang sayang, nanti akan mana pikirkan kembali" jawab Alin


"Bisa kah ketika acara pernikahan, Andhira Saja yang dibawa, kita tuker tanpa sepengetahuan mereka ?" tanya Amitha


Alih hanya menggelengkan kepalanya tanda ragu

__ADS_1


Saat ini Aditya, Alin dan Amitha sudah menunggu kedatangan tamu penting mereka di ruang tengah, suara mobil terdengar berhenti di depan teras rumah mereka, tampak seorang pria paruh umur keluar dari mobil tersebut


__ADS_2