
lla hanya mampu menunjuk apa yang sekarang sedang dia lihat dengan tangan gemetaran dan mata yang sudah berair.
Rangga dan Liona menoleh kebelakang karena arah yang ditunjuk lla adalah di belakang mereka.
"Aaaaaaa" Rangga dan Liona kompak berteriak dan kini lla juga ikut berteriak histeris karena ternyata sosok menyeramkan tadi sudah berada di tengah antara Liona dan Rangga.
"Astaga tante kunti kenapa masih nemenin kita sih? Kita udah gede tante gak perlu ditemenin pulang gih sana. Plissss tante kunti." cerocos Liona tanpa sadar mendorong sosok itu.
"Lu kok malah ngomel sih Li?" protes Rangga.
"Terus gua harus ngapain?" tanya Liona.
"Kaburlah." jawab Rangga ngegas.
"Lah lu juga gak kabur." protes Liona.
"Iya yah." jawab Rangga.
"Kuy kabur kita! Tante kunti jangan ngejar kita yah? Kita anak baik kok." ucap Liona dan ternyata Rangga dan lla sudah lari terbirit-birit meninggalkan Liona sendiri.
Author "Sori Li salah bukan sendiri tapi berdua sama tante kunti"
Liona "Kak Fi jahat 😢"
Author "Salah sendiri ketemu kunti malah lu ajakin ngobrol. Kabur kek."
Liona "Lah yang buat ceritakan situ."
Author "Iya juga sih. Ya udah kabur gih sana nanti lu tamat lagi."
Lupakan perdebatan unfaedah dari Author dan Liona kita kembali pada cerita kita.
"Ga.... lla..... Tunggu woi." Liona lantas lari kencang mengejar Rangga dan Ila yang sudah jauh meninggalkan dia.
"Ga..!" panggil Ila ngosngosan.
"Ya La?" tanya Rangga yang juga tidak kalah ngosngosan.
"Istirahat bentar ya? Gua udah gak sanggup lari lagi." pinta Ila.
"Iya gua juga udah gak kuat lari La." saut Rangga lalu mereka berdua terduduk di tanah.
"Ga, Liona di mana ya?" tanya Ila.
"Astaga La! Liona ketinggalan bareng tante kunti tadi." seru Rangga.
"Ya Allah lindungi teman kami Liona dan kalau dia sudah ditangkep tante kunti terima dia di sisi Mu ya Allah." do'a lla.
"Aduh...!" lu kok noyor gua sih.
"Lu itu ya bukannya do'a biar Li diselamatin dari tante kunti malah lu do'aaaaaaaaaaaa" Rangga teriak histeris melihat sosok lain menyerupai tante kunti yang dia lihat tadi.
__ADS_1
Sosok itu sedang duduk di atas pohon sambil menatap tajam ke arahnya.
"Hi hi hi hi hi hi" tiba-tiba sosok berambut panjang dengan wajah yang membusuk dan penuh nanah dengan mata yang bercahaya serta pakaiannya penuh dengan darah, terbang ke arah mereka sambil tertawa mengerikan.
"Aaaaaaa" Rangga dan lla teriak ketakutan lalu kembali berlari.
Sosok itu kemudian menyambar tubuh mereka hingga tubuh mereka berdua terlempar dan menghantam batang pohon.
"Uhuk uhuk uhuk." Rangga terbatuk dan melihat ke arah tubuh lla yang juga menubruk pohon tadi.
"La uhuk La bangun uhuk." Rangga berusaha meraih tubuh lla dengan susah payah.
Sosok itu kembali terbang ke arah Rangga dengan tawa mengerikannya.
"Hi hi hi hi hi"
"La bangun La! Dia kembali La bangun." teriak Rangga berusaha membangunkan lla.
Rangga berusaha berdiri dan mulai berlari menghindari sosok menyeramkan itu. Tapi, sosok itu berhasil meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke atas pohon.
Rangga berusaha melepaskan diri dengan memukul sosok yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Lepasin gua...! Tolong.....!" teriak Rangga namun tidak ada yang mendengarnya.
Tiba-tiba suara Rangga tercekat dengan mata membulat dan darah sudah keluar dari mulutnya. Ternyata sosok itu telah menusukkan tangannya ke arah dada kiri Rangga dan mencabut jantungnya keluar.
