KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Rumah Eyang


__ADS_3

Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai dirumah Eyang. Hujan kini sudah reda jadi


aku tidak butuh payung untuk menjaga tubuhku yang kering. Saat turun dari mobil


aku melihat seseorang yang sangat asing untukku, dan sialnya ia tengah


mengamatiku. Sorot mata dibalik kacamatanya amat tajam, apa ada yang salah


dengan diriku sehingga membuatnya memandangku seperti ini. Kuamati rupaku dari


spion mobil mencari tahu apa yang salah dengan penampilanku yang mengundang


sorot mata tajam yang ia hujamkan kearahku.


Tidak ada yang salah dengan diriku, tidak ada yang aneh dengan wajahku, semuanya


normal-normal saja. Tidak ada jerawat yang tumbuh, tidak ada noda yang kontras


mengotori wajahku, ataupun liur yang mengering di pipi. Semuanya baik-baik


saja. Mungkin orang itu yang aneh bukan aku.


Kuturunkan koperku satu persatu dari dalam bagasi. Sedang Eyang sudah dulu masuk dalam


rumah. Tapi tiba-tiba laki-laki muda itu bangkit dari kursinya kemudian berjaln


kearahku dan menyerobot koper yang berada disamping kakiku. Ia membawa masuk


koperku  tanpa ijin terlebih dulu pada aku, pemiliknya. Ia membawa koperku dengan sangat cepet dan tak kembali lagi padahal aku masih menunggunya untuk menanyai siapa dia sebenarnya dan mengapa


dia memandangku dengan pandangan yang tidak kusukai karena membuatku tidak

__ADS_1


nyaman.


“ Dea.”, pangil Eyang agar aku segera masuk kedalam rumah karena cuaca memburuk lagi. Di


dalam Eyang mendudukkanku di sofa yang berbahan dasar kayu. Ia menyuruh untuk


tetap diam dalam posisi ini sedangkan Eyang masuk lagi kedalam.


Saat kebali Eyang terlihat membawa sebuah kunci. “ Dea, ikut Eyang.”, suruh Eyang. “ Eyang


mau nganterin kamu kekamar yang akan kamu tempatiselama tinggal disini.”, jelas


Eyang.


“ Kamar? Bukan kamaar yang biasa Dea tempati ya Yang?”, tanyaku bingung. Akan pindah ke


kamar mana aku ini, padahal aku sudah puny kamar favorit. Kamar yang selalu


kutempati saat berkunjung ke rumah Eyang.


inin adalah sebuah kamar. Eyang membuka kamar dengan cepat karena tahu kalau


aku sudah sangat lelah. Tuhan, kamar yang sang sangat indah tepat berada


didepan mataku.


“ Kamu suka?”, tanya Eyang.


“ Suka banget, bagus yang”, jawabku sumringah. Aku sangat suka sekali dengan kamar ini.


“ Ayo masuk.”, Ajak Eyang. Eyang masuk mendahuluiku kedalam kamar baru disusul olehku

__ADS_1


yang berjalan dibelakangnya. “ Ini dulu kamar Papa kamu,dengan sedikit polesan


warna kesukaanmu kamar ini jadi bagus lagi bukan? “, tanya Eyang sambil


menyenggol lenganku.


“ Bener banget Yang. Dea suka banget, coklat.”, jawabku dengan penuh senyum.


“ Eyang tinggal dulu, kamar kamu rapiin sendiri ya.”, kata Eyang sebelum meninggalkanku.


“ Ok.”, balasku singkat. Aku suka Eyang meninggalkanku karena aku bisa merapikan


kamarku sendiri. Kamar bauku ini sangat bagus, lebih besar dari kamarku di


Jakarta. Tapi aku tidak bisa bohong kalau aku lebih menyikai kamarku sendiri.


Jogja adalah kota yang sangat indah, dari segimanapunJogja sangatlah sempurna dan aku suka


akan hal itu. Di kota ini aku akan memulai hari baru. Mencoba mencari coklatku


yang terengut sejak Papa dan Mama berkonflik. Konfik yang sebenarnya tak


berakar.


Tak henti-hentinya kukagumi kamar baruku ini. Hingga membuatku tak bisa tidur


padahal rencana awalku adalah ingin tidur karena kecapian. Mataku terus terjaga


tanpa bisa kupejamkan.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya kalau ada kata-kata yang salah, tolong di maklumi karena saya baru pertama kali menulis novel.


Hahaha.....


__ADS_2