Kelompok Pencinta Alam

Kelompok Pencinta Alam
Rencana Willy 2


__ADS_3

Masih flash back


Willy segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya guna melancarkan rencananya membawa Eyta putri bungsu bi Darsih agar dapat menjadikannya tumbal demi mencapai keinginan egoisnya memiliki Rangga.


Willy memarkir asal mobil miliknya di depan rumah saat sampai di rumah miliknya itu. Dia segera masuk ke dalam rumah dan melihat sekeliling mencari keberadaan Eyta putri bungsu bi Darsih yang menjadi targetnya saat ini.


"Ah itu dia si gadis bungsu calon penyatu hubungan aku dengan kak Rangga pangeran hatiku rupanya dia ada di sana." gumam Willy saat melihat Eyta sedang mengelap meja makan.


Eyta memang sering datang untuk membantu ibunya kerja di rumah Willy saat pulang dari sekolahnya karena kebetulan sekolah Eyta dekat dengan rumah Willy. Bi Darsih hanya kerja sampai sore hari saja di rumah Willy jadi Eyta akan menunggu agar bisa pulang ke rumah bersama dengan ibunya.


"Aku harus memikirkan satu cara untuk dapat mencegah mereka berdua pulang lebih awal besok agar aku dapat menculik Eyta di jalan saat malam besok." gumam Willy seraya berfikir.


Willy berjalan mendekati Eyta saat melihat bi Darsih juga sudah ada di dekat Eyta.


"Bi Darsi sama kamu juga Eyta saya ada kerjaan tambahan buat kalian besok sore kalian mau tidak ngerjainnya?" tanya Willy dan mereka berdua tampak saling tatap ragu.


"Tenang saja saya akan kasih uang tambahan langsung pas kerjaan kalian selesai besok kes " Bujuk Willy dengan iming-iming uang.


"Saya kasih RP. 500 ribu deh seorang gimana?" bujuk Willy lagi saat melihat mereka masih ragu.


"Memang kerjaannya apa non Willy? Kenapa tidak siang hari saja?" tanya bi Darsih.


"Saya mau ngasih sumbangan alat-alat tulis dan perlengkapan sekolah ke beberapa panti. Saya baru bisa belanja besok siang setelah itu harus di susun terus dipisah-pisah biar gampang baginya. Saya mau bawa ke panti besok paginya. Jadi, harus di susun sorenya." jelas Willy.


"Kalo gitu boleh deh non kita akan terima." putus bi Darsi dan Eyta hanya mengangguk setuju.


"Ya sudah kalian lanjut kerjaan kalian saja sana. Saya mau mandi terus mau keluar lagi dan kemungkinan sampe malam. Tidak usah masak makan malam buat saya karena saya akan makan di luar saja malam ini." ucap Willy lalu pergi tanpa menunggu jawaban mereka.


"Alhamdulillah nak kita bisa bayar biaya spp bulanan sekolah kamu yang nunggak nanti kalau bisa dapet 1 juta itu besok malam." ucap bi Darsih bersukur.


"Iya buk Eyta kira Eyta gak akan bisa masuk sekolah lagi minggu depan karena bu guru udah kasih waktu sampe minggu depan kalo gak bayar Eyta bakal diskors dari sekolah." saut Eyta juga senang.


"Kok kamu tidak kasih tau ibu soal skors itu nak?" tanya bi Darsi sedih.


"Eyta gak mau ibu semakin kepikiran kalo tau soal itu. Maaf ya buk." jawab Eyta menyesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lain kali ada apa-apa kasih tau ibu ya nak." pinta bi Darsi.


"iya buk maafin Eyta sekali lagi." jawab Eyta.


Di dalam kamar Willy sedang tersenyum membayangkan dirinya akan memiliki Rangga hanya untuk dirinya setelah semua ritual dijalani.


