
"Saatnya beraksi." ucap Willy dengan seringai jahat.
Willy berjalan dengan langkah cepat menuju tempat mobilnya di parkir untuk segera melancarkan rencana jahatnya pada Eyta.
Sedangkan di sisi Eyta dan ibunya saat ini, Eyta merasa janggal melihat ada sekumpulan pria di gang yang biasanya sangat sepi setiap kali dia dan ibunya lewat.
Mereka memilih gang sempit dan sepi itu karena cukup dekat dengan rumah mereka. Sehingga dapat menghemat biaya transportasi.
"Bu...!" panggil Eyta pada sang ibu.
"Kenapa nak?" tanya bu Darsi pada anaknya.
"Itu kok banyak orang ya?" tanya Eyta.
"Iya ya nak, tumben di gang ini ada banyak orang yang ngumpul biasanya sepi banget." ucap bisa Darsi.
"Kita lewat jalan lain aja yuk bu. Eyta kok ngerasa ada yang tidak beres sama mereka semua." ajak Eyta pada ibunya karena takut.
"Tidak beres gimana nak?" tanya bisa Darsi.
"Mereka ngeliat ke sini bu. Kita pergi dari sini yuk bu." ajak Eyta lagi.
"Ya udah ayo. Kita muter arah terus nyetop taksi saja deh. Ini sudah cukup malam kalau lewat jalur lain, akan jauh untuk kita jalan kaki." putus bu Darsi.
Saat mereka hendak pergi dari sana, mereka sangat terkejut ternyata di belakang mereka sudah ada beberapa pria dengan pakaian ala preman tersenyum menyeringai ke arah mereka.
"Mau kemana gadis cantik?" tanya seorang dari preman itu sambil mencolek pipi Eyta.
"Ki kita mau pulang kak. Per permisi kak." jawab Eyta ketakutan.
"Iya nak kami numpang lewat ya." ucap bu Darsi.
"Ibu ini boleh pergi kok. Tapi, gadis cantik ini, tinggal dulu untuk bersenang-senang dengan kita. Ya gak gengs?" ucap seorang lagi dari para preman itu.
Eyta semakin ketakutan memeluk ibunya. Bu Darsi sangat takut jika terjadi apa-apa pada putri bungsunya itu.
"Ja jangan kak." tolak Eyta saat seorang dari preman itu menarik tangannya.
"Jangan sentuh putri saya." bentak bu Darsi sambil menepis tangan preman itu dengan keras hingga tangan Eyta terlepas dari genggaman preman tadi.
__ADS_1
"Buk... " seorang dari mereka memukul tengkuk bu Darsi hingga bu Darsi tersungkur tak sadarkan diri.
"Ceh mengganggu saja." ucap preman yang memukul tengkuk bu Darsi.
"Ibu...!" teriak histeris Eyta saat melihat ibunya tidak sadarkan diri.
"Buk." yang lain ikut memukul tengkuk Eyta karena Eyta akan berteriak hingga Eyta juga tersungkur tidak sadarkan diri.
"Sayang banget gadis cantik kayak gini diberikan pada orang lain tanpa kita manfaatkan terlebih dahulu." ucap salah seorang dari mereka.
"Coba sentuh gadis itu dan bisa gua pastikan kalau lu gak akan lihat matahari bersinar lagi besok pagi." ucap seorang pria yang lebih rapih dari mereka.
"Maaf bos." ucap pemuda yang tadi ingin menyentuh Eyta dengan kening penuh keringat karena takut pada pria dewasa yang dia panggil bos itu.
"Tau gak lu kalau dengan merusak gadis itu lu cuma dapat enak sebentar doang. Tapi, kalau lu kasih gadis cantik itu ke bos besar yang memerintahkan kita untuk nangkap dia, kita semua bisa bersenang-senang dengan duit dari bos besar itu." ucap bos mereka.
"Iya bos maaf." ucap pemuda itu lagi.
"Ya sudah, ikat tangan dan kaki terus tutup mata gadis itu dengan kain hitam itu. Sebentar lagi bos yang menginginkan gadis itu akan datang." perintah bos mereka dan mereka segera melakukan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Tidak lama setelah itu Willy datang bersama dengan Antoni yang sebelumnya sudah dia jemput di alamat yang telah mereka sepakat untuk bertemu.
