
Shakira pun marah besar,dia tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ibram.
"kalau begitu aku akan membunuh wanita itu dengan tangan ku sendiri," kata Shakira marah
ayah Malik menahan tangan putrinya itu, "hentikan kegilaan mu itu, atau ayah akan membuat mu tau apa yang bisa ayah lakukan," kata Malik yang mulai bertindak tegas
"tidak, memang apa yang ayah tau, aku mencintainya tapi dia di rebut oleh gadis Sialan itu,setelah itu bahkan aku sudah menjadi wanita seperti ini, apa yang ayah harapkan dariku," kata Shakira yang penuh emosi.
"itu semua salah ku sendiri!" bentak ayah Malik yang tak tahan lagi.
Shakira kaget mendengar bentakan dari ayahnya itu, bahkan hujan juga tak menyangka jika suaminya bisa berteriak seperti ini.
"mas tenangkan dirimu," mohon bunda Hujan.
"tenang kamu bilang, lihatlah apa yang kita ciptakan karena cara didik kita ini, dua Monster, Dewa yang tak bisa di atur, dan sikap posesif dan keras kepala Shakira entah dosa apa yang membuatku harus melihat kehancuran ku seperti ini!" teriak ayah Malik.
"mas!! tenanglah tekanan darah mu bisa naik mendadak," kata bunda Hujan.
__ADS_1
"aku tak peduli, lebih baik aku mati dari pada aku melihat tingkah keduanya, kenapa kamu tidak bisa melihat, dia itu mencinta istrinya, siapa yang ingin kamu bohongi, cukup Shakira, cukup tinggal di kenangan lamamu!!" kata ayah Malik yang mulai terpuruk.
"Garra, antar adik mu Shakira ke tempat psikolog teman bunda, biarkan dia tinggal di sana sampai kondisinya stabil," perintah bunda Hujan.
sedang di rumah sakit, semua orang bersama dengan ayah japar yang sudah sadar dari serangan jantung tadi.
pria itu juga sudah bisa tersenyum dan menjawab saat di ajak bicara, sedang Ibram hanya terus berdiri di depan ruang bayi melihat anaknya.
dia sendiri bingung, pasalnya sekarang dia dan bayi mu Gil yang baru lahir itu.
"sayang, tolong bantu doa ayah ya, semoga bunda lekas bisa sadar, agar bisa berkumpul lagi dengan kita," kata Ibram yang sangat sedih
hari berganti hari, ayah Japar sudah di izinkan pulang, begitupun dengan bayi yang masih belum di beri nama itu.
seperti hari ini,semua orang sibuk menyiapkan acara delapan bayi laki-laki itu, dan Ibram di tanya sebuah nama.
"nak,siapa nama baju mu,jika kamu terus seperti ini mama yakin jika Lessa juga akan sedih," kata mama Dian.
__ADS_1
"sebentar ma, aku ingin mencari di buku harian milik Lessa, biasanya dia meninggalkan catatan apapun di sana," kata Ibram yang membuka laci kamar.
sebuah buku dari bertuliskan nama istrinya memang ada di sana, tanpa curiga Ibram langsung membuka buku catatan itu.
sebuah kertas jatuh, dia pun mengambilnya, dan di sana ada tulisan yang terdapat darah juga.
"aku baru selesai menonton film dengan suamiku, dia bilang ingin putra kami menjadi anak yang kuat, itulah kenapa mungkin aku akan mengambil nama dari tokoh utama film itu, nama yang ku pilih Mahendra Hamzah al-Fatih," baca Ibram.
dia pun melihat ada tulisan lain, karena penasaran dia membuka buku harian itu, "aku menyembunyikan semuanya, aku memiliki komplikasi dengan beberapa organ, semoga aku dapat melahirkan Hamzah dengan selamat," kata Ibram gemetar.
mendengar ucapan putranya,mama dia merebut buku harian milik menantunya.
dia pun jatuh lemas dan menangis, bagaimana bisa Lessa menyembunyikan kebenaran sebesar ini dari keluarganya.
"kenapa kamu merahasiakan ini nak, kenapa kamu tersiksa sendirian," tangis mama Dian.
"aku suami yang buruk,kenapa aku tak peka dengan apa yang di alami istriku..." tangis Ibram yang juga kaget.
__ADS_1