Kelompok Pencinta Alam

Kelompok Pencinta Alam
Nyai Dyah 2


__ADS_3

Bunga lantas memeluk Risti mendengar cerita ibu Minah tentang sosok nyai Dyah.


"Apakah sudah pernah ada kejadian seperti teman kami yang menghilang tiba-tiba itu buk?" tanya Juna.


"Iya den bukan hanya pernah tapi, sering malahan, bahkan dalam bulan ini saja sudah ada 3 kejadian termasuk kejadian yang menimpa temannya aden." jawab ibu Minah.


"Apakah yang masuk ke dalam sana ada yang berhasil keluar dengan selamat buk?" tanya Ryan.


"Ada sih den, hanya saja...." bu Minah ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Hanya saja kenapa buk?" tanya Risti penasaran.


"Ayo den, non, kita segera ketempat haji Wawan segera. Bapak takut jika kita terlambat maka akan sulit menemukan temen kalian dengan selamat." pak Selamet tiba-tiba keluar dari kamar menyela pembicaraan mereka.


Pak Selamet mengajak mereka segera ketempat H. Wawan. Karena dia khawatir akan terlambat untuk menyelamatkan teman-teman Risti yang terjebak di dalam alam goib.


"Ayo pak.!" ajak Risti dan yang lain segera berdiri dan ikut melangkah keluar.


"Jangan lupa tutup dan kunci semua pintu sama jendela ya buk. Bapak pergi dulu nganter anak-anak ini." pamit pak Selamet pada istrinya.


"Iya pak hati-hati di jalan pak." jawab bu Minah sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Aden sama non juga hati-hati ya. Ibu do'akan semoga temen kalian bisa selamat. aamiin." ucap bu Minah.


"Aamiin bu makasih do'anya." saut Juna dan mereka semua pergi dari sana.


"Stop di sini aja den. Rumah pak haji Wawan itu masuk gang dan mobil gak muat untuk masuk. Ayo kita jalan masuk deket kok." jelas pak Selamet.


Mereka semua keluar dari mobil dan berjalan memasuki sebuah gang yang cukup sempit untuk kendaraan beroda empat masuk.


Risti berhenti melangkah dan menoleh ke belakang karena merasa jika ada yang tengah mengawasi dirinya.


"Puk" Juna menepuk pelan pundak Risti membuat Risti sedikit terkejut dibuatnya.


"Ada apa Jun?" tanya Risti pura-pura tenang.


"Ayo cepat....! Lu liatin apaan sih?" tanya Juna melihat ke arah pandang Risti dan tidak menemukan apa pun yang aneh.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa kok. Ayo kita buruan noh udah di tinggal kita." jawab Risti dan cepat melangkah menyusul yang lain.


Tidak berapa lama mereka tiba di rumah H. Wawan. Pak Selamet langsung mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Tok tok tok"


"Assalamu alaikum.....!" pak Selamet.


"Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatu." jawab seseorang dari dalam lalu pintu terbuka.


"Eh pak Selamet, ayo masuk pak." ucap pak H. Wawan.


"Gak usah masuk ya pak Haji. Kita buru-buru mau minta bantuan bapak Haji Wawan untuk nolongin temen-temen dari non non dan aden aden ini pak." ucap pak Selamet.


"Bantuan apa ya pak Selamet?" tanya pak H. Wawan.


"Teman-teman mereka terjebak di alam goib tempat Nyai Dyah pak haji." jawab pak Selamet.


"Astagfirullah....!" pak haji Wawan beristigfar karena terkejut mendengar penyataan pak Selamet.


"Kalau begitu ayo kita ke sana segera sebelum semuanya terlambat." ucap pak haji Wawan lalu menutup dan mengunci pintunya segera.


Di dalam mobil


"Maafin mama saya kak." ucap Nadia.


"Itu bukan salah kamu dan kami tidak tau pasti apa yang sedang terjadi saat ini. Kalaupun itu memang ulah mama kamu itu bukan kewajiban bagimu untuk bertanggung jawab." ucap Juna.


