Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng

Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng
30. Menemukan Ketulusan


__ADS_3

Hari ini Ervan dan Ana bersekolah di sekolah negeri pilihan ayah mereka. Hari pertama sekolah, Pak Budi mengantarkan putra dan putrinya. Ana sangat bersemangat dengan hal ini, lain dengan Ervan yang tampak lesu, tersenyum saja tidak.


Pak Budi bersama putra putrinya telah sampai di SMA negeri pilihan Pak Budi. Sejak datang, mereka sudah menyabet perhatian siswa dan siswi yang ada di situ. Terutama, Lamb*rghini yang dipakai Pak Budi menjadi sorotan utama. Mobil itu sukses membuat siswa dan siswi bertanya-tanya heran. Siapakah yang datang ke sekolah mereka dengan mobil mewah seperti itu?


Ervan dan Ana hanya mengikuti ayah mereka. Pak Budi berhenti di dekat dua orang siswi yang sedang bercanda ria di taman. "Halo, apa saya mengganggu kalian?" sapa Pak Budi ramah.


Keduanya lantas tersenyum. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satunya.


Pak Budi mengangguk. "Bisa tunjukkan ruang kepala sekolah?"


"Tentu bisa, mari ikut kami!"


...****...


Mereka telah selesai dari ruang kepala sekolah, sedangkan dua siswi tadi telah pergi dikarenakan bel masuk telah berbunyi. Ervan menempati kelas 11 Mipa 3 dan Ana menempati kelas 10 Mipa 2.


Pak Rodi, kepala sekolah SMA negeri tersebut keluar dari ruangannya dan menghampiri Pak Budi beserta kedua anaknya.


"Ekhm, mari saya antar ke kelas," ucap Pak Rodi.


Pak Budi menoleh dan tersenyum, "Sebentar, Pak." Pak budi mengusap kepala kedua anaknya dan berpesan pada Ervan, "Jaga adikmu, oke!"


Pak budi memandangi Pak Rodi. "Saya titip mereka ya, Pak?"


Pak Rodi mengangguk. "Tentu saja. Ayo anak-anak, bapak antar kalian ke kelas. Mari, Pak."


...****...


Sudah satu minggu mereka bersekolah di SMA tersebut. Ana mendapatkan apa yang diinginkan, dia mempunyai tiga sahabat. Memang semua teman Ana baik semua, mereka memperlakukan Ana biasa, sama seperti yang lain. Tentu saja Ana senang dengan hal itu.


Walaupun Ana berteman dengan semuanya, ada tiga orang siswi yang dekat dengan Ana. Mereka dari kalangan bawah, tapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk terus mencapai cita-cita. Mereka anak pintar yang masuk dengan beasiswa di SMA negeri ini.


Lain dengan Ana, Ervan pun tidak mendapatkan teman satu pun. Ervan selalu memasang wajah datar dan angkuh membuat teman-temannya mengecap Ervan sombong. Ervan pun sama, remaja laki-laki berusia 17 tahun tersebut juga enggan berbicara pada mereka jika tidak berkepentingan saja.


Tapi meskipun begitu, ada dua laki-laki yang biasanya mengajak Ervan ke kantin atau sekedar melayangkan candaan. Lagi-lagi itu seperti angin lalu untuk Ervan. Dia menanggapi dengan dingin.

__ADS_1


Tapi lain dengan kali ini, wajah dinginnya tergantikan dengan wajah gusar dan panik. Ini hari Senin dan Ervan lupa membawa topinya, bagaimana jika Ervan dihukum? Ervan tidak mungkin meminjam topi milik Ana, jika seperti itu pasti adiknya yang kena hukuman.


Seorang siswi melihat Ervan dengan wajah paniknya sedang mengaduk-aduk isi tas. Siswi itu mendatangi Ervan. "Kenapa, Van?" tanyanya ramah.


"Ga bawa topi," jawab Ervan singkat.


"Ohww," jawabnya lalu terkekeh pelan.


Ervan mengernyit heran. "Kenapa?"


"Udah jangan cemas gitu, bentar ya ...."


