
"Aduh...! Lili lu gak bisa liat apa? Main tabrak-tabrak aja." protes Rio yang sudah lupa jika dia sedang berusaha diam.
"Lili? Enak aja lu manggil, emang gw bunga apa lu panggil Lili?" protes Liona.
"Bungakan kita panggil Flower bukannya Lili. Gimana sih lu?" protes Rio.
"Li, Ri." panggil Vina.
"Apa sih Vin?" tanya Liona dan Rio bersamaan.
"Lihat ke sana deh!" ucap Vina sambil menunjuk ke arah mahluk-mahluk menyeramkan yang sedang menatap ke arah mereka.
"Omegosh..!" pekik Liona.
Vina mendekat pada Liona dan Rio sambil memapah lla yang terluka.
"Kita harus gimana ini?" tanya Rio.
"Rio yang ganteng, gagah dan perkasa. Lu cowok kan? Lawan gih untuk lindungin kita." ucap Liona.
"Enak aja. Kalo ngadepin preman sih gua jabanin Li. Nah ini lawannya mahluk aspal." protes Rio.
"Aspal aspal emang jalanan? Astral Rio." protes Liona.
"Bisa diem gak lu berdua." tegur Vina karena mahluk-mahluk itu sudah berjalan mendekati mereka.
Para mahluk itu berupa sangat aneh. Tubuhnya manusia, kepalanya binatang dan tangan besar berkuku panjang. Lidahnya menjulur keluar dengan air liur yang menetes di sudut mulut mereka. gigi-gigi panjang dan runcing semakin membuat mahluk itu tampak menyeramkan.
"Kita harus gimana sekarang ini?" tanya Vina.
"Mau kabur juga kabur kemana?" lanjutnya.
"Iya gua sama Vina udah jalan jauh tadi nelusurin tempat ini. Tapi gua yakin kalau ada yang aneh sama tempat ini." saut Rio.
"Aneh gimana?" tanya Liona tanpa menatap Rio karena perhatian mereka adalah mahluk menyeramkan di depan yang sedang mendekat perlahan.
Mereka berempat mundur perlahan seiring mahluk itu mendekat.
"Seberapa jauhpun kita pergi kita tetap akan berada di tempat itu-itu saja." jawab Rio.
__ADS_1
"Kok lu bisa yakin banget Ri?" tanya Vina.
"Lu inget gak tadi pas kita jalan gua sering gores batang pohon pake belati gua?" tanya Rio balik dan Vina hanya mengangguk.
Mahluk-mahluk aneh dan menyeramkan itu kini semakin mendekat dengan cepat ke arah mereka.
"Gua nandain pohon itu udah sampe 10 kali sejak kita jalan sampe kita ketemu sama almarhum Rangga dan Ila tadi." jawab Rio sambil menunjuk pohon yang dia maksud.
"OMG serius lu? Napa lu gak ngasih tau gua?" tanya Vina mereka semakin ketakutan, karena mahluk menyeramkan itu ternyata tidak hanya di depan mereka saja.
Mahluk itu semakin banyak dan sekarang mengelilingi mereka membuat mereka tidak bisa kemana-mana lagi.
"Hi hi hi hi hi" tiba-tiba ada 1 sosok menyeramkan yang tadi memakan jantung dari Rangga terbang mengitari mereka dan tiba-tiba mahluk yang mengelilingi empat orang tadi berlutut dan tertunduk seperti sedang menyambut sang kunti.
"I itu yang makan jantung Rangga tadi." ucap lla gemetar dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"Makan jantung? Rangga? Maksud lu Rangga udah mati?" tanya Liona kaget.
"Iya" jawab Ila.
Mereka kini saling berpegangan tangan dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Bagaimana tidak gemetar? Mereka sekarang di kelilingi oleh mahluk yang menyeramkan dan di atas mereka sosok kuntilanak yang tidak kalah menyeramkannya sedang terbang mengitari mereka dengan tawa menyeramkannya.
"Toloooong! Aaaaaaa jangan mendekat." teriak mereka.
"Eh mahluk jelek, bulukan ekstra menjijikkan jangan deket-deket lu." ucap Liona.
