
Pagi hari Risti bersama teman-temannya, Vina, Rio,Liona, Ryan, Bunga (teman-temannya lebih suka memanggilnnya Flora), Rangga, Ila dan Juna, mereka sedang berkumpul di depan kost tempat Risti tinggal.
Ini adalah perjalanan pertama mereka sebagai anggota kelompok yang mereka beri nama Kelompok pencinta alam kelompok yang mereka buat bersama tentunya.
"Sudah siap semuakan Flo, Ga ?" tanya Risti pada Flora dan Rangga yang bertanggung jawab untuk perlengkapan camping mereka.
"Fla Flo Fla Flo nama gua bunga bukan Flower." protes Bunga.
"Bukan Flower memang. Tapi...." jawaban Risti dipotong tiba-tiba oleh Liona.
"Flora...!" seru Liona.
"Bunga nama gua Bunga. B U N G A kalau lu semua gak tau ejaannya." protes Bunga sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lebih enak dipanggil Flora ah." ucap Ryan yang sedang menaikkan barang ke atas mobil dibantu Rio.
"Iyakan Yo?" tanya Ryan pada Rio dan dijawab anggukan oleh Rio.
"Serah lu pada deh." pasrah Bunga yang selalu kalah saat berdebat soal nama panggilan untuk dirinya.
"Kalian ini setiap ngumpul selalu saja ribut." tegur Vina yang baru keluar dari rumah kost Risti.
"Gimana perlengkapan camping udah lengkap semua gak Flo, Ga?" tanya Vina pada Bunga dan Rangga.
Bunga semakin cemberut mendengar nama panggilan Flo untuknya dari Vina.
"Beres Vin gua ama Flora udah siapin dan cek tadi." jawab Rangga.
"Ya udah kalau gitu ayo kita go." seru Liona penuh semangat.
Mereka semua mulai masuk ke dalam mobil. Liona, Vina, lla, Rangga dan Rio berangkat bersama menggunakan mobil yang sama dengan Rangga sebagai supirnya. Risti, Bunga/Flora, Juna dan Ryan menggunakan mobil lain dengan Juna sebagai supir.
"Jangan pergi!" tiba-tiba Risti mendengar suara bisikan yang melarangnya untuk pergi saat dia akan masuk ke dalam mobil membuat Risti sejenak mematung.
"Ris Risti... Woi Risti." panggil Bunga berkali-kali dan Risti masih mematung di tempatnya.
Ryan menepuk pundak Risti membuat Risti tersadar dari lamunannya.
"Ya kenapa?" tanya Risti saat menyadari ada yang menepuk pundaknya.
"Lu kenapa sih ngelamun?" tanya Bunga.
"Oh maaf gua lagi blank tadi." jawab Risti.
__ADS_1
"Ya udah buruan masuk gih." ucap Ryan dan di angguki oleh Risti.
"Huft" Risti menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
"Pasti cuma angin lewat. Pasti gua cuma salah denger." gumamnya lalu masuk ke dalam mobil.
"Emang kita mau ke mana sih?" tanya Bunga saat mobil sudah jalan.
"Floraku sayang yang paling cantik manis sekampungnya, kita kan udah bahas kemaren kalo kita bakal ke gunung pelangi." jawab Ryan geram sedang Risti dan Juna hanya tersenyum.
"Oh gitu? Sorry gua lupa." ucap Bunga.
Saat di tengah perjalanan Risti mengernyit heran. Dia seolah merasakan jika ada sesuatu yang buruk akan terjadi dan segera menoleh kebelakang.
"Astaga....!" pekik Risti terkejut.
"Jun stop Jun." teriak Risti membuat Juna mengerem mobil mendadak dan yang lain ikut terkejut.
"Kenapa Ris?" tanya Bunga khawatir.
"Mobil Rangga tiba-tiba ngilang." jawab Risti panik.
Sedangkan di posisi Rangga dan yang lainnya, mobil mereka tiba-tiba berhenti dan sulit untuk dinyalakan kembali.
"Ada apa Ga?" tanya Vina.
"Iya kok kita berhenti di sini?" Liona ikut bertanya.
