Kelompok Pencinta Alam

Kelompok Pencinta Alam
Mencurigakan


__ADS_3

Bu Farah tampak serius berbicara dengan orang dalam sambungan telfonnya. Setelah beberapa menit berbicara bu Farah memutuskan sambungan telfon setelah mengucap salam.


Bu Farah menatap Risti beberapa saat lalu mulai berbicara pada Risti.


"Beliau bilang akan datang memeriksa jenazah alm. Rangga untuk memastikan jika ada atau tidak sesuatu yang janggal dari jenazah alm. Rangga." ucap bu Farah.


"Syukurlah tante jika beliau bersedia datang ke sini. Risti hanya ingin semuanya pasti dan jika itu bukan Rangga yang sebenarnya, kita bisa memulai untuk mencarinya." ucap Risti.


"Tante juga berharap demikian. Tapi...." bu Farah menggantung kalimatnya tampak ragu untuk mengutarakan apa yang akan dia ucapkan.


"Tapi? Tapi kenapa tante?" tanya Risti.


"Karena jarak yang lumayan jauh untuk beliau tempuh ke tempat ini, beliau kemungkinan akan sampai sekitar 2 jam dari sekarang. Bagaimana kita akan menunda pemakaman jenazah? Alasan apa yang akan kita gunakan untuk menundanya tidak mungkin kita mengatakan alasan yang sebenarnya bukan?" tanya bu Farah.


Risti terdiam tampak sedang berfikir dia akhirnya memberi alasan kepada bu Farah.


"Bukannya kakak dari alm. om Yohan saat ini masih stay di Indonesia tante?" tanya Risti.


"Iya ada apa?" tanya bu Farah tidak faham.


"Bisa minta nomernya tante?" pinta Risti.


"Ini nomernya emang untuk apa Ris?" tanya bu Farah bingung.


"Aku mau nelfon ngabarin tentang alm. Rangga biar beliau memutuskan ke sini dan kita ada alasan untuk menunda pemakamannya." jawab Risti.


"Iya astaga tante lupa ngabarin kak Cahya tentang alm. Rangga padahal beliau satu-satunya saudara dari mas Yohan yang masih hidup. Ya udah biar tante yang menelepon memberi tahu beliau." putus bu Farah.


Bu Farah mendial nomer dari om Cahya saudara dari mendiang suaminya. Bu Farah berbicara dengan orang di sambungan telfonnya dengan air mata yang mulai kembali berderai.


Setelah beberapa menit beliau berbicara akhirnya beliau memutuskan telfonnya.


"Kak Cahya akan dateng dan meminta untuk di tunggu soalnya mau liat alm. Rangga untuk yang terakhir kalinya." ucap bu Farah.


"Ya udah tante istirahat dulu di sini ya. Biar Risti yang kasih tahu yang lain soal kedatangan kakak dari alm. om Yohan." ucap Risti.

__ADS_1


" Iya makasih banyak ya sayang." ucap bu Farah.


"Tidak perlu berterima kasih tante. Alm. Rangga juga penting bagi Risti jadi wajar kalau Risti juga ingin membantu mencari tahu kebenaran tentangnya." saut Risti lalu melangkah keluar dari kamar. Tidak lupa dia juga menutup kembali pintu kamar bu Farah sebelum pergi dari sana.


"Tante Rita....!" panggil Risti saat melihat adik dari bu Farah itu di teras depan rumah sedang berbicara dengan supir ambulans yang akan mengantar jenazah alm. Rangga ke tempat pemakaman.


"Ya Risti ada apa?" tanya tante Rita sambil berjalan menghampiri Risti.


"Kok kamu sendirian ke sini? Kak Farahnya mana?" tanya Rita lagi.


"Tante Farah aku suruh istirahat dulu kasian tante Farah udah sangat lelah dari kemaren belom tidur katanya tante.


Risti cuman mau nyampein pesan kalo kakak dari alm. om Yohan sedang dalam perjalanan ke sini dan dia minta di tunggu mau lihat alm. Rangga untuk yang terakhir kali katanya." ucap Risti.