"Sebenarnya apa yang membuat mama kamu menjadi seperti sekarang ini sih?" tanya Ryan.


"Beliau dulunya seorang ibu yang sangat baik dan penyayang. Bahkan mama dulu dikenal dengan sifat ramah dan baik hati.


Mama jadi seperti ini karena sakit hati dengan keluarga papa yang selalu merendahkan dirinya.


Puncak sakit hati mama saat papa justru mengikuti keinginan nenek untuk menikah lagi dengan perempuan yang lebih kaya dan meninggalkan kami begitu saja.


Mama jadi terobsesi untuk menjadi kaya dan berkuasa. Saat mama tahu bahwa dirinya menderita penyakit kangker darah mama jadi semakin terobsesi dengan ilmu hitam yang menjanjikannya hidup abadi.

__ADS_1


Mama terus-terusan menuntut ilmu hitam hingga bersejutu dengan iblis dan mengubah dirinya menjadi sosok yang sangat menyeramkan.


Mama kemudian membuat wilayah kekuasaannya sendiri dengan kekuatannya yang dia beri nama gunung kunti.


Pada saat-saat tertentu mama akan berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan membutuhkan darah dan jantung mentah dan segar untuk kekuatan serta keabadiannya.


Saat itulah abdi mama yang menyembahnya untuk harta dan tahta akan mengirim tumbal dengan membuka pintu goib dan menyesatkan orang yang melewatinya.


Jika mereka tidak memperoleh tumbal orang lain maka anak, istri atau suami mereka yang akan mereka tumbalkan.


Karena jika tidak ada tumbal maka tubuh mereka yang akan menjadi santapan mama yang lebih dikenal dengan sebutan Nyai Dyah.


Aku sudah sering menasehati mama tapi mama tidak pernah mau mendengarkan bahkan tidak jarang mama mengancam akan menjadikan aku korban jika aku terlalu cerewet." Nadia menceritakan tentang ibunya.


"Berarti Nyai Dyah ini bukan hantu?" tanya Risti.


"Bukan non nyai Dyah itu orang biasa yang saat ini dikuasai oleh keserakahan sehingga dia berubah menyerupai iblis." jawab Pak Selamet.


"Nyai Dyah juga kadang menjadi manusia biasa dan pulang ke rumahnya?" tanya Juna.


"Iya benar. Tapi, mama tidak sering pulang hanya sesekali dan itu tidak tentu kapan." jawab Nadia.


"Kita sudah sampai nah itu Walaa dan para warga sudah siap menunggu." ucap pak Selamet.


Mereka segera turun dari mobil dan bergabung dengan para warga. Pak haji Wawan segera merapalkan ayat-ayat suci untuk membuka pintu goib.


Para warga sudah berbaris di belakang membawa obor dan senter. Mereka ikut berdo'a dan tak lama seolah ada pintu yang terbuka di hadapan pak haji Wawan muncul pemandangan yang berbeda.


Mereka semua masuk ke dalam sana dan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang yang menyambut mereka.


"Hi hi hi hi hi hi " mereka semua mendengar suara tawa mengerikan yang terdengar sangat dekat.


"Aaaaaaaaa" suara teriakan ketakutan juga ikut terdengar.


"Astaga itu suara Liona dan yang lain dari arah sana." Seru Ryan sambil menunjuk arah datang suara.


"Ayo kita segera kesana saya takut jika akan ada hal buruk yang sedang terjadi pada mereka." ucap pak haji Wawan lalu berlari ke arah datang suara.

__ADS_1


"Ayo kita ikuti pak haji Wawan segera." ucap Walaa lalu ikut berlari di ikuti para warga beserta Risti dan temannya.


Pak haji Wawan melihat Nyai Dyah akan menusuk dada Liona dan beliau segera melompat dan menendang sosok nyai Dyah hingga terlempar.


__ADS_2