
"Dirandra, tunggu saat aku datang menjemput nyawamu !" ujar seseorang yang melihat penayangan kejadian ledakan di rumah utama Narashima dari tayangan televisi
"Tuan, saatnya untuk anda beraktifitas di halaman" ucap seseorang di belakang pria tersebut sambil menepuk pundak Rajendra dan mematikan siaran televisi
"Baiklah" ujar Rajendra meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ke halaman untuk beraktifitas olah raga ringan bersama pasien rehabilitasi yang lain
Rajendra bertekad untuk sembuh dari ketergantungan Napza itu dan memenuhi keinginan besar mama nya, tekadnya makin bertambah apalagi melihat bahwa Dirandra masih hidup sementara mama nya Lavani telah tiada dan tidak bisa dikremasi secara layak karena jasadnya telah hancur dan melebur bersama sisa puing puing bangunan, sementara Dirandra masih hidup saat ini
sementara itu di ruangan perawatan Fikram masih dalam tahap pemulihan, dan Dirandra masih belum sadar
"Tuan muda, bangunlah, entah apa yang terjadi saat itu kenapa anda masih belum membuka mata, jika terjadi hal buruk pada anda, tentu aku akan merasa sangat bersalah, memang bodoh, harusnya aku tidak boleh gegabah" sesal Fikram sendiri yang mengetahui bahwa tuan mudanya yang selama ini memarahinya dan memberikan tugas yang berat, ternyata rela berkorban diri demi melindunginya
tok tok tok
suara pintu di ketuk
"Masuklah" ucap Fikram
ketika pintu terbuka, masuklah seorang gadis cantik membawa sebuket bunga anyelir berwarna merah tua ke dalam ruang perawatan Fikram
"Nona?" ucap Fikram dengan terkejut
"Fikram, apa kau baik baik saja ?" ucap wanita muda itu
"Tentu Nona, adakah keperluan anda kepada saya ?" tanya Fikram kembali
"Aku sangat senang dengan kerjamu, namun tugasmu belum selesai, buatlah Rajendra pergi selamanya dari dunia ini seperti halnya ibunya!" ujar nona muda itu
"Nona, anda salah paham, nyonya Lavani mati karena bunuh diri, justru saat itu jika tuan Dirandra tidak datang menyelamatkan saya, mungkin saat ini abu saya sudah di tabur di sungai" jelas Fikram
"Tidak perlu merendah diri, kamu tidak hanya tampan, tapi memang cerdas dan rendah hati, aku suka cara kamu setia pada tuanmu" ucap nona muda itu sambil mengusap lembut pipi Fikram
__ADS_1
Fikram merasa sangat khawatir dan takut akan kedatangan tamunya saat ini
drettttt dretttt
suara ponsel Fikram berbunyi
"nona, maafkan saya, ini adalah panggilan telpon dari adikku di asrama" jelas Fikram yang hendak mengangkat telpon dan berharap tamu itu segera pergi
"Angkatlah, dan aku akan menunggu kau selesai bicara " ujar nona muda itu
"Ya Dewa, siasat apa lagi dari orang licik ini " batin Fikram
"Hallo, iya, tenanglah kalian di sana, aku baik baik saja, libur semester nanti kalian akan lihat kalau aku datang menjemput kalian dari asrama, oke, belajar yang pintar ya, do'akan yang terbaik " ucap Fikram dari sambungan telpon dan setelah mendapat jawaban dari seberang sana, Fikram pun menutup telepon nya
"Adikmu begitu mengkhawatirkan mu, mengapa dia di asrama ?" tanya nona muda itu
"karena mereka lebih senang di asrama, dari pada tinggal bersamaku dan lelah karena banyak ku suruh suruh " ucap Fikram dengan sedikit senyum diwajahnya, apapun yang di lakukan nona muda itu Fikram harus waspada, karna tunangannya sendiri saja bisa di khianati dan ingin disingkirkan dari dunia ini, apalagi Fikram yang merupakan orang lain dari nona muda tersebut
"hahaha, Fikram kamu bisa menggemaskan juga" ujar nona muda itu sambil hendak menyentuh dagu Fikram
