Kelompok Pencinta Alam

Kelompok Pencinta Alam
Nyai Dyah


__ADS_3

Flash back on


Mendengar Risti mengatakan mobil Rangga hilang yang lain kompak menengok ke belakang.


"Astaga memang gak ada." saut Bunga.


"Mampir buang air kali makanya gak keliatan." ucap Ryan.


"Gak Yan....! Gua liat sendiri mobil mereka tiba-tiba ngilang." saut Risti.


"Lah kok bisa ngilang gitu aja sih? Apa jangan-jangan mereka lewatin pintu kemana sajanya Doraemon yang tiba-tiba nongol ya?" tanya Bunga.


"Tau ah. Ladenin lu sama aja gua bunuh diri tau Flo." sungut Ryan.


"Kok bunuh diri?" tanya Bunga bingung.


"Lu selalu sukses bikin darah gua naik. Kalo sering-sering gitu gua bisa koid gara-gara darah tinggi tau." jawab Ryan.


"Makanya jangan suka makan makanan yang bikin darah tinggi. Masih muda kok udah ada riwayat darah tinggi." ucap Bunga membuat Ryan geram.


Ryan hendak kembali mengomel mamun ditegur oleh Risti.


"Bisa berhenti dulu gak perdebatan kalian? Ini temen-temen kita ngilang bukannya nyariin malah berdebat lu berdua." tegur Risti.


"Coba hubungin dulu gih nomer mereka." saran Juna.


"Ya udah gua calling nomer Rangga dulu." putus Risti dan segera mencari nomer Rangga di Hp miliknya lalu segera mendialnya.


"Kalo gitu gua hubungin Liona deh." ucap Ryan dan segera menghubungi nomer Liona.


Bunga dan Juna juga ikut sibuk menghubungi nomer yang lainnya.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi. Gitu doang jawabnya Ris." ucap Bunga sambil mengikuti gaya bicara operator telfon.


"Lah lu Flo Flo, ngapain coba lu peragain gaya bicara operatornya?" protes Ryan.


"Ya kan emang gitu jawaban yang gua dapet terus gua harus ngomong apa coba?" tanya Bunga.


"Bilang aja kek kalo nomernya gak aktif. Gitu aja kok ribet." jawab Ryan.


"Bisa gak sih lu berdua berhenti berdebat dulu? Kita lagi bingung lu berdua malah berdebat gak jelas gitu." protes Risti dengan nada kesal.


"Kita mendingan cari bantuan sama penduduk sekitar aja dulu deh." ucap Juna.


"Lu bener Jun. Ya udah ayo kita cari pemukiman terdekat dari sini." saut Risti membenarkan.

__ADS_1


Mereka akhirnya naik kembali ke mobil dan segera melaju mencari bantuan.


"Jun stop Jun." seru Risti dan Juna segera menghentikan laju mobilnya.


Tanpa aba-aba Risti membuka pintu mobil dan segera keluar dari mobil menghampiri seorang bapak yang sedang berjalan seperti baru pulang dari kebun.


"Permisi pak bisa saya bertanya pada bapak?" tanya Risti sopan.


"Iya non." jawab bapak itu.


"Kami dari kota ke sini tadi 2 mobil beriringa. Tapi, tiba-tiba mobil teman kami menghilang gitu aja pak." ucap Risti membuat bapak tadi terkejut.


"Ya Allah non. Apa mobil temennya non ngilang pas ngelewatin pohon gede deket gerbang kampung ini?" tanya bapak itu.


"Iya pak bener." jawab Risti.


"Kalau gitu kalian ikut bapak kerumah biar nanti bapak bawa ke tempat Haji Wawan. Beliau yang sering bantuin orang yang hilang di tempat itu." ajak bapak tadi.


"Kita naik mobil saja pak biar cepet sampenya." tawar Juna dan mereka segera menuju rumah bapak tadi yang bernama pak Selamet.


"Di situ emang ada pintu goib yang terhubung ke tempat angker bernama gunung kunti non." jelas pak Selamet saat mobil sudah berjalan.


"Gunung kunti?" beo Risti.


