Kelompok Pencinta Alam

Kelompok Pencinta Alam
Mencari kebenaran


__ADS_3

Risti, Liona dan Ryan menatap heran sosok Nyai Dyah yang terpental karena sinar yang keluar dari kalung milik Risti hanya Nyai Dyah yang dapat melihatnya.


"Hi hi hi hi hi." Nyai Dyah kembali mengeluarkan tawa yang menyeramkan dengan tatapan penuh amarah ke arah Risti.


"Lah tante kunti ini gak jelas amat ya." cerocos Liona.


"Gak jelas apa sih Li? Jangan asal nyerocos deh Li yayang abang yang paling cetar membahana." tegur Ryan.


"Emang gua Syahroni cetar membahana?" protes Liona.


"Itu loh orang kalo ketawakan lagi seneng gitu. Lah ini tante kunti ketawa tapi mukanya lagi marah." cerocos Li.


Nyai Dyah menatap ke arah Liona membuat Liona dan Ryan gemetar ketakutan.


"Tuhkan Lon tante kuntinya marah dikatain. Lu sih pake protes." ucap Ryan.


"Gua kan ngomong sesuai fakta Yan. Tante kunti ngapain ikut-ikut kita sih? Ntar tante kunti nyasar gak bisa balik ke gunung kuntinya gimana coba? Di kota setannya gaul nanti tante kunti di bully kalo ke sana. Pulang aja yah tante kunti yang baek." ucap Liona dengan nada membujuk.


"Emang beda Li hantu kota ma hantu desa?" tanya Ryan.


"Bedalah setan kota sekarang jadi hantu jaman now eksis semua." jawab Liona.


"Kalian berdua bisa diam dulu gak? Gak nyadar yah kalo kita dalam masalah?" tegur Risti.


"Li nih." tunjuk Ryan.


"Kok gua? Ryan ih." protes Liona kesal.


"Diam kalian." ucap Risti kesal.


"Kamu kenapa mengikuti kami dan apa maksud dengan dia bukan teman kami?" tanya Risti.


"Semua yang sudah menjadi tumbal untukku tidak akan aku lepaskan mereka harus menjadi milikku termasuk kalian semua. Hi hi hi hi hi." ucap Nyai Dyah membuat Liona dan Ryan makin gemetar ketakutan.


"Kami bukan tumbal untukmu. Kami tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu dan juga pengikutmu." bantah Risti.


"Tapi orang yang menginginkan sosok itu dianggap mati telah menjadikan kalian tumbal. Kalian harus jadi milikku terutama kau. Hi hi hi hi hi." setelah mengatakan itu dan tertawa menyeramkan nyai Dyah menghilang.


"Maksudnya apa ya? Jangan-jangan nih yang mati oplas pake muka Rangga ya Yan?" tanya Liona sambil mendekat pada keranda tempat jenazah di depannya.

__ADS_1


"Lu pengen ngecek? Emang bisa lu bedain asli ama palsunya?" tanya Ryan.


"Ya kali ada jaitan oplas gitu." jawab Liona.


"Emang lu berani liatin mukanya almarhum?" tanya Ryan.


"Gak berani sih." jawab Liona.


"Lah terus lu deket-deket mau ngapain kalo gak berani coba?" tanya Ryan dengan wajah kesal.


"Habis penasaran he he." jawab Liona sambil nyengir kuda.


Risti menatap keranda dengan perasaan kacau.


"Apa bener ya yang berbaring di depan kami semua bukan Rangga?" gumam Risti masih terus menatap keranda mayat tempat jenazah almarhum Rangga.


"Ntahlah nanti aku coba tanya sama tante aja deh. Apa ada yang janggal sama almarhum belakangan ini." gumam Risti.


Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya mobil mereka tiba di kediaman almarhum Rangga dan seluruh keluarga almarhum dan keluarga yang lain juga sudah menunggu di sana.


Setelah turun dari mobil masing-masing mereka menghambur memeluk orang tua mereka kecuali Risti yang hanya berdiri mematung melihat suasana penuh haru di depannya.


Risti lalu menghambur memeluk tubuh wanita itu dan ikut menangis.


