KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Sampai di Jogja


__ADS_3

Sampai di Jogja


Tak banyak yang bisa kukerjakan di dalam pesawat. Hanya bisa duduk diam sambil memainkan jari-jariku samberi memperhatikan gerak-gerik penumpang lain yang ada disekitarku. Hiru-piuk para pramugari lumayan menggangu pemandanganku hingga akhirnya aku


tertidur.


“ Mbak bangun.”, seseorang dengan sengaja membangunkan tidurku yang singkat dan hampir


tanpa mimpi semuanya hitam. “ Pesawat sebentar lagi akan mendarat, kencangkan sabuk pengaman anda.”, katanya.


“ Terimakasih banyak.”,balasku sambil tersenyum.


Kukumpulkan seluruh nyawaku yang berceceran dimana-mana, kukucek mataku agar penglihatanku


kembali seperti semula sebelum aku tidur tadi. Cuaca hari ini sangat tidak


bersahabat sama sekali. Aku tidak bisa melihat kecerahan yang dipancarkan oleh


matahari saat sengaja memandang keadaan diluar pesawat dari balik jendela. Aku berharap


Eyang yyang sudah menungguku di Bandara agar aku tidak kehujanan saat turun


nanti.


Pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulus, hampir tidak ada guncangan. Akhirnya aku sampai


juga di Jogja, kota yang sangat kusuka. Dilihat dari segi manapun Jogja


sangatlah sempurna. Aku menunggu koperku sambil mengawasi keadaan sekitar, sesudahnya


aku mendapat koperku  aku mengikuti

__ADS_1


orang-orang yang sedang berjalan keluar dari Bandara, maklum ini adalah untuk kali


pertama naik pesawat tanpa didampingi oleh siapapun jadi wajar kalau aku


sedikir kikuk.


“ Eyang manaya? “, kataku pada diriku sendiridi depan bandara. Seseorang tiba-tiba


melambaikan tangan kearahku. Seorang wanita tua yang rambutnya sudah dipenuhi


oleh uban, ia menyajikan seulas senyummanis dari bibirnyayang sudah keriput


dimakan usia. “ Eyang!!!”, teriakku kemudian menuju kearahnya yang juga tengah


berjalan kearahku.


“ Dea.”, balas Eyang dan langsung memelukku tanpa kode terlebih dahulu. Eyang terlihat


sangat gembira menyambutku, ia pasti sangat rindu padaku begitupun denganku aku


“ Eyang langsung pulang yuk. Hampir hujan soalnya, nanti kita kehujanan.”, ajakku


sambil mengadahkan tangan dan memandang kearah langit melihat awan mendung yang


mengerikan.


“ Apa kamu tidak lapar?”, tanya Eyangku.


“ Aku belum lapar Yang, aku lelah dan cuaca mau hujan jadi kita langsung pulang saja.”,


jawabku sambil tersenyum.

__ADS_1


Benar saja, hujan turun tepat disaat aku masuk dan duduk di mobil Porsche tua Eyang. “


Kopermu sudang lengkap Dea nggak ada yang tertinggal? “, tanya Eyang memastikan


kelengkapan koperku. Eyang sangat berbeda dengan Papa yang sangat cuek apa Papa


mirip Eyang Kakaung ya? Hemp, aku tidak tahu karena eyang kakung meninggal saat


usiaku masih sekitar lima tahun. Yang kuingat dari dari sosok Eyang Kakungku


itu hanyalah senyumnya dan jenggot putih panjangnya yang sering kujadikan mainannya.


“ Di jamin udah kok Yang.”, jawabku. Tak kusangka wajahku terlihat sayu saat aku memandang


kearah kaca mobil, sapertinya aku kelelahan karena menempuh perjalanan singkat


tetapi cukup menguras energi dari Jakarta menuju Jogja.


Aku masih ingat cerita yang selalu diceritakan oleh Eyang saat aku masih kecil. Eyang


selalu cerita padaku tentang seorang Pangeran tampan dari Negri antah berantah


dengan kulit putih dan wajah rupawan, pangeran yang sengaja berkelana untuk


mencari wanita sejatinya. Pangeran yang menjadi sosok idamanku, ingin rasanya menjadikan


pangeran khayalan itu menjadi sosok nyata yang nantinya akan bersanding


denganku. Sangat lucu dan aku suka itu, kapan Eyang akan menceritakan cerita


konyol itu lagi. Dan aku berani menjamin Eyang tidakakan menceritakannya lagi

__ADS_1


padaku karena aku sudah terlalu tua untuk mendengar cerita itu lagi.


Bersambung...


__ADS_2