KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Pertengkaran


__ADS_3

Pertengkaran


Huah...dengan sangt malas kubuka mataku .tapi suara ribut di bawah membuatku tak bisa


memejamkan mata lagi meskipun sejenak. Pelan kulirik jam yang tergantung


disudut kamar. Waktu baru menunjukkan setengah enam pagi. Namun keriburtan yang


terjadi sama sekali tidak menunjukkan pukul setengah enam pagi yang harusnya


tenang dan nyaman.


Dengan mudah aku bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dibawah. Papa dan Mama pasti


tengah bertengkar. Memang sudah menjadi rutinitas mereka yang tak pernah


ketinggalan, bertengkar. Kadang pagi, siang, bahkan malam. Begutu setiap hari,


sampai membuat kepalaku hampir pecah karena setiap hari terpaksa mendengar


mereka bertengkar seperti itu.


Aku tidak tahu masalah apa yang di ributkan oleh Papa dan Mama. Aku tidak berani bertanya


kepada mereka berdua. Mereka berdua tidak pernah menanyakan apa aku ada


masalah. Ini namanya komproni, kompromi yang tidak waras. Papa dan Mama tidak


memperdulikanku jadi untuk apa aku memperdulikan mereka. Toh, seandainya aku


bertanya pada mereka, mereka pasti tidak langsung memberitahu apa masalah

__ADS_1


mereka padaku. Padahal aku ingin ikut menyelesaikan masalah kedua orang tuaku.


Aku ingin Papa dan Mama hidup dalan kedamaian seperti dulu. Sayangnya hal itu


sangat sulit untuk diwujudkan selama mereka berdua masih saja kekeh pada ego


mereka tanpa memikirkan aku, anak mereka.


Buru-buru kurapihkan tempat tidurku,kemudian berlalu menuju kamar mandi. Di kamar mandi


kusandarkan tubuhku di dinding semen samberimenangis meratapi permasalahan


berat yang tenggah menghinggapi keluargaku.


“Ini bukann waktu yang tepat buat nangis Dea.”, kunasehati diriku sendiri. “Ini saatnya elo


jadi orang yang lebih dewasa. Elo gak boleh nangis, karena Tuhan pasti punya sesuatu


saat-saat seperti ini aku memang harus optimis dan tak boleh cengeng. Karena


aku gadis yang kuat.


Betapa kucelnya aku sekarang ini, tidak terurus. Setiap hari tidak ada yang menemaniku


selain mbok Jah, hari-hariku terasa sangat membosankan tanpa kasih sayang Papa


juga Mama. Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri termasuk


bertengkar. Kehangatan yang dulu selalu kurasakan bersama keluargaku sering


kusebut coklat. Coklat Papa, Mama, dan Dea. Tapi sekarang coklat itu hilang

__ADS_1


sejak hubungan Papa dan Mama renggang. Sebagai anak, akulah yang terkena


imbasnya.Kasih sayang Papa dan Mama untukku bahkan untuk diri mereka sendiri


seakan hilang. Tergantikan rasa benci dan egois yang menjadi-jadi. Papa, Mama,


kapan kalian kembali seperti dulu lagi. Aku sangat merindukan kalian yang dulu.


Yang selalu menjadi coklat untuk kalian sendiri juga untukku.


Tak terasa aku sudah selesai mandi, hawa dingin menusuk-nusuk tubuhku. Tak ingin berlama


lama di kamar mandi, aku segera keluar daritempatku merilekskan tubuh.


Kukenakan seragam kebesaanku, seragam SMA, taklupa juga dasi yang menunjukkan


bahwa aku anak kelas 11. Dasi yang memiliki 2 buah  garis horizontalberwarna putih. Kurapikan pula


rambutku dan tak lupa bedak yang sengaja kupakai agar membuat diriku makin


menawan. Aku siap sekolah meski dengan hatiyang tak sepenuhnyasempurna seperti


penampilanku.


“Pa, Ma.”, panggilku. “Dea berangkat dulu. Jangan lupa bilang ke mbok Jah buat ngerapiin


itu.”, pesanku sambil menunjuk pecahan gelas di sebrang karpet. Melihat caraku


yang seperti ini seharusnya Papa dan Mama tahu apa yang sedang kurasakan. Bosan


melihat pertengkaran Papa dan Mama yang seakan tak ada ujungnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2