
Pagi sekali sehabis pulang dari pernikahan sang kakak ipar, Hendra sibuk menyiapkan masakan untuk sarapan ia dan istrinya karena inilah yang kali pertama dia memasak untuk sang istri, begitu senangnya bahkan saat memasak hendra terus tersenyum, dan jadilah 2 porsi nasi goreng sederhana dengan telor mata sapi diatasnya.
"Gista pasti suka,aku kan buatnya dengan cinta hee"
"ceklek" pintu kamar Gista terbuka disana sudah nampak Gista membawa handuk yang pasti ia bakalan mandi.
"bak udah diisi air belom ? "tanyanya pada Hendra yang sedang menata sarapanya
''udah ko neng, aa udah isi tadi pagi"
"lo bisa ga si gausah panggil gue kaya gitu, gue gak suka, gie benci sama lo"
"deg" hati Hendra serasa disayat mendengar penuturan dari mulut Gista rasanya ia sangat gagal menjadi suami yang Gista inginkan.ya walaupun ia tau Gista belum menerimanya,tetapi perkataan Gista tadi sangat tidak sopan bukan kepada suaminya, setidaknya dia harus menghormati.
Hendra hanya mengusap dadanya agar sabar, ia tidak berkecil hati, ia yakin suatu saat nanti Gista pasti mau menerimanya.
Gista sudah bersiap dengan stylenya memakai kemeja putih dan rok hitam sepaha itu memang pakalan kantornya saat di Jakarta, ia hanya punya pakaian seperti itu. Saat Gista keluar kamar, Hendra melongo memandangi Gista dari atas sampai bawah dan sebaliknya,
" Gis kenapa kamu pake baju kaya gini sekarang, ini juga rok kecil banget kaya punya anak SD" ucap Hendra tiba- tiba ya ia tidak rela jika nanti tubuh Gista dilihat orang lain.
"ini namanya style kantor, lo aja yang katro dasar kampungan, gak usah urusin hidup gue deh,mending lo urusin aja tuh sapi dipeternakan"
huh hendra harus sabar ia gak mau kalau nanti ribut sama Gista
"oke tapi sekarang ayo kita sarapan ya, aa udah masakin terus abis itu kita berangkat bareng" jawab Hendra sangat lembuuut.
"gue gak laper, lagian siapa juga yang mau bareng sama lo"
"GISTA, kalau kamu gak suka saya seengaknya kamu hargai peran saya sebagai suami, saya mencoba bersikap baik sama kamu! "emosi Hendra sudah memuncak ia tidak bisa sabar lagi perkataan Gista sangat menyayat hatinya,
__ADS_1
"Ko lo bentak gue lagian gue gak minta buat lo baik sama gue" balas Gista tak kalah emosi, segera Gista berangkat keluar rumah meninggalkan Hendra yang terduduk memandangi nasi goreng dengan ceplok telor berbentuk love. Hendra kira pagi ini ia akan sarapan bersama istrinya, dan mendapat pujian atas masakannya ternyata ekspektasi Hendra terlalu tinggi, ia bahkan sekarang bertengkar dengan Gista, ya Tuhan ia sangat menyesal telah membentak Gista tadi seharusnya ia masih bisa bersabar dengan sikap Gista.
diperternakan Gista sudah duduk diruanganya la melihat ada data pemesanan yang belum diurus segera la lihat dan kerjakan, sebetulnya Gista masih memikirkan pertengkarannya tadi pagi, ia bingung apakah ia terlalu kasar pada Hendra yang jelas sudah bersikap baik kepadanya, tapi rasa bencinya menutup itu semua, Gista fikir ini semua salah Hendra karena menyetujui perjodohan ini.
"krukuk krukuk" perut Gista berbunyi, ia lapar karna tadi pagi tidak sarapan, sekarang jam 11 belum waktunya istirahat tapi Gista sangat lapar jadi ia memutuskan pergi kekantin yang ada dibelakang.
dilain tempat Hendra sedang memandikan ternak karna cuacanya panas ia memilih membuka bajunya ya memang sudah biasa jika Hendra merasa gerah ia pasti membuka atasanya,
"wuuh mas Hendra hot bangeeet" ucap seorang pekerja perempuan yang lewat Hendra hanya tersenyum ramah membalasnya,
"wikwiw mas Hendraa cakep amat si kalau lagi keringetan gini" ucap pekerja perempuan lagi sambil mecolek dagu Hendra.
"ah mbak Sarah bisa aja" jawab Hendra ramah.
ternyata ada seseorang dibalik pohon memperhatikan Hendra dengan tatapan tak suka ya itu Gista, ia habis membeli roti hendak menuju ruanganya namun tidak sengaja melewati area ternak sapi.
Gista pergi keruanganya dengan tatapan kesal.
jam menunjukan pukul 16.00 waktunya Gisya pulang baru la keluar gerbang, Hendra memakai motor antiknya menghampiri Gista.
"neng ayo pulang bareng" ucap Hendra tersenyum,
"hah gue gak mungkin naik motor butut itu males banget! tapi kaki gue pegel banget pinggang juga, mana jalan pulang lumayan lagi,oke kali ini terima aja Gis" ucap Gista dalam hatinya.
"oke gue mau pulang bareng lo, anggap aja ini permintaan maaf lo karna udah bentak gue tadi pagi" Gista sejujurnya gengsi ikut tumpangan Hendra karna jelas mereka belum baikan, tapi yaudah lah toh Gista cape kalau harus jalan kaki.
sesampainya dirumah Gista langsung masuk, Hendra mengejar Gista dan menarik tanganya
" Gis tunggu,aa minta maaf karna bentak kamu tadi pagi" pandangan mereka bertemu, entah mengapa Gista rasanya ingin menangis, dan yahh air matanya mulai turun, Hendra panik melihatnya
__ADS_1
"Gis kamu kenapa kok nangis, ada yang sakit oh iya maaf kamu gak suka aku bilang aa ya,?" Gista menggeleng.
"terus kenapa dong.aku ada salah apa gimana si" Hendra frustasi.
"huuaaa" Gista menangis kencang dan memeluk Hendra, Hendra tertegun ia masih belum sadar,tapi secepatnya ia membalas pelukan Gista.
"kamu jaahh hiks hatt orang tuaku belum pernah bentak aku kaya tadi hiks" ia tak tau alasan ia menangis kencang seperti ini,tapi rasanya nyaman dipelukan Hendra.
" oh maaf ya Gis,aku gabisa kontrol emosiku, aku janji deh tar gak kaya gitu lagi jadi maafin aku ya" ucap Hendra lembut sambil mengelus rambut Gista. Gista sadar segera ia mendorong Hendra.
"lo nyari kesempatan mulu ya, kalau minta maaf ya minta maaf jangan pegang gue"
"loh Gis tadi kamu loh yang peluk aku duluan"
"gak mungkin, udah lah nyebelin lo" Gista malu segera ia masuk kamar.
"tapi kita udah baikan kan ? " Hendra berterika diluar kamar.
"Berisik lo pergi sana" teriak Gista tak kalah berisik didalam kamar.
oh No apa sebenarnya yang terjadi pada Gista kenapa ia tiba menangis kencang dan memeluk Hendra.
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
__ADS_1
Terima kasih🙏🙏
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih