
Di Antar Pulang
Ia membawaku ke klinik terlebih dulu sebelum mengebmalikan ke rumah.
Cairan dingin alcohol menyapu lukaku rasanya sangat perih sampai membuatku
mengernyitkn mta sambil menggertakan gigi saking perihnya. Untungnya lukaku tak
perlu dijahit, syukurlah.
Kondisiku makin membaik setelah pria itu membawaku ke klinikuntuk segera mendapat
pertolongan. Dokter memberikan resep obat kepada pria itu dan ia langsung
keluar untuk menebus obat dan segera kembali dengan cepat. Selanjutnya ia
menganterku pulang, sepanjang jalan tak ada sepatah katapun yang keluar dari
mulutnya dan juga mulutku, kami sama-sama diam. Mungkin pria itu tengah
merenungi perbuatannya atau malahan ia tengah mencari alasan apa bila ia
ditanyai oleh Eyang. Hemp, hanya dia dan tuhanlah yang tahu.
Sepedaku sudah terparkir di halaman Rumah Eyang saat aku dan pria itu sampai. Benar kata
pria itu, orang suruhannya sudah membawa pulang sepedaku dengan selamat.
“ Makasih udah nganterin aku pulang.”, kataku buka suara mengucapkan terimakasih.
“ Sama-sama.”, balasnya. Aku kini lebih leluasa mengamati wajahnya kebetulan ia
membuka kaca helmnya. Astaga, ternyata ia sangat tampan. Mengapa aku baru sadar
sekarang. Dn wajah pria ini mengingatkanku pada pria semalam. Sangat mirip,
walaupun malam itu cahaya bulan yang menyinari wajah pria itu tak begitu
__ADS_1
terang.
Aku tak bisa bohong pada diriku bahwa aku terpesona akan pria ini. Kini aku sudah melupakan
kejadian yang menimpaku tadi meski dengan sogokan wajah rupawannya. Tapi
seandainya ia pria malam itu mana mungkin ia lupa padaku, akan wajahku. Apalagi
dengan sikapnya yang memandangiku seperti tadi malam. Sulit untuk dipercaya.
“ Hello.”, ia menggerak-gerakkan tangannya di depan mataku. Karena dengan tidak sadar aku melamun.
“ Eh ada apa?”, tanyaku gugup.
“ Aku Riko.”, katanya dengan tangan yang ia julurkan kearahku. “ Nama kamu siapa?”,
ternyata ia mengajakku berkenalan.
“ Dea.”, jawabku dan langsung menjabat tangannya dan langsung melepas jabatannya.
“ Maaf soal yang tadi.”, katanya. “ Aku duluan.”, pamitnya.
pulang.”, kataku ganti.
Pria itu sudah menaiki motornya dan langsung melesat pergi meninggalkan halaman rumah
Eyang. Aku mengendap-endap masuk kedalam rumah berharap Eyang tidak melihatku.
Aku tak mau Eyang menanyaiku dengan pertanyaan aneh yang pasti menyangkut
masalah lukaku ini.
“ Hayo.”, seseorang mengagetkanku dari belakang.
“ Mas Rama, ngagetin aja.”, protesku.
“ Jidat kamu kenapa?”, tanya Mas Rama sambil memegang luka didahiku.
__ADS_1
“ Tadi ada yang menyerempet pas aku lagi sepedaan. Ini imbalannya, jidatku jontor.”,
jawabku smbil enunjuk karya yang dihasilkan oleh Riko.
“ Eyang sudah tahu belum?”, tanya Mas Rama.
“ Belum. Mas diam aja ya, nggak usah cerita sama Eyang.”, pintaku.
“ Iya deh.”, ucap Mas Rama.
Kutinggalkan Mas Rama sendiri di ruang tamu menuju kamar karena kepalaku kini kembali
pusing. Sayangnya aku tetap saja tak bisa istirahat. Merilekskan pikiran tak
bisa. Aku hanya bisa melamun, melamun memikirkan hari esok dan pria itu.
Sepertinya aku tertarik padanya. Tapi sayang, yang kutaku hanya namanya saja,
Riko.
“ Dea.”, seseorang memanggilku dari dalam kamar.
“ Hemp, ada apa?”, tanyaku dengan seduh *******.
“ Dicari Eyang tu.”, jawab Mas Rama yang langsung Membuka pintu kamarku dan masuk
menghampiriku yang masih tiduran di kasur.
” Eyang?”, tanyaku panik. “ Terus ini gimana?”, tanyaku lagi dengan tangan yang menunjuk
dahi yang diperban.
“ Udah tenang aja, aku udah punya alasan buat nutupin kecelekaan kamu tadi.”, jawab
Mas Rama menenangkanku.
__ADS_1
Bersambung...