
Coklatku
Aku bahagia bisa membalas sms Mama, aku lega telah melaksanakan apa yang telah
diwanti-wanti oleh Mama. Kulirik jam yang yang tergantung di dinding yang membuatku
tercengang. Sekarang sudah pukul tujuh malam. Eyang dan Mas Rama pasti sudah
menungguku di meja makan. Kurapikan rambutku yang bukan main berantakan
kemudian langsung keluar menuju meja makan. Benar, Eyang dan Mas Rama sudah
menungguku dengan piring yang tertutup rapi.
“ Maaf ya semuanya, Dea sudah bikin Eyang dan Mas Rama menunggu lama.”, kataku minta maaf
pada Eyang dan Mas Rama.
“ Nggak apa-apa, ayo makan. Mbok Siti sudah masak masakan kesukaan kamu.”, suruh Eyang.
Eyang mengambilkan nasi untukku dan juga Mas Rama serta menyuruh kami untuk mengambil lauk yang
banyak. Kata Eyang kalau makan bukan nasinya yang banyak tapi lauknya. Makan malamku
ini sangat berkesan, sama seperti saat makan malam bersama Papa dan Mama
sebelum berkonflik dulu. Hangat dan menyenangkan.
Mas Rama dan Eyang tak henti-hentinya melempar tebak-tebakan konyol ditengah acara amakan
malam kami. Tebak-tebakan yang terkadang tidak nyambung tapi lucu. Aku merasa
__ADS_1
mendapatkan coklatkukembali karena kehangatan yang dipancarkan oleh Eyang dan
Mas Rama.
“ Dea jadi ikut? “, tanya Mas Rama tepat di saat kami sudah selesai makan.
“ Ikut kemana? “, tanyaku balik kemudian menengguk segelas air putih sampai habis.
“ ke Sekolah, gimana sih kamu ini.”, Jawab Mas Rama sambil meledek.
“ boleh,kapan? “, tanyaku.
“ Sekarang, Mas tunggu di depan ya”, jawabnya.
“ Ya sudah Dea ganti baju dulu.”, kataku kemudian langsung beanjak dari meja amkan ke
kamar.
Aku bingung harus memakai baju apa. Aku tidak tahu event apa yang tengah berlangsung karena
tergantung rapi didalam lemari dan pandanganku berhenti tepat pada kaos berwarna
putih hadiah dari Vivi. Sepertinya ini cocok kupakai malam ini.
Segera kuganti pakaianku dan kurapikan rambutku setelah kaos melekat pas ditubuhku. Tak
ada yang berubah dari bentuk tubuhku, masih tetap berisi tapi tidak bisa
dikatakan gemuk. Kuratakan pula bedak yang tadinya menebal disalah satu
wajahku. Lumayan, wajahku tidak lagi terlihat kering seperti saat sebelum
__ADS_1
memakai bedak, kucari dompet dan hpku yang sesegera mungkin kuselipkan disaku
celana jins yang kupakai dan langsung berlalu meninggalkan kamar dan menuju
halaman depan, tempat Mas Rama menungguku.
“ Nunggu lama ya Mas? Maaf ya.“, kataku sesaat setelah sampai di halaman depan.
“ Nggak masalah, sudah siap?”, Mas Rama bangkit dari duduknya.
“ Udah. Lho mobil Eyang kemana? “, tanyaku sambil celingukan mencari mobil Eyangyang mungkin saja terselip.
“ Eyang pergi sebentar, barusan saja.”, jawab Mas Rama. “ Ayo berangkat, keburu mulai
acaranya.”, Lanjut Mas Rama sambil mengajakku berangkat.
Mas Rama berjalan memunggungiku saat menuju mobilnya. Aku tercengang saat memasuki
mobilnya, mobilnya luar biasa penuh dengan modif khas anak muda. Joknya juga
sangat empuk, berwarna coklat warna kesukaanku.
“ gila ni mobil, bagus banget.”, sifat norakku akhirntya keluar juga.
“ Biasa aja.”, balas Mas Rama. “ Baru kamu yang bilang kalau mobil aku itu bagus, mungkin kamu
yang tahu tentang seni.”, lanjut Mas Rama sedikit lebai.
“ Ya, memang aku tahu tantang seni, seni merusakkan barang.”, kataku kemudian di sambut tawa Mas Rama. Mas Rama belum tahu aku tang sebenarnya, ia belum tahu kalau aku ini minim pengetahuan tentang seni,
menggambar saja aku tidak bisa
__ADS_1
Bersambung