Siswi itu pergi, di tangannya ia menentang dua buah topi, lalu yang satu ia ulurkan pada Ervan. "Nih, pake!"


"Kalau aku pake itu, kamu pake apa?" Ervan tidak melihat topi satunya, karena topi satunya disembunyikan di belakang badan.


"Aku make ini, udah kamu pake aja." Siswi itu menunjukkan topi miliknya. Ervan memandangi topi itu dengan ragu, pada akhirnya ia mengambil topi itu.


"Udah buruk ya, maaf itu topi lamaku. Atau kamu mau tukar dengan topi yang aku pakai ini?"


"Kalo gitu, ayo keluar. Upacaranya tinggal 4 menit lagi," ucap siswi itu.


Ervan mengangguk dan tersenyum tipis.


...****...


Waktu istirahat telah tiba, siswa maupun siswi beserta guru segera menghentikan aktivitas untuk menjalani istirahat 20 menit. Ana segera merapikan buku dan alat tulis yang berserakan di mejanya.


Setelah selesai, ketiga temannya segera menyeret Ana ke kantin lantaran perut mereka sangat berisik. Ana hanya pasrah ketika ditarik ke meja pojok kanan, dekat dengan penjual bakmi. Setelah mendapatkan bakmi yang mereka inginkan, Ana dan ketiga temannya segera menyantap makanan berkuah itu.


Di sisi lain, Ervan ingin mengajak kedua lelaki jangkung yang biasa mengajaknya ke kantin, tapi ia canggung. Mereka sedang menyalin PR dari salah satu siswi, padahal biasanya mereka anak yang mengumpulkan PR pertama.


Sementara anak-anak lain sudah berhamburan keluar kelas, entah itu ke kantin, menjahili teman lainnya atau bermain voli di lapangan.


Setelah memantapkan hati, Ervan membuang rasa canggungnya. Ervan memilih duduk di kursi depan Gion yang sudah kosong.

__ADS_1


"Edgar, Gion," sapa Ervan pada keduanya.


Edgar mendongak sejenak menatap Ervan, "Kenapa, Van?" setelah itu kembali menunduk untuk menyelesaikan PR-nya.


"Kalian ga ke kantin? Ga laper?"


Kini bergantian Gion, cowok dengan rambut ikal itu memberikan ekspresi masam. "Sebenarnya kami sudah lapar sejak tadi, tapi kami harus menyelesaikan ini dulu."


"Benar, tunggulah kami jika ingin ke kantin. Hanya tinggal dua nomor lagi."


"Baiklah." Ervan kembali ke tempat duduknya.


...****...


Ketiga remaja laki-laki itu sudah sampai di kantin, tempat itu terlihat sangat ramai karena mereka terlambat pergi.


"Yah, mejanya penuh semua," keluh Edgar.


Ervan melihat-lihat seisi kantin, masih ada beberapa bangku tersisa, salah satunya di meja adiknya, Ana. "Kita jajan aja dulu, kalau emang tempatnya udah penuh, dibawa ke kelas aja. Ga papa, kan?"


"Ga papa, tapi enakan makan di kantin."


"Tapi bener kata Ervan, kita beli aja dulu. Siapa tahu masih ada yang kosong. Ayo, keburu tambah rame nanti, malah kita ga dapet tempat duduk," timpal Gion.


Mereka mengangguk bersamaan, kemudian berpencar mencari makanan yang mereka inginkan masing-masing. Setelah mendapatkan yang diinginkan, Ervan mengajak keduanya menuju meja yang dihuni oleh empat remaja perempuan.


"Dek," panggil Ervan saat adiknya selesai bicara dengan temannya.


Ana menoleh, mendapati kakaknya dan 2 orang remaja jangkung. "Kak Ervan."


Ervan tersenyum tipis. "Kakak sama temen-temen boleh duduk di sini sama kalian?"


Ana menepuk tempat duduk di sebelah kanannya yang masih tersisa luas. "Silakan, Kak," ucapnya sembari tersenyum.


Ervan memberikan kode pada kedua temannya untuk bergabung dengan Ana dan temannya.

__ADS_1


__ADS_2