
Pulang Sekolah
Pulang sekolah aku tidak langsung pulang. Seperti biasa aku dan Vivi pergi ke kantin dulu hanya
untuk sekedar minum jus dan makan-makanan ringan sambil ngobrol atau lebvih
dikenal dengan sebutan ngrumpi.
“ Bang juice mangga satu.”, pesanku pada salah seorang pemilik warung di kantin. Aku sangat
minum jus mangga yang pekat apa lagi cuaca diluar sedang panas-panasnya.
Tak butuh waktu lama pesananku akhirnya mendarat juga di meja. Segelas juice mangga yang
kuning, pekat dan glek, air liurku hampir menetes jadi cepat-cepat kuteguk
juice manggaku ini sebelum air liurku benar-benar menetes dan tentu saja
mempermalukanku di hadapan banyak orang.
“ Gw mau tanya lagi soal rencana konyol elo tadi.”, tanya Vivi tiba-tiba sorot matanya berubah
menjadi tajam dan rahangnya mengeras seperti orang marah yang hendak menangis.
“ Hahahahah...”, tawaku tiba-tiba mledak. “ Vi, itu baru rencana, elo santai aja.”,
lanjutku dengan tawa yang sudah berhenti.
“ Syukurlah, jadi gw nggak akan kehilangan sahabat gw. Terima kasih Tuhan.”, ucapnya lega.
“ Gw juga nggak tahu ding Vi, kalau Papa dan Mama satuju kenapa nggak.”, lanjutku ddengan
pandangan yang sama sekali tidak kutujukan kepadanya.
__ADS_1
“ Tuh kan, elo beneran pindah terus gw gimana?’, tanyanya dengan air mata yang hampir tumpah.
“ Santai Vi, masih ada Bagus.”, jawabku. Aku mencoba untuk melegakan hatinya dengan menyebut
nama Bagus, cowok yang sah menjadi kekasihnya sejak beberapa bulan lalu.
“ Tapi.”, ucapnya.
“ Balik yuk.”, potongku.
Vivi mengangguk kemudian langsung berdiri dan berjalan menyusulku yang sudah
beberapa langkah di depannya. Hari ini Vivi pulang bersamaku karena Bagus tidak
bisa menjemputnya. Kami berdua naik taksi, Vivi mengantarku pulang terlebih
dulu. Sama seperti tadi, Vivi tidak melontarkan sepatah katapun di taksi. Ia
banyak diam sambil memainkan jari-jaruinya di kaca mobil membentuk sebuah pola
Rumah masih sangat sepi saat aku pulang but surprise. Mama sudah berada di rumah, sibuk
mengurus taman bunganya yang terbang kalai sejak ia naik jabatan dan berkonflik
dengan Papa. Suatu pemandangan yang sangat langka melihat mama ke kebiasaannya
yang dulu.
Cepat, aku masuk dalam kamar, mengganti pakaian sekolahku kemudian langsung berlalu menuju
taman belakang untuk menemui Mama dengan niat ingin mengutarakan isi hatiku
tentang Jogja. Kali ini aku tidak main-main, setelah kupikir-pikir, ini adalah
__ADS_1
hal yang tupat. Aku harus segera pergi dari sini bila tidak ingin menjadi gila
karena selalu di bayang-bayangi oleh perasaan tersiksa.
´Hai Ma.”, sapaku dari depan pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan taman belakang.
Aku bahagia melihat Mama seperti ini, ceria tanpa mimik tertekan di wajahnya. Seandainya
setiap hari seperti ini.
Mama melambaikan tangannya kearahku, mengajakku bergabung dengannya. Aku berjalan
mendekat kearah Mama yang tengah memindahkan bunga mawar dari dalam pot ke
tanah. “ Kamu sudah pulang.”, tanyanya.
“ Iya. Tumben Mama pulang cepet, biasanya tengah malam baru pulang.”, jawabku basa-basi
sambil tersenyum.
“ Hari ini nggak ada meeting.”, jawab mama singkat.
Aku sudah tidak sabar untuk segera mengutarakan isi hatiku tentang Jogja. Tapi, aku masih
menunggu waktu yang tepat sambil berusaha menata hatiku. Aku takut Mama marah
padaku karena menginginkan hal konyol seperti itu.
“ Ma. ”,aku mulai buka suara. “ Dea boleh nggak pindah ke Jogja?”, tanyaku tanpa basi-basi.
Aku ini bukanlah seorang yang bisa dengan mudahnya mengulur-ulur waktu.
“ Kenapa.”, tanya Mama halus dengan wajah datar. Apa Mama tidak kaget mendengar permintaan
__ADS_1
konyolku ini.
Bersambung...