
Sekolah
Aku segera berdiri dan berjalan menyebelahi tapi saat memasuki ruang keluarga kuperlambat
langkahku dan membiarkan Mas Rama berjalan memunggungiku agar perban didahiku
ini takterlihat oleh Eyang. Tapi percuma saja Eyang sudah mengetahuinya.
“ Dea, dahi kamu kenapa?”, tanya Eyang tiba-tiba yang berhasil membuatku kaget plus gugup.
Reflek kusenggol tangan Mas Rama berharap ia segera buka suara untuk
menolongku.
“ Tadi Dea kepentok pintu Yang, Terus Rama perban kepalanya.”, Kata Mas Rama pada Eyang.
“ Tapi kamu ngak apa-apa kan Dea?”, tanya Eyang lagi padaku.
“ Enggak apa-apa kok Yang.” Jawabku meyakinkan.
“ Padahal besok hari pertama kamu Sekolah.”, kata Eyang lagi terlihat sekali penyesalan
dari dalam diri Eyang.
“ Tenang aja Yang, kan ada Mas Rama.”, kataku sambil melirik Mas Rama.
“ ini seragam kamu. Terus ini buku-buku kamu, besok kamu berangkat bareng sama Mas mu
pulangnya juga.”, perintah Eyang. “Eyang ke kamar dulu. Pusing.”
Aku cengar-cengir sambil memandang kearah Mas Rama lalu langsung mengambil seragam juga buku
pelajaran yang diberi Eyang dan langsung pergi meninggalkan Mas Rama yang
ternyata juga masih cengar-cengir.
__ADS_1
“ Aku mandi dulu Mas.”, pamitku.
“ Cepetan ya, aku soalnya juga belum mandi.” Pesan Mas Rama. Kuanggukkan kepalaku pertanda
aku engerti apa yang dimaksud olehnya.
Luka didahiku makin terasa perih saat air menyapu wajahku. Kusandarkan tuuhku
ditembok, menahan rasa perih yang kurasakan sambil memejamkan mata. Kubiarkan
air membasuh tubuhku lagi dan lagi. Kubiarkan otot-otot tubuhku mengendur agar
aku merasa lebih nyaman. Belum selesal aku mandi Mas Rama sudah mengetuk pintu
kamar mandi menyuruhku untuk segera keluar.
“ Lama banget sih.”, protesnya saat aku keluar dari dalam kamar mandi.
“ Ya maaf.”, balasku sambil berlari. Mas Rama langsung masuk kamar manda dan
Kuamati lukaku yang masih memerah bekas darah dari depan cermin. Lukanya ternyata tudak
seberapa tapi rasa perihnya sangat mematikan. Kubersihkan lukaku ini dengan
kapas yang kuberi alcohol lalu menutupnya lagi dengan perban yang sudah aku
persiapan sebelumnya agar tidak infeksi. Setelah itu aku langsung merebahkan
tubuhku di kasur samberi menahan rasa perih yang mulai mengilang.
“ Dea bangun..... Dea.”,pintu kamarku diketuk dengan sangat keras,sangat tidak
manusiawi. Aku yakin sekali kalau itu Mas Rama, ia sangat disiplin untuk urusan
bangun pagi sangat kontras denganku yang susah untuk bangun pagi. Mas Rama
__ADS_1
adalah sosok kakak yang kucari selama ini. Beruntung aku memilikinya meski
hanya sekedar sepupu.
“ Iya Mas.”, balasku dari dalam kamar.
“ Cepet bangun Dea nanti telat lho, udah kamu rapihin kan jadwalnya?”, tanya Mas Rama
mengintrogasiku.
“ Iya Mas.”, jawabku sambil menguap tepat disaat aku membuka pintu kamar.
“ Ih jorok banget sih. Cepetan mandi sana.”, perintahnya. Tangannya mendorongku agar cepat
berjalan menuju kamar mandi yang tentu saja untuuk mandi.
Berr..... air pagi ini sangat dingin membuat bulukudukku berdiri semua. Kurapikan seragam
baruku setelah selesai mandi dan berada di kamar. Sangat berbeda dengan seragam
lamaku saat di Jakarta karena kebetulan dulu aku bersekolah di SMA yang
seragamnya tidak berwarna putih abu-abu seperti ini.
Aku bingung aksesoris aa yang bisa kupakai. Aku kesulitan untuk memadu padakan aksesoris
yang kumiliki dengan seragam ini. Akhirnya kuputuskan untuk memakai jam tangan
saja tidak ada yang lain. Jam tangan warna hitam yang biasa kupakai dan
kebetulan hanya jam ini yang cocok untuk kupakai.
Bersambung...
__ADS_1