"Orang-orang yang masuk ke dalam tempat itu ada dua alasannya non, aden." ucap pak Selamet.


"Apa itu pak?" tanya Juna penasaran.


"Yang pertama adalah orang-orang yang sedang dan akan melakukan persugihan. Yang kedua adalah orang yang sengaja dikirim ke sana untuk menjadi tumbal oleh pengikut Nyai Dyah itu." jawab pak Selamet.


"Terus bagaimana bisa temen kami menjadi tumbal tiba-tiba pak?" tanya Risti.


"Kemungkinan besar adalah pas mobil temen non sama aden akan lewat salah satu pengikut nyai Dyah sengaja membuka pintu goib dan mobil temen non sama aden masuk saat pintu goib terbuka." jawab pak Selamet.


"Itu sebelah kiri rumah bapak den. Kita singgah dulu baru setelah itu bapak suruh anak bapak nemuin pak dusun biar ngumpulin warga. Habis itu kita ke rumah pak haji Wawan sama rumah nak Nadia." jelas pak Selamet.


"Nadia?" beo Bunga.


"Iya non. Nak Nadia adalah anak dari nyai Dyah." jawab pak Selamet.


"Ayo non den kita masuk dulu." ajak pak Selamet saat mereka sudah berdiri di depan rumah pak Selamet.


"Assalamu alaikum." salam pak Selamet.


"Buk...! Wala...!" seru pak Selamet.

__ADS_1


"Wa alaikum salam....! Bentar pak." jawab suara ibu-ibu dari dalam rumah.


Pintu di buka oleh seorang ibu yang langsung mencium punggung tangan pak Selamet.


"Bapak bareng siapa ini?" tanya ibu Minah istri dari pak Selamet.


"Ajak masuk dulu dong buk baru nanya." tegur pak Selamet.


"Astaga ibuk lupa pak. Ayo non sama aden masuk." ajak bu Minah.


"Walaa mana buk?" tanya pak Selamet mencari anaknya.


"Ada kok pak di kamarnya." jawab ibu Minah.


"Kenapa pak?" tanya seorang pemuda yang baru keluar dari dalam kamarnya.


"Kamu ke tempatnya pak Dusun ya nak minta pak Dusun ngumpulin beberapa warga untuk nolongin temen-temennya aden sama non ini." pinta pak Selamet.


"Memang temennya kenapa?" tanya bu Minah.


"Mereka masuk ke gunung kunti buk." jawab pak Selamet membuat bu Minah dan anaknya terkejut.


"Ya Allah kok bisa?" seru bu Minah terkejut.


"Ya mungkin ada yang sengaja nunggu tumbal buk pas mereka lewat." saut Wala.


"Ya udah Wala ke rumah pak Sen kalo gitu ya pak? Buk?" pamit Wala sambil mencium punggung tangan orang tuanya.


"Non sama aden tenang saja. Kita akan usahakan biar bisa nyelametin temennya." ucap Wala.


"Iya makasih." saut mereka.


"kita langsung ketemu di gerbang saja. Kamu sama warga langsung ke gerbang saja nak. Bapak mau ketempat haji Wawan sama nak Nadia dulu. Biar mereka bisa nolongin temen mereka." jelas pak Selamet.


"Iya pak." jawab Wala.


"Bapak ganti baju dulu sana masak pake baju kotor kerumah orang." ucap bu Minah dan pak Selamet segera pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya.


"Sebenarnya Nyai Dyah itu siapa sih buk?" tanya Ryan penasaran.


"Dyah adalah warga sini juga awalnya. Dia terobsesi dengan kekayaan, kekuasaan dan keabadian. Hingga dia bersekutu dengan iblis dan menjadi seperti sekarang ini." jelas ibu Minah.


"Seperti apa buk?" tanya Bunga.


"Dia menjadi sosok menyeramkan yang membutuhkan darah dan jantung sebagai santapan agar dapat tetap hidup abadi. Dia juga merubah abdinya yang telah melanggar perjanjian persugihan menjadi mahluk aneh penunggu gunung kuntinya." jelas bu Minah

__ADS_1


__ADS_2