Dia tidak perduli akan melukai orang lain bahkan membuat seseorang terbunuh hanya untuk memenuhi keinginannya memiliki Rangga.


Hatinya sudah buta akan keegoisan dan nafsu serakahnya. Cinta bertepuk sebelah tangan sudah mematikan sisi kemanusiaannya.


"Kak Rangga sebentar lagi akan menjadi milik Wally hanya milik Wally. Ha ha ha ha ha." ucap Wally dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ah aku sudah tidak sabar menunggu saat aku bisa memiliki kak Rangga. Aku tidak perduli tentang yang lain asal kak Rangga bisa jadi milikku. Jangankan satu Eyta puluhan Eyta juga aku akan korbankan." ucap Willy.


Ke esokan harinya Willy sibuk belanja banyak barang kebutuhan sekolah untuk menyibukkan anak dan ibu itu agar dapat pulang lebih malam.


Willy sengaja pulang agak sore agar bi Darsi dan Eyta lebih malam pulangnya.


Dia sudah membayar beberapa orang untuk menunggu bi Darsi dan Eyta di gang sempit tempat mereka biasa jalan untuk pulang. Mereka berdua selalu pulang jalan kaki untuk menghemat biaya.


"Iya non saya di sini." saut Eyta yang muncul dari gudang.


"Ngapain kamu di gudang?" tanya Willy.


"Nyimpen lukisan non. Kemaren Nyonya beli lukisan baru terus suruh ganti lukisan di ruang tamu sama yang baru." jawab Eyta.


"oh ya udah. Kamu angkatin masuk gih itu barang-barang yang akan kamu sama bi Darsi susun dari bagasi mobil." ucap Willy xengan nada memerintah.


"Iya non." jawab Eyta.


Willy langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Willy tersenyum saat melihat bi Darsi dan Eyta semangat menyusun barang yang dia beli tadi di ruang tengah rumahnya.


"Bi Darsi sama Eyta kalau audah selesai kalian panggil saya saja di kamar kalau saya ketiduran bangunkan saya. Soalnya saya masih ada kegiatan nanti malam." ucap Willy.


"Baik non." jawab bi Darsi.

__ADS_1


Willy pergi ke kamarnya setelah mendapat jawaban dari bi Darsi.


Saat pukul 8 malam bi Darsi dan Eyta baru selasai menyusun barang-barang yang katanya untuk anak yatim itu.


Bi Darsih lantas pergi ke kamar Willy dan mengetuk pintunya.


"Tok tok tok." suara ketukan pintu membuat Willy di dalam kamar yang sedang menghayal tentang Rangga itu membuyarkan lamunannya.


"Ya sebentar.!" seru Willy lalu membuka pintu.


"Udah selesai ya bi?" tanya Willy.


"Udah non." jawab bi Darsi.


"Oh tunggu sebentar ya bi Darsi." ucap Willy lalu menutup kembali pintu kamarnya.


Willy meraih benda pipih miliknya itu di atas meja samping ranjangnya. Willy menekan nomer seseorang dan segera mendialnya.


"Mereka akan segera pulang kalian harus sudah siap." ucap Willy to the point saat sambungan tersambung.


"Baik bos." jawab penerima telfon di seberang sana.


"Oke semua sesuai rencana." ucap Willy lalu mengambil amplop di dalam laci mejanya.


"Bi Darsi ini upah yang saya janjikan sekalian upah buat Eyta juga sudah aku masukin plus bonus tambahan dari aku." ucap Willy.


"Makasih banyak non." ucap bi Darsi senang.


"Ya aku harus pergi kalian sudah bisa pulang kalau tugas kalian sudah beres." ucap Willy.


"Iya non kalau gitu bibi sama Eyta pamit pulang." pamit bi Darsi.


"Hm." saut singkat Willy.


Willy segera mengambil jaket, tas dan kunci mobilnya saat melihat bi Darsi dan Eyta ke luar pagar rumahnya dari jendela kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2