KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Sekolah


__ADS_3

Sekolah


Aku segera berdiri dan berjalan menyebelahi tapi saat memasuki ruang keluarga kuperlambat


langkahku dan membiarkan Mas Rama berjalan memunggungiku agar perban didahiku


ini takterlihat oleh Eyang. Tapi percuma saja Eyang sudah mengetahuinya.


“ Dea, dahi kamu kenapa?”, tanya Eyang tiba-tiba yang berhasil membuatku kaget plus gugup.


Reflek kusenggol tangan Mas Rama berharap ia segera buka suara untuk


menolongku.


“ Tadi Dea kepentok pintu Yang, Terus Rama perban kepalanya.”, Kata Mas Rama pada Eyang.


“ Tapi kamu ngak apa-apa kan Dea?”, tanya Eyang lagi padaku.


“ Enggak apa-apa kok Yang.” Jawabku meyakinkan.


“ Padahal besok hari pertama kamu Sekolah.”, kata Eyang lagi terlihat sekali penyesalan


dari dalam diri Eyang.


“ Tenang aja Yang, kan ada Mas Rama.”, kataku sambil melirik Mas Rama.


“ ini seragam kamu. Terus ini buku-buku kamu, besok kamu berangkat bareng sama Mas mu


pulangnya juga.”, perintah Eyang. “Eyang ke kamar dulu. Pusing.”


Aku cengar-cengir sambil memandang kearah Mas Rama lalu langsung mengambil seragam juga buku


pelajaran yang diberi Eyang dan langsung pergi meninggalkan Mas Rama yang


ternyata juga masih cengar-cengir.

__ADS_1


“ Aku mandi dulu Mas.”, pamitku.


“ Cepetan ya, aku soalnya juga belum mandi.” Pesan Mas Rama. Kuanggukkan kepalaku pertanda


aku engerti apa yang dimaksud olehnya.


Luka didahiku makin terasa perih saat air menyapu wajahku. Kusandarkan tuuhku


ditembok, menahan rasa perih yang kurasakan sambil memejamkan mata. Kubiarkan


air membasuh tubuhku lagi dan lagi. Kubiarkan otot-otot tubuhku mengendur agar


aku merasa lebih nyaman. Belum selesal aku mandi Mas Rama sudah mengetuk pintu


kamar mandi menyuruhku untuk segera keluar.


“ Lama banget sih.”, protesnya saat aku keluar dari dalam kamar mandi.


“ Ya maaf.”, balasku sambil berlari. Mas Rama langsung masuk kamar manda dan


Kuamati lukaku yang masih memerah bekas darah dari depan cermin. Lukanya ternyata tudak


seberapa tapi rasa perihnya sangat mematikan. Kubersihkan lukaku ini dengan


kapas yang kuberi alcohol lalu menutupnya lagi dengan perban yang sudah aku


persiapan sebelumnya agar tidak infeksi. Setelah itu aku langsung merebahkan


tubuhku di kasur samberi menahan rasa perih yang mulai mengilang.


“ Dea bangun..... Dea.”,pintu kamarku diketuk dengan sangat keras,sangat tidak


manusiawi. Aku yakin sekali kalau itu Mas Rama, ia sangat disiplin untuk urusan


bangun pagi sangat kontras denganku yang susah untuk bangun pagi. Mas Rama

__ADS_1


adalah sosok kakak yang kucari selama ini. Beruntung aku memilikinya meski


hanya sekedar sepupu.


“ Iya Mas.”, balasku dari dalam kamar.


“ Cepet bangun Dea nanti telat lho, udah kamu rapihin kan jadwalnya?”, tanya Mas Rama


mengintrogasiku.


“ Iya Mas.”, jawabku sambil menguap tepat disaat aku membuka pintu kamar.


“ Ih jorok banget sih. Cepetan mandi sana.”, perintahnya. Tangannya mendorongku agar cepat


berjalan menuju kamar mandi yang tentu saja untuuk mandi.


Berr..... air pagi ini sangat dingin membuat bulukudukku berdiri semua. Kurapikan seragam


baruku setelah selesai mandi dan berada di kamar. Sangat berbeda dengan seragam


lamaku saat di Jakarta karena kebetulan dulu aku bersekolah di SMA yang


seragamnya tidak berwarna putih abu-abu seperti ini.


Aku bingung aksesoris aa yang bisa kupakai. Aku kesulitan untuk memadu padakan aksesoris


yang kumiliki dengan seragam ini. Akhirnya kuputuskan untuk memakai jam tangan


saja tidak ada yang lain. Jam tangan warna hitam yang biasa kupakai dan


kebetulan hanya jam ini yang cocok untuk kupakai.


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2