Kelompok Pencinta Alam

Kelompok Pencinta Alam
Dia bukan teman kalian


__ADS_3

Udah bukan Flash back ya😉


Para warga sudah selesai mengurus jenazah almarhum Rangga dan sudah mengkafaninya.


Para sahabatnya kini sudah berada di dekat jenazah Rangga menunggu jemputan ambulans yang di kirim untuk menjemput jenazahnya.


"Kalian sudah siap untuk berangkat?" tanya pak Haji Wawan pada mereka.


"Iya pak." jawab Juna.


"Ambulance yang akan menjemput jenazah teman kalian sudah dekat." ucap Walaa yang baru datang.


"Saya akan mengantar kalian sampai ke kota." lanjutnya.


"Terima kasih banyak." ucap Liona masih ada jejak air mata di pipinya.


"Pak saya bisa bertanya?" tiba-tiba Ryan bertanya pada pak Selamet yang duduk di sebelahnya.


"Silahkan Den Ryan mau nanya apa?" ucap Pak Selamet.


"Mengapa warga harus membawa obor saat memasuki alam goib semalam?" tanya Ryan.


"Karena mahluk menjijikkan yang menunggu tempat itu sangat takut dengan api den." jawab pak Selamet.


"Kok para warga bisa tahu tentang kelemahan mereka itu?" tanya Liona penasaran.


"Sebenarnya kami tahu itu secara tidak sengaja." Jawab pak Selamet.


"Dulu mahluk-mahluk itu menyerang desa dengan terang-terangan. Mereka akan keluar dari gunung kunti setiap malam untuk menangkap warga yang masih berada di luar rumah atau memasuki rumah yang masih terbuka di malam hari." pak Selamet mulai bercerita.


"Terus kenapa sekarang mahluk itu tidak lagi meneror rumah warga pak?" tanya Liona.


"Diem dulu bisa gak sih lu? Pak Selametkan lagi cerita nah kalo lu nanya gak akan kelar ceritanya." tegur lla sambil menoyor kepala Liona.


"Sakit oge gua gibeng juga lu." kesal Liona.


"Kalian berdua itu bisa diem gak sih? Gak kasihan apa lu sama almarhum Rangga yang masih belum dikubur? Sampe-sampe kalian masih sempat berdebat di deket jasadnya?" tegur Vina.


"Maaf." ucap sesal Liona dan lla bersamaan sambil melihat ke arah Risti dan Flo yang sedang berpegangan tangan saling menguatkan dengan air mata masih mengalir di kedua pipinya.


Risti, Bunga dan Rio masih terdiam memandangi jenazah Rangga. Mereka bertiga masih terlihat syok dengan kejadian yang menimpa Rangga.


"Terus pak gimana kelanjutan cerita tentang mahluk itu?" tanya Liona.

__ADS_1


"Keluarga yang paling sering di incer adalah keluarga kaya terlebih jika itu berhubungan dengan keluarga bapak Johan suami dari nyai Dyah.


Malam itu sedang mati lampu, jadi warga kebanyakan menggunakan lentera api atau lilin untuk penerangan.


Ibunya Walaa yaitu Minah istri saya malam itu lupa untuk mengunci pintu dan mahluk-mahluk itu masuk ke dalam rumah.


Saat mereka menyeret paksa Minah, Minah tidak sengaja menarik lentera dan jatuh kekeranjang cucian hingga membuat api yang cukup besar.


Salah satu mahluk itu ada yang tersambar api dan seketika menjadi asap. Mahluk yang lain langsung lari dan mulai saat itu setiap menjelang malam akan ada yang bertugas ronda menjaga dengan obor api juga menyalakan api unggun." jelas pak Selamet.


"Jadi, setelah itu mahluk-mahluk itu tidak lagi menampakkan dirinya di desa ini ya pak?" tanya Vina.


"Iya non." jawab pak Selamet.


"Pak mobil jenazahnya sudah tiba." Ucap Walaa.


"Oh ya sudah panggil yang lain untuk bantu ngangkat jenazahnya." ucap pak Selamet.


"Karena kalian pasti masih syok, tentu belum bisa konsentrasi buat bawa mobilnya. Maka biarkan Walaa yang menyupir mobil aden Juna." ucap pak Selamet.