"Terus kak Farah ngomong apa?" tanya Rita.


"Tante Farah sih iyain aja soalnya kan om Cahya itu satu-satunya saudara alm. om Yohan yang masih hidup." ucap Risti.


"Oh kalau begitu biar tante kasih tau supir ambulansnya dulu biar istirahat dulu karena pemakamannya di tunda dulu sampe kak Cahya tiba." ucap tante Rita lalu kembali menghampiri supir ambulans tadi.


"Gua kok kayak pernah liat tuh cewek ya? Tapi, di mana ya? Nagapain coba itu orang ngintip-ngintip gitu kayak orang mau maling aja." gumam Risti.


"Ngapain lu ngelamun di pintu gitu Ris? Pengen kesambet lu?" tanya Liona yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Risti.


"Li liat deh tuh di sana." ucap Risti sambil menolehkan kepalanya ke arah gadis yang masih asik mengintip rumah alm. Rangga.


"Lah ngapain tuh orang malah celingukan di depan pager kayak maling jemuran aja. Perlu di tegur ini kayaknya." ucap Liona.


"Tunggu dulu Li." cegah Risti sambil memegang tangan Liona.


"Kenapa Ris?" tanya Liona.


"Gua kok kayak pernah liat tuh cewek ya? Lu kenal gak Li?" tanya Risti.


"Hm iya juga ya. Oh iya Ris gua inget sekarang. Itu bocahkan yang nembak si Rangga di depan kampus trus cintanya ditolak mentah-mentah ama alm. Rangga dengan alesan kalo lu ma dia udah jadian." ucap Liona.

__ADS_1


"Oh gitu ya." ucap Risti sambil menatap lekat gadis yang sibuk melihat halaman depan rumah Rangga. Gadis itu tidak menyadari jika Risti dan Liona sedang memperhatikan dia dari pintu samping rumah alm. Rangga.


"Li...!" panggil Risti.


"Ya Ris ada apa?" tanya Liona.


"Lu inget gak yang di omongin ma Nyai Dyah di ambulans tadi?" tanya Risti.


"Nyai Dyah? Oh tante kunti maksud lu?" tanya Liona balik.


"Iya yang itu." jawab Risti.


"Ingat gua, emang kenapa?" tanya Liona.


"Gua kok jadi curiga kalo kejadian gunung kunti itu ada hubungannya sama tuh cewek ya?" ucap Risti.


"Curiga? Maksud lu dia bisa jadi orang yang udah numbalin kami ke tante kunti di gunung kunti gitu?" tanya Liona.


"Iya. Tapi, ini baru dugaan gua doang sih." jawab Risti.


"Gua minta tolong sama lu boleh gak Li?" tanya Risti.


"Boleh dong apa emang?" tanya Liona.


"Lu bareng Ryan ama lla ikutin dan awasin dia terus. Tapi, kalian harus hati-hati jangan sampe ketahuan." ucap Risti.


"Jadi ceritanya gua ama tuh dua curut ikut main peran detektif kayak di film-film gitu, ngikutin target terus cari tau semua informasi tentang dia. Asik gua mau gua mau! Gua bakal panggil tuh dua curut terus mulai beraksi deh." ucap Liona penuh semangat.


"Serah lu dah mo ngartiin ini apa. Yang terpenting lu harus hati-hati dan jangan sampai kehilangan jejak tuh cewek apa lagi kalau lu sampe ketahuan. Lu bisa di tuduh jadi tukang nguntit terus dituntut mau?" ucap Risti memberi peringatan pada Liona.


"Gak mau lah gua di hukum penjara. Masa baru dapet job pertama sebagai detektif udah dipenjara aja. Tenang sister gua bakal hati-hati dan tentang tuh dua curut lu gak usah khawatir kan ada gua detektif handal." ucap Liona bangga.


"Justru karena ada elu gua jadi makin was was." ucap Risti.


"Yeee di kira acara gosip di tipi kali was was." protes Liona.

__ADS_1


__ADS_2