
Keliling Kompleks
Keesokan harinya tak banyak pekerjaan yang dapat kukerjakan di rumah. Berhubung hari ini
hari Minggu aku berniat mengajak Mas Rama pergi jalan-jalan mengitari kompleks
rumah Eyang saja.
“ Mas, Mas Rama,Mas.”, panggilku. “ Mas Rama.”, panggil Mas Rama lagi dan lagi.
“ Pagi-pagi kok udah manggil Mas mu ada apa?”, tanyanya Eyang.
“ Pengen ngajak Mas Rama jalan-jalan Yang.”, jawabku polos.
“ Kamu jalan-jalan sendiri aja, kebetulan digarasi ada sepeda. Kamu bisa muter
kompleks pakai sepeda.”, suruh Eyang.
“ Tapi Mas Rama kemana yang?”, tanyaku sambil meraih segelas susu yang ada di meja dan
langsung meneguknya sampai habis.
“ Eyang nggak tahu, tadi pagi banget Mas mu sudah pergi mungkin ada urusan.”, jelas
Eyang. Kuanggukan kepalaku pertanda mengerti.
Aku melangkah menuju kamar untuk mengganti sandal dengan sepatu karena aku akan
sepedaan, aku tak ingin kakiku terbakar. Kurapikan rambutku sebelum
meninggalkan kamar menuju garasi.
“ Yang, Dea pergi dulu ya.”, pamitku pada Eyang. Selama di Jogja Eyang menjadi Eyang
__ADS_1
sekaligus orangtua bagiku.
“ Hati-hati.”, pesan eyang.
“ pasti Yang.”, balasku. Aku segera berlalu meninggalkan Eyang menuju garasi mencari
sepeda yang dimaksud Eyang tadi.
Lama aku berjibaku dengan debu dan kardus-kardus bekas aku juga belum juga menemukan
sepeda yang dimaksud oleh Eyang. Garasi Eyang ini menjelma seperti gudang
dengan kardus yang menggunung. Ternyata sepeda yabg dimaksud oleh Eyang berada
dibalik kardus yang sangat banyak, benar saja aku tak bisa menemukannya.
Kuseka keringat yang menjalar didahiku. Kukencangkan
kuncir rambutku yang mengendur karena lama berjibaku dengan barang-barang bekas
debu-debu yang menempel di sepeda kemudian langsung menaikinya. Sepeda Eyang
ini masih sangat bagus, apa mungkin ini sepeda Mas Rama yang sengaja ia bawa
dari kotanya.
Aku berniat untuk sepedaan memutari kompleks perumahan Eyang tapi sial aku nyasar sampai ke
jalan besar. Aku bingung bagaimana agar aku bisa kembali ke rumah Eyang dengan
keadaan aku lupa jalan pulang. Apalagi hari sudah beranjak siang dan aku masih
mengayuh sepedaku ini tanpa arah yang pasti.
__ADS_1
Gubrak !!!!
Sebuah motor menyerempetku dari samping. Jadilah aku jatuh dengan kepala yang membentur
badan trotoar dan tertima oleh sepeda. Aku merasakan ada sesuatu yang menetes
dari dahiku dan rasanya sangat sakit di campur perih. Kepalaku sakit sekali.
“ Kamu nggak kenapa-kenapa?”, tanya pria berhelm yang menabrakku.
“It’s OK.”, jawabku sambil memegangi kepala karena rasa sakit yang tak tertahankan.
“ Tapi kepala kamu?”, kini ia melepas helmnya.
“ Cuma luka dikit aja kok, tenang aja.”, kataku. Aku sangat berharap orang ini mau
menganterku pulang sampai ke rumah Eyang karena aku lupa jalan pulang.
“ Kepala kamu berdarah. Ayo aku anterin pulang.”, pintanya.
“ Tapi sepedaku?”, kutunjuk sepeda yang masuh menindihiku.
“ Nanti aku suruh orang buat nganter sepeda kamu. Aku minta alamat rumah kamu.”, pintanya.
Kuberikan alamat rumah Eyang pada orang ini aku tak menaruh curiga pada orang
ini karena kondisu sudah sangat memprihatinkan, hampir pingsan.
Aku tak berani menyeka darah yang mengalir dari dahiku. Aku takut kalau tiba-tiba
pingsan karena tak kuat melihat cairan berwarna merah dan berbau amis itu. Pria
yang menabrakku menyuruhku untuk segera naik ke motornya.
__ADS_1
Bersambung...