
Ibram yang masih sibuk di ruangannya pun membalas, mengizinkan Lessa pulang terlebih dahulu.
Tapi tanpa di duga Lessa masuk sambil membawa sebuah tremos kecil berisikan kopi.
"Assalamualaikum... maaf pak kepala sekolah saya menganggu," izinnya.
"Masuk Bu, ada apa ini?" tanya ibram yang langsung bangkit dari kursinya.
"Ini ada kopi dan camilan, tapi tadi beli di kantin, tremos ini nanti bawa pulang ya, dan mas nanti minta di buatkan apa?" tanya Lessa dengan lembut.
"Apapun yang kamu buatkan untuk ku, insyaallah aku makan, asal bukan pasir dan batu," kata Ibram tersenyum.
"Baiklah mas, kalau begitu aku pamit pulang, mas jangan terlalu fokus, atau lebih baik bawa pulang saja," kata Lessa yang mencium tangan suaminya.
"Hati-hati di jalan ya," kata Ibram yang tak terduga memberikan ciuman di kening istrinya.
Lessa pun langsung bergegas pulang karena dia malu mendapatkan hadiah seperti itu.
Ibram kembali sibuk dengan dokumen miliknya, sedang Lessa menuju ke rumah orang tuanya untuk mengambil apa yang di butuhkan.
Sesampainya mobil itu di depan rumah, Javis adalah orang pertama yang lari dan langsung memeluk putrinya itu.
"Kamu kenapa, apa Ibram menyakitimu?" tanya Javis dengan begitu khawatir.
"Tidak ayah, Ya Allah... mas Ibram sangat baik, bahkan sekarang kami mengajar di sekolah yang sama, aku kesini mau mengambil beberapa perlengkapan hidroponik, karena dua adikku itu di telpon sangat sibuk sekali," kata Lessa
"Benarkah, baiklah nanti biar ayah yang antar ke rumah kalian, sekarang ayo masuk dan makan dulu," ajak Javis yang begitu bahagia melihat putrinya.
"Tidak usah ayah, aku tak enak mau makan enak sendiri, tapi suamiku belum makan," kata Lessa.
Javis yang mendengar itu mengecup kening putrinya, "kalau begitu bawa pulang, ayo masuk dulu,"
Ternyata Mei sudah masak beberapa masakan yang rencananya akan di kirim ke rumah Lessa.
Dan sudah jelas, Jerry dan Jefry mendapatkan jeweran maut karena tak menjawab telpon dari kakak mereka.
"Lain kali jangan di ulangi," omel Javis berakhir.
"Iya ayah iya..." jawab keduanya.
__ADS_1
Lessa hanya bisa tertawa saja melihatnya, karena dia juga tak bisa melakukan apapun.
Dia pun pamit pulang di ikuti mobil pickup yang di kendarai oleh Javis dan dua putranya.
Sesampainya di rumah ternyata Ibram belum pulang juga, akhirnya dia pun meminta ayah dan dua adiknya membangun rangakaian paralon itu di area belakang rumah.
Setelah selesai, mereka akan pulang saat mobil Ibram baru masuk ke dalam rumah, tapi pria itu nampak begitu lelah.
"Ayah Javis datang, maaf saya lembur tadi, jadi tak bisa menyambut kalian," kata Ibram menyalami mertuanya itu.
"Tak masalah le, tapi seharusnya kalian ini jangan terlalu banyak kerja, masih muda bulan madu dulu, toh kalian belum melakukannya," kata Javis.
"Tidak perlu ayah, mas Ibram sudah sangat sibuk, lagi pula kamu baru mulai mengajar tak enak mau cuti bersamaan," jawab Lessa yang bisa membaca keterkejutan suaminya.
"Baiklah, jika kalian sudah siap, kalian bilang mau kemana, biar ayah belikan tiket dan hotelnya," kata Javis.
"Siap ayah," jawab Ibram tersenyum.
Javis dan dua putranya pun pergi, Ibram pun melihat istrinya, "ada apa ayah mertua datang, apa kamu mengadukan diriku berbuat sesuatu yang salah," tanya Ibram.
