
Saat ini Aditya, Alin dan Amitha sudah menunggu kedatangan tamu penting mereka di ruang tengah, suara mobil terdengar berhenti di depan teras rumah mereka, tampak seorang pria paruh umur keluar dari mobil tersebut
Aditya menghampiri tamu tersebut, mereka pun berpelukan selayaknya sahabat lama yang baru berjumpa setelah terpisah sekian lama
"Saya pikir, anda sudah melupakanku?" ucap Aditya menyambut tamunya
"Seorang Pengkhianat akan selalu di kenang sepanjang massa, saudara Iparku " jawab pria tersebut
"Masa lalu tak perlu kau ungkit lagi, hal terbaik yang kuberikan untukmu adalah di sisa umurmu kau masih hidup bersama istrimu " ujar Aditya sambil melepas pelukannya terhadap tamunya itu
"Itu semata adalah pengawasanku bukan dari jasamu" tegas Irawan
Aditya hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut
Kedua pria itu masuk ke dalam rumah, di sambut oleh Alin dan Amitha yang tersenyum manis di depan tamu itu
"Perkenalkan ini adalah Amitha anakku dan istriku Alin, apakah kau mengingat nya ?" tanya Aditya
"Tentu saja, aku ingat, siapa wanita cantik yang merebut suaminya Zanitha" ujar tamu tersebut
Alin tampak menggenggam tangannya menahan marah karena merasa di sudutkan oleh Tamu tersebut
"Tuan, mengapa anda datang bertamu ke sini dan berkata hal tidak baik terhadap tuan rumah?" ucap Amitha melihat ibunya yang terdiam saja di hina
"Anak muda, ini hanyalah urusan orang tua, kau sebaiknya jaga sikap dan etika mu di depan tetua " ujar Tamu tersebut
"Irawan,,, ayolah, Amitha hanya bertanya, jangan dibawa ke hati, tentu saja dia bisa menjaga sikap, apa kau tahu prestasi Amitha yang sudah dikenal dunia?" ujar Aditya
"Prestasi tinggi tak berarti, jika perilakunya nol besar " jawab Irawan
Amitha hanya diam mendengar ucapan orang tua yang sedang bertamu tersebut
"Baiklah Irawan, maafkan kami, ke depannya akan kami ubah perilaku dan sikap Amitha" ujar Alin sambil mengatupkan kedua tangannya
"Aditya, aku ingin meminta fhoto Dhira, karena Zarina ingin melihat wajah keponakan nya" ujar Irawan
"Nanti, akan saya kirimkan" ucap Aditya
"Kenapa nanti, jika bisa sekarang!" ucap Irawan
"Keponakan anda sudah lama meninggalkan rumah ini, tentu kami harus mencari barang barang nya di gudang " ujar Alin
__ADS_1
"cihhhh, Aditya, dia juga anakmu, tak ada satupun kenangan yang kau simpan bersama nya kah ?" hardik Irawan
Aditya hanya diam tak menjawab, memang kenyataannya dia tak pernah meluangkan waktu untuknya
"Jika, kau tidak bisa menunjukan wajahnya, maka kesepakatan kita batal, tidak ada kerjasama dalam bisnismu lagi " tegas Irawan
"Saya punya fotonya tuan " ujar Amitha melihat peluang dirinya bisa terbebas dari perjodohan itu, jika bisnis papahnya ditolong oleh pria tua yang menjadi tamu di rumah nya saat ini
"Amitha jangan bercanda, mana mungkin kau memiliki fotonya " bisik Alin di telinga Amitha
"Lihatlah Tuan" ujar Amitha menunjukan sebuah wajah dari gambar handphone genggam miliknya
"Baiklah, saya simpan " Irawan mengeluarkan ponselnya dan membidik fhoto tersebut
Aditya yang merasa penasaran segera menghampiri Amitha dan melihat fhoto tersebut, dan saat melihat itu Aditya merasa sangat terkejut ternyata saat kedatangan mereka kemarin dari desa ke rumah ini, Amitha sengaja mengambil foto mereka berdua yang berjalan bersama dari mobil menuju ke rumah
Niat Amitha pada saat itu adalah mengirim gambar kepada Alin bahwa target mereka sudah datang, saat ini malah menjadi sangat berguna
Dikamar, Dirandra dan Fikram sedang membahas list nama nama orang yang di sampaikan oleh Arya, beserta nama perusahaan mereka
