
"Tidak mungkin, kau !" ujar Rajendra dengan menggelengkan kepalanya berkali kali
Pria di hadapannya tersenyum menatap Rajendra dengan sinisnya dan tatapan penuh kemenangan
"Apa kabar adik ku tersayang?" ujar pria tersebut
Rajendra tidak membalas pertanyaan itu, ia masih terpaku melihat sosok pria yang begitu dia kenal, dan Rajendra yakin melihat pria itu menghembuskan nafas terakhirnya, tapi saat ini pria tersebut berdiri tegak di hadapannya dan menjadi saingan bisnis nya dan berniat menghancurkan perusahaan keluarga mereka berdua
"Sangat tidak masuk akal" batin Rajendra
"Tuan Julio, apa anda masih mau bekerja sama dengan kami atau tidak, tentukan sikap anda sekarang" ucap pria itu kepada pemilik ruangan kerja tersebut
pria yang di panggil Julio itu menganggukan kepalanya
"Tuan, Raj, maafkan saya sebaiknya anda pergi meninggalkan tempat ini, atau saya akan memanggil pihak keamanan " ujar Julio
"cihhh, tidak tahu diri " ujar Rajendra sambil berlalu pergi
"Akhhhh,,, mengapa harus dia lagi, ya dewa, benarkah dia hidup kembali?" batin Rajendra dalam sebuah mobil yang melaju di jalan raya
Di kediaman keluarga Aftan, Amitha yang masih merasa marah mendatangi ruangan Andhira
"Semua ini karena kamu, aku harus mengalaminya, matilah kamu saat ini !" ucap Amitha yang menancapkan pisau di atas selimut yang menutup seseorang diatas tempat tidur
Amitha menarik pisau itu kembali namun tidak nampak ada darah di sana, ia pun segera membuka selimut tersebut dan yang dilihatnya hanyalah sebuah jajaran bantal di tutupin selimut yang dia tusuk tadi
Amitha berbalik ke arah pintu dan di lihatnya Andhira sudah sampai pintu dan hendak keluar
"Sial,, dia mencoba kabur " kesempatan bagus untuk Andhira kabur dan terlepas saat ini karena Amitha datang tidak membawa pengawal yang menghalangi nya seperti hari lain
Amitha mengejar Andhira yang segera berlari keluar, pisau di tangan Amitha masih dia acungkan ke arah Andhira dan tatapan matanya yang seolah berapi api penuh kemarahan
Andhira terus berlari namun langkahnya terhenti akibat datangnya pengawal yang membantu Amitha
__ADS_1
Tanpa ragu Andhira pun melawan satu persatu pengawal tersebut dengan kemampuan bela dirinya, mulai dari gerakan menendang kakinya ke arah dada, perut tangan dan kaki lawannya, hingga ia pun dengan gesit keluar dari kuncian mereka dengan mengguling diatas lantai yang jauh dari kuncian mereka
"Pantas saja dihari itu 3 orang mati sekaligus di tangannya, aku harus buat perhitungan yang baik untuk melenyapkannya" batin Andhira yang melihat beberapa pengawal tumbang melawan Andhira
"Hentikan semua ini !" teriak Aditya yang melihat keributan yang terjadi
Para pengawal segera menghentikan pertikaian mereka melawan Andhira
"Papa, dia mencoba kabur, kenapa dihentikan ?" ucap Amitha yang menyembunyikan pisau yang di pegang nya dibelakang punggungnya
Aditya tidak menjawab pertanyaan Amitha dan segera membawa Andhira kembali ke ruangannya
"Andhira, beritahukan saja apa yang di simpan ibumu kepada mereka, setelah itu saya pastikan kamu akan dibebaskan dengan aman " ujar Aditya
Namun Andhira tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya
"Jika kamu masih terus keras kepala seperti itu, saya tidak yakin akan keselamatan mu disini " jawab Aditya yang segera meninggalkan Andhira dan mengunci pintu kamarnya lagi
Aditya berdiri mematung di depan pintu kamar Andhira, dan mencoba melihat kembali apa yang di lakukannya di dalam sana
