KESEMPURNAAN COKLAT

KESEMPURNAAN COKLAT
Persetujuan


__ADS_3

Persetujuan


“ Dea ingin lebih dekat dengan eyang dan Dea juga ingin mendapat suasana baru disana.”,


jelasku pada Mama. Yang kukatakan memang benar, aku ingin mencari suasana baru


mencari keceriaanku yang hilang.


“ Kamu nggak bohong.”, tanya Mamaku lagi. Kugelengkan kepalaku pertanda tidak. “ Bukan karena


masalah Mama dan Papa kan? ”, lanjut Mama sepertinya Mama memang sengaja


menjebakku dengan pertanyaan ini.


“ Nggak Ma, sama sekali nggak kok.”, jawabku sedikit gugup.


“ Kalau itu mau kamu Mama nggak bisa nahan kamu, tapi bagaimanapun kami harus tanya sama


Papa dan Mama yakin Papa yakin setuju.”, kata Mama. Mama mulai membual, mana


pernah Mama membicarakan tentangkupada Papa. “ Mama akan mengurus semua syarat


kepin dahanmu, dan kamu bisa sacepatnya berangkat.


“ Makasih Ma.”, ucapku sambil mengusap pundaknya. Aku sungkan untuk mencium pipi Mama


karena sudah lama sekali aku tak melakukan hal itu.


Ternyata tak sesulit tang kupikirkan. Mama dengan mudahnya menyetujui rencana konyolku. Tugasku


sekarang hanya bersiap-siap dan juga membangun mentalku yang lembek. Satu lagi,


aku harus berusaha membesarkan juga meluluhkan hati sahabat terbaikku Vivi agar


ia melepasku pergi ke Jogja.

__ADS_1


Mama menjadwalkanku untuk berangkat lusa. Semua persyaratan kepindahanku sekolahku


sudah lengkap. Menunggu hari H sangat membosankan memang tapi aku tidak bisa


menjilat ludahku sendirikarena semuanya sudah terlanjur terlontar dalam


mulutku.


Dua hari memang sangat singkat, tiba waktunya untukku berangkat ke Jogja. Rencananya


Mama dan Vivi akan mengantarku sampai Bandara,sedangkan Papa tidak bisa ia


tidak bisa mengantarkukarena sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi aku sudah


mengantongi restudari Papa untuk pindah ke Jogja, Rumah eyang.


Hari ini Jakarta sangatlah bersahabat. Langit biru cerah tanpa sedikitpun noda. Angin


sepoi menerpa rambutku yang sengaja kubiarkan tergerai saat membuka kaca mobil.


di dalam tas biru yang kusandarkan dibahu karena aku pasti membutuhkannya


selama dipesawat untuk membunuh waktu.


Tak terasa aku sudah sampai di bandara. Rasanya campur aduk antara rasa bahagia dan sedih.


Bahagia karena aku akan segera menjalani hidup baruku di Jogja sedih karena


harus meninggalkan mereka yang kusayangi disini.


“ Sampaikan salam Mama untuk Eyang.”, pinta Mama padaku dengan suara lirih. Mata Mama mulai


berkaca-kaca sekarang airmatanya sebentar lagi pasti akan tumpah. “ Kamu


baik-baik disana jangan lupa sering-sering kasih kabar sama Mama ya.”, pesan

__ADS_1


Mama.


“ Iya Ma.”, balasku. Aku tak tega melihat Mama menangis seperti ini. Tapi jujur aku bahagia


melihat Mama seperti itu yang artinya Mama masih sayang padaku.


“ Vi, elo akan tetap jadi sahabat gw sampai kapanpun itu gw sayang elo.”, bisikku


ditelinganya dengan tangan kulingkarkan di lehernya.


“ Gw juga Dea, kalau libur panjang jangan lupa pulang ya.”, pesannya sebelum aku


meninggalkannya.


“ Ma, Vi aku masuk dulu. Aku sangat merindukan kalian.”, kataku sebelum masuk meninggalkan


mereka yang tak bisa mengantarku sampai kedalam. Kukecup punggung tangan Mama


dengan penuh kesedihan karena aku akan meninggalkannya. Kucium pula kedua pipi


Mama dengan penuh perasaan. Berharap mereka akan terus mengingat dan merindukanku.


Setelah serasa cukup segeralah aku berjalan meninggalkan mereka sambil terus


memandang kearah belakang, kearah mereka berdiri sampai akhirnya mengilang dari


pandanganku tepat di sebuah belokan.


Hari ini adalah hari terberat dalam hidupku. Karena harus meninggalkan Mama dan Papa


tapi ini sudah menjadi keputusanku. Sebuah rencana besar yang mungkun juga akan


merubah hidupku secara besar-besaran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2