
Ana, begitulah ia disapa. Arfiana Rulita Wahyu, seorang remaja SMA berusia 16 tahun. Gadis cerewet, periang yang kerap membanggakan kedua orang tuanya. Gadis yang terlahir dari kalangan berada, orang tuanya seorang PNS. Ibunya seorang bidan di rumah sakit ternama dan ayahnya seorang kepala kepolisian.
Saat ini Ana sedang merenung di balkon kamarnya, berkali-kali ia menghela napas kasar. Ana merasa hidupnya begitu hambar, ia tidak memiliki teman selain kedua orang tua dan kakak laki-lakinya.
Terakhir dia memiliki teman tulus saat kelas 9 SMP, tapi sayang temannya itu pindah ke luar kota mengikuti orang tuanya. Di SMA ini, Ana tidak memiliki teman yang tulus, semua temannya hanya ingin berteman karena harta orang tuanya saja.
Gadis itu menyudahi acara merenungnya, ia menutup pintu balkon yang menjadi pemisah antara kamarnya dan balkon. Dia menghempaskan tubuh di kasur kesayangannya.
"Aku ga bisa gini terus, aku lelah dengan semua yang fake," ucapnya sambil menatap langit-langit kamar.
Ana bangun dari kasurnya, lalu keluar kamar. Langkah kaki menuntunnya menuju ruang keluarga, di sana keluarganya sedang berkumpul. Gadis itu kemudian duduk di sofa sebelah Ervan. Kakak laki-laki Ana.
"Ada apa Ana? Kenapa kamu cemberut seperti itu?" tanya Pak Budi ketika melihat putri bungsunya menunduk.
Ana mengangkat wajah penuh harap. "Aku menginginkan sesuatu, apa Ayah bisa mengabulkannya?" tanya Ana pada sang ayah dengan hati-hati.
Ervan mencubit hidung adiknya gemas. "Jangan bercanda, Ana! Ayah kita itu kaya, apa pun yang kamu minta pasti akan dikabulkan," ucap Ervan.
Ana menatap Ervan sebal. "Jangan cubit hidungku, nanti jadi gatal gara-gara dicubit sama kakak," ucap Ana sembari mengusap hidung bekas cubitan Ervan.
Pak Budi menyahut permintaan putrinya dengan ramah, "Tentu saja putriku. Apa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
Bukannya segera menjawab, tapi Ana malah menatap kedua orang tuanya.
"Bicaralah, Sayang. Kami tidak tahu apa yang kamu inginkan, jika kamu hanya menatap kami memohon seperti itu," ucap Gina selaku ibunya Ana. Dia tidak tau apa yang diinginkan putrinya, jika Ana diam saja.
Setelah lama terdiam akhirnya Ana bersuara. "Aku ingin pindah sekolah, Ayah," ucapnya setelah menarik nafas.
Pernyataan Ana sukses membuat ketiga orang yang ada di dekatnya terkejut. "Kenapa ingin pindah sekolah? Bukankah selama ini kamu nyaman dengan sekolahmu, apa ada masalah?" tanya Pak Budi dengan santai.
Ana menyusun kalimat di otaknya sebelum ia utarakan pada orang tuanya. "Emm, aku ingin memiliki seorang teman, Ayah. Semua temanku di sekolah hanya ingin berteman denganku karena aku anak Ayah, aku ingin memiliki teman yang tulus tanpa memandang aku siapa dan berasal dari mana," ucapnya panjang lebar, berharap keduanya mengerti.
"Bukannya kamu memiliki banyak teman, kemarin Livia dan Calista baru bermain ke sini, bukan?" tanya Gina, ia merasa heran dengan pernyataan putrinya.
"Memang benar, mereka adalah temanku. Tapi aku ingin benar-benar memiliki teman sejati, bukan serta merta hanya ingin pamer harta, gaya hidup mewah saja. Aku juga ingin membicarakan banyak hal dengan teman-temanku, bukan sekedar kekayaan saja. Jadi, apakah Ayah bisa mengabulkan permintaanku?" ucap Ana.
Ervan yang melihat ayahnya mengangguk langsung naik pitam. "Apa-apaan Ayah ini? Ervan tidak setuju, lagi pula sekolah tempat kita kan sudah bagus, fasilitasnya pun memadai. Bagaimana kalau teman-temanmu tahu kalau kamu pindah ke sekolah yang lebih jelek, mereka pasti akan mengejekku. Ganti saja permintaanmu itu!" ucap Ervan dengan nada tinggi.
"Ervan! Jangan seperti itu pada adikmu!" tegur Pak Budi pada putra sulungnya.
"Aku tidak peduli! Mereka mau mengejekku, mencemooh, menghina, silahkan! Aku tidak peduli!" ucap Ana dengan penekanan di kalimat terakhirnya.
"Kamu mempermalukan ku, Ana! Apa kamu mau menurunkan harga diri keluarga kita, Ana? Kita ini orang kaya, kamu tahu itu. Jika sekolah barumu jelek bagaimana, mereka akan beranggapan ayah tidak lagi sanggup untuk membiayaimu yang artinya ayah jatuh miskin. Mau ditaruh mana muka ini, Ana?" ucapnya sarkastik.
__ADS_1
"Cukup, Ervan!" bentak Pak Budi, sedangkan Ana sudah terisak kecil di dekapan Gina. Ana tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu dari kakaknya.
Kakak yang menyayanginya tega berbicara seperti itu hanya karena kekayaan dan harga diri. Apa-apaan itu? Ingin rasanya Ana menggampar mulut kakaknya, tapi ia masih ingat ada kedua orang tuanya.
"Sepertinya kamu perlu beradaptasi dengan orang yang berada di bawah kita, bahkan mencoba di posisi mereka, Ervan! Ayah akan memindahkan kamu di sekolah negeri bersama adikmu, sekalian kamu menjaganya.
"Hidup bukan tentang kekayaan dan harga diri, tetapi juga tentang menghargai orang lain. Kita adalah manusia dan manusia kodratnya sebagai mahluk sosial, setinggi apa pun jabatan manusia, pasti juga membutuhkan bantuan sesamanya. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa campur tangan sesamanya, begitu pun Ayah. Suatu saat, kamu juga pasti butuh bantuan mereka. Sekarang lebih baik kamu masuk kamar!" ucap Pak Budi.
"Tapi, Yah ... Ervan ga—"
"Masuk kamar, Ervan!" potong Pak Budi.
Ervan akhirnya pergi dan masuk kamarnya, sedangkan Pak Budi mendatangi istri dan putrinya yang sedang berpelukan.
"Ana ...," panggil Pak Budi lembut. Gadis itu buru-buru mengusap air matanya lalu menatap sang ayah sembari tersenyum.
Pak Budi mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Ayah akan urus surat pindahmu dan kakakmu agar kalian lusa bisa kembali bersekolah. Sekarang lebih baik kamu juga masuk kamar, udah malem. Besok kan hari terakhir kamu masuk di sekolah lamamu," ucap Pak Budi.
Ana segera memeluk ayahnya. "Terimakasih, Yah," ucapnya.
Pak Budi membalas pelukan putrinya kemudian mengecup pucuk kepalanya. "Sama-sama, Sayang."
__ADS_1
Gina tersenyum melihat putri dan suaminya. Pak Budi dan Ana melepaskan pelukan mereka. Ana mencium pipi kedua orang tuanya lalu mengikuti jejak kakaknya yang telah memasuki kamar terlebih dahulu.