"Mengapa sekarang kau jadi lebih diam dan tidak mau berbicara sama sekali" ucap Aditya yang kemudian pergi meninggalkan Andhira
"Sial, sial sial, kenapa papa datang di saat, anak sialan itu masih hidup !" kesal Amitha di dalam kamarnya
"Aku harus cari cara lain !" ucap Amitha
"Ribuan buruh kerja itu melakukan demonstrasi di depan gedung utama Narashima company, karena gaji upah mereka belum di bayarkan dari tempat mereka bekerja di anak cabang perusahan besar tersebut, menurut isu yang beredar saat ini beberapa kolega Narashima telah memutus kerjasama utama dengan pemimpin Narashima company, dan beralih bekerja sama dengan Gobin Company yang saat ini mulai berkibar kejayaan" suara berita di televisi membuyarkan lamunan Amitha yang sedang memikirkan cara melenyapkan Andhira
"Gobin Company, Andhira kamu aman saat ini, karena Rajendra yang akan aku lenyapkan terlebih dahulu " ucap Amitha dengan senyum sinisnya
Amitha segera mengganti bajunya dan pergi ke luar rumahnya sendiri mengendarai mobil nya
Di perusahan Gobin Company
__ADS_1
"Tuan Muda, apakah anda sudah lihat berita terbaru tentang Narashima company ? " ucap Fikram kepada tuan mudanya
"Sampaikanlah berita apa yang kau punya !" ucap Dirandra
"Rencana tuan muda berhasil membuat para buruh melakukan demonstrasi, dan saat ini mereka sudah di sibuk kan dengan demonstrasi buruh, dan tumpukan produksi yang menumpuk di gudang, kolega bisnis yang mengehentikan kerjasama, sudah bisa di pastikan kerugian yang mereka alami" jelas Fikram
"Itu belum seberapa dibandingkan dengan lenyapnya nyawa Arya dan Kamaniya" ucap Dirandra
kring kring
suara telpon berdering dan Fikram mengangkat teleponnya
"Tolak siapapun yang ingin bertemu tuan muda, tanpa perjanjian sebelumnya, atur pertemuan selanjutnya untuk menemui saya terlebih dahulu" ucap Fikram dari ujung sambungan telepon
"Semakin hari banyak yang ingin berjumpa dengan anda, tuan muda, anda saat ini menjadi idola para pebisnis yang ingin bekerja sama" ujar Fikram kembali
"Berhentilah membual, kerja kan saja tugas kamu dengan baik, dan jangan banyak ocehan tidak berguna !" ujar Dirandra
"akhhh, tuan muda, bisakah kita bersantai sejenak ?" ucap Fikram yang tidak di jawab oleh Dirandra dan hanya mendapat tatapan sinis dari tuannya
"Baiklah tuan muda, saya pergi sekarang ya" ucap Fikram
Dirandra hanya membalas ucapan Fikram dengan lambaian tangan menyuruh keluar
Fikram keluar dari ruangan Dirandra dan melangkah turun ke lantai dasar hendak pergi ke luar, di depan resepsionis terjadi keributan seorang wanita memaksa masuk untuk bertemu tuan mudanya, meskipun sudah di anjurkan untuk membuat janji terlebih dahulu, namun wanita tersebut tetap bersikukuh untuk masuk
Fikram menghampiri wanita dan tersebut dan mencoba menghentikan keributan yang terjadi
Ketika berada di belakang wanita tersebut dan Fikram mencoba memanggil nya, bukannya mendapat sambutan hangat, malah sebuah tamparan dari tas wanita tersebut melayang tepat mengenai wajah Fikram
Seketika keributan itu berhenti, beberapa orang menghampiri Fikram dan wanita itu hanya terdiam
"Nona, silahkan anda pergi dari sini, atau laporkan ke pihak berwajib !" ujar salah satu keamanan di sana
__ADS_1
Fikram mengusap pipinya yang terkena pukulan, kemudian ia melihat wajah wanita yang menamparnya dengan tas tersebut
"Apa yang wanita ini lakukan disini, dan apa tujuannya saat ini?" batin Fikram yang mengenali wajah wanita tersebut