
"Akhhhh," teriak Fikram yang kemudian jatuh tersungkur ke bawah dengan posisi wajahnya mencium aspal
"Cihhh,,,, terlalu banyak akting" sindir Lavani yang baru menyadari bahwa peluru itu tidak mengenai mereka berdua yang sedang berebut, tapi justru menembus ban mobil milik Lavani
"oh iya, benarkah ?" Seru Fikram setelah mendengar ucapan Lavani dan kemudian bangkit dan segera memeriksa kondisi tubuhnya
"oh bibirku yang malang, kenapa harus bertemu dengan aspal !" kesal Fikram
"itu kan salahmu sendiri, yang terlalu over akting" ucap Lavani yang masih merasa kesal, dan kemudian bergegas berlari dan masuk ke dalam mobil Fikram yang kuncinya masih menggantung di dalam stop kontaknya
Fikram pun segera menyusul Lavani dan dengan cepat ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah Lavani yang hendak menjalankan kemudi
"Hentikan semua ini nyonya, mulailah kehidupan baru anda tanpa mengusik tuan muda kembali ",ujar Fikram
"Diam kau, tutup mulutmu itu yang bau " ujar Lavani dengan segera melempar wajah Fikram dengan buku saku milik Fikram di sebelah kemudi
__ADS_1
"nyonya, yang bau itu anda karena baju anda terkena muntahan saat membawa anak anda pergi tadi ke pusat rehabilitasi" ucap Fikram membalas
"Diam kau, atau berakhir hidupmu disini" ujar Lavani
"Ya dewa, ini sepertinya akan berulang, baiklah akan aku ikuti alur yang kau buat nyonya " ujar Fikram sambil memegang kemudi mobil itu hingga terjadi tarik menarik dan geser menggeser diantara keduanya, hingga mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dan arah yang tidak beraturan
Melihat kondisi jalan mobil yang tidak beraturan, Fikram segera mengarahkan laju mobil tersebut keluar dari jalan raya menuju kawasan hutan
Lavani dan Fikram masih terus berebut setir, Lavani mencoba kembali ke jalan raya karena tujuan utama adalah menemui Dirandra dan menghabisinya, sementara Fikr berusaha menghindari korban lain dari orang tidak bersalah akibat ulah ugal ugalan yang di lakukan Lavani dalam mengendarai mobilnya
"Nyonya berhentilah, lupakan dendam anda dan mulai hidup baru de,,,," ucap Fikram yang belum selesai berbicara namun kepalanya sudah di pukul dengan senjata api yang tadi di pegang Lavani
Fikram pun jatuh pingsan dan melepaskan kemudinya, hingga Lavani berkuasa mengendarai mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi untuk menemui Dirandra
handphone genggam Fikram terus berbunyi dan nampak nama Dirandra sedang memanggil, Lavani pun mengangkat panggilan itu dan menunjukan wajah Fikram dengan pelipis nya yang berdarah
__ADS_1
"Wanita kejam, apa yang kau lakukan kepadanya ?" umpat Dirandra melihat asisten nya yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka dan teringat kembali akan nasib Arya
"Temui aku di rumah utama keluarga kita, maka akan ku pastikan bocah ingusan ini akan aman sampai kau bertemu terakhir kali dengannya !" ujar Lavani tanpa menunggu jawaban Dirandra dan segera memutus panggilan telepon tersebut
"Ya dewa, Fikram memang menyebalkan, tapi jangan sampai ia bernasib malang seperti Arya dan Kamaniya, lindungi dia ya dewa, Lavani lihatlah akan aku akhiri semua kekejaman yang kau lakukan selama ini " ujar Dirandra dan kemudian dia keluar dari Gobin company menuju rumah utama keluarga Narasimha
Di halaman depan rumah utama Narashima nampak Fikram yang belum sadar dari pingsan nya terikat kaki dan tangannya di sebuah kursi taman dengan kondisi mata nya di tutup
Lavani duduk diam menatap pintu gerbang rumah nya yang saat ini sudah tidak ada satpam dan rumah yang kosong tanpa satupun pelayan, karena semua pekerja sudah diberhentikan oleh Lavani akibat tidak bisa membayar gaji mereka
Fikram mulai tersadar dari pingsan dan ia mulai menggerakkan badannya yang terikat
"Tenanglah anak muda, diam dan duduk manis, atau kau akan merasakan dinginnya pisau ini bila menembus ke dalam hati dan jantungmu saat ini " ujar Lavani dengan tawa sinisnya
glekkkkkk, Fikram menelan air ludahnya sendiri, merasakan dinginnya benda pipih yang dia yakin itu sebuah belati dan menempel di pipinya
__ADS_1
"Lepaskan dia, urusan mu adalah denganku !" ujar seorang yang baru sampai di rumah utama keluarga Narasimha itu