"Baiklah, segera pulih ya, dan berikan kabar bagus, selamat istirahat aku pergi ya" ujar Amitha dan kemudian pergi meninggalkan ruangan Fikram
"Hupsssss, akhirnya dia pergi juga" ucap Fikram sambil menghela nafas panjang
Baru saja Fikram akan memejamkan matanya, pintu kamarnya kembali terbuka
"Oh ya dewa, kenapa RS ini tidak membiarkan ada penjaga di depan pintu dan melarang orang masuk sembarangan ke kamarku" gumam Fikram tapi tidak mau membalikan tubuhnya melihat siapa yang datang
"Anyelir merah tua, bunga yang sangat bagus dan cantik, apa kau tahu arti bunga ini, Fikram ?" ucap seseorang dari belakang tubuh Fikram dengan suara bariton yang khas dan tidak asing di telinga Fikram
"Tuan besar, berhentilah mengolok olok saya, saya butuh istirahat, tolonglah " ucap Fikram yang kemudian duduk dan mengatupkan kedua tangannya memohon dan menatap pria yang baru saja masuk ke kamarnya itu
__ADS_1
"Jadi kau merasa keberatan aku jenguk karena aku sudah tua, sementara kau asik sekali dikunjungi sama Amitha yang masih muda dan cantik itu " ujar Irawan dengan nada menyindir
"Akhhh, tuan besar, berlebihan TER,,,,,LA,,,,LU,,,,, " ucap Fikram kembali dengan kesal
"Eits,,, jangan berbalik dulu, sini aku jelaskan anyelir merah tua dapat melambangkan rasa cinta dan kasih sayang, itu artinya Amitha menaruh hati kepadamu" jelas Irawan
"Akhh,,,,,,,, ternyata pesonaku mampu menggugah seorang bangsawan cantik, hehehehe " ujar Fikram dengan sedikit terkekeh
plak,,,,
"Aduh, sakit tuan besar, lagi sakit ini, masih aja kena pukul!" ujar Fikram ketika Irawan memukul lengannya akibat ucapan Fikram yang terlalu berbangga diri
"Gila kamu ya Fikram, kalau benar itu terjadi akan menjadi masalah besar, ingat ya, aku tidak Sudi melamar menantu seperti Amitha masuk ke dalam keluarga kita" ucap Irawan
"Ya ampun tuan besar, sejauh itu pemikiran anda, walah walah benar pemikiran jangka panjang, good job " ucap Fikram sambil mengacungkan kedua jempolnya
"Berhentilah bermain main Fikram, kamu harus pikirkan cara agar Amitha pergi dari kehidupanmu atau kau akan mendapat masalah lain" ucap Irawan mengingatkan
"Iya tuan besar, aku mendekati Amitha pada saat itu adalah tugas dari anda untuk membantu anak pelayan yang dikurung oleh Amitha sekaligus mencari informasi keberadaan nona Andhira, dan aku akan mendapatkan nya sebentar lagi, namun Amitha menginginkan kematian Rajendra, jika aku ingin mencapai tujuanku, apakah harus ku penuhi perintahnya?" ucap Fikram memohon petunjuk dari tuan besarnya
"kita semua tahu, bagaiman liciknya Amitha, kau harus berhati hati dengan setiap ucapan dan perintahnya, dan soal Rajendra itu adalah urusan Dirandra, dan kau tidak boleh melangkahi keputusan Dirandra " jawab Fikram
"Baiklah tuan besar, akan aku ingat pesan anda" ujar Fikram
"Bagus bagus itu baru ajudan kesayanganku " ujar irawan sambil memeluk tubuh Fikram
"Tuan besar, saya masih sakit, dan ini sesak bernafas" ucap Fikram
"selamat beristirahat, lekas sembuh, dan segera bergabung bersama kami, dan bunga ini tidak pantas ada di sini" ucap Irawan sambil melempar bunga itu keluar jendela dari ruang rawat Fikram
"Tuan besar, dilarang buang samah sembarangan!" ujar Fikram
__ADS_1
"Terlambat kau ingatkan, upssss bukan urusanku lagi, bye bye bye Fikram " ucap Irawan sambil bergegas pergi meninggalkan Fikram
"Akhh, kelakuan orang kaya " keluh Fikram dan menghela nafas panjang