
Una melajang, dia ga tahu harus ngapain. Tapi, hati kecilnya berkata kalau dia masih menginginkan kehadiran Devan di hidupnya. Una sepertinya menyesali perbuatannya pada mantan kekasihnya.
*Sekolah*
Una duduk sendirian di pojok kampung, ups, pojok sekolah maksudnya. Tempat yang biasa digunakan siswa maupun siswi untuk menyendiri ketika sedang putus cinta, ataupun dalam kesulitan lainnya.
"Van, itu Una bukan? Itu anak ngapain sendirian di sono?" tanya Arga pada Devan. Ia melihat gadis yang mereka kenali tengah menyendiri dan melamun.
"Kayaknya itu emang beneran Una," kata Devan santai.
"Ya udah, kenapa lo ga nyamperin dia?" tanya Arga
"Gue udah janji sama dia, gue akan jaga jarak dari dia. Dia baru tau sebuah kenyataan, dia pasti terpukul. Biar dia sendiri dulu, kalo udah baik, gue akan nyamperin dia," kata Devan.
Mereka berdua ngelihat Una dan pergi. Una ga sadar kalo lagi diliatin Devan sama Arga.
*Rumah Devan*
Una nyamperin Devan ke rumahnya, Rara lagi ga ada, dia lagi di sekolah.
"Gue mau minta maaf sama lo, gue udah nuduh lo fitnah Putra, tapi ternyata itu bener. Gue tau lo pasti udah tau maksud gue. Gue bener-bener nga nyangka, dia bisa lakuin itu ke gue. Maaf, gue udah ga percaya sama lo," kata Una sambil natap Devan.
__ADS_1
"Kamu ga perlu minta maaf, aku paham posisi kamu saat itu. Tapi kamu masih mau kan sama aku?" tanya Devan hati-hati.
"Gue ga tau," kata Una tertunduk.
"Kamu ga perlu jawab sekarang, tapi aku pasti akan nagih jawaban kamu suatu hari nanti," kata Devan. Mereka melanjutkan dengan obrolan biasa.
~1 bulan kemudian ... teret-terettt~
"Una belom kasih jawaban ke lo?" tanya Rara.
"Belum, dia ga ngomong apa-apa sama gue," kata Devan.
"Ya udah. Besok kita ke rumah Una, lo tagih dia! Lo ga bisa kayak gini terus," kata Rara.
*Rumah Una*
Nyokap Una menemui mereka lebih dulu, Una sebel soalnya Devan ngajak Rara. Una ga mau keluar kamar, dia masih ngira kalau Rara itu selingkuhan Devan.
Akhirnya Rara turun ke bawah, eh salah, namanya turun mesti ke bawah, mana ada turun ke atas. Eh, sorry maksud gue turun tangan. Rara nyamperin Una ke kamarnya, tapi ga dibukain. Rara ga nyerah, dia jelasin ke Una dari balik pintu. Rayuan maut Rara berhasil, Una ngebukain pintu buat Rara. Rara ngajak Una ke luar, tepatnya ke ruang tamu.
*Ruang tamu*
__ADS_1
Nyokap Una ke dalam, dia ngebiarin mereka bertiga ngobrol lepas tanpa ada yang ganggu. Mereka cuman diam-diaman. Hualahh, ada apa ini sebenarnya??
"Na," tegur Devan membuka pembicaraan.
"Ya, Van," jawab Una singkat.
"Aku ke sini mau nagih jawaban. Aku udah ga sanggup, aku butuh jawaban kamu, sekarang!" kata Devan to the poin dan penuh penekanan.
Una berjalan mendekat ke arah Devan, Una nyium Devan. Rara cuma nelen ludah ngelihat mereka berdua.
"Apa itu udah cukup sebagai jawaban?" tanya Una hati-hati, dia ga tahu apa yang dia lakukan itu salah atau benar.
Devan cuman ngangguk. Devan ngelihat Una, Una malah ngelihat Rara, sedangkan Rara kembali melihat Devan. Sumpah, ini ekspresi mereka cengo abis, kalau kalian ngelihat, pasti bakalan ngakak.
"Aku yakin, kamu pasti ga akan bisa jauh dari aku. Soalnya aku itu ngangenin," kata Devan.
Una cuma senyum, dia udah nyaman dalam pelukan Devan yang hangat. Rara, yang sudah bisa menebak endingnya kayak gimana, dia langsung ngacir nyusulin nyokapnya Una.
"Gue kangen sama lo, sama pelukan hangat yang biasa lo kasih saat gue kedinginan," kata Una.
"Kamu akan mendapatkan semuanya saat kita udah nikah nanti," kata Devan.
__ADS_1
Devan melepaskan pelukannya, dia kembali menatap Una. Tanpa ba-bi-bu lagi, Devan langsung mencium Una dengan lembut.
...FIN...