
Festival Band & Seorang Misteri
Mas Rama segera menyalakan mobilnyakarena malam makin larutdan kami tak mau terlambat.
So amazing, Jogja sangat ramai di waktu malam dengan lampu yang bersinar dengan
sangat terang. Tak waktu lama kami sampai juga di tempat tujuan kami. Sekolah
Mas Rama yang nantinya juga akan menjadi Sekolahku.
“ Ini sekolah kamu.”, kata mas rama sambil terkekeh.
“ Baru calon Mas.”, jawabku tak kalah lucu. Mas Rama tertawa mendengar jawabanku yang satu
ini.
Aku sudah bisa menebak, event apa yang sedang berlangsungdi dalam meski aku belum masuk
area Sekolah. Festival band aku bisa menebaknya dari gebukan drum yang
membahana dan melodi yang mengalun harmonis.
“ Festival band ya? “, tanyaku sedikit berteriak.
“ Iya, ayo masuk.”, jawab Mas Rama.
Festival Band di sini tak seramai dan sebesar di Jakarta. Hanya ada band dari tingkat
SMA sederajat yang emngikutinya. Mas Rama terlihat menikmati acara ini. Akupun mencoba untuk menikmati juga, kebanyakan dari band-band ini membawakan lagu-lagu lokal yang tengah booming, cukup
menghibur.
“ Asyik nggak Dea? “, tanya Mas Rama dengan teriak karena suara musik yang terlalu
__ADS_1
keras.
“ Lumayan Mas.”, jawabku mengambang.
“ Kok lumayan?”, tanya Mas Rama lagi. Kujawab pertanyaan Mas Rama dengan sebuah
senyum yang kulontarkan padanya.
“ Mas aku capek banget.”, rajukku.
“ Ya udah, duduk di situ yuk.”, ajak Mas Rama dengan tangan menunjuk sebuah bangku yang
terletak di pinggir lapangan. Aku berjalan mendahului Mas Rama karena sudah
benar-benar lelah dan kakiku ini sudah kelewat pegal.
“ Tunggu disini sebentar ya, aku mau beli minun dulu di depan.”, katanya. “ Jangan
kemana-mana.”, pesan Mas Rama sebelum benar-benar meninggalkanku lagi sendiri
irama lagu yang terkadang mengalun harmonis tetapi terkadang juga ambaradul
tidak jelas.
Kuambil hp ku yang kusentuh sama sekalidi saku celana. Aku berusaha menyibukkan diri
dengan hp samberi menunggu Mas Rama kembali. Dari kejauhan lamat-lamat kulihat
lelaki muda tengah mengamatiku, aku yakin itu. Aku merasa kikuk, benar-benar
kikuk. Karena tak biasanya ada orang yang memperhatikanku sampai seperti itu.
Kucoba untuk tetap santai agar orang itu tak curiga terhadapku, dengan sikap
__ADS_1
konyol yang bisa dengan tiba-tiba keluar. Diam-diam aku mencuri pandang
laki-laki itu, sial ia tengah membuatku ampir pingsan. Apa ada yang salah
denganku sehingga membuatku tertarik untuk memperhatikanku dengan pandagan
setajam itu. Syukurlah Mas Ram datang disaat yang tepat, disaat aku benar-benar
membutuhkannya karena ketakutan bukan main.
“ Nunggu lama ya?”, tanya Mas Rama yang langsung duduk disampingku.
“ Lumayan.”, jawabku sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan dengan maksud
menggodanya. Mas Rama menyerahkan es teh yang ditempatkan pada sebuah gelas
plastik yang ada di genggamnya, sangat praktis. Tak lupa ia juga membeli
makanan ringan untuk teman ngobrol.
“ Ada yang ganggu kamu nggak pas aku tinggal tadi?”, tanyaku tiba-tiba yang membuatku
hampir tersedak karena kaget.
“ So far nggak ada Mas, tapi ngak tahu nanti.”, jawabku. Aku sengaja, tak menceritakan
kejadian yang baru saja terjadi. Aku tak ingin membuat Mas Rama cemas dan juga
repot mengurusi masalah sepeleku.
Aku clingak-clinguk mencari seseorang yang mengawasiku tadi, aku sedikit lega
karena orang yang mengawasiku sudah tidak ada.
__ADS_1
Bersambung...