
Pertengkaran
Huah...dengan sangt malas kubuka mataku .tapi suara ribut di bawah membuatku tak bisa
memejamkan mata lagi meskipun sejenak. Pelan kulirik jam yang tergantung
disudut kamar. Waktu baru menunjukkan setengah enam pagi. Namun keriburtan yang
terjadi sama sekali tidak menunjukkan pukul setengah enam pagi yang harusnya
tenang dan nyaman.
Dengan mudah aku bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dibawah. Papa dan Mama pasti
tengah bertengkar. Memang sudah menjadi rutinitas mereka yang tak pernah
ketinggalan, bertengkar. Kadang pagi, siang, bahkan malam. Begutu setiap hari,
sampai membuat kepalaku hampir pecah karena setiap hari terpaksa mendengar
mereka bertengkar seperti itu.
Aku tidak tahu masalah apa yang di ributkan oleh Papa dan Mama. Aku tidak berani bertanya
kepada mereka berdua. Mereka berdua tidak pernah menanyakan apa aku ada
masalah. Ini namanya komproni, kompromi yang tidak waras. Papa dan Mama tidak
memperdulikanku jadi untuk apa aku memperdulikan mereka. Toh, seandainya aku
bertanya pada mereka, mereka pasti tidak langsung memberitahu apa masalah
__ADS_1
mereka padaku. Padahal aku ingin ikut menyelesaikan masalah kedua orang tuaku.
Aku ingin Papa dan Mama hidup dalan kedamaian seperti dulu. Sayangnya hal itu
sangat sulit untuk diwujudkan selama mereka berdua masih saja kekeh pada ego
mereka tanpa memikirkan aku, anak mereka.
Buru-buru kurapihkan tempat tidurku,kemudian berlalu menuju kamar mandi. Di kamar mandi
kusandarkan tubuhku di dinding semen samberimenangis meratapi permasalahan
berat yang tenggah menghinggapi keluargaku.
“Ini bukann waktu yang tepat buat nangis Dea.”, kunasehati diriku sendiri. “Ini saatnya elo
jadi orang yang lebih dewasa. Elo gak boleh nangis, karena Tuhan pasti punya sesuatu
saat-saat seperti ini aku memang harus optimis dan tak boleh cengeng. Karena
aku gadis yang kuat.
Betapa kucelnya aku sekarang ini, tidak terurus. Setiap hari tidak ada yang menemaniku
selain mbok Jah, hari-hariku terasa sangat membosankan tanpa kasih sayang Papa
juga Mama. Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri termasuk
bertengkar. Kehangatan yang dulu selalu kurasakan bersama keluargaku sering
kusebut coklat. Coklat Papa, Mama, dan Dea. Tapi sekarang coklat itu hilang
__ADS_1
sejak hubungan Papa dan Mama renggang. Sebagai anak, akulah yang terkena
imbasnya.Kasih sayang Papa dan Mama untukku bahkan untuk diri mereka sendiri
seakan hilang. Tergantikan rasa benci dan egois yang menjadi-jadi. Papa, Mama,
kapan kalian kembali seperti dulu lagi. Aku sangat merindukan kalian yang dulu.
Yang selalu menjadi coklat untuk kalian sendiri juga untukku.
Tak terasa aku sudah selesai mandi, hawa dingin menusuk-nusuk tubuhku. Tak ingin berlama
lama di kamar mandi, aku segera keluar daritempatku merilekskan tubuh.
Kukenakan seragam kebesaanku, seragam SMA, taklupa juga dasi yang menunjukkan
bahwa aku anak kelas 11. Dasi yang memiliki 2 buah garis horizontalberwarna putih. Kurapikan pula
rambutku dan tak lupa bedak yang sengaja kupakai agar membuat diriku makin
menawan. Aku siap sekolah meski dengan hatiyang tak sepenuhnyasempurna seperti
penampilanku.
“Pa, Ma.”, panggilku. “Dea berangkat dulu. Jangan lupa bilang ke mbok Jah buat ngerapiin
itu.”, pesanku sambil menunjuk pecahan gelas di sebrang karpet. Melihat caraku
yang seperti ini seharusnya Papa dan Mama tahu apa yang sedang kurasakan. Bosan
melihat pertengkaran Papa dan Mama yang seakan tak ada ujungnya.
__ADS_1
Bersambung...