
Kakak Sepupu
Sore hari kulihat Eyang sibuk ditaman belakang. Ia duduk santai bersama seseoan yang tadi
menyerobot koperku. Pelan, aku mendekat ke taman belakang menyusul Eyang karena
ingin bergabung dalam perbincangan mereka yang hangat.
“ Eyang.”, sapaku pelan.
“ Sini Dea.”, Eyang yang mendengar sapaanku langsung mengajakku untuk bergabung
dengannya juga dengan laki-laki itu. “ Udah kenalan belum.”, tanya eyang dengan tangan yang menunjuk
laki-laki muda yang duduk disebelahnya.
“ Belum Eyang”, jawabku singkat. “ Emang dia siapa? “, bisikku.
“ Dia kakakmu.”, jelas Eyang.
“ Aku punya kakak Yang? “, tanyaku bingung sambil garuk-garuk kepala yang gatal karena
belum keramas.
“Kamu nanti juga akan tahu sendiri.” Jawab Eyang menggantung “ Riko, kamu hendle yag satu ini
ya.”, kata Eyang kemudian langsug meninggalkan pergi meninggalkan yang masih
bingun sendirian di taman belakang bersama orang tidak kukenal.
“ Hai Dea.”, ia mulai buka suara. “ Kenalin.”, katanya sambil mengulurkan tangannya
__ADS_1
kearahku. “ Aku Rama, kakak sepupu kamu kebetulan Ayahku itu sepupu Papa
kamu.”, lanjutnya memperenalkan diri.
“ Dea.”, sawabku ganti memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya. Sumpah aku masih
bingung. Sumpah aku masi bingung. Bisa-bisanya aku tidak tahu kalau aku ini
penya sepupu, dan mengapa Eyang tidak pernah memberi tahu aku, Mama, atau Papa
kalau ada saudara yang tinggal bersamanya. Mungkin Eyang tidak enak memberitahu
kami karena Eyang tahu mengenai permasalahan yang telah menerpa keluarga kami.
“ Jogja menarik nggak? “, tanyanya basa-basi.
“ Menarik kok Mas, aku yakin bakal betah disini.”, jawabku.
“ Mas yakin kalau soal itu. Btw, kamu nanti satu sekolah sama Mas.”, terlihat ia mencoba
“ Oh ya.”, kataku bersemangat.
“ Iya.”, balasnya tak kalah semangat.
Mas Rama sangatlah ramah padaku. Aku suka dengan keramahan yang diberikan itu apa lagi
dia bersedia bercerita banyak tentang sekolah baruku. That’s interesting topic.
“ Udah ngak sabar nunggu hari Senin Mas.”, kataku pada Mas Rama.
“ Pengen tahu sekolah baru itu seperti apa ya? Tapi kalau Cuma lewat mulut nggak seru ah,
__ADS_1
gimana kalau nanti malam kita ke sekolah kebetulan sekolah ada acara.”, kata
mas Rama.
“ Acara? Acara apa sih? “, tanyaku penasaran.
“ Udah sore Dea, mas mau mandi dulu.”, katanya dan langsung pergi meninggalkanku yang masih
duduk bingung di taman belakang.
Akhirnya Dea pergi meninggalkan taman belakang dan langsung menuju kamar untuk mengambil
baju ganti dia langsung bergegas ke kamar mandi karen merasa badannya yang lengket karena keringat. Sehabis mandi Dea merasa sudah segaran dan merebahkan badannya di tempat tidur yang dikaguminnya,
tanpa sadar akhirnya Dea terlelap dalam tidurnya.
Malam ini adalah malam pertamaku di Jogja dan cerobohnya aku, aku lupa tidak mengabari Mama
kalau aku sudah sampai Jogja dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Aku
merasa bersalah sekali pada Mama. Segera kuaktifkan hpkun, beberapa pesan
singkat langsung masuksaat hp berhasil kuaktifkan dan semua dari Mama. Kubaca
semua sms dari Mama dan segera membalasnya.
‘ Maaf Ma, Dea baru balas sms Mama, Dea senang tinggal disini dan kelihatannya Dea akan
betah. Dea akan sering-sering kasih kabar buat Mama. Dea sayang Mama. Jaga diri
Mama baik-baik dan satu lagi jangan sering bertengkar dengan Papa. Ok? Salam
__ADS_1
untuk Papa juga. Salam sayang, Dea Sindy.’
Bersambung...