"Aaaaaaa" teriak mereka sambil meronta-ronta karena kini mahluk menyeramkan itu tengah memegangi tangan mereka.
"Jangan jilat-jilat ih jorok lu." protes Liona karena mahluk aneh nan menyeramkan itu sedang menjilati mereka meninggalkan liur berlendir yang menjijikkan.
"Hi hi hi hi hi hi." sosok kunti yang tadi terbang kini mendarat dan mahluk-mahluk yang memegangi 4 orang itu kini menbawa mereka berempat mendekat pada kunti tadi.
"Tante kunti jangan makan Li ya tante. Jangan pegang ih tante jelek." ucap Liona nyerocos saat sang kunti tengah memegang dagunya.
Sang kunti telah bersiap untuk menusuk dada kiri Liona seperti saat dia mengambil jantung Rangga.
"Aaaaaaaaa" teriak Liona sambil menutup mata saat melihat tangan kunti siap menusuk ke arah dada kirinya.
"Duak bruk" tiba-tiba ada yang menendang sosok kunti membuatnya terlempar hingga menubruk pohon.
__ADS_1
"Dyah hentikan" ucap orang yang menendang kunti tadi.
"Ma udah ya ma. Mama jangan semakin tersesat gini ma." teriak seorang gadis yang datang bersama rombongan warga yang tengah membawa obor dan senter.
"Dasar kurang ajar. Hi hi hi hi hi." ucap geram kunti yang ternyata bernama Dyah tadi.
Para warga segera mengarahkan obor ke arah mahluk-mahluk yang memegangi empat orang tadi. Mahluk-mahluk aneh tadi tiba-tiba kabur dari sana.
"Liona... Ila... Vina... Rio...!" teriak empat teman mereka yang datang bersama rombongan warga.
Mereka segera menghampiri teman-teman mereka dan memeluk erat tubuh gemetaran empat orang yang masih syok itu.
"Rangga mana?" tanya Risti saat menyadari jika dia tidak melihat sosok Rangga.
"Hiks hiks hiks" tangis dari keempat orang tadi mulai pecah saat Risti bertanya soal Rangga.
"Kenapa kalian menangis? Mana rangga? Jawab gua Yo!" teriak Risti sambil mengguncang tubuh Rio.
"Ra rangga udah tidak ada lagi Ris." jawab Vina sambil menunjuk ke arah tubuh rangga tergeletak.
"Tidaaaaaak Ranggaaaa." teriak Risti histeris sambil berlari ke arah tubuh Rangga.
Nyai Dyah yang melihat Risti berpisah dari rombongan terbang ke arah Risti berniat membawa tubuh Risti.
Tapi dia tidak berhasil karena bapak yang menendangnya tadi menyerang dia dengan sorbannya membuat tubuh Nyai Dyah terpental.
Bapak tadi yang bernama Haji Wawan mulai membacakan ayat-ayat Al qur'an membuat sosok nyai Dyah menjauh.
Risti memeluk tubuh Rangga sambil menangis penuh pilu. Kawan-kawannya yang lain dan para warga juga mulai mendekat.
"Yang sabar nak Risti. Biarkan nak Rangga tenang dengan mengiklaskan kepergiannya." ucap Haji Wawan sambil menepuk punggung Risti.
"Sebaiknya kita segera keluar dari alam goib ini. Sebelum pintu keluar dari sini tertutup dan kita akan berada di gunung kunti ini lebih lama karena membuka pintu dua alam itu sangat sulit." ucap seseorang bernama pak Sen yang merupakan kepala Dusun dari warga tadi.
Mereka akhirnya keluar dari alam goib yang mereka tau bernama gunung kunti itu. Para warga juga membantu mengangkat jenazah Rangga untuk dapat dikebumikan secara layak.
Mereka semua sekarang berada di rumah Nadia anak dari Nyai Dyah. Mereka sedang menunggu jemputan keluarga mereka. Jenazah Rangga sedang diurus para warga.
"Bagaimana kalian bisa nemuin kita di gunung kunti dan membawa para warga?" tanya Liona pada Risti.
__ADS_1