KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Pulang Sekolah


__ADS_3

Pulang Sekolah


Pulang sekolah aku tidak langsung pulang. Seperti biasa aku dan Vivi pergi ke kantin dulu hanya


untuk sekedar minum jus dan makan-makanan ringan sambil ngobrol atau lebvih


dikenal dengan sebutan ngrumpi.


“ Bang juice mangga satu.”, pesanku pada salah seorang pemilik warung di kantin. Aku sangat


minum jus mangga yang pekat apa lagi cuaca diluar sedang panas-panasnya.


Tak butuh waktu lama pesananku akhirnya mendarat juga di meja. Segelas juice mangga yang


kuning, pekat dan glek, air liurku hampir menetes jadi cepat-cepat kuteguk


juice manggaku ini sebelum air liurku benar-benar menetes dan tentu saja


mempermalukanku di hadapan banyak orang.


“ Gw mau tanya lagi soal rencana konyol elo tadi.”, tanya Vivi tiba-tiba sorot matanya berubah


menjadi tajam dan rahangnya mengeras seperti orang marah yang hendak menangis.


“ Hahahahah...”, tawaku tiba-tiba mledak. “ Vi, itu baru rencana, elo santai aja.”,


lanjutku dengan tawa yang sudah berhenti.


“ Syukurlah, jadi gw nggak akan kehilangan sahabat gw. Terima kasih Tuhan.”, ucapnya lega.


“ Gw juga nggak tahu ding Vi, kalau Papa dan Mama satuju kenapa nggak.”, lanjutku ddengan


pandangan yang sama sekali tidak kutujukan kepadanya.

__ADS_1


“ Tuh kan, elo beneran pindah terus gw gimana?’, tanyanya dengan air mata yang hampir tumpah.


“ Santai Vi, masih ada Bagus.”, jawabku. Aku mencoba untuk melegakan hatinya dengan menyebut


nama Bagus, cowok yang sah menjadi kekasihnya sejak beberapa bulan lalu.


“ Tapi.”, ucapnya.


“ Balik yuk.”, potongku.


Vivi mengangguk kemudian langsung berdiri dan berjalan menyusulku yang sudah


beberapa langkah di depannya. Hari ini Vivi pulang bersamaku karena Bagus tidak


bisa menjemputnya. Kami berdua naik taksi, Vivi mengantarku pulang terlebih


dulu. Sama seperti tadi, Vivi tidak melontarkan sepatah katapun di taksi. Ia


banyak diam sambil memainkan jari-jaruinya di kaca mobil membentuk sebuah pola


Rumah masih sangat sepi saat aku pulang but surprise. Mama sudah berada di rumah, sibuk


mengurus taman bunganya yang terbang kalai sejak ia naik jabatan dan berkonflik


dengan Papa. Suatu pemandangan yang sangat langka melihat mama ke kebiasaannya


yang dulu.


Cepat, aku masuk dalam kamar, mengganti pakaian sekolahku kemudian langsung berlalu menuju


taman belakang untuk menemui Mama dengan niat ingin mengutarakan isi hatiku


tentang Jogja. Kali ini aku tidak main-main, setelah kupikir-pikir, ini adalah

__ADS_1


hal yang tupat. Aku harus segera pergi dari sini bila tidak ingin menjadi gila


karena selalu di bayang-bayangi oleh perasaan tersiksa.


´Hai Ma.”, sapaku dari depan pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan taman belakang.


Aku bahagia melihat Mama seperti ini, ceria tanpa mimik tertekan di wajahnya. Seandainya


setiap hari seperti ini.


Mama melambaikan tangannya kearahku, mengajakku bergabung dengannya. Aku berjalan


mendekat kearah Mama yang tengah memindahkan bunga mawar dari dalam pot ke


tanah. “ Kamu sudah pulang.”, tanyanya.


“ Iya. Tumben Mama pulang cepet, biasanya tengah malam baru pulang.”, jawabku basa-basi


sambil tersenyum.


“ Hari ini nggak ada meeting.”, jawab mama singkat.


Aku sudah tidak sabar untuk segera mengutarakan isi hatiku tentang Jogja. Tapi, aku masih


menunggu waktu yang tepat sambil berusaha menata hatiku. Aku takut Mama marah


padaku karena menginginkan hal konyol seperti itu.


“ Ma. ”,aku mulai buka suara. “ Dea boleh nggak pindah ke Jogja?”, tanyaku tanpa basi-basi.


Aku ini bukanlah seorang yang bisa dengan mudahnya mengulur-ulur waktu.


“ Kenapa.”, tanya Mama halus dengan wajah datar. Apa Mama tidak kaget mendengar permintaan

__ADS_1


konyolku ini.


Bersambung...


__ADS_2