KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Di Antar Pulang


__ADS_3

Di Antar Pulang


Ia membawaku ke klinik terlebih dulu sebelum mengebmalikan ke rumah.


Cairan dingin alcohol menyapu lukaku rasanya sangat perih sampai membuatku


mengernyitkn mta sambil menggertakan gigi saking perihnya. Untungnya lukaku tak


perlu dijahit, syukurlah.


Kondisiku makin membaik setelah pria itu membawaku ke klinikuntuk segera mendapat


pertolongan. Dokter memberikan resep obat kepada pria itu dan ia langsung


keluar untuk menebus obat dan segera kembali dengan cepat. Selanjutnya ia


menganterku pulang, sepanjang jalan tak ada sepatah katapun yang keluar dari


mulutnya dan juga mulutku, kami sama-sama diam. Mungkin pria itu tengah


merenungi perbuatannya atau malahan ia tengah mencari alasan apa bila ia


ditanyai oleh Eyang. Hemp, hanya dia dan tuhanlah yang tahu.


Sepedaku sudah terparkir di halaman Rumah Eyang saat aku dan pria itu sampai. Benar kata


pria itu, orang suruhannya sudah membawa pulang sepedaku dengan selamat.


“ Makasih udah nganterin aku pulang.”, kataku buka suara mengucapkan terimakasih.


“ Sama-sama.”, balasnya. Aku kini lebih leluasa mengamati wajahnya kebetulan ia


membuka kaca helmnya. Astaga, ternyata ia sangat tampan. Mengapa aku baru sadar


sekarang. Dn wajah pria ini mengingatkanku pada pria semalam. Sangat mirip,


walaupun malam itu cahaya bulan yang menyinari wajah pria itu tak begitu

__ADS_1


terang.


Aku tak bisa bohong pada diriku bahwa aku terpesona akan pria ini. Kini aku sudah melupakan


kejadian yang menimpaku tadi meski dengan sogokan wajah rupawannya. Tapi


seandainya ia pria malam itu mana mungkin ia lupa padaku, akan wajahku. Apalagi


dengan sikapnya yang memandangiku seperti tadi malam. Sulit untuk dipercaya.


“ Hello.”, ia menggerak-gerakkan tangannya di depan mataku. Karena dengan tidak sadar aku melamun.


“ Eh ada apa?”, tanyaku gugup.


“ Aku Riko.”, katanya dengan tangan yang ia julurkan kearahku. “ Nama kamu siapa?”,


ternyata ia mengajakku berkenalan.


“ Dea.”, jawabku dan langsung menjabat tangannya dan langsung melepas jabatannya.


“ Maaf soal yang tadi.”, katanya. “ Aku duluan.”, pamitnya.


pulang.”, kataku ganti.


Pria itu sudah menaiki motornya dan langsung melesat pergi meninggalkan halaman rumah


Eyang. Aku mengendap-endap masuk kedalam rumah berharap Eyang tidak melihatku.


Aku tak mau Eyang menanyaiku dengan pertanyaan aneh yang pasti menyangkut


masalah lukaku ini.


“ Hayo.”, seseorang mengagetkanku dari belakang.


“ Mas Rama, ngagetin aja.”, protesku.


“ Jidat kamu kenapa?”, tanya Mas Rama sambil memegang luka didahiku.

__ADS_1


“ Tadi ada yang menyerempet pas aku lagi sepedaan. Ini imbalannya, jidatku jontor.”,


jawabku smbil enunjuk karya yang dihasilkan oleh Riko.


“ Eyang sudah tahu belum?”, tanya Mas Rama.


“ Belum. Mas diam aja ya, nggak usah cerita sama Eyang.”, pintaku.


“ Iya deh.”, ucap Mas Rama.


Kutinggalkan Mas Rama sendiri di ruang tamu menuju kamar karena kepalaku kini kembali


pusing. Sayangnya aku tetap saja tak bisa istirahat. Merilekskan pikiran tak


bisa. Aku hanya bisa melamun, melamun memikirkan hari esok dan pria itu.


Sepertinya aku tertarik padanya. Tapi sayang, yang kutaku hanya namanya saja,


Riko.


 “ Dea.”, seseorang memanggilku dari dalam kamar.


“ Hemp, ada apa?”, tanyaku dengan seduh *******.


“ Dicari Eyang tu.”, jawab Mas Rama yang langsung Membuka pintu kamarku dan masuk


menghampiriku yang masih tiduran di kasur.


” Eyang?”, tanyaku panik. “ Terus ini gimana?”, tanyaku lagi dengan tangan yang menunjuk


dahi yang diperban.


“ Udah tenang aja, aku udah punya alasan buat nutupin kecelekaan kamu tadi.”, jawab


Mas Rama menenangkanku.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2