
Sampai di Jogja
Tak banyak yang bisa kukerjakan di dalam pesawat. Hanya bisa duduk diam sambil memainkan jari-jariku samberi memperhatikan gerak-gerik penumpang lain yang ada disekitarku. Hiru-piuk para pramugari lumayan menggangu pemandanganku hingga akhirnya aku
tertidur.
“ Mbak bangun.”, seseorang dengan sengaja membangunkan tidurku yang singkat dan hampir
tanpa mimpi semuanya hitam. “ Pesawat sebentar lagi akan mendarat, kencangkan sabuk pengaman anda.”, katanya.
“ Terimakasih banyak.”,balasku sambil tersenyum.
Kukumpulkan seluruh nyawaku yang berceceran dimana-mana, kukucek mataku agar penglihatanku
kembali seperti semula sebelum aku tidur tadi. Cuaca hari ini sangat tidak
bersahabat sama sekali. Aku tidak bisa melihat kecerahan yang dipancarkan oleh
matahari saat sengaja memandang keadaan diluar pesawat dari balik jendela. Aku berharap
Eyang yyang sudah menungguku di Bandara agar aku tidak kehujanan saat turun
nanti.
Pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulus, hampir tidak ada guncangan. Akhirnya aku sampai
juga di Jogja, kota yang sangat kusuka. Dilihat dari segi manapun Jogja
sangatlah sempurna. Aku menunggu koperku sambil mengawasi keadaan sekitar, sesudahnya
aku mendapat koperku aku mengikuti
__ADS_1
orang-orang yang sedang berjalan keluar dari Bandara, maklum ini adalah untuk kali
pertama naik pesawat tanpa didampingi oleh siapapun jadi wajar kalau aku
sedikir kikuk.
“ Eyang manaya? “, kataku pada diriku sendiridi depan bandara. Seseorang tiba-tiba
melambaikan tangan kearahku. Seorang wanita tua yang rambutnya sudah dipenuhi
oleh uban, ia menyajikan seulas senyummanis dari bibirnyayang sudah keriput
dimakan usia. “ Eyang!!!”, teriakku kemudian menuju kearahnya yang juga tengah
berjalan kearahku.
“ Dea.”, balas Eyang dan langsung memelukku tanpa kode terlebih dahulu. Eyang terlihat
sangat gembira menyambutku, ia pasti sangat rindu padaku begitupun denganku aku
“ Eyang langsung pulang yuk. Hampir hujan soalnya, nanti kita kehujanan.”, ajakku
sambil mengadahkan tangan dan memandang kearah langit melihat awan mendung yang
mengerikan.
“ Apa kamu tidak lapar?”, tanya Eyangku.
“ Aku belum lapar Yang, aku lelah dan cuaca mau hujan jadi kita langsung pulang saja.”,
jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
Benar saja, hujan turun tepat disaat aku masuk dan duduk di mobil Porsche tua Eyang. “
Kopermu sudang lengkap Dea nggak ada yang tertinggal? “, tanya Eyang memastikan
kelengkapan koperku. Eyang sangat berbeda dengan Papa yang sangat cuek apa Papa
mirip Eyang Kakaung ya? Hemp, aku tidak tahu karena eyang kakung meninggal saat
usiaku masih sekitar lima tahun. Yang kuingat dari dari sosok Eyang Kakungku
itu hanyalah senyumnya dan jenggot putih panjangnya yang sering kujadikan mainannya.
“ Di jamin udah kok Yang.”, jawabku. Tak kusangka wajahku terlihat sayu saat aku memandang
kearah kaca mobil, sapertinya aku kelelahan karena menempuh perjalanan singkat
tetapi cukup menguras energi dari Jakarta menuju Jogja.
Aku masih ingat cerita yang selalu diceritakan oleh Eyang saat aku masih kecil. Eyang
selalu cerita padaku tentang seorang Pangeran tampan dari Negri antah berantah
dengan kulit putih dan wajah rupawan, pangeran yang sengaja berkelana untuk
mencari wanita sejatinya. Pangeran yang menjadi sosok idamanku, ingin rasanya menjadikan
pangeran khayalan itu menjadi sosok nyata yang nantinya akan bersanding
denganku. Sangat lucu dan aku suka itu, kapan Eyang akan menceritakan cerita
konyol itu lagi. Dan aku berani menjamin Eyang tidakakan menceritakannya lagi
__ADS_1
padaku karena aku sudah terlalu tua untuk mendengar cerita itu lagi.
Bersambung...