
Glekkkkkk,
Fikram menelan air ludahnya sendiri, merasakan dinginnya benda pipih yang dia yakin itu adalah sebuah belati dan menempel di pipinya
"Lepaskan dia, urusan mu adalah denganku !" ujar seseorang yang baru sampai di rumah utama keluarga Narasimha itu
"Akhirnya kau datang juga!" ujar Lavani melihat sosok yang ditunggunya datang
"Tuan muda, kenapa datang ke sini, segera pergi, jangan bertindak bodoh, dan ,,,," belum selesai Fikram berbicara kini mulutnya sudah di lakban oleh Lavani
"Terlalu berisik!, apa kau ingin melihat wajah tuan muda mu untuk yang terakhir kalinya? maka akan saya kabulkan" ujar Lavani sambil membuka tutup mata Fikram
Melihat tuan mudanya datang menemuinya, Fikram menjadi sangat marah kepada Lavani, ia tidak suka dirinya dijadikan umpan untuk mencelakai orang lain apalagi orang yang selama ini dia lindungi dan dia sayangi
"Fikram, kamu tenang, aku akan menyelamatkanmu " ujar Dirandra menatap mata Fikram yang saat ini sedang melihat dengan tatapan kebencian kepada Lavani
Fikram hanya menggelengkan kepalanya melihat tuan mudanya dan menggerakan kepalanya menyuruh tuan mudanya pergi dari sana
prok prok prok
suara tepuk tangan terdengar memecahkan isyarat percakapan Dirandra dan Fikram
"Sungguh mengharukan, ikatan antara ajudan dan tuan mudanya ini, namun sayangnya ikatan itu akan segera berakhir " Ujar Lavani yang dengan cepat melepaskan peluru dari senjata yang di genggamannya ke arah Dirandra
Fikram membulatkan matanya ketika melihat tuan mudanya terjatuh tepat di depan matanya sendiri
Fikram mencoba meronta untuk melepaskan ikatannya dan mengejar Dirandra, ia tidak perduli lagi dengan tawa Lavani yang terus menggema
dengan sangat keras Fikram membanting tubuhnya ke atas batu yang di dekat dengan kolam air ikan di halaman itu hingga kursi yang mengikatnya pecah, dan kemudian ia menggulingkan tubuhnya hingga menabrak kaki Lavani dan ia ikut terjatuh ke tanah
Fikram menendang kembali senjata yang hendak di ambil oleh Lavani, kemarahannya saat ini sudah tidak tertahan lagi
__ADS_1
ia terus berguling di tanah dan tidak memperdulikan tangan dan kakinya yang sudah berdarah dan memar akibat tali kuat yang mengikatnya
Lavani merasa kewalahan dengan gerakan cepat Fikram berguling meskipun dalam kondisi terikat, beberapa kali Lavani tumbang jatuh ke tanah
melihat Lavani yang sudah tersungkur ditanah, Fikram kemudian membungkukan badanya dan mendekatnya tangannya ke arah kakinya untuk membuka ikatan kakinya, saat ini tubuhnya melengkung sempurna seperti sebuah lingkaran,
"Tubuh elastis ini ternyata sangat berguna dalam keadaan genting saat ini, hahahaha " ujar Fikram sambil berusaha melepaskan ikatan kakinya
tanpa Fikram sadari, Lavani bangkit dan mengambil sebuah batu yang runcing dan berjalan ke arah Fikram
bughhhhh
Fikram menghentikan aktifitasnya dan melihat tubuh Lavani sekali lagi terjatuh di tanah
Fikram sangat bahagia melihat tuan mudanya berjalan menghampirinya dan membantu melepaskan ikatan Fikram
setelah ikatan itu terlepas Fikram langsung memeluk tubuh tuan mudanya dan bersyukur bahwa tuan mudanya baik baik saja, peluru yang di tembakan Lavani hanya menyentuh pundak Dirandra meskipun terkena tapi tidak dalam, Dirandra tidak langsung bangkit karena ia melihat ada beberapa timbunan granat di halaman itu dan dia mencari tahu dimana tombol pemicunya
Lavani yang sibuk bertikai dengan Fikram tidak menyadari bahwa tombol pemicu granatnya sudah berpindah tangan kepada Dirandra
"Hahahaha, tidak akan berakhir sebelum jasadmu di kremasi sama seperti ibunya yang Ja****g itu " ucap Lavani
