
Sudah bukan flashback ya guys
Liona memanggil Ila dan Ryan yang sedang duduk bersama dengan orang tua mereka.
"Misi om, tante, bisa ngomong bentar ya sama Ila sama Ryan juga." minta Liona sopan.
"Oh iya nak Lili silahkan." saut bunda dari Ryan.
"Iya nak boleh kok." saut bunda dari Ila.
"Makasih tante. Ayo kesitu bentar, ada yang mau gua omongin sama kalian." ajak Li lalu berjalan ke arah sudut ruangan dan mereka berdua segera berdiri lalu mengikuti Li.
"Ada apaan sih Lili?" tanya Ryan.
"Kita dapat job dari Risti nih. Tentang detail dari tugas kita akan gua kasih tau di jalan aja deh ya. Buruan ikut gua untuk ngawasin target." jawab Li sambil menarik tangan dua orang temannya yang masih bingung itu.
"Gaje deh lu Li. Bentar gua ijin pamit dulu ma bokap nyokap gua." ucap Ryan yang segera pamit pada orang tuanya.
"Gua juga pamit dulu." ucap Ila lalu pamit juga pada orang tuanya.
"Buruan sebelum target kita keburu hilang." ajak Li yang semakin tidak sabaran.
"Sabar napa Li. Lu makin gaje ih. Target, job, ngawasin apaan coba? Makin gak jelas aja lu Li." gerutu Ila tapi masih tetap mengikuti langkah Li.
"Nanti juga lu berdua bakal tau dan gua pastiin lu berdua bakal semangat kayak gua." ucap Li yang semakin semangat.
"Ini mobil siapa Li?" tanya Ryan yang heran karena Li menyeret dirinya hingga di depan pintu bagian setir mobil dan membukakan pintu itu untuknya.
"Punya bundanya Rangga dipinjemin sama Risti." jawab Li.
"Buruan masuk gih. Di dalam nanti gua jelasin tugas kita bertiga apaan." ucap Li dan Ryan segera masuk ke dalam mobil. Li segera menutup pintu mobil dan segera berlari memutari mobil menuju pintu sebelah kemudi.
"Lu nunggu apa lagi Ila? Nunggu gua bukain lu pintu mobil juga hm?" tanya Li dan Ila hanya meringis lalu membuka pintu mobil bagian belakang lalu segera masuk.
"Sekarang jelasin maksud lu nyeret kita ke mobil ini untuk apa?" tanya Ila.
__ADS_1
"Ya untuk berangkat naik mobil masa naik mobil kita berangkat jalan Kaki sih." jawab Li membuat Ila dan Ryan menatap tajam ke arahnya.
"He he he. Iya, iya, iya gua jelasin." ucap Li sambil menyatukan telapak tangannya di depan dadanya.
"Lu berdua liat deh tuh cewek yang lagi celingak celinguk kayak maling jemuran di depan sana." ucap Li dan dua orang itu segera menoleh ke arah yang dimaksud oleh Li.
"Ngapain tuh cewek ngintip di luar?" tanya Ila.
"Emang lu pernah liat maling jemuran Li?" tanya Ryan.
"Gak pernah." jawab Li.
"Lu pernah maling jemuran dong." ucap Ryan.
"Lu kira gua kekurangan pakean sampe harus nyolong jemuran apa?" tanya Li dengan ketus sambil mendengus kesal.
"Slow sayangku. Gua cuma nanya aja kok. Lagian lu kok bisa tau klo maling jemuran itu suka celingak celinguk kayak gitu? Lu bilang gak pernah liat maling jemuran beraksi, berarti lu pernah maling jemuran dong." ucap Ryan menjelaskan maksudnya.
"Ye... Lu dasar oge. Gua cuma jadiin perumpamaan doang itu. Mana tau gua kalau maling jemuran beneran kayak gitu gayanya kalau beraksi." ucap Li.
"Stop bahas kerjaan sampingan kalian berdua. Langsung ke intinya aja sih Li biar jelas tujuan kita apa di sini." ucap Ila membuat Li ingin protes tapi dia urungkan karena melihat Willy yang hendak pergi dari tempat dia mengintip rumah Rangga.
