
Persetujuan
“ Dea ingin lebih dekat dengan eyang dan Dea juga ingin mendapat suasana baru disana.”,
jelasku pada Mama. Yang kukatakan memang benar, aku ingin mencari suasana baru
mencari keceriaanku yang hilang.
“ Kamu nggak bohong.”, tanya Mamaku lagi. Kugelengkan kepalaku pertanda tidak. “ Bukan karena
masalah Mama dan Papa kan? ”, lanjut Mama sepertinya Mama memang sengaja
menjebakku dengan pertanyaan ini.
“ Nggak Ma, sama sekali nggak kok.”, jawabku sedikit gugup.
“ Kalau itu mau kamu Mama nggak bisa nahan kamu, tapi bagaimanapun kami harus tanya sama
Papa dan Mama yakin Papa yakin setuju.”, kata Mama. Mama mulai membual, mana
pernah Mama membicarakan tentangkupada Papa. “ Mama akan mengurus semua syarat
kepin dahanmu, dan kamu bisa sacepatnya berangkat.
“ Makasih Ma.”, ucapku sambil mengusap pundaknya. Aku sungkan untuk mencium pipi Mama
karena sudah lama sekali aku tak melakukan hal itu.
Ternyata tak sesulit tang kupikirkan. Mama dengan mudahnya menyetujui rencana konyolku. Tugasku
sekarang hanya bersiap-siap dan juga membangun mentalku yang lembek. Satu lagi,
aku harus berusaha membesarkan juga meluluhkan hati sahabat terbaikku Vivi agar
ia melepasku pergi ke Jogja.
__ADS_1
Mama menjadwalkanku untuk berangkat lusa. Semua persyaratan kepindahanku sekolahku
sudah lengkap. Menunggu hari H sangat membosankan memang tapi aku tidak bisa
menjilat ludahku sendirikarena semuanya sudah terlanjur terlontar dalam
mulutku.
Dua hari memang sangat singkat, tiba waktunya untukku berangkat ke Jogja. Rencananya
Mama dan Vivi akan mengantarku sampai Bandara,sedangkan Papa tidak bisa ia
tidak bisa mengantarkukarena sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi aku sudah
mengantongi restudari Papa untuk pindah ke Jogja, Rumah eyang.
Hari ini Jakarta sangatlah bersahabat. Langit biru cerah tanpa sedikitpun noda. Angin
sepoi menerpa rambutku yang sengaja kubiarkan tergerai saat membuka kaca mobil.
di dalam tas biru yang kusandarkan dibahu karena aku pasti membutuhkannya
selama dipesawat untuk membunuh waktu.
Tak terasa aku sudah sampai di bandara. Rasanya campur aduk antara rasa bahagia dan sedih.
Bahagia karena aku akan segera menjalani hidup baruku di Jogja sedih karena
harus meninggalkan mereka yang kusayangi disini.
“ Sampaikan salam Mama untuk Eyang.”, pinta Mama padaku dengan suara lirih. Mata Mama mulai
berkaca-kaca sekarang airmatanya sebentar lagi pasti akan tumpah. “ Kamu
baik-baik disana jangan lupa sering-sering kasih kabar sama Mama ya.”, pesan
__ADS_1
Mama.
“ Iya Ma.”, balasku. Aku tak tega melihat Mama menangis seperti ini. Tapi jujur aku bahagia
melihat Mama seperti itu yang artinya Mama masih sayang padaku.
“ Vi, elo akan tetap jadi sahabat gw sampai kapanpun itu gw sayang elo.”, bisikku
ditelinganya dengan tangan kulingkarkan di lehernya.
“ Gw juga Dea, kalau libur panjang jangan lupa pulang ya.”, pesannya sebelum aku
meninggalkannya.
“ Ma, Vi aku masuk dulu. Aku sangat merindukan kalian.”, kataku sebelum masuk meninggalkan
mereka yang tak bisa mengantarku sampai kedalam. Kukecup punggung tangan Mama
dengan penuh kesedihan karena aku akan meninggalkannya. Kucium pula kedua pipi
Mama dengan penuh perasaan. Berharap mereka akan terus mengingat dan merindukanku.
Setelah serasa cukup segeralah aku berjalan meninggalkan mereka sambil terus
memandang kearah belakang, kearah mereka berdiri sampai akhirnya mengilang dari
pandanganku tepat di sebuah belokan.
Hari ini adalah hari terberat dalam hidupku. Karena harus meninggalkan Mama dan Papa
tapi ini sudah menjadi keputusanku. Sebuah rencana besar yang mungkun juga akan
merubah hidupku secara besar-besaran.
Bersambung...
__ADS_1