"Tidak mas, ayah membantuku untuk membuat kebun sayur hidroponik, di belakang rumah, jadi akan lebih sehat saat kira menanam sendiri sayuran dan juga semua tumbuhan yang akan kita makan," kata Lessa.
"Ku kira, tolong buatkan suamimu ini makanan ya, aku sangat lapar, tapi aku mau mandi dulu," pamit Ibram.
"Iya mas," jawab Lessa.
Sedang di kamar mandi, Ibram berharap dia bisa melupakan pesan yang baru saja dia terima.
Pasalnya dalam pesan itu, dia mendapatkan sebuah foto dan beberapa video yang membuatnya marah.
Dan kepalanya saat ini rasanya ingin pecah, bagaimana bisa ada yang mengirimkan video dan foto men-ji-jik-kan seperti itu.
Lessa sudah menyiapkan makan siang, dia hanya sedang menunggu Ibram.
Karena terlalu lama, dia pun menghampiri suaminya itu di dalam kamar.
Terlihat Ibram sedang duduk sambil memegangi kepalanya dan memejamkan mata.
Lessa pun memijat kepala suaminya dengan lembut, "jika mas merasa sedih, atau ada beban berat, mas bisa membaginya dengan ku, bagaimana pun aku ini istrimu, jika tak bisa menganggap ku begitu, mas bisa menganggap diriku sahabat ku,boleh?" tanya Lessa yang berhasil membuat Ibram nampak lebih baik.
__ADS_1
"Terima kasih istriku," kata Ibram dengan senang hati.
"Baiklah sekarang makan dulu,nanti kita cerita-cerita ya," kata Lessa.
Tanpa di duga, Ibram bangkit dan langsung memeluk Lessa, dan dia pun langsung menangis di pelukan istrinya itu.
Dengan pelan, Lessa menepuk punggung suaminya, "tenang mas, sebenarnya ada apa? kenapa kamu sesedih ini?"
"Aku tak tau, dan maafkan aku ya dek jika selama ini aku melukai mu, bismillah jika aku akan mencintaimu dan memberikan gak mu sebagai istriku,begitupun dengan cintaku," kata Ibram.
"Iya mas," jawab Lessa.
Mereka berdua makan siang bersama, terlihat Ibram begitu lahap.
Dia tak mengira jika masakan istrinya begitu enak, dan setelah itu memilih bekerja bersama membahas kurikulum yang selanjutnya untuk kebaikan sekolah.
Ibram pun tak sadar jika istrinya itu sudah tidur karena kelelahan, melihat istrinya yang sudah terlelap.
Ibram bangkit dan mengendong istrinya itu ke kamar, dan menidurkan Lessa perlahan.
Terdengar suara deru mobil uang datang, dua pun segera keluar dan ternyata tamu yang datang membuatnya terkejut.
Itu adalah mama Dian dan juga ayah japar, "aduh kalian ini, baru menikah sudah tak datang ke rumah mama, sudah lupa hah," kata mama Dian yang memeluk putranya.
"Assalamualaikum ma..."
"Waalaikum salam, mana menantu mama, apa dia di dalam sedang sibuk ya?" tanya mama Dian.
"Lessa ketiduran karena lelah, karena kami tadi baru mulai mengajar di tempat yang sama," jawab Ibram.
"Itu bagus dong, sudahlah mama ingin menaruh semua stok makanan untuk kalian, agar istri mu tak repot, lagi pula kalian harus segera memberikan cucu pada mana," kata wanita itu ke dapur.
"Sudah iyakan saja, dari pada panjang nanti," kata ayah Japar menepuk bahu putranya.
Mama Dian kaget melihat kulkas rumah sudah penuh dengan semua ikan dan ayam serta daging yang di marinasi.
Dan mama Dian tak mengira jika menantunya itu memilih menanam sayur sendiri.
Tiba-tiba dari belakang Ibram langsung memeluk tubuh mamanya.
__ADS_1
"Terima kasih mama, sudah memilihkan wanita yang baik untuk menjadi istriku ..." bisik Ibram yang terdengar Melo
"Tentu sayang, mama akan memilihkan semua yang terbaik untuk anak-anak mama.."