
Berangkat Sekolah
Cuaca hari ini sangat cerah, sama sekali tak ada noda dibalik awan yang pputih bersih.
Sayangnya kecerahan hari ini tak bisa mempengaruhi perasaan hatiku yang muram
ditambah kelabu.
Limabelas menit sudah aku berada di dalam taksi, dan aku sekarang aku sudah tepat berada
di depan pintu gerbang. Langkah yang gontai dan muka yang murung menemani
langkahku menuju kantin. Tepat sahabatku Vivi menunggu.
“Hi dea sini.” Seseorang meneriakiku yang ternyata adalah Vivi. Aku berjalan mendekati
tempat dimana Vivi menungguku. “ Elo kenapa?”, tanyanya saat aku tiba di
mejayang ia tempati.
“ Elo pasti juga tahu.”, Jawabku singkat.
“ Sorry.”, ucapnya. Hanya Vivi yang tahu apa yang sedang terjadi di keluargaku. Hanya dia
yang mengertiku tanpa menjerumuskanku, benar-benar sahabat yang sempurna.
“ Vi, kayaknya gw harus ngungsi dech.”, kataku tiba-tiba. Tak tahu mengapa kata itu
tiba-tiba muncul di dalam otakku dan aku langsung mengucapkan hal itu tanpa
pikir panjang.
“ Ngungsi? Emang banjir?”, tanya Vivi ddengan mimik menggoda sambil tersenyum geli menahan
tawa.
Kuteguk juice mangga favoritku yang sudah di pesan oleh Vivi terlebih dulu sebelum aku
datang. Aku sengaja tidak menghabiskan jus ini dalam sekali tegukan, aku masih
__ADS_1
menyisakan separuh gelas untuk menemani perbincanganku dengan Vivi yang masih
berlangsung.
“ Iya, ngungsi. Ngungsi ke Jogja. Di rumah Eyang, mungkin aja di sana gw bakal nemuin
coklat gw lagi.”, jelasku smbil cengar-cengir karena bingung dengan kata-kata
yang keluar dari mulutku sendiri.
“ So??”, mimik wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti orang yang baru melihat hantu tanpa
ekspresi. “ Elo bakal pindah sekolah juga gitu?” , lanjutannya lagi dengan
mimik wajah yang masih belum berubah. Sepertinya ia akan menahanku.
“ Maybe.”, jawabku singkat lalu meneguk juice mangga yang masih tersisa dalam gelas. “ Vi
itu, semua itu baru rencana nggak usah khawatir.”, lanjutku berusaha
menenangkannya.
nafas panjang.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan barusan. Aku juga tidak bisa berkata apa-apa
sekarang. Bisa-bisanya aku mengeluarkan sebuah kalimat atau kata yang belum
mungkin terpikir dipikiranku sebelumnya. Dan yang lebih parah aku mengatakan
hal itu pada sahabatku yang tentu saja langsung membuatnya sedih karena ia
berpikiran akan kehilanganku.
Tak terasa hampir setengah jam kami berbincang di kantintiba saatnya masuk kekelas. Aku
yakin bel masuk akan berbunyi. Apalagi jam pertama nanti adalah Pak Sinom. Guru
mata pelajaran yang sangat kubenci.
__ADS_1
Dugaanku tidak meleset, bel masuk berbunyi tepat disaata aku dan Vivi meninggalkan
kantin dan berjalan menuju kelas. Di sepenjang jalan tidak ada sepatah katapun
yang keluar dari mulut Vivi padahal aku sudah berkali-kali mengajaknya ngobrol.
Tampaknya ia telah merenungi rencana konyolku tadi.
Sesampainya dikelas aku segera menempati bangku yang tersisa di pojok kelas. tak butuh
waktu lama Pak Sinom akhirnya muncul dengan tangan montoknya yang menenteng tas
besar. Isinya munkin kanvas, cat air,kuas,dan saudara-saudaranya yang lain.
Hehehehehehe....
“ Pagi anak-anak.”, sapa Pak Sinom.
“ Pagi pak.”, balas kami serentak
Pak Sinom adalah guru mata pelajaran melukis, seperti clue ku tadi. Pelajaran yang paling
kubenci, aku sama sekali tidak bisa melukis atau menggambar. Mengammbar model
bulat telurpun aku tidak bisa apa lagi harus menggambar orang seperti yang di
ajarkan oleh Pak Sinom. Aku benar-benar tak bisa melukis, otak dan tanganku tak
pernah bisa sinkron untuk urusan yang satu ini, sangat menyedihkan.
Syukurlah pelajaran Pak Sinom belalu cepat hari ini. Ia hanya menyuruh kami membaca dan
mengerjakan soal dari buku paket sedangkan dia sibuk dengan urusannya yang aku
tidak tahu apa itu. Dua jam pelajaran tanpa cat air, kanvas juga kuas sangat
menyenangkan.
Bersambung...
__ADS_1