"Turunlah jumpai mereka. Berikan amplop ini lalu minta gadis yang mereka ikat itu lalu bawa dan simpan di kursi belakang." ucap willy menjelaskan tugas pertama Antoni.
"Ini duit kalian. Mana gadis itu?" ucap Antoni tanpa basa basi.
"Serahkan gadis itu pada bos besar ini." ucap bos preman itu dan anak buahnya segera melakukan yang dia perintahkan.
Antoni segera memasukkan tubuh pingsan Eyta ke dalam mobil dan mereka segera pergi dari tempat itu membawa Eyta ke tempat Mbah goib untuk melakukan ritual yang telah mereka sepakati dengan Mbah goib.
Sedangkan untuk bu Darsi, mereka semua pergi meninggalkan begitu saja tubuh wanita itu di tepi jalan pada gang sempit itu.
"Mau di apakan cewek itu?" tanya Antoni penasaran.
"Lu gak perlu tau hal lain yang bukan tugas dan urusan lu. Tugas lu adalah jadi Rangga palsu yang bakal gantiin posisi Rangga di kehidupan dia sehari-hari. Paham gak lu?" ucap Willy tegas.
"Serah lu dah. Yang penting bagi gua adalah bayaran yang lu janjiin ke gua segera lu bayar. Gua bisa hidup senang juga di tempat si Rangga itu. Sekali mukul dua kunyuk." ucap Antoni.
"Peri bahasa dari mana tuh?" tanya Willy.
__ADS_1
"Tau, gua pernah baca kayaknya dulu. Lupa-lupa ingat gua sama tuh peribahasa kayak lagu band horor itu." jawab Antoni.
"Band horor?" tanya Willy makin bingung.
"Udah ah. Gua jelasin juga lu gak akan paham." ucap Antoni.
"Terserah deh lu mau ngomong apa juga di sini. Tapi ingat! Rangga itu terkenal pintar dan baik hati. Jangan sampai lu nunjukin kelakuan di luar batas normal lu ke siapa saja dalam lingkungannya nanti. Mana ada peribahasa " sekali tepuk dua kunyuk " yang ada itu "sekali tepuk dua lalat" dasar aneh lu."peringat Willy pada Antoni.
"Salah ya? Sumpah gua kira kunyuk yang ditepuk." ucap Antoni.
"Serah lu dah." ucap jengah Willy.
Tidak lama setelah mereka berhenti berdebat masalah kunyuk, mereka akhirnya tiba di tempat Mbah goib.
Willy: interupsi thor. Kami gak bahas kunyuk loh ya.
Antoni:iya kita bahas masalah duit.
Willy:bukan duit ****. Masalah peribahasa.
Author: Yang author itu gua apa lu berdua sih?
Willy dan Antoni:Elu lah thor.
Author:nah itu lu tau, terserah gua dong mau bilang lu berdua bahas apa juga.
Willy:.........
Antoni:.......
Oke kita tinggalkan percakapan gak berguna mereka dulu. Willy masuk ke dalam kediaman Mbah goib dengan Antoni di belakangnya yang tengah kesusahan menggendong Eyta yang sudah sadar dan memberontak.
Willy menutup mulut Eyta dengan lakban saat tahu bahwa Eyta sudah siuman.
"Mmm mmmm mmmm." Eyta berusaha untuk bergerak terus agar dapat terbebas dari orang yang mengangkat tubuhnya itu.
"Diam gak lu? Gua bikin lu pingsan lagi nih." ancam Antoni.
"Letakkan gadis itu di atas meja altar itu." ucap Mbah goib yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
Antoni segera menaruh tubuh Eyta di atas meja altar yang dimaksud Mbah goib. Beberapa orang tiba-tiba muncul dan melepaskan ikatan tangan juga kaki Eyta.
Mereka mengikat ulang tangan dan kaki Eyta pada tali yang ada pada setiap sudut meja altar tersebut sehingga posisi tubuh Eyta membentang membentuk huruf x.