
Pulang
Tak lama menunggu pesanan kami berdua datang juga. Dua gelas kopi arang dengan asap yang
masih mengepul ditambah beberapa makanan. Makanan yang dihidangkan dimeja
sangat asing bagiku. Mataku menyapu semua makanan yang dihidangkan dengan
perasaan yang aneh.
“ Kamu kenapa?”, tanya Mas Rama, sepertinya Mas Rama mengerti kalau aku merasa asing
dengan makan-makanan aneh ini. “ Kamu pasti merasa aneh ya? Aku dulu waktu
pertama kali juga merasa aneh dengan makanan disini.”, jelas Mas Rama.
Kuanggukkan kepalaku karena aku memang merasa aneh dengan makan-makanan ini.
“ Kok gosong ya Mas?”, tanyaku sambil menunjuk sebuah makanan berbentuk persegi dan gosong.
“ Itu namanya jadah bakar, makanan kesukaan Eyang. Cobain deh, enak kok.”, suruh Mas
Rama.
“ Kalau gak enak awas ya!”, ancamku.
“ Gimana?”, tanya Mas Rama setelah aku berhasil menelan sepotong kecil makanan ini.
“ Lumayan legit, tapi pahit.”, jawabku sambil menelan ludah. Mas Rama tertawa melihaku
seperti ini, kelihatannya ia senang melihat aku kepahitan.
“ cobain deh kopi arangnya, gak pahit kok.”, suruh Mas Rama lagi.
__ADS_1
“ Iya Mas rasanya gak pahit, rasa arangnya juga terasa enak.”, jawabku setelah berhasil
meneguk kopi arang. Mas rama tersenyum melihat ekspresiku.
Kulihat Mas Rama terlihat lahap sekali memakan tusuk demi tusuk sate usus ayam yang
dihidangkan di meja. “ enak ya Mas?.”, tanyaku penasaran.
“ Coba deh.”, suruhnya sambil menyodorkan beberapa tusuk sate yang masih tersisa di
piring kearahku.
“ Dea coba nih Mas.”, kataku sambil mengambil setusuk sate dengan wajah yang masih gengsi.
Aku meragukan sate ini, apa lagi bentuknya aja sudah tak lazim seperti ini.
“ Gimana?”, tanyanya dengan mimik wajah menggoda.
“ Buat Dea semua aja ya Mas.”, pintaku. Ternyata rasa sate ini enak juga.
tawaku bersamaan.
Aku sempat memandang remeh angkringan ini. Tapi angkringan ini berbeda sekali dengan apa
yang aku bayangkan. Aku jatuh cinta pada makanan-makanan sederhana yang
disajikan disini. Angkringan ini mungkin akan menjadi salah satu tempat favoritu
selama aku di Jogja.
Sepanjang jalan aku tak bisa berkata apa-apa, karena kantuk yang tengah menghadangku. Aku
tak kuat menahan rasa kantukku hingga akhirnya aku tertidur. Tidurku kali ini
__ADS_1
ternyata di singgahi oleh mimpi. Sesosok misterius mampir dalam mipiku. Ia
memegang erat tanganku sangat erat sampai aku tak bisa menggerakkan tanganku
yang digenggamnya saking kuatnya. Ia menyeret tangan aku untuk mengikuti
langkahnya tapi tiba-tiba sinar bulan yang tadinya menyinari langkah kami
hilang tertutup oleh awan hitam seperti predator yang memakan mangsanya.
Keadaan menjadi gelap dan pria itu tiba-tiba hilang. Ia sudah tidak berada di
sampingku lagi. Tepat saat cahaya bulan menghilang tadi.
“ Dea, bangun.”, Mas Rama berusaha membangunkan aku yang tertidur pulas didalam mobilnya.
Aku sedikit membuka mata dan aku baru sadar ternyata itu hanya mimpi. “Iya Mas.”, Ternyata
kami sudah sampai di halaman rumah Eyang. Aku bergegas turun dari mobil Mas
Rama dan langsung masuk rumah.
Ternyata Eyang masih melihat acara TV saata aku berjalan melewati ruang tengah. Aku
hanya menyapa Eyang dan tidak bergabung dengannya akarena aku sudah sangat
mengantuk.
Bersambung...
kenapa novel ini sepi sekali ya gimana sih caranya agar rame?
__ADS_1
tolong komen ya dan jangan lupa likenya juga.
Terima kasih.