
Angkringan
Aku dan Mas Rama sama sekali tak mengikuti acara yang sedang berlangsung. Kami lebih asyik
mengobrol sambil menghabiskan makanan yang dibeli oleh Mas Rama saat meninggalkanku
tadi. Mas Rama menceritakan banyak sekali tentang Sekolah baruku juga tentang
Jogja sampai akhirnya acara selesai tepat tengah malam. Yang lebih konyol, kami
berdua tidak tahu siapa yang menjuarai ivent ini.
Samar-samar aku melihat sosok itu lagi diantara orang-orang yang tengah berjalan keluar
meninggalkan area sekolah yang mulai sepi. Syukurlah ia tidak memandang atau
menoleh kearahku. Kugandeng tangan Mas Rama saat berjalan menuju mobil. Aku
takut salah satu motor atau mobil yang berlalu lalang itu menubrukku karena aku
hilang keseimbangan.
Mas Rama menyalakan mesin mobilnya dan langsung meninggalkan sekolah yang main sepi. Aku
tak berani membuka jendela mobil karena pasti udara diluar sangat dingin meski
di luar langit sangat cerah dan bintang-bintang yang bertaburan.
“ Langsung pulang Mas?”, tantaku di dalam mobil.
“ cari makan sama anget-anget dulu Dea. Soalnya dingin banget.”, jawabnya dengan tangan yang
masih sibuk memutar kemudi stir.
“Ok.”, jawabku singkat kemudian menyandarkan kepalaku di kaca mobil.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai oleh Mas Rama membelah kota Jogja dengan kecepatan stabil sedangkan
ia sibuk sendiri dengan lagu-lagu yang aku tidak tahu itu lagu milik siapa dan
keluaran tahun berapa karena musknya yang sudah jadul sekali sambil trkadang
komat-kamit tidak jelas melafalkan syair lagu.
“ Mas.”, panggilku pada kakak sepupuku ini.
“ Ada apa?”, jawabnya tanpa memandang kearahku.
“ Masih jauh ya tempatnya?”, tanaku memastikan.
“ sebentar lagi sampai kok, itu sambil satu tikungan aja.”, jawabnya menjelaskan.
Dan Mas Rama benar menyetop mobilnya tepat setelah melewati tikungan yang ia maksud tadi. “
Turun yuk.”, ajak Mas Rama.
“ tampat apa ini Mas?”, tanyaku setelah berhasil menyebelahinya.
“ namanya Angkringan Dea, semacam cafe kaki lima gitu.”, jawab Mas Rama. Nama yang baru
kudengar, cafe kaki lima? Lucu sekali.
“ Mau kopi arang?”, tawar Mas Rama tepat saat kami berdua baru duduk.
“ Hah...,kopi arang yang bener aja Mas, masak kopi di campur arang gitu?”, tanya Dea sedikit
bingung.
“ Iya, rasanya enak tahu, kamu harus cobain deh.”, jawab Mas Rama santai.
“ hemm.. gimana ya?”, sambil mikir. “ Boleh deh.”, jawabku.
__ADS_1
“ Mbak.”, panggil Mas Rama pada pelayan di angkringan ini. “ Kopi arang dua, terus
makanan kayak biasa.”, kata Mas Rama pada pelayan ini.
“ Cukup Mas?” tanya perempuan ini halus.
“ Cukup.”, jawab mas ram kemudian tersenyum.
“ Langganan ya Mas?”, tanyaku tepat disaat pelayan meninggalkan kami berdua.
“ Iya, dulu Eyang yang ngajak aku kesini tapi sekarang datang kesini.”, jawab Mas Rama
sambil tersenyum.
“ Mas Rama kok milih Sekolah di Jogja sih? Bukannya di kota Mas Rama banyak banget sekolah
yan lebih bagus.”, tanyaku tiba-tiba.
“ Kalau kamu sendiri pindah ke Jogja kenapa?”, jebak Mas Rama. Sebuah pertanyaan yang
mematikan.
“ E..... karena aku ingin cari suasana yang baru.”, jawabku gugup.
“ Sama sepertiku dong, aku juga ingin mencari suasana baru.”, jelas Mas Rama lalu
tersenyum manis kearahku.
Bersambung...
Novel gw sepi amat ya, gimana sih biar rame, tolong tinggalin komennya ya
__ADS_1