Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng

Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng
10. Berdua Denganmu


__ADS_3

Fian mempersilakan kita buat duduk. "Lo berdua mau minum apa?" tanya Fian.


"Gue kayak biasa," kata Rizki.


"Gue ngikut Rizki aja," kata gue.


"Lo ngobam juga?" tanya Fian ke gue.


"Apa?!" Gue kaget. "Lo suka minum?" tanya gue ke Rizki.


"Minum apaan sih! lo itu dibohongin sama Fian. Tadi itu, maksud gue air putih," kata Rizki menjelaskan.


Fian ketawa ngeliat gue panik. "Za, biasa aja kali mukanya, muka lo tegang banget. Gue kasih tau ya, Rizki ini emang bandel, tapi dia itu ga pernah tuh, minum-minuman yang kayak gitu," jelas Fian.


"Enak aja gue dibilang bandel!" kata Rizki. Ia ga terima lah dikatain bandel sama Fian.


"Lagian, lo dari tadi, ngeledekin gue mulu!" kata gue.


"Habisnya lo lucu banget, langsung merah gitu mukanya," kata Fian.


"Nyebelin banget sih lo!" kata gue.


"Ya udah, gue ke belakang dulu ngambil minuman," kata Fian sambil ninggalin gue sama Rizki.

__ADS_1


"Eh, lu beneran ga minum, kan?" tanya gue ke Rizki langsung.


"Lo udah nga percaya lagi sama gue?" kata Rizki.


Gue natap Rizki, di bola matanya ga ada sedikitpun kebohongan. "Gue percaya sama lo," ucap gue pada akhirnya. Karena emang dia itu jujur, ga bohong sama gue.


Fian berdehem, dia ngeliat kita berdua, dia senyum. "Ini, gue bawain pesenam kalian, ini juga ada snack. Kalo lo butuh apa-apa, gue ada dikamar," kata Fian.


Fian ninggalin kita berdua.


Tiba-tiba HP gue bunyi, nyokap nelpon. Dia bilang, dia pulang malam, bokap sama adik gue masih belum balik ke Kediri ternyata. Mereka masih di Malang. Gue cerita kalo gue lagi di rumah teman, tapi gue ga cerita kalo gue lagi di rumah Fian. Nyokap nutup telpon.


"Za, gue masih bingung sama hubungan kita," kata Rizki.


"Surat yang gue kasih waktu itu–" ucapan Rizki kepotong.


"Udah gue baca kok," kata gue.


"Lo nangis?" tanya Rizki.


"Enggak kok, gue nguap tadi," kata gue mengelak.


"Lo jangan bohong," kata Rizki. Rizki ngehapus air mata gue.

__ADS_1


Gue natap Rizki. "Gue butuh sandaran!" kata gue.


Rizki faham apa maksud gue.


"Gue mau jujur sama lo. Sebenarnya gue udah sering banget bohongin lo. Lo ingat, waktu lo datang ke rumah gue buat ngasih surat, sebenarnya gue ga kemana mana, gue sembunyi. Terus waktu disekolah, gue juga tetap di situ, gue ga pernah ... gue ga pernah ke mana-mana setiap lo datang, gue selalu nyuruh temen-temen gue buat bohong sama lo. Gue terlalu egois, gue ga mau tau tentang perasaan gue," kata gue.


Tangis gue pecah, Rizki meluk gue. "Za, udah. Lo nga perlu ngelanjutin, gue udah tau," kata Rizki nenangin gue.


Gue masih diam dalam pelukan Rizki, rasanya nyaman banget. "Surat yang lo kasih waktu itu udah buat gue sadar, selama ini gue udah nyia-nyiain orang yang sayang sama gue. Apa gue salah udah jatuh cinta sama lo?" tanya gue.


Gue natap Rizki, dia natap balik. "Enggak, lo nga salah. Makasih udah mau jujur sama gue," kata Rizki.


"Lo maafin gue?" tanya gue.


"Kenapa enggak! Setiap orang kan berhak dapat kesempatan dan lo juga berhak dapat kesempatan itu," kata Rizki.


"Makasih udah ngertiin gue selama ini," kata gue.


"Gue mau cerita sama lo," kata Riski.


"Cerita aja!" jawab gue.


Rizki cerita Panjang kali Lebar sama dengan Luas, dia belum selesai cerita, gue udah tidur duluan. Gue masih setengah sadar, Rizki ngeliatin gue lama banget, dia ngecup gue.

__ADS_1


Rizki bawa gue pergi, gue ga tau ke mana, kayaknya ke kamar. Dia selimutin gue. Dia ninggalin gue.


__ADS_2