Lavani menggerakan tangannya mencari tombol pemicu granatnya namun ia tidak menemukannya
"Apa kau mencari ini Nyonya?" ujar Dirandra sambil menunjukan sebuah pulpen warna merah yang merupakan tombol pemicu granat itu
Lavani terdiam melihat Dirandra sudah berhasil mengetahui rencananya
"Arya dan banyak orang lainnya sudah kehilangan nyawanya akibat granat yang kau tanam di setiap sudut halaman rumah ini, dan ternyata setelah bertahun tahun, kau tidak berubah, ambisimu mengalahkan nuranimu sendiri" ujar Dirandra
Lavani masih terdiam mendengar ucapan Dirandra
__ADS_1
"Terlalu banyak kejahatan yang kau lakukan hingga mengorbankan banyak nyawa, Rajendra sudah mendapat karmanya, dan mengapa kau masih tidak berubah ?" ucap Dirandra
"hahahah,,,,, semua ini tidak akan terjadi jika ibu mu itu tidak menggoda suamiku, dan apa kau tahu aku sangat puas melihatnya meregang nyawa di depan mataku, sebelum akhirnya bangkainya ku buang di hutan" tawa Lavani
"Apa, jadi benar ibu tidak mati digigit ular !" ucap Dirandra
"Apa kau pikir lebam itu tampak seperti bisa ular, sungguh bodoh!" sindir Lavani
Dirandra tidak bisa menahan amarahnya dan hendak menikah Lavani, namun Fikram bertindak cepat dengan menahan tuannya
"Tuan muda redakan amarahmu, saat ini pengakuan nyonya Lavani sudah saya rekam, dan bisa kita laporkan kepada pihak berwajib untuk di proses secara hukum" ujar Fikram yang menunjukan alat perekam yang selama ini dia gunakan dalam misi pencariannya
"Baiklah, mari kita pergi dari sini" ujar Dirandra yang ingin segera pergi untuk meredakan emosinya, keinginan nya dulu ingin membalas dendam dengan tangannya sendiri memang telah memudar beriringan dengan kasih sayang yang di berikan oleh Fikram selama ini dan menjadikan Dirandra lebih menghargai nyawa orang lain
Melihat Dirandra yang tidak merespon ucapannya, Lavani begitu marah hingga ia berlari ke arah kolam air di halaman itu, dan Dirandra yang melihat pergerakan Lavani segera menarik tangan Fikram dan berlari keluar rumah itu dengan cepat
bommmmmmm
sebuah ledakan hebat terdengar di sana dan muncul kabut asap yang gelap sesudahnya
Dirandra bersyukur bahwa Fikram tidak terluka dan berada dalam pelukannya saat ledakan terjadi, namun ia tidak bisa menahan diri lagi karena punggungnya terkena serpihan batu dan kayu akibat ledakan itu
Dirandra jatuh pingsan sambil memeluk tubuh Fikram, Lavani menghancurkan rumah utama Narashima dan membakar dirinya sendiri dengan meledakan seluruh halaman rumah yang di tempatinya saat ini
ia memilih untuk mati terbakar dan hancur di tempat itu, dari pada meringkuk di dalam jeruji besi
namun upayanya gagal karena ternyata Dirandra dan Fikram berhasil keluar dari rumah itu sebelum ledakan terjadi, walaupun pada akhirnya Dirandra terluka akibat efek lain dari ledakan tersebut
Fikram memapah tubuh tuan mudanya dan berjalan meninggalkan rumah itu, beberapa warga datang mendekati rumah itu dan menolong Dirandra untuk dibawa ke RS segera
Dirandra dan Fikram berada dalam perawatan rumah sakit, namun Dirandra belum sadarkan diri akibat luka di punggungnya dan luka benturan di kepalanya saat terjatuh membentur batu ketika ledakan terjadi
__ADS_1
Irawan sudah tidak di RS dan melihat kondisi keponakan nya dan ajudan yang sangat memperihatinkan, dan sangat di sesalkan karena Dirandra kali ini memutuskan sendiri tanpa memberitahukan rencananya
"Dirandra, tunggu saat aku datang menjemput nyawamu !" ujar seseorang yang melihat penayangan kejadian ledakan di rumah utama Narashima dari tayangan televisi