"Risti....! Rangga gak mungkin ninggalin tantekan nak?" ucap wanita itu sambil memeluk erat tubuh Risti.


"Tante sebelum jenasah di makamkan boleh Risti bicara berdua sama tante mengenai almarhum?" tanya Risti berbisik pada ibu Farah bunda dari almarhum Rangga.


"Ini penting banget tante karena ada kemungkinan yang terbaring kaku itu bukan Rangga kita." ucap Risti meyakinkan bu Farah.


Ibu Farah menatap penuh selidik wajah Risti mencari jejak kebohongan di sana. Saat dia tidak menemukan apa yang dia cari, bu Farah memutuskan untuk berusaha percaya terhadap Risti.


"Ayo kita ke kamar tante." ajak ibu Farah.


"Rit tolong urus semuanya dulu. Saya sedikit pusing biar saya sama Risti ke kamar dulu." ucap bu Farah pada adiknya Rita.


"Iya kak Farah tenang saja istirahat dulu sebentar. Kalau sudah siap di makamkan almarhum Rangganya Rita bakalan panggil kakak untuk keluar." ucap Rita.


"Terima kasih." ucap bu Farah memeluk adiknya sambil masih menangis.

__ADS_1


"Iya kak. kak Farah gak perlu terima kasih karena Rangga jugakan keponakan aku." jawab Rita.


"Ayo Ris temenin tante di kamar dulu." ajak bu Farah dan Risti mengangguk lalu membantu ibu Farah yang terlihat sangat lemah itu berjalan.


Di dalam kamar ibu Farah


Risti membantu ibu Farah duduk di sofa dalam kamarnya.


"Maksud kamu apa tadi Ris?" tanya bu Farah penasaran.


"Risti mau nanya sama tante dulu sebelum jawab pertanyaan tante boleh gak tante?" tanya Risti balik.


"Boleh apa yang mau kamu tanya Risti sayang?" tanya bu Farah.


"Apa belakangan ini tante ngerasa ada yang aneh atau ganjil dari sikap dan tingkah laku dari almarhum Rangga?" tanya Risti.


"Sebenarnya tante sempat ngerasa aneh tapi tante ragu. Tapi, karena kamu bertanya tante jadi semakin yakin. Belakangan ini Rangga bertingkah sangat aneh berbeda dari Rangga yang biasanya." jawab bu Farah sambil mengingat-ingat tentang perubahan sikap anaknya.


"Berbeda seperti apa dia tante?" tanya Ristu lagi.


"Sangat berbeda seperti gaya bicara dia ke tante yang biasanya sangat sopan dan hormat jadi sangat santai seperti bicara sama teman seusianya saja, sikap dia ke ART yang bisanya ramah jadi cuek bahkan terkesan sombong dan kebiasaan dia semua berbeda dari jam tidur, kebiasaan makan dan banyak lagi." jawab bu Farah.


"Memang aneh kalau gitu. Apa benar yang di katakan nyai Dyah ya?" gumam Risti.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Risti sayang?" tanya bu Farah.


"Sebenernya tadi di perjalanan ke sini saat kami di ambulans, sosok mahluk menyeramkan yang menyebabkan Rangga seperti sekarang ini muncul.


Dia bilang kalau yang terbaring itu bukanlah teman kami. Sebenarnya Risti gak mau percaya tante, tapi untuk apa dan apa untungnya itu mahluk bohong.


Terlebih saat tante bilang kalau sikap dan sifat Rangga belakangan berubah, Risti jadi semakin percaya kalau itu bukan Rangga.


Artinya ada kemungkinan Rangga masih hiduo di tempat lain di luar sana." jelas Risti.


Ibu Farah kemudian bangun dari duduknya berjalan ke arah ranjangnya. Dia mengambil benda pipih miliknya lalu menggeser-geser jarinya di atas layar seolah mencari sesuatu.


"Tante mau nelepon siapa tante?" tanya Risti.


"Kiai haji Gafur paman tante. Tante mau minta pendapat dan bantuan beliau." jawab Ibu Farah.

__ADS_1


__ADS_2