KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Berangkat Sekolah


__ADS_3

Berangkat Sekolah


Cuaca hari ini sangat cerah, sama sekali tak ada noda dibalik awan yang pputih bersih.


Sayangnya kecerahan hari ini tak bisa mempengaruhi perasaan hatiku yang muram


ditambah kelabu.


Limabelas menit sudah aku berada di dalam taksi, dan aku sekarang aku sudah tepat berada


di depan pintu gerbang. Langkah yang gontai dan muka yang murung menemani


langkahku menuju kantin. Tepat sahabatku Vivi menunggu.


“Hi dea sini.” Seseorang meneriakiku yang ternyata adalah Vivi. Aku berjalan mendekati


tempat dimana Vivi menungguku. “ Elo kenapa?”, tanyanya saat aku tiba di


mejayang ia tempati.


“ Elo pasti juga tahu.”, Jawabku singkat.


“ Sorry.”, ucapnya. Hanya Vivi yang tahu apa yang sedang terjadi di keluargaku. Hanya dia


yang mengertiku tanpa menjerumuskanku, benar-benar sahabat yang sempurna.


“ Vi, kayaknya gw harus ngungsi dech.”, kataku tiba-tiba. Tak tahu mengapa kata itu


tiba-tiba muncul di dalam otakku dan aku langsung mengucapkan hal itu tanpa


pikir panjang.


“ Ngungsi? Emang banjir?”, tanya Vivi ddengan mimik menggoda sambil tersenyum geli menahan


tawa.


Kuteguk juice mangga favoritku yang sudah di pesan oleh Vivi terlebih dulu sebelum aku


datang. Aku sengaja tidak menghabiskan jus ini dalam sekali tegukan, aku masih

__ADS_1


menyisakan separuh gelas untuk menemani perbincanganku dengan Vivi yang masih


berlangsung.


“ Iya, ngungsi. Ngungsi ke Jogja. Di rumah Eyang, mungkin aja di sana gw bakal nemuin


coklat gw lagi.”, jelasku smbil cengar-cengir karena bingung dengan kata-kata


yang keluar dari mulutku sendiri.


“ So??”, mimik wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti orang yang baru melihat hantu tanpa


ekspresi. “ Elo bakal pindah sekolah juga gitu?” , lanjutannya lagi dengan


mimik wajah yang masih belum berubah. Sepertinya ia akan menahanku.


“ Maybe.”, jawabku singkat lalu meneguk juice mangga yang masih tersisa dalam gelas. “ Vi


itu, semua itu baru rencana nggak usah khawatir.”, lanjutku berusaha


menenangkannya.


nafas panjang.


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan barusan. Aku juga tidak bisa berkata apa-apa


sekarang. Bisa-bisanya aku mengeluarkan sebuah kalimat atau kata yang belum


mungkin terpikir dipikiranku sebelumnya. Dan yang lebih parah aku mengatakan


hal itu pada sahabatku yang tentu saja langsung membuatnya sedih karena ia


berpikiran akan kehilanganku.


Tak terasa hampir setengah jam kami berbincang di kantintiba saatnya masuk kekelas. Aku


yakin bel masuk akan berbunyi. Apalagi jam pertama nanti adalah Pak Sinom. Guru


mata pelajaran yang sangat kubenci.

__ADS_1


Dugaanku tidak meleset, bel masuk berbunyi tepat disaata aku dan Vivi meninggalkan


kantin dan berjalan menuju kelas. Di sepenjang jalan tidak ada sepatah katapun


yang keluar dari mulut Vivi padahal aku sudah berkali-kali mengajaknya ngobrol.


Tampaknya ia telah merenungi rencana konyolku tadi.


Sesampainya dikelas aku segera menempati bangku yang tersisa di pojok kelas. tak butuh


waktu lama Pak Sinom akhirnya muncul dengan tangan montoknya yang menenteng tas


besar. Isinya munkin kanvas, cat air,kuas,dan saudara-saudaranya yang lain.


Hehehehehehe....


“ Pagi anak-anak.”, sapa Pak Sinom.


“ Pagi pak.”, balas kami serentak


Pak Sinom adalah guru mata pelajaran melukis, seperti clue ku tadi. Pelajaran yang paling


kubenci, aku sama sekali tidak bisa melukis atau menggambar. Mengammbar model


bulat telurpun aku tidak bisa apa lagi harus menggambar orang seperti yang di


ajarkan oleh Pak Sinom. Aku benar-benar tak bisa melukis, otak dan tanganku tak


pernah bisa sinkron untuk urusan yang satu ini, sangat menyedihkan.


Syukurlah pelajaran Pak Sinom belalu cepat hari ini. Ia hanya menyuruh kami membaca dan


mengerjakan soal dari buku paket sedangkan dia sibuk dengan urusannya yang aku


tidak tahu apa itu. Dua jam pelajaran tanpa cat air, kanvas juga kuas sangat


menyenangkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2