Sosok itu menyeringai dan memakan jantung Rangga yang kini berada di tangannya. Tubuh Rangga kini diambil alih oleh sosok lainnya dan mulai menggerogoti isi perut Rangga.
Sedangkan di bagian lain tempat itu Vina dan Rio tengah kebingungan.
"Hah Ri capek gua jalan dari tadi gak nemu apa-apa. Malah gua ngerasa kalau kita udah jalan di tempat aja dari tadi." keluh Vina sambil bersandar pada pohon besar.
"Iya Vin gua juga ngerasa kalo kita udah muter-muter di tempat yang sama dari tadi." saut Rio.
"Huuuu huuuuu hiks hiks." tiba-tiba mereka mendengar suara anak kecil sedang menangis.
"Ri lu denger gak?" tanya Vina sambil mencoba mencari tau arah suara dengan mengedarkan pandangannya.
"Iya Vin gua denger kayak ada anak kecil lagi nangis gitu." jawab Rio.
"Cari yuk." ajak Vina karena penasaran.
"Cari?" tanya Rio kaget.
"Iya cari ayo." ajak Vina lagi.
"Vina sayang yang paling cantik ,baik hati dan paling pinter, lu mikir dikit deh. Ini hutan udah malem terus ada suara anak kecil lagi nangis lu gak heran apa?" tanya Rio curiga.
"Iya juga sih. Tapi, sapa tau aja anak orang nyasar kan kasian. Ayo cari dulu." Vina tetap bersikeras ingin mencari sumber suara tangis itu.
"Ya udah ayo. Tapi ingat hati-hati." pasrah Rio.
__ADS_1
Mereka berjalan mengikuti arah suara tangisan anak kecil itu. Tidak berapa lama mereka dapat melihat seorang anak sedang berjongkok membelakangi mereka.
"Hu huuuu huuu hiks hiks."
"Adek?" panggil Vina dan anak itu tidak menoleh sedikitpun.
"Adek kenapa menangis di sini?" tanya Vina masih belum ada respon.
Vina hendak memegang pundak anak kecil tadi namun dicegah oleh Rio.
"Apa sih Yo?" protes Vina.
"Panggil aja gak usah di pegang." saut Rio.
"Adek cantik kenapa menangis sayang?" tanya Vina dan anak itu tiba-tiba menghentikan tangisnya.
Anak itu berbalik menghadap mereka lalu tertawa kencang. Vina dan juga Rio terjatuh kebelakang sangking kagetnya.
Ternyata anak itu bukanlah anak manusia. Dia memilki penampilan menyeramkan dengan kepala berlubang dan darah mengalir di wajah yang kulitnya telah mengelupas.
"Ha ha ha ha ha" suara tawa anak itu kian membuat Rio semakin ketakutan.
"Vin se setan." ucap Rio.
"Maksud lu gw setan gitu?" tanya Vina kesal.
"Bukan lu ****. Dia tuh setannya." jawab Rio.
"Vin kabur Vin ayo." ajak Rio sambil menarik tangan Vina.
"Hi hi hi hi" Vina mendengar suara tawa mengerikan lalu melihat ke arah suara.
Dari jauh Vina melihat tubuh Rangga yang sedang dikoyak habis oleh beberapa sosok menyeramkan.
"Ri itu Rangga." ucap Vina sambil berlinang air mata.
Vina melihat Ila yang sedang berusaha untuk menggerakkan tubuhnya menjauh dari tempat mahluk itu menyantap tubuh Rangga.
Vina segera menghampiri perlahan dan memeluk tubuh Ila sambil membekap mulutnya agar tidak berteriak.
"Hmmm hmmm hmmm" lla berusaha melepaskan diri.
"Ssttt tenang La. Ini gua Vina." ucap Vina membuat lla berhenti memberontak.
"Ayo gua bantu lu pergi dari sini." ucap Vina dengan air mata mengalir deras di pipinya melihat tubuh sahabatnya yang masih di kerumuni mahluk menyeramkan itu.
Rio hanya diam terpaku dengan tangan yang menutup erat mulut dan hidungnya agar tidak mengeluarkan suara.
Vina memapah Ila ke arah Rio dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian mahluk-mahluk menyeramkan itu.
"Aaaaaaa tolooooooong" suara teriakan Liona dari arah lain membuat mahluk mengerikan itu kini menyadari keberadaan mereka.
__ADS_1
"Bruk aduh" Liona menubruk tubuh Rio.