"Fikram, cari tahu seluruh anggota keluarga, aset mereka, skandal mereka!" ujar Dirandra
"Siap tuan muda!" jawab Fikram dengan tegas nya
"Tuan muda, maksud tuan, anda mencurigai nyonya dan tuan besar juga ?" tanya Fikram
"Tidak, saya hanya tidak ingin membuat kesalahan yang sama " jawab Dirandra
"Baiklah, tuan muda, hal ini akan saya rahasiakan juga dari nyonya dan tuan besar " ucap Fikram
"Hemmmm" jawab Dirandra
"Saya tahu anda pun meragukan diri saya tuan muda, seperti halnya anda meragukan ketulusan nyonya dan tuan besar, tapi akan saya buktikan kalau kecurigaan anda terhadap mereka adalah salah besar " jelas Fikram kembali meyakinkan
Dirandra tak menjawab apapun, saat ini ia malah berjalan keluar balkon kamar nya dan menatap langit di atas sana, melihat awan yang bertebaran dan seolah saling berkejaran satu sama lain
"Andra, " samar samar Dirandra mendengar suara seseorang memanggilnya
Dirandra segera mencari sumber suara dengan menengok sekeliling dan sekitarnya, namun tidak di temukan apapun
Melihat tuan muda nya gelisah seperti mencari sesuatu Fikram menghampiri nya
__ADS_1
"Tuan muda beristirahatlah, supaya halusinasi itu tidak muncul kembali " ucap Fikram
"hemmmm" ujar Dirandra yang kemudian masuk ke dalam kamarnya kembali dan merebahkan tubuhnya untuk Istirahat
"Tuan muda, anda tidak suka jika saya bernyanyi, bagaimana jika saya bacakan buku cerita saja supaya anda tertidur ?" tanya Fikram
Dirandra melempar guling yang ada di sebelahnya ke arah Fikram
"Pergi dari sini, kerjakan saja tugasmu, kamu pikir saya anak kecil sedang merajuk apa !" ujar Dirandra dengan marahnya
"HHahahaha, ya kali merajuk pengen beli mainan" jawab Fikram dengan segera berlari menuju pintu keluar
"Dewa, asisten ini membuat saya semakin sakit kepala " keluh Dirandra
"Semakin sakit kepala dan membuat anda selalu merindukannya juga ya tuan muda " ujar Fikram yang kembali masuk namun hanya kepalanya saja yang nampak
plukkkk
Akhirnya bantal mendarat sempurna di wajah Fikram
"Tuan muda, tega sekali kali ini tepat sasaran " ujar Fikram yang mengusap wajahnya akibat terkena lemparan bantal
"PERGI!!!!!!!" teriak Dirandra
"Baik tuan muda, baiklah,,,,,,,,,,, " ujar Fikram
"Pergi dan jangan kembali sebelum tugas mu selesai " jawab Dirandra
"Ya ampun, tuan muda tugas yang anda list itu sungguh terlalu banyak, iya kali dalam 1 jam saya bisa dapat semua, bagaimana jika anda merindukan kegaduhan saya?" jawab Fikram
Dirandra membalik badannya dan tidak menjawab ucapan Fikram
"akhhhhhhhhh tidak ada solusi, ya sudah saya kerjakan tuan muda, istirahatlah yang tenang dan jangan berhalusinasi lagi " ujar Fikram yang kemudian pergi keluar
Dirandra mengamati pintu mencoba melihat dan mengamatinya
"Dia benar pergi kali ini kah, syukurlah tidak mengganggu lagi saat ini, tugas list nama nama itu sepertinya berhasil membuatnya akan sibuk" ucap Dirandra sendiri
Di dalam kamarnya Fikram menghubungi beberapa kenalannya dan segera bergerak mencari dan menelusuri semua data yang di minta oleh tuan mudanya
Sebagai seolah hacker sebenarnya tugas dari tuan mudanya bisa ia dapatkan dengan mudah, hanya saja sikap Fikram ingin membandingkan hasil temuannya dengan temuan teman temannya
__ADS_1
Dia menyerahkan tugas dari tuan mudanya kepada mereka, sementara Fikram sendiri mencari Informasi khusus tentang keluarga Aftan
"ohhhhh ya ampun skandal cinta segitiga," ujar Fikram ketika melihat sebuah fhoto lama, dalam pencariannya saat ini