"Iya iya sabar Loina sayang. Jangan keras juga lu nepuk lengan gua. Sakit tau tepukan lu ini." ucap Ryan kesal namun menuruti juga ucapan Li.
"Jelasin sekarang Li. Tujuan kita ngekorin tuh cewek sebenarnya apa?" tanya Ila.
"Sebenarnya, Risti curiga kalau kejadian di gunung kunti yang menimpa kita semua itu ada hubungannya sama tuh cewek." jawab Li.
"Kenapa bisa berhubungan sama dia?" tanya Ila.
"Kita awasi aja tuh cewek dulu. Kalau tugas kita udah beres, kita bisa nemuin fakta soal almarhum Rangga juga tentang bagaimana kita bisa tersesat di dalam gunung kunti dan ketemu sambil jumpa kangen sama tante kunti." jawab Li.
"Najis gua jumpa kangen sama tante kunti. Lu aja tuh yang ngedate sama tante kunti." protes Ila.
"Eh, Ryan stop di sini." ucap Li dan Ryan segera menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Kita turun yuk ikuti tuh cewek gesrek." ajak Li yang melihat mobil Willy memasuki pagar sebuah bangunan yang terlihat tidak terawat.
"Ngapain tuh cewek masuk ke dalam bangunan usang kayak gitu?" tanya Ila.
"Mana gua tau. Tanyain gih sono!" jawab Li.
"Liona sayangnya aku yang cetar membahana kalau Ila nanya sama dia, kita bisa ketahuan kalau sedang ngekorin dia." tegur Ryan dengan gemas sambil nyentil kening Li.
"Aduh... He he he iya juga ya. Tapi sakit tau disentil kening gua." keluh Li.
"Gak usah lebay deh lu berdua. Kita turun liat tuh cewek lagi ngapain di dalam sana." tegur Ila sambil mengajak mereka segera mengikuti Willy.
"Guk... guk... guk grrrrrrr grrrrr grrrr." suara gonggongan anjing terdengar saat ada beberapa anak kecil lewat.
"Astaga gengs ada guguknya di dalam sono." ucap Li ketakutan.
"Ayo turun dulu! Soal uncle Spike biar gua tanganin." ajak Ryan dengan sombongnya.
"Paman lu mana yang mau lu tanganin? Kita bahas si guguk di dalam sana ayam." protes Li kesal.
"Gak bahagia di masa kecil nih orang. Spike aja gak kenal lu." ucap Ryan.
"Gua juga gak kenal sama pamannya lu yang namanya Spike. Apa hubungannya coba sama masa kecil bahagia?" tanya Ila yang tidak paham maksud ucapan Ryan.
"Hadeh kalian ini ya. Lu tau Tom dan Jerry gak sih?" tanya Ryan dan mereka berdua mengangguk.
"An*ing yang biasa nyiksa Tom ingat dong?" tanya Ryan lagi.
"Eh kalau kita tebak-tebakan terus gimana mau mata-matain tuh cewek?" protes Li.
"Ya udah ayo. Spike nama tuh an*ing lu berdua paham sekarang?" ajak Ryan sambil menjawab pertanyaan dua temannya yang hanya mengangguk paham.
Sampai di depan pagar, Ryan melemparkan beberapa potong sosis daging pada an*ing di dalam membuat an*ing yang hendak menggonggong tidak jadi menggonggong karena tertarik dengan sosis dan segera melahap sosis tersebut.
"Wah jenius emang lu." puji Liona.
__ADS_1
"Ayo buruan kita masuk ke dalam sebelum itu cewek selesai dengan apa yang dia lakukan di dalam sana." Ajak Ryan sambil melangkah pelan ke dalam bangunan.
Li dan Ila ikut berjalan pelan di belakang Ryan. Mereka perlahan masuk ke dalam bangunan yang ternyata tidak tertutup rapat sehingga memudahkan mereka masuk tanpa menimbulkan suara.