Kesabaran Hati

Kesabaran Hati
tujuh bulanan 2


__ADS_3

pukul lima pagi, bunda Mei datang di antar oleh ayah Javis untuk sampai di rumah menantu dan putri mereka yang ternyata sudah sangat ramai.


"assalamualaikum... le, kok sendirian?" tanya bunda Mei.


"waalaikum salam bunda, iya istriku ada di dalam dan dari semalem nangis ingin ketemu bunda dan ayah," kata Ibram yang merasa sedikit malu.


"aduh gadis ini ternyata tak berubah sedikit pun," gumam bunda Mei.


dia pun langsung masuk untuk menemui putrinya itu, sedang ayah Javis di luar untuk membantu persiapan.


karena siang nanti ada pengajian ibu-ibu dan anak yatim, dan malam hari ada acara adat yang akan di laksanakan.


Lessa sedang membantu mengemas kue untuk jadi hadiah para tamu.


hingga dia tak sadar jika ada Ninda Mei yang datang, dan langsung memeluk putrinya itu.


"maaf ya nduk,bunda kemarin pulangnya kemalaman," kata bunda Mei.


"bunda, ku kira bunda dan ayah tak akan datang," kata Lessa yang langsung menangis di pelukan ibunya itu


"ya tidak mungkin lah sayang, masak acara cucunya sendiri gak datang, ini bunda bawakan hadiah semoga bisa bermanfaat, biar bunda bantu yang lain ya," kata bunda Mei.


"iya bunda," jawab Lessa yang tersenyum senang.


raut wajahnya benar-benar sangat ceria, dan kini mereka pun sudah menyelesaikan semua yang akan di gunakan untuk acara siang hari.


pukul dua siang para ibu-ibu sudah berdatangan dan mulai pengajuan, setelah selesai ada santunan anak yatim.

__ADS_1


malam hari di adakan kirim doa dan acara adat, dan malam ini Ibram dan Lessa jualan cendol.


dan para tamu yang datang semuanya adalah keluarga dekat, dan beberapa guru yang mengajar di sekolah.


akhirnya acara selesai pukul sepuluh malam, dan tak lupa mereka juga melakukan foto kehamilan tadi.


Lessa sedang di temani bunda Mei, entahlah dia sedang merindukan ibunya sepertinya.


"ayah apa istriku kalau di rumah terus seperti ini?" tanya ibram heran.


"dia akan sangat manja saat merasa dirinya sedih atau ada yang membuatnya khawatir, apa kamu tau sesuatu?" tanya ayah Javis di depan kedua besannya.


Ibram pun tak tau harus menjawab atau bagaimana, pasalnya mertuanya ini belum tau kisah mereka.


"sejujurnya ayah, kemarin saat di sekolah, kami di datangi oleh Tante Hujan yang meminta tolong padaku untuk membawa putrinya pulang, tapi aku tau benar jika aku mengiyakan permintaan itu, aku akan menyakiti hati istriku, meski dia sudah memohon aku sebisa mungkin menolaknya, tapi Tante hujan malah menyerang Lessa dengan ucapannya," kata Ibram sedih


"apa... ya Tuhan, mulut wanita ini benar-benar tak bisa berubah ternyata," gumam mama Dian.


"sejujurnya, kami terlambat pulang karena menolong Shakira, dan sekarang gadis itu sudah bersama keluarganya, dan kemungkinan dia akan di bawa pulang, dan tugas mu mungkin akan sangat berat, karena mungkin dia datang untuk merebut mu, terlebih Shakira masih belum merelakan kamundan Lessa menikah," kata ayah Javis jujur


"jika itu terjadi, aku akan membakar diriku di depan ku Ibram, karena bagi mama hanya Lessa yang menjadi menantu bunda, dan kamu harus ingat itu," kata mama Dian.


"tenang mas, aku akan mengingat apa pesan mama, aku juga tak mau membuat istriku menangis terlebih sekarang dia berjuang untuk memastikan buah cinta kami sehat hingga lahir nantinya," kata Ibram.


ayah Javis pun sudah siap untuk membunuh menantunya itu jika Ibram berani menduakan putrinya.


seperti janji yang di berikan saat pernikahan, jadi itu akan sangat di pegang.

__ADS_1


semua orang sudah pulang, Ibram merasa jika pengamanan harus di tingkatkan, dan yang terpenting adalah dia tak boleh membuat istrinya itu curiga.


jadi Ibram harus memastikan jika dia selalu memberikan kabar di mana pun dirinya berada pada istrinya.


karena sebentar lagi Lessa harus cuti melahirkan dan kemungkinan mereka akan pindah ke rumah mertua karena ibram yang memiliki kesibukan segudang.


semua sudah selesai, lessa juga sudah tidur setelah menangis di pelukan bunda Mei.


dan malam ini semua orang tua di minta untuk menginap di rumah Ibram dan Lessa.


sedang di rumah sakit, Shakira terus duduk termenung, dia pun merasa tak berguna sekarang.


tubuhnya sudah rusak karena hamil dan tak mungkin Ibram mau kembali padanya.


jadi sekarang di pikirannya hanya ada cara untuk menyelesaikan semua ini dengan mengakhirinya dengan bunuh diri.


terlebih dia sudah tak tahan lagi dengan semua yang terjadi padanya.


tapi saat akan melakukan aksinya, dia melihat dua orang tuanya sedang tidur dengan kondisi seadanya.


bahkan kakaknya Garra, sedang bekerja sambil menjaganya, "kamu mau apa Shakira, apa butuh sesuatu?" tanya pria itu.


"bantu aku ke kamar mandi kak,"


"tentu, tapi jangan melakukan hal aneh, karena di dunia ini pria bukan hanya ada Ibram, kakak bisa mencarikan mu banyak pria nanti," kata Garra.


"tapi kakak tau benar bagaimana aku mencintainya," jawab Shakira yang membuat Garra terdiam.

__ADS_1


pasalnya itu bukan cinta melainkan obsesi yang berlebihan untuk memiliki seseorang.


dan itu akan sangat menyulitkan orang lain, terlebih pria yang di sukai adiknya itu juga sudah memiliki keluarga yang bahagia.


__ADS_2