"Apa gak ngerepotin nantinya pak?" tanya Risti saat mendengar tentang Walaa yang akan mengantar mereka.


"Tidak kok. Lagian memang saya ada rencana ke kota untuk kembali kuliah. Hitung-hitung bantu kalian sambil bonus transport geratis." ucap Walaa.


"Kamu itu gak bisa serius." tegur bu Minah.


"Gua ikut di ambulans aja." putus Risti.


"Biar gua temenin deh bareng Li. Ya kan Li?" tawar Ryan.


"Lah Yan lu kok nunjuk gua sih?" tanya Liona.


"Lu gak mau nemenin Risti nih? Gak kasian lu ma Risti cewek sendirian di ambulans?" tanya Ryan.


"Lagian ada yayangmu ini yang pemberani nemenin lu." ucap bangga Ryan.


"Yayang pala lu peyang? Iya deh gua ikut ma lu di ambulans. Lagian di mobil Juna juga sempit." pasrah Liona akhirnya.


"Ayo semua kita berangkat. Kasian almarhum kalo tertunda-tunda di makamkan." panggil Walaa.


Mereka semua akhirnya berangkat. Risti, Liona dan Ryan ikut ambulans di belakang bareng jenazah, Juna ikut ambulans juga tapi duduk di depan, Walaa, Ila, Vina, Rio dan Bunga naik mobil Juna dengan Walaa sebagai supirnya.


"Ra ra ra .." ucap Ryan terbata tidak sanggup untuk meneruskan kata-katanya saat melihat sosok Rangga duduk di depannya.

__ADS_1


"Lu apaan sih Yan berisik tau." protes Liona.


Ryan hanya mampu menatap ke arah sosok Rangga tanpa berani berkata-kata lagi. Liona mengikuti arah pandang Ryan dan terkejut.


"Astogeee omegosh omenoh." seru Liona terkejut.


"Abang Rangga yang cakepnya sejagad, lu ngapain sih ngikut-ngikut?" ucap Liona tanpa berani melihat ke arah sosok mirip Rangga tadi.


"Lu ngapain coba ngomong gitu Li? Kalau dia marah gimana coba?" tegur Ryan.


"Lah kan dia udah koid neh udah jadi "hi hi hi hi" bisa terbang dong? kok masih ngikut di mobil?" ucap Liona sambil mempraktekkan suara tawa Nyai Dyah.


"Kamu siapa?" tanya Risti menatap tajam sosok menyerupai Rangga tadi.


"Lah Ris lu gak liat apa tuh muka sama yang lagi bobok manis di depan kita udah kayak pinang di belah kampak?" tanya Liona.


"Di belah dua yayang." protes Ryan.


"Lah emang bisa lu belah pinang gak pake alat?" tanya Liona.


"Ngak sih. Tapi kan masih bisa pake piso kek yang lebih kecil. Lah ini pinang lu belah pakek kapak mana mirip belahannya yang ada tuh pinang ancur." protes Ryan.


Liona hendak protes lagi namun sudah di sela dengan kata-kata Risti.


"Kalian bisa berhenti bercanda gak sih?" tegur Risti.


"Maaf." ucap keduanya bersamaan.


"Kamu siapa?" tanya Risti lagi sambil menatap tajam ke arah sosok yang terdiam di sampingnya itu.


"Kau tidak usah berpura-pura menjadi sosok Rangga." ucap Risti.


"Hi hi hi hi hi." tiba-tiba sosok Rangga tadi berubah menjadi sosok Nyai Dyah yang sedang tertawa mengerikan.


"Mengapa kau mengikuti kami?" tanya Risti.


"OMG nyai tante kunti Dyah." seru Liona belepotan lalu melompat kebelakang Ryan.


"Lah lu napa ngumpet di belakang gua? Sempit tau." protes Ryan yang kini juga sedang ketakutan.


"Lu sendiri yang bilang mo jagain gua tadi." jawab Liona.


"Dia bukan teman kalian." ucap Nyai Dyah.

__ADS_1


"Apa maksud kata-katamu?" tanya Risti.


"Hi hi hi hi hi." Nyai Dyah hendak menyerang Risti namun terpental karena ada sinar yang keluar dari kalung Risti yang mengandung kekuatan membuat Nyai Dyah terpental.


__ADS_2