
Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai dirumah Eyang. Hujan kini sudah reda jadi
aku tidak butuh payung untuk menjaga tubuhku yang kering. Saat turun dari mobil
aku melihat seseorang yang sangat asing untukku, dan sialnya ia tengah
mengamatiku. Sorot mata dibalik kacamatanya amat tajam, apa ada yang salah
dengan diriku sehingga membuatnya memandangku seperti ini. Kuamati rupaku dari
spion mobil mencari tahu apa yang salah dengan penampilanku yang mengundang
sorot mata tajam yang ia hujamkan kearahku.
Tidak ada yang salah dengan diriku, tidak ada yang aneh dengan wajahku, semuanya
normal-normal saja. Tidak ada jerawat yang tumbuh, tidak ada noda yang kontras
mengotori wajahku, ataupun liur yang mengering di pipi. Semuanya baik-baik
saja. Mungkin orang itu yang aneh bukan aku.
Kuturunkan koperku satu persatu dari dalam bagasi. Sedang Eyang sudah dulu masuk dalam
rumah. Tapi tiba-tiba laki-laki muda itu bangkit dari kursinya kemudian berjaln
kearahku dan menyerobot koper yang berada disamping kakiku. Ia membawa masuk
koperku tanpa ijin terlebih dulu pada aku, pemiliknya. Ia membawa koperku dengan sangat cepet dan tak kembali lagi padahal aku masih menunggunya untuk menanyai siapa dia sebenarnya dan mengapa
dia memandangku dengan pandangan yang tidak kusukai karena membuatku tidak
__ADS_1
nyaman.
“ Dea.”, pangil Eyang agar aku segera masuk kedalam rumah karena cuaca memburuk lagi. Di
dalam Eyang mendudukkanku di sofa yang berbahan dasar kayu. Ia menyuruh untuk
tetap diam dalam posisi ini sedangkan Eyang masuk lagi kedalam.
Saat kebali Eyang terlihat membawa sebuah kunci. “ Dea, ikut Eyang.”, suruh Eyang. “ Eyang
mau nganterin kamu kekamar yang akan kamu tempatiselama tinggal disini.”, jelas
Eyang.
“ Kamar? Bukan kamaar yang biasa Dea tempati ya Yang?”, tanyaku bingung. Akan pindah ke
kamar mana aku ini, padahal aku sudah puny kamar favorit. Kamar yang selalu
kutempati saat berkunjung ke rumah Eyang.
inin adalah sebuah kamar. Eyang membuka kamar dengan cepat karena tahu kalau
aku sudah sangat lelah. Tuhan, kamar yang sang sangat indah tepat berada
didepan mataku.
“ Kamu suka?”, tanya Eyang.
“ Suka banget, bagus yang”, jawabku sumringah. Aku sangat suka sekali dengan kamar ini.
“ Ayo masuk.”, Ajak Eyang. Eyang masuk mendahuluiku kedalam kamar baru disusul olehku
__ADS_1
yang berjalan dibelakangnya. “ Ini dulu kamar Papa kamu,dengan sedikit polesan
warna kesukaanmu kamar ini jadi bagus lagi bukan? “, tanya Eyang sambil
menyenggol lenganku.
“ Bener banget Yang. Dea suka banget, coklat.”, jawabku dengan penuh senyum.
“ Eyang tinggal dulu, kamar kamu rapiin sendiri ya.”, kata Eyang sebelum meninggalkanku.
“ Ok.”, balasku singkat. Aku suka Eyang meninggalkanku karena aku bisa merapikan
kamarku sendiri. Kamar bauku ini sangat bagus, lebih besar dari kamarku di
Jakarta. Tapi aku tidak bisa bohong kalau aku lebih menyikai kamarku sendiri.
Jogja adalah kota yang sangat indah, dari segimanapunJogja sangatlah sempurna dan aku suka
akan hal itu. Di kota ini aku akan memulai hari baru. Mencoba mencari coklatku
yang terengut sejak Papa dan Mama berkonflik. Konfik yang sebenarnya tak
berakar.
Tak henti-hentinya kukagumi kamar baruku ini. Hingga membuatku tak bisa tidur
padahal rencana awalku adalah ingin tidur karena kecapian. Mataku terus terjaga
tanpa bisa kupejamkan.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya kalau ada kata-kata yang salah, tolong di maklumi karena saya baru pertama kali menulis novel.
Hahaha.....