
Alin berjalan mondar mandir di ruang tengah rumahnya, perasaannya semakin gelisah dan tidak menentu, seperti sesuatu yang buruk telah terjadi
Alin sesekali melirik ke arah jarum jam dan menunjukan pukul 22.00, namun nyatanya putri kesayangan nya belum juga pulang, sementara mobil yang di kendarai nya tadi pagi sudah di antarkan pulang oleh petugas bengkel langganan calon menantunya itu
Hingga Aditya pulang ke rumah, Alin masih mondar mandir tidak menentu bahkan kehadiran Aditya pun diabaikan oleh nya
"Ma, kamu kenapa, berhenti dan jangan membuat orang pusing melihat nya" ujar Aditya yang sudah bosan melihat istrinya mondar mandir tak berarah
"Pa, ini sudah mau tengah malah dan Rajendra belum juga mengantarkan Amitha pulang ke rumah ini " ujar Alin
"Coba kau hubungi lagi saja mereka " kata Aditya
"Tidak ada yang mengangkat " jawab Alin dengan lemas
Aditya mengambil handphone genggamnya dan menghubungi Amitha dan sudah panggilan kelima tidak ada jawaban
Meskipun Alin tahu, Amitha punya beberapa koneksi yang bisa menjaga keamanan, tapi kali ini dia meragukan keselamatan putrinya karena berada di tangan Rajendra tanpa membuat persiapan sebelumnya
Terdengar deru suara mobil di luar, Alin segera berlari keluar melihat dan berharap itu adalah putrinya, dan saat yang keluar adalah orang yang di harapkan, Alin sangat bahagia dan berlari memeluk anak kesayangan nya itu
"Maaf nyonya saya terlambat mengantarkan pulang, karena ada urusan penting dan mendadak" ujar Rajendra
Alin hanya menganggukan kepala, dan Amitha segera masuk ke dalam rumah tanpa berbicara sedikitpun, bahkan ketika Alin mengajak berbicara, Amitha langsung membanting pintu kamarnya
Rajendra pergi dari kediaman Aftan dengan tertawa puas karena berhasil membalas ucapan sombong Amitha dengan menjadikan nya patuh di telapak kakinya
Rajendra pulang ke rumahnya dan Lavani sudah menunggunya dengan Setumpuk laporan yang menggunung berisi tentang data anak perusahaan nya yang harus di tutup dan pegawai nya yang harus di berhentikan, karena tiba bisa membayar upah mereka
"Akhh,,,, mom, sejenak saya lupa masalah ini, dan ketika sampai rumah kenapa jadi bad mood kembali " ujar Rajendra yang mulai duduk di atas sofa
pelayan rumah itu segera mengunci semua pintu rumah sesuai perintah Lavani, khawatir anaknya itu akan kabur Kembali
" kekanak Kanakan sekali " ucap Rajendra
"kau yang kekanakan, bersikaplah dewasa mulai sekarang, tidak selamanya lari memecahkan masalah mu, Raj" jawab Lavani
__ADS_1
"Cihhhh, lelahnya " ujar Rajendra sambil memejamkan matanya mendengar Omelan Lavani yang belum berhenti
Keesokan pagi nya Rajendra sudah berada di ruang kerjanya dan mendapat laporan dari pegawainya,
"Mari kita selesaikan semua ini, ayo pergi ke sana juga !" ujar Rajendra sambil menutup berkas laporan
"Mau kemana lagi kau, Raj ?" tanya Lavani yang khawatir anaknya kabur lagi
"Kerja lah, momy ku tersayang, setelah saya kembali, maka anda akan mendapat berita bagus" ucap Rajendra
"Baiklah " ujar Lavani
Rajendra pergi beserta asistennya menuju suatu tempat dan Lavani memeriksa kembali laporan yang masuk hari ini
Semakin hari, Narashima company di tinggalkan oleh para kolega yang bekerja sama, dan bahan produksi mereka menumpuk, beberapa anak cabang harus di tutup dan karyawan di berhentikan,
Hal yang selama ini ia perjuangkan dan pertahankan bahkan dengan segala cara dan upaya kini hancur akibat sifat malas anak kesayangan dan sulit untuk ia kendalikan, berkali kali Lavani menyesali kematian Wisnu hanya karena merasa bersalah terhadap Devi, wanita yang sangat di benci Lavani dan merupakan madu dalam rumah tangganya itu
flash back on
"Aku akan mengunjungi sungai di mana abu Devi di taburkan " ujar Wisnu
"Apa kau gila, ini sudah larut malam, dan kau pun masih dalam pemulihan !" ucap Lavani melarang kepergian suaminya
" aku telah gagal menjadikan Dirandra sebagai pemimpin, dan sekarang Narashima company harus jatuh di bawah kepemimpinan Dirandra" ujar Wisnu yang baru saja kembali dari kantornya dan mengajar Dirandra dengan penuh kekecewaan
"Wisnu, sadarlah, Rajendra juga anakmu, dan dia lebih berhak menjadi pemimpin di perusahaan kita menggantikan dirimu dari pada anak wanita penggoda itu " ujar Lavani
"Hentikan Lavani, Devi tidak pernah salah selama ini, justru dia yang sangat berkorban demi kebahagiaan mu selama ini " ujar Wisnu
"Berkorban apa maksudmu dengan jalan merebut suami orang!" ujar Lavani
jika bukan Devi yang mendonorkan darahnya untuk Rajendra dan mengurusnya selama kamu koma, maka kau sudah lama kehilangan bayimu, Devi selalu mendahulukan kebutuhan Rajendra dari pada kebutuhan Dirandra, padahal mereka hanya selisih umur 2 bulan
"Dimana mana pelakor itu sama saja, dan aku tidak percaya dengan ya " ujar Lavani dengan marahnya
__ADS_1
Wisnu meninggalkan Lavani di rumahnya di dengan wajah kesal, bahkan tidak memperdulikan teriakan istrinya itu
Kekecewaan Wisnu yang mengetahui kebenaran kematian Devi dan ketidakadilan yang di alami Dirandra selama ini menjadikan hati Wisnu membeku terhadap Lavani
Kepergian Wisnu yang tak kunjung kembali, hingga akhirnya yang ia dapatkan Wisnu kembali dalam kondisi sudah tidak bernyawa akibat serangan jantung tiba tiba dan tidak tertolong di sungai, menambah Luka di hati Lavani dan semakin membenci Devi dan Dirandra
"Mengapa kamu lebih memilih mati bersama mereka dari pada hidup bersama ku dan Raj anak kandung mu" ucap Lavani saat mengkremasi jasad suaminya
flash back off
Rajendra telah sampai di sebuah gedung dan dia segera masuk ke dalam ruangan tersebut meskipun sudah di larang
brakkk
suara pintu di buka paksa
"Jadi orang itu yang kamu pilih berkerja sama dan mengabaikan ku" ucap Rajendra menghadap pemilik ruangan itu
"Tuan Raj, kami tidak bisa bekerja sama dengan anda dan sudah jelas kami jelaskan alasan kami sebelumnya " ucap pemimpin ruangan itu
"Dasar tidak tahu diri, apa kau bisa melanjutkan bisnismu tanpa dukungan dariku, hah " ujar Rajendra
"Tuan Raj, ini sudah keputusan kami dan apapun yang terjadi dengan bisnis kami bukan urusan anda lagi tuan " ujar pemilik ruangan itu
"Bedebah, kau !!!" ujar Rajendra
Kemarahan Rajendra semakin menjadi, manakala melihat saingannya itu diam tidak memperdulikan kehadiran bahkan tidak melihatnya sama sekali
Rajendra segera menghampiri pria yang berada di depannya yang tidak perduli akan kehadiran, meskipun lawan bicaranya sang pemilik ruangan itu sudah membalas ucapan Rajendra
Dan ketika Rajendra menghampiri pria itu dan membalikan wajahnya betapa terkejutnya Rajendra dengan sosok yang hadir di depannya saat ini
"Tidak mungkin, kau !" ujar Rajendra dengan menggelengkan kepalanya berkali kali
Pria di hadapannya tersenyum menatap Rajendra dengan sinisnya dan tatapan penuh kemenangan
__ADS_1