"Gak tau juga Vin, Li nih mobil tiba-tiba berhenti dan gak bisa distater." Jawab Rangga.
"Aaaaaaaaa" Ila yang baru bangun tiba-tiba teriak histeris lalu segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa La?" tanya Rio kaget.
"I itu di di sana." jawab Ila sambil menunjuk ke arah depan mobil di mana dia tadi melihat penampakan mengerikan dengan mata masih dia pejamkan dan kembali menutup wajah dengan tangannya.
"Apaan sih?" tanya Rangga heran karena tidak melihat hal aneh apapun saat melihat ke arah yang ditunjuk Ila.
"Itu di situ." tunjuk Ila lagi masih tidak berani membuka matanya.
"Gak ada apa-apa di sana La. Coba deh buka tuh mata lu terus lu lihat gak ada apa-apa kok." ucap Vina meyakinkan Ila.
Ila perlahan menurunkan tangannya dan mengintip melalui celah jari tangannya. Perlahan Ila membuka mata dan refleks dia menurunkan tangan dan membuka matanya lebar.
__ADS_1
"Gak adakan?" tanya Rio dan Ila hanya mengangguk.
"Tapi, tadi gua liat ada tante berdaster putih di sana." ucap Ila yakin.
"Lu kebanyakan nonton film horor nih. Gak ada tante kunti di sini." ucap Liona sambil menoyor pelan kepala Ila.
"Ih lu mah Li suka banget noyor-noyor kepala gua." protes Ila.
"Habis lu anek-aneh aja." jawab Liona.
"Udah deh berhenti debat dulu gih. Kalian itu gak pernah akur kalo ketemu." tegur Rangga.
"Kita sekarang ini ada di mana Ga? Terus yang lain kemana kok mobil mereka gak keliatan?" tanya Ila pada Rangga setelah menyadari jika mobil yang di kendarai Juna tidak terlihat.
"Gak tau juga La." jawab Rangga.
"Kita mending keluar dulu gua coba perbaikin mobil lu pada nyari bantuan gih. Gua kok ngerasa asing ma ini tempat. Kemaren pas kita survei kayaknya gak ada ngelewatin gunung ini deh Ri." lanjut Rangga memberi instruksi pada yang lain.
"Iya juga sih. Ya udah gua sama Vina bakal nyari bantuan kalian berdua di sini saja temenin Rangga." putus Rio.
"Hm ya udah gih sono." saut Rangga.
"Hi hi hi hi hi" setelah Vina dan Rio pergi terdengar suara cekikikan nyaring khas ketawa dari kuntilanak.
"Li lu denger gak tuh?" tanya Ila yang spontan memeluk erat tubuh Liona.
"Aaaaaaaaa" teriak Liona dan lla bersamaan saat melihat sosok mengerikan dengan wajah tercabik-cabik, bola matanya hampir copot sebelah dan dengan belatung yang berjatuhan dari lukanya itu sedang menatap mereka dengan seringai yang tampak mengerikan.
Perlahan sosok itu mendekat membuat lla dan Liona semakin ketakutan dan memejamkan mata dengan mempererat pelukan mereka.
"Puk" satu tepukan mendarat di pundak mereka membuat mereka semakin ketakutan.
"Aaaaaaaa ampun tante kunti jangan ganggu aku dong Li anak baik dan tidak sombong kok." ucap Li spontan sedang lla sudah tidak lagi mampu membuka mulutnya sangking takutnya.
"Woi gua ganteng gini lu panggil tante kunti dasar otak lu itu Li otak demit." protes Rangga.
Ternyata yang menepuk pundak mereka adalah Rangga yang kaget mendengar mereka teriak histeris.
"Astaga Ga untung elu. Gua kira tante kunti yang mau nangkep kita." ucap Liona lega saat mendengar suara Rangga.
Liona melepas pelukannya dengan lla dan mengedarkan pandangannya takut jika sosok menyeramkan tadi masih ada.
"Enak aja gua lu kira tante kunti." protes Rangga tidak terima.
__ADS_1
"Eh La, lu kenapa diem aja?" tanya Rangga melihat lla yang mematung dengan tubuh gemetar dan mata membelalak seperti